Rabu, 28 Oktober 2009

Technical Assistance 1 : Proposal

Tanganku terkembang memeluk Nisa yang datang bersama Ibang, Arif, Yufiq dan Adi. Para pendekar Serikat Petani Pasundan ini datang untuk mendapatkan bantuan teknis dari KerLiP dalam penyelesaian penulisan proposal Bantuan Kemanusiaan bagi 2.000 KK di Tasik, Ciamis, dan Cianjur. Ova cuma menemani makan ikan bakar bumbu padang di Dago Elos IV dan kemudian pamit untuk mengurus usaha warnetnya di Setiabudi.
Zamzam menyiapkan flipchart, notebook dan LCD untuk sarana pendampingan pada malam peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-81. Pagi harinya Zamzam mewakili KerLiP sebagai narasumber, Mendorong Lahirnya Perda Perlindungan Anak untuk cluster Lingkungan Pendidikan Ramah Anak, yang diselenggarakan KPAID Kota Bandung di Graha Kadin. Talagabodas. Dalam wawancara dengan RRI Bandung selepas kegiatan KPAID, Zamzam sempat menyampaikan gagasan rebut konstelasi relasi kuasa pemuda karena selama ini hanya dijadikan legitimasi keterwakilan pemuda dalam pengambilan keputusan di republik ini. Kita yakin, pemuda Indonesia bisa mengharmonisasi kondisi dari gagasan yang muncul lebih dulu. Kadang orangtua merasa sudah menghasilkan sesuatu dan para pemuda tinggal mengikuti saja. Lagi-lagi ini akan jadi setting pengalaman para pemuda dalam relasi kuasa.

"Kita mau mulai dari mana?" tanya Zamzam sambil menunggu kabel terminal terpasang. Penggalian dimulai dengan penetapan tujuan program SPP yang disepakati dalam workshop Perencanaan Proyek yang dilaksanakan Oxfam dan Mitra pada tanggal 22-23 Oktober 2009. Nisa, Adi dan Arif bergantian mengisi point-point yang dalam standa proposal yang dikirimkan Lilik Oxfam. Hari ini seharusnya proposal sudah terkumpul, namun rekan-rekan SPP yang kemudian disusul Dadan dan Hery serta Chia dari YKU masih berkordinasi untuk menuntaskan proposal pada malam ini.

Alhamdulillah sebelum pukul 22.00, proposal SPP sudah 80% jadi dan penajaman proposal YKU sudah lebih SMART dengan rencana kordinasi intensif di lapangan.







Sabtu, 24 Oktober 2009

Pidato Anak Usia 12 Tahun Bikin forum PBB Terdiam

------------ --------- ---------
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang
anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's
Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk
belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana
pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg
memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia
terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang
penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg
meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

*Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental
Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13
tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister,
Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang
kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa
bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak
memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya
saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau
rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua
generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak
terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami
tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya
lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada
bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan
sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami
kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang"
liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu".
tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk
dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda
sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya.
Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya
tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama
seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah
punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di
tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir..
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan
ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua
adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah
bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar,
terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di
planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal
tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan
yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu
untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu
tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang
memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan
papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan
perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan
waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut
memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku
akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat
tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia
untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama
dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang
begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup
di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ;
seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang
dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan
menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia
ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat
baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya
tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan
hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan
dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat
memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan
baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan
' ini bukanlah akhir dari segalanya'

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada
kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu
bukan oleh kata" mu '

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian
orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya. *

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB,
membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya,
setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato
tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia
12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya
baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita
oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa
selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar
naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya ... tidak kita
semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "

Cerita ini benar" terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar" pidato
yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih" kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?

http://www.youtube.com/watch?v=QC4_TV5-7nk

Sabtu, 17 Oktober 2009

Tanggap terhadap perubahan kebutuhan anak...terima kasih Kak Bram

Kegiatan tasyakuran dan saresehan warga Desa Pamalayan makinj semarak dengan kepiawaian Kak Bram, pemusik asal Tegal yang datang menggunakan motor yang dikendarai Oka dari Kalyanamandira. Awalnya, Bram akan menghibur anak-anak dan hadirin dengan lagu-lagu favorit sambil memetik gitar. Alunan gitar klasik dan lagu-lagu lama sempat diperdengarkan Bram pada malam sebelumnya saat aku dan relawan Rumah KerLiP melihat perahu tradisional di pantai Santolo.

Anak-anak silih berganti tampil mengalunkan lagu-lagu dario Wali, ST 12, dst. Sungguh menakjubkan menyaksikan anak-anak yang terkena gempa ini dengan berani dan percaya diri naik keatas panggung. Ada yang solo, duet atau koor bersama teman-temannya. Orang tua mereka dengan bangga menunjuk anak-anak yang hebat ini. Ruang ekspresi yang dibuka sejak awal, juga saat kak Andi Yudha mendongeng diperkuat dengan sensitivitas Bram terhadap kebutuhan anak-anak ini. Acara tasyakuran dan saresehan warga Pamalayan terasa begitu hidup sejak pembukaan sampai penutup. Jika tidak dihentikan, mungkin anak-anak dan hadirin lainnya akan tetap antusias mengikuti kegiatan ini sampai malam kedua.

Pak Endang dan komite MDA Al Falah lainnya sepakat untuk memberikan ruang ekspresi yang leluasa bagi anak-anak. Pembukaan TBM dan PAUD di MDA Al Falah hanya ditandai dengan penyimpanan buku-buku sumbangan Mizan, komputer dan printer dari Perkumpulan KerLiP, sumbangan mainan dan ATK anak lainnya dilengkapi dengan biaya untuk pembuatan ruang khusus untuk TBM dan PAUD juga konsumsi kegiatan.

Terima kasih Kak Bram, Kak Andi, Picupacu, Yayasan Ibu, Astrid dg Gitanya, Pak Istanto dan Gapenri, Ibu Anky, Bapak Awaludin, Ibu Arlyta, Ibu Evi, Ibu Uci, Pak Satria Dharma, Pak Adi, PT TMI, Ibu Ratna, Ibu Feni, Relawan Rumah KerLiP, relawan Pamengpeuk, alm. Ibunda Mbak Titi, Satlak Kabupaten Garut, Satlak Kecamatan Cikelet, Aparat desa dan DKM di Pangawaren, Pak Lukmantyas dan rekan, Mbak Tutu dg Mizan, Pak Haidar, Ratna, dan seluruh mitra Rumah KerLiP khususnya yang menitipkan bantuan ke Garut dan Sumatera Barat. Insya Allah Program Pendampingan Penanganan Psikososial di Kabupaten Garut ini akan dilanjutkan dalam bentuk Penguatan Kapasitas Lokal dalam mendorong pemenuhan hak atas hidup yang bermartabat pasca gempa.

Ova dan rekan-rekan Rumah KerLiP lainnya siap mewujudkan impian bersama penduduk yang terkena bencana di Jawa Barat khususnya agar mendaptkan hak untuk hidup bermartabat.

Asyiknya Mendongeng sambil menggambar bersama Kak Andi Yudha

"Siapa yang tahu nama Kak Andi...Siapa yang tahu nama Kak Andi..." berkali-kali Kak Andi Yudha dari Picupacu Bandung menyampaikan pertanyaan tersebut. Lucu ya...Kak Andi memperkenalkan diri dengan cara yang unik, yang membuat anak-anak beringsut menghampiri panggung berhiaskan backdrop lukisan Pak Endang, Sekretaris Kopmite MDA Al Falah Pangawaren. Lebih dari 100 orang memenuhi ruang kelas MDA Al Falah di RW 05 Desa Pamalayan Kecamatan tempat tasyakuran dilaksanakan. Mulai dari bayi yang masih menyusui sampai kakek nenek usia lanjut menikmati gaya khas Kak Andi mendongeng. Kepiawaian Kak Andi menggambar menjadi daya tarik utama bagi hadirin. Dan yang lebih menyenangkan, anak-anak serta orang dewasa yang mengikuti tasyakuran tersebut memberikan respon yang luar biasa. Ananda Fitri, santri MDA Al Falah, maju ke depan untuk melanjutkan gambar acak yang dibuat Kak Andi menjadi gambar ayam nungging. Hasilnya dikembangkan menjadi gambar anak yang menangis karena mainannya direbut. Dan dari gambar tersebut dilanjutkan Kak Andi menjadi gambar harimau. Seru. Semua hadirin turut terlibat dalam kegiatan menggambar yang diperkuat dengan cerita menarik untuk setiap gambar yang dilengkapi Kak Andi.

Kegiatan mendongeng sambil menggambar ini kemudian diselingi dengan pemunculan Mio, maskot Kak Andi yang menyapa anak-anak sebelum dongeng yang agak panjang dituturkan melalui gambar-gambar yang menakjubkan. Tidak hanya anak-anak, bahkan orangtua dan orang dewasa lainnya pun terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Mudah-mudahan Kak Andi bisa ke Pamalayan lagi untuk membimbing warga Pangawaren bisa mendongeng sambil menggambar.

Anak-anak yang Luar Biasa

Kelompok anak perempuan sedang menyanyikan beberapa lagu, saat kami tiba setelah makan siang di rumah Ibu Ucu. suara khas anak-anak dengan gaya yang menggemaskan menghibur tamu-tamu undangan yang datang satu persatu mengisi kursi yang disediakan panitia. Teh Ai, pembawa acara membacakan susunan acara yang dibuka dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an. Rida, Putri Pak Ustadz Wawan, membacakan Surat Al Waqiah sambil sesekali senyum menghiasi wajahnya yang cantik dilanjutkan pembacaan shalawat oleh Maya dan temannya. Hadirin serempak mengikuti alunan shalawat yang dipimpin oleh kedua anak perempuan tersebut. Tidak lama kemudian Pak Lurah datang dan langsung diminta untuk menyampaikan sambutan. Ungkapan terima kasih dan syukur dari Pak Lurah dipertegas oleh Bu Ucu,ketua Komite MDA Al Falah. Lalu giliranku memberikan sambutan singkat sebelum pembacaan sambutan tertulis oleh Fitri, santri MDA Al Falah. Gaya khas anak yang diminta membacakan sambutan tertulis menginspirasiku untuk mendorong spontanitas anak menyuarakan bening nurani mereka. Sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan setelah menyaksikan spontanitas anak-anak Pamalayan yang luar biasa.

Ada Gilang yang tampil berkali-kali menyanyikan lagu sendirian atau bersama teman-teman sebayanya, Tri dan Dikdik yang lantang menyanyikan lagu-lagu populer. Juga Dea, Wulan dan teman-temannya yang spontan naik keatas panggung menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. Anak-anak pun tanpa segan mengikuti setiap sesi yang disuguhkan pada kegiatan tasyakuran dan sarasehen warga desa pamalayan tanggal 15-16 Oktober 2009 di MDA Al Falah Pangawaren Pamalayan Cikelet Kabupaten Garut

Semangat gotong royong penduduk Pangawaren Pamalayan

Kerja para relawan gelombang kedua menjelang lebaran lalu mempertemukan Rumah KerLiP dengan penduduk yang terkena bencana di Pamalayan. Menurut data yang kami peroleh dari satlak Kabupaten Garut, ada 1.000 rumah rusak berat di desa tersebut. "Tadi malam Pokmas untuk rekonstruksi dan rehabilitasi baru dibentuk, Bu," jelas Usep saat mendengar paparan Pak Endang, Sekretaris Komite MDA Al Falah Pangawaren mengenai tim verifikasi data rumah rusak pasca gempa Tasik yang datang ke Desa Pamalayan. Pak Endang juga menjelaskan tentang keheranannya terkait dengan shelter berukurun 4X2,5 m yang dibangun ACT sebanyak 82 unit untuk penduduk RW 05 dan RW lainnya yang kehilangan tempat tinggal. Selain ukuran, masalah peggunaan asbes untuk atap rumah, dan ketiadaan MCK dan fasilitas sanitasi yang memadai menjadi alasan warga Pangawaren tidak segera menempati shelter tersebut.

Penduduk RW05 patut dibanggakan dengan pengelolaan lumbung yang dilakukan oleh DKM Al Falah. Disampaikan bahwa DKM Al Falah yang juga diurus Pak Endang dan Ustadz Wawan mendapatkan 400 bata tanah sawah wakaf. Hasil panennya selalu disimpan di lumbung masjid dan dipinjamkan pada masa paceklik kepada warga yang membutuhkan. Saat gempa tasik menerjang daerah tersebut, mereka memiliki persediaan beras sebanyak 2,5 ton yang langsung menjadi sumber makanan pokok sampai bantuan kemanusiaan berdatangan. Semangat gotong royong masyarakat Pangaware juga turut memperkuat kehadiran MDA Al Falah yang sudah turun temurun dkelola oleh keluarga Ustads Wawan.

Pembentukan komite MDA Al Falah yang dipimpin oleh Ibu Ucu menjadi salah satu bentuk semangat gotong royong yang luar biasa. Kemitraan yang khas dengan Komite MDA Al Falah Pangawaren inilah yang mendorong umah KerLiP untuk membantu memfasilitasi terbentuknya TBM dan PAUD di MDA Al Falah pangawaren sebagai wahana untuk pendampingan penanganan psikososial sampai tanggal 31 Desember 2009.

"Sampai kapan Rumah KerLiP bekerja di Pamalayan?" tanya Zeta dan Andru dari Yayasan IBU pada hari pertama tasyakuran dilaksanakan. "Kayaknya panjang nih!Apalagi kita baru menyiapkan wahana untuk pendampingan penanganan psikososial" jawab Ova spontan. Jawaban ini menghantarkan kami pada pembicaraan yang lebih intensif mengenai program penguatan kapasitas masyarakat Pamalayan pada malam hari bersama Usep dan kawan-kawan di Cieurih.

Pembicaraan di posko SPP tersebut diawali dengan apresiasi terhadap kerelawanan masyarakat yang dipadu dengan semangat gotong royong. Prinsip demi kepentingan terbaik anak menjadi bahan kajian sebelum pembahasan mengenai rincian kegiatan di Pamalayan. Program Penguatan kapasitas Lokal diinisiasi dengan Pendampingan Penanganan Psikososial berbasis keluarga melalui aktivasi TBM dan PAUD.

Psikolog dari yayasan IBU menjadi pendamping utama tutor PAUD dan ibu-ibu yang bergabung di MDA Al Falah untuk memahami psikologi perkembangan pada usia dini. Penerapan Play Therapy diharapkan dapat membantu anak-anak untuk memasuki masa pemulihan secara mandiri. Khusus untuk perempuan, tema ketahanan pangan akan menjadi pilihan materi untuk kegiatan Keaksaraan Fungsional bagi perempuan usia 25 keatas yang masih buta akasara. Diharapkan akan terbit modul dan buku hasil penulisan warga desa Pamalayan dengan materi Ketahanan Pangan tersebut. Rumah KerLiP juga menginisiasi kemandirian kelompok nelayan Santolo ini melalui pendampingan penguatan Kelompok usaha Produktif Perempuan. Hasil olah ikan dan makanan pokok yang variatif ini akan turut membantu perkembangan fisik anak-anak yang terkena gempa terutama anak-anak usia dini. Diharapkan terbentuk gerakan sosial kritis keluarga berbasis komunitas yang mendorong demokratisasi pendidikan demi kepentingan terbaik anak melalui kemandirian anak dan perempuan berbasis komunitas.

Jumat, 16 Oktober 2009

Serakah Pahala


Kami tiba di Pamalayan pukul 12 siang menyusul rombongan mobil yang membawa Kak Andi Yudha dan relawan Rumah KerLiP. Ova, Kordinator Rumah KerLiP sedang menurunkan 3 dus besar berisi buku-buku sumbangan Penerbit Mizan Bandung, mainan, boneka, buku dan majalah sumbangan mitra Rumah KerLiP. Hari ini tanggal 15 Oktober 2009 warga dan aparat Pamalayan akan menggelar sarasehan dan tasyakuran setelah menyelesaikan ruang khusus untuk taman Bacaa Masyarakat (TBM) dan PAUD di MDA Al Falah Pangawaren. TBM dan PAUD ini merupakan sarana pendampingan penanganan psikososial yang dipersembahkan Rumah KerLiP dari sumbangan mitra Rumah KerLiP untuk penduduk yang terkena gempa di Garut Selatan.

Pak Endang, Sekretaris Komite MDA Al falah Pangawaren menunjukkan ruang khusus untuk TBM dan PAUD sambil menyiapkan soundsystem di dekat panggung. Rupanya Pak Endang, Pak Ustadz Wawan, dan anak-anak MDA Al falah sudah menyiapkan semuanya. Ada backdrop buatan Pak Endang bernuansakan laut dan lumba-lumba. Panggung kecil juga sudah siap pakai didekat meja tempat soundsystem dipasang. Kursi plastik hijau dan bangku madrasah berjejer rapi di ruang tempat kegiatan akan dilaksanakan.
Pak Endang menunjukkan lemari, sekat dan ruang guru yang berhasil diuntaskan selama 10 hari oleh tukang kayu warga Desa Pamalayan.

Pukul 12.30 rombongan dibawa ke rumah Ibu Ucu, ketua komite MDA Al Falah Pangawaren. Ada empat ibu-ibu yang sedang menyiapkan nasi kuning untuk konsumsi acara. Ibu Ucu menceritakan kejadian gempa dan kebaikan berbagai pihak yang membantu warga desa Pamalayan. "Ada yang pernah tahu Ibu Dr. Salmi di Dago? Saya sering bilang kalau Bu Salmi serakah," Kata Kak Andi di hadapan anak-anak. "Kok serakah, Kak!" seru anak-anak. "Iya, hampir tak ada mahasiswa di sekitar Bandung Utara yang tak pernah menerima kebaikan Bu Salmi. Selain menggratiskan biaya pengobatan, tak jarang bu Dokter ini memberikan uang kepada pasiennya yang kebanyakan mahasiswa itu untuk membeli obat atau bahkan berobat ke rumah sakit rujukannya. Waktu Bu Salmi berangkat naik haji, saya bilang kalau bu Salmi serakah pahala. Sama seperti bu Ucu kan," Kak Andi menjelaskan dengan bersemangat.

Wah, kayaknya bukan hanya Bu Salmi dan Bu Ucu ya. Pak Endang Pak Ustadz Wawan, Ova, Zamzam, anak-anak yang siap tampil pada tasyakuran hari ini termasuk orang-orang yang serakah pahala. Tidak hanya mereka, para relawan Rumah KerLiP, donatur, mitra Rumah KerLiP dan semua pihak yang membantu dan mendoakan para penduduk yang terkena bencana agar kembali hidup bermartabat pasti orang-orang yang serakah pahala.

Ayo, siapa lagi yang mau berlomba-lomba jadi orang yang 'serakah' membantu sesama! Pasti Allah takkan segan memberikan pahala dan menambah rizki-Nya kepada orang-orang yang serakah pahala. Amin.

Pagi Hari di Pesisir Selatan Jawa Barat

Rosita sedang berjongkok di depan Madrasah yang kulewati pagi itu. Seragam pramuka yang dikenakannya berkibar-kibar tertiup angin pantai di pagi hari. Anak perempuan kelas 5 di MI tersebut sedang bermain bersama teman-temannya di depan madrasah yang tak goyah kena gempa. Dua anak lak-laki terlihat memainkan pistol-pistolan hitam dibalik mobil puskesmas keliling yang parkir diantara madrasah dan masjid. "Rumah saya hancur, Bu! Saya, ibu, dan yang lainnya tidur di tenda depan rumah. Ibu juga memasak di tenda." jelas Rosita menjawab pertanyaanku tentang rumahnya. Rosita mengaku sangat senang waktu sekolah kembali dibuka setelah gempa membuatnya kehilangan tempat tinggal. Sayangnya di MI tersebut belum ada perpustakaan sehingga Rosita dan kawan-kawannya yang tiba sejak jam 6.30 lebih banyak menunggu sambil mengobrol sampai bel masuk jam 7.30 dibunyikan.

Pagi itu, aku dan para relawan Rumah KerLiP menyusuri pesisir pantai Pamengpeuk sebelum mengikuti acara pembukaan Taman Bacaan Masyarakat dan PAUD pada sarasehan dan tasyakuran warga dan aparat Pangawaren Desa Pamalayan Kabupaten Garut tanggal 15-16 Oktober 2009. Debur ombak susul menyusul menghampiri jejak kakiku di pantai pasir putih yang masih perawan. Pahim, relawan dari Dukuh mengantarku menyusul Zamzam, Ova, Oka dan Bram yang berencana untuk berenang. Kami berjalan ke arah batu-batu karang melewati ranting-ranting dan batang kayu yang berserakan. "Kita naik motor aja, Bu! Jalan kaki menuju Santolo cukup jauh," kata Pahim. Perlahan kami keluar dari pantai di dekat Madrasah Ibtidaiiyyah tempat Rosita dan teman-temannya belajar. Kami melewati mobil puskesmas keliling sudah pindah ke pinggir jalan keluar dari pantai tersebut. Kami memasuki jalan setapak menuju Karang Papat. Ada beberapa kelompok masyarakat yang tengah menyemai benih padi di tanah pinggir pantai berpagar besi milik LAPAN. Ada istilah khusus yang dijelaskan Pahim tentang kegiatan tersebut. LAPAN memperoleh bagi hasil dari jenis pertanian tersebut.

Hamparan pasir putih dihiasi semak belukar tanaman pinggir pantai terlihat begitu indah. . Motor terus melaju melewati padang rumput hijau sampai gerbang kantor LAPAN diiringi deburan ombak dan bisikan para petani penggarap lahan LAPAN yang terbawa angin pantai. Barisan warung di pinggir pantai Santolo terlihat jelas. Beberapa rumah penginapan disusul dengan warung ikan asin jambal menebarkan bau amis khas tepi pantai. Para nelayan sedang sibuk menyiapkan jaring mereka di seberang pantai yang terlihat begitu tenang pagi ini. Ada dua orang anak laki-laki yang berenang di sebelah kanan bebatuan di seberang pulau Santolo. "Batu-batu ini kalau tidak salah dipasang oleh Dinas Pariwisata. Mungkin maksudnya untuk memperindah. Sayangnya karena tidak ada penjelasan yang lebih lanjut, onggokan batu yang membentuk muara ini menghambat perahu-perahu yang agak besar untuk merapat ke dekat Tempat Pelelangan Ikan di Santolo," kata Pahim sambil memanduku menyusuri bebatuan menghampiri beberapa penjaring ikan di muara dekat pulau Santolo. Alhamdulillah...akhirnya aku dapat menikmati pemandangan alam nan indah di Pantai Santolo.



Sebelum pulang, kami sempat mengobrol dengan Pak Agus, penduduk yang terkena gempa di kampung Nelayan Pamalayan. Ada 7 tong air bersih yang sedang disiapkan Pak Agus untuk keperluan berlayar esok hari. "Air ini diperlukan untuk memasak dan mandi selama 7 hari di laut. Kami berenam akan berlayar menggunakan perahu motor,"kata Pak Agus saat ditanyakan tentang kegiatannya pagi ini. "Perlu sedikitnya 5 juta rupiah untuk menangkap ikan selama seminggu! Di musim sepi seperti ini, ikan yang kami tangkap jauh dari modal yang kami pinjam. Kadang-kadang hanya sejumlah 2 juta Rupiah. Akibatnya hutang kami makin menumpuk" jelas temannya menambahkan. Rupanya Tempat Pelelangan Ikan di Santolo tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena para nelayan tidak punya pilihan selain menjual tangkapan mereka kepada para tengkulak uyang meminjamkan modal. Wajar saja jika harga ikan di Santolo jauh lebih murah dari harga ikan di tempat lain dan para nelayannya sulit membebaskan diri dari jeratan hutang. "Dari 20 kali melaut paling sekali bisa mendapatkan tangkapan senilai 20 juta rupiah,"jelas Pahim yang diperkuat oleh Pak Agus. Pahim juga menjelaskan beberapa hal mengenai para perempuan bakul yang terlihat menunggu tangkapan ikan dari para nelayan perahu tradisional yang tengah merapat di penghujung pantai Santolo saat kami pulang menuju posko Serikat petani Pasundan di Cieurih.

Senin, 12 Oktober 2009

Lokakarya dan Pelatihan Standar Minimum Pendidikan dalam Keadaan Darurat






Hari pertama kegiatan ini diisi dengan penjelasan dari Plan Internasional di Indonesia dan BAPPENAS RI sebagai penyelenggara untuk mereview buku panduan yang merupakan hasil dari proses konsultatif yang menyeluruh untuk mengembangkan standar minimum pendidikan dalam keadaan darurat. Pengembangan standar, indikator, dan panduan-panduan yang menekankan tingkat minimum akses dan ketersediaan pendidikan yang harus dicapai dalam keadaan darurat, sampai dengan tahap awal rekonstruksi.

Rabu, 07 Oktober 2009

Terima Kasih Pak Willy

Andy mengendarai mobilnya perlahan membawaku ke Pecinan. Kami menyusuri pesisir Pantai Barat Sumatera. Gedung Joang 45 terlihat hampir roboh seluruhnya akibat gempa. Air laut di seberang gedung tersebut terlihat tenang. Masuk ke arah Pondok, lokasi Pecinan di kota Padang, mulai terlihat reruntuhan. Dimana-mana! Hampir tak ada gedung yang selamat pasca gempa Sumatera kali ini.Reruntuhan rumah, gedung, toko, perkantoran terlihat hampir sepanjang jalan. Kami berhenti di depan posko Brimob seberang posko PLN. Ada seorang polisi jaga disana. Maksud kedatangan kami adalah untuk mengklarifikasi isu yang berkembang mengenai penjarahan toko di Pecinan tersebut dan diskriminasi bantuan kemanusiaan dari pemerintah terhadap penduduk yang terkena bencana di Pondok. Isu ini kami terima dari seorang kawan di Jakarta. Polisi jaga tersebut meminta kami untuk menanyakan langsung kepada seorang bapak yang menghampiri posko untuk meminta segelas kopi.
Tidak lama kemudian muncul Pak Willi, dokter gigi pemilik optik Murni yang ternyata ketua RW di wilayah Pondok ini. Usia 66 tahun tidak mengurangi semangatnya untuk membantu warga. Pak Willy menjelaskan banyak hal setelah menyerahkan makanan dan minuman untuk para polisi jaga di posko tersebut.

Sungguh luar biasa, di tengah keprihatinan akibat gempa tidak menyurutkan langkah Pak Willy dan kawan-kawan di HTT, HBT dan PSKPP juga Perkumpulan Keluarga Lie-Kwee untuk membantu penduduk yang terkena bencana tanpa membedakan siapapun. Menurut Pak Willy, perkumpulan HTT, HBT, Santu Yusuf dan keluarga Lie dan Kwee membantu evakuasi korban, pemakaman, dan logistik tanpa pandang apapun.

Mobil Andy pun mengikuti mobil Pak Willi menuju HTT sambil mampir di posko yang terkewati. Kami diterima dengan baik oleh para pengurus HTT. Pak Albert Herman Lukman menjelaskan beberapa hal terkait dengan bantuan kemanusiaan dan keamanan di lingkungan HTT. Beberapa pengurus HTT lainnya turut menambahkan bahkan menegaskan bahwa tak ada penjarahan di toko-toko milik anggota Perkumpulan HTT. Ada beberapa pengiriman bantuan dari Medan yang diminta oleh posko warga di beberapa titik menuju Padang. Namun hal ini dapat dimaklumi mengingat kondisi penduduk yang terkena bencana di daerah Pariaman tersebut banyak yang belum tersentuh bantuan kemanusiaan. Pak Willy juga sempat menambahkan tentang lubang yang membesar di toko Damarus. Kami juga sempat menyapa beberapa warga yang tengah membereskan dua ruko yang rusak berat. Menurut salah seorang pekerja tersebut, mereka diminta Pak Benny, pemilik kedua ruko untuk merapikan reruntuhan. Pak Willy tidak memastikan tentang hal tersebut.

Para pengurus HTT berbesar hati dengan kepercayaan yang mereka rasakan dari pemerintah bahwa mereka mampu mengurus kebutuhan dasar tanpa bantuan kemanusiaan dari pemerintah. Disampaikan oleh Pak Albert bahwa anggota Perkumpulan HTT rutin memberikan iuran tahunan dan melaksanakan subsidi silang untuk biaya pemakaman. 11 jenazah korban gempa dimakamkan dengan biaya perkumpulan HTT bersama jenazah lainnya yang diurus oleh HBT dan PSKP. Bantuan kemanusiaan yang terus mengalir ke wilayah tersebut membuka kemungkinan bagi sebagian warga terdekat untuk mendapatkan bantuan dari posko yang dibuka HTT. Bahkan atas inisiatif Pak Willy dan kawan-kawan mereka juga mengirimkan bantuan kemanusiaan sebagian ke daerah Padang Pariaman.

Dari HTT, Pak Willy mengajak kami ke HBT. Disana kami bertemu dengan Pak Andreas yang meyakinkan kami bahwa HBT dapat mengurus keperluan anggota dan masyarakat di sekitarnya secara mandiri. Klinik HBT tanpa henti mengobati penduduk yang terluka. Beberapa keluarga yang rumahnya hancur atau rusak berat karena gempa menginap di gedung HBT. Jumlahnya berangsur-angsur berkurang.

Ada dua anak perempuan yang ditemani ibu mereka di gedung milik perkumpulan keluarga Lie dan Kwee yang berdiri kokoh di tengah-tengah reruntuhan gedung. Menurut pengurusnya ada 10-20 KK yang menginap di gedung tersebut setiap malamnya. Mereka kehilangan rumah akibat gempa. Hal yang sama kami saksikan di PSKP. Pak Charli mengajak kami menemui Pak SOfyan adiknya yang kehilangan rumah mereka di Kp Nias 3 belakang gedung PSKP. Ada empat rumah bertingkat yang tengah dikerumuni 25-30 orang yang mengumpulkan besi dari reruntuhan rumah tersebut. Pak Sofyan dan Pak Charli berharap mendapatkan bantuan dalam bentuk police line untuk memberi kesempatan kepada keluarganya mencari dan menemukan surat-surat berharga di bawah reruntuhan gedung tersebut. Pak Willy pamit duluan dipamnggil istri tercinta setelah kami menemui keluarga yang tengah menyiapkan pemakaman putra mereka yang meninggal karena demam berdarah di rumah duka milik PSKP.

Pak Albert dan Pak Sofyan berjanji untuk hadir dalam kordinasi di pendopo rumah Gubernur pada jam 18.30 untuk menyampaikan perkembangan kondisi bantuan kemanusiaan di wilayah pendopo dan harapan mereka untuk mendapatkan bantuan penjagaaan keamanan di reruntuhan ruko yang dimiliki warga. Agak lama saya dan Andy menunggu kehadiran keduanya. Akhirnya kami putuskan untuk menyampaikan langsung perkembangan pemetaan kebutuhan di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman dan di Pondok, Kota Padang. BNPB menyarankan untuk langsung menyampaikan laporan perkembangan tersebut ke Satkorlak Provinsi Sumbar.
Kami diterima 2 penjaga piket yang menerima seluruh laporan tertulis, sedangkan keperluan penjagaan keamanan di wilayah Pondok akan ditindaklanjuti oleh Ibu Dewi Sartika dari Kapolda.

Esok harinya kami memastikan bantuan kemanusiaan yang diperlukan posko Manggopoh Ujung, Pasar Ulakan, Kampani, Bato, Batang Kabung dan bantuan dalam bentuk penjaga keamanan di wilayah Pondok, kota Padang benar-benar diterima yang berhak sebelum pulang ke Bandung.
ALhmadulillah..bantuan polisi dan police line sudah diterima oleh warga di daerah pecinan tersebut. Namun sampai hari ini, SDN 07 Batang Kabung baru mendapatkan dana bantuan untuk membangun 4 kelas darurat. Penduduk di Manggopoh Ujung, Pasar Ulakan dan Tujuh Kota sudah mulai mendapatkan bantuan kemanusiaan dari donatur dan keluarga mereka di perantauan. Penduduk yang terkena bencana di Kelurahan Bantar Buat Kota Padang belum mendapatkan tenda dan logistik secara merata.

Mudah-mudahan hari ini semuanya bisa mendapatkan bantuan logistik dan bantuan kemanusiaan lainnya sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Amin

Selasa, 06 Oktober 2009

Narasi Perjalanan Pemetaan Kebutuhan di Sumbar

Masalahnya rumah rusak/rata dg tanah ada diman-mana dan ciri khas orang minang : orang tidak mengungsi bersama dan tidur di tenda yang sama, tapi mereka pasang tenda seadanya di pekarangan rumah mereka, jadi anak-anak pun ikut tersebar, tidak berada di satu tempat, maka perlu kelompok-kelompok kecil yang datang ke lingkungan-lingkungan tertentu untuk menghibur anak-anak. Beda dengan Aceh yang pengungsinya disatukan.
Ada policy Bahwa semua bantuan harus disatukan di pusat baru disalurkan. Itu ide bagus, tapi tidak bagus di pelaksanaan karena pencatatan lamban, info daerah mana yang belum dapat bagian, lambat diterima dan minim.
Banyaknya wisatawan bencana mempersuli distribusi, jalan-jalan dipenuhi mobil dan motor yang isinya para pesiar yang nonton bencana, sesuatu yang sangat saya benci. Jalan macet, truk barang dan alat berat tidak bisa lewat dengan mulus, tanah labil, tapi kendaraan padat merayap karena terhalang motor parkir seenaknya karena mau nonton bencana. Sangat tidak etis. Mereka yang jadi penonton tidak berbuat apa-apa, beda dengan kita yang datang untuk tahu apa yang harus dilakukan, dengan siapa berkordinasi dll. Jadi harap ibu bisa bantu meyakinkan orang-orang juga bawa menonton/wisata bencana itu tidak etis.
..ini bunyi sms dari Ibu Meuthia Hatta pada tanggal 7 Oktober 2009 ini diteruskan ke kordinator OCHA di Padang, Mbak Titi yang langsung akan meneruskannya ke cluster pendidikan dan shelter.

Berikut ini adalah narasi lengkap perjalanan pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan di Sumatera Barat yang dilakukan untuk mendorong penguatan kapasitas lokal dalam meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan selama tanggap darurat pasca gempa Sumatera.

5 Oktober 2009
Pesawat GIA menuju bandara Minangkabau baru mengudara pukul 10.00 dari jam 9.15 yang direncanakan. Tiket pesawat yang kupesan untuk keberangkatan pukul 8.00.
Hujan cukup deras pagi itu saat aku bertemu dengan Rika, penduduk Pariaman yang tinggal dan bekerja sebagai Guru SMK Dinamika di Tegal. Rika pulang untuk menengok keluarganya yang terkena bencana gempa Sumatera. Kami saling bertukar cerita selama 3 jam menunggu pesawat yang membawa kami ke ranah Minang.
Rika senang sekali menemaniku mengunjungi lokasi yang terkena gempa, bahkan akhirnya aku tinggal di rumah neneknya di Bato, Pariaman. Rupanya Kota Pariaman berbeda dengan Kabupaten Padang Pariaman. Rencanaku untuk melakukan pemetaan di Padang bersama Andi Liputo, adinda Yuliani Liputo teman sekampus di ITB dulu kutunda.

Aku duduk disamping Pak Zulkawi penduduk Kecamatan Ulakan yang kabarnya mengalami kerusakan >80% akibat gempa Sumatera. Pak Zulkawi menceritakan kejadian gempa di Maransi, tempat tinggal yang ditinggalkannya sejak gempa terjadi. Hari ini Pak Zulkawi berencana menemui keluarga besarnya di Padang Pariaman setelah membawa istri dan anak-anaknya tinggal di Jakarta. Anak yang sulung berusia 5,5 tahun terperangkap di mobil saat gempa terjadi. Sampai saat ini masih mengalami trauma akibat gempa.

Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Minangkabau pada pukul 11.40. Hujan masih membasahi ranah Minang.
Aku dan Rika cukup lama menunggu barang-barang yang kubawa dari Bandung. Ada beberapa kotak makanan anak yang sengaja kubeli untuk oleh-oleh bagi anak-anak korban gempa. Pamannya Rika sudah menunggu kami di tempat parkir. Ternyata Andi juga menjemputku di bandara bersama temannya. Andi tidak keberatan dengan rencana pemetaan di Pariaman yang akan kulakukan bersama Rika sampai hari Selasa. Dia memberiku peta Sumatera, Solok dan Padang setelah menerima beberapa berkas yang disiapkan Zamzam dan Ova untuk pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan pasca gempa Sumatera.

Jalanan cukup ramai. Reruntuhan rumah terlihat di sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal neneknya Rika. Kami tiba di Bato pada pukul 13.50. Ada retakan melintang sepanjang dinding kiri rumah neneknya Rika. Dinding tersebut ditahan dengan beberapa bambu dari bagian luar.
Siti Asawar sudah berusia 80 tahun langsung menceritakan kejadian gempa terbesar yang pernah dialaminya sepanjang hidup saat kami duduk di ruang tamu. Ceritanya dalam bahasa daerah yang belum kumengerti sepenuhnya. Tidak lama kemudian ayahnya Rika, Pak Darlis datang. Kabarnya sampai hari itu belum ada petugas yang mendatangi rumah kediaman mereka untuk melakukan pendataan apalagi mengirimkan bantuan. Syukurlah, paman Rika dari Palembang datang membawa bahan makanan untuk membantu nenek, ayah, dan ketiga adik Rika.
Rupanya keterlambatan bantuan tersebut juga dialami beberapa penduduk Kecamatan Pariaman Tengah yang kami temui sore harinya. Ibu Radiah terlihat memungut bata-bata merah dari reruntuhan rumahnya. Suaranya hampir hilang terkena ISPA sejak gempa merobohkan rumah kediamannya yang juga tempat Alvin adiknya membuka usaha sablon. Mereka kehilangan pelanggan yang juga menjadi korban bencana. Ibu Radiah bersama keluarganya menumpang tidur di rumah saudara mereka. Mereka bahu membahu memunguti sisa-sisa bahan bangunan yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah. Tetangga mereka, Ibu Erna dan 9 orang anggota keluarganya hanya pasrah melihat reruntuhan rumah mereka. Hampir tak ada yang tersisa. Kedua keluarga yang tinggal berdekatan ini baru mendapatkan 2 liter beras dan 2 bungkus mie sejak gempa Sumatera merobohkan rumah mereka pada tanggal 30 September lalu.
Kami juga menyempatkan memotret SDN 07 Batang Kabung yang hancur.

Sore itu kami menyusuri jalan Jati menuju Ulakan, tempat kediaman Pak Zulkawi. Ada beberapa posko yang didirikan warga bersama Wali Korong yang sempat kami temui. Bantuan pangan dan uang titipan Rumah KerLiP sudah mulai didistribusikan dari rumah Ibu Radiah. Korong Manggopoh Ujung yang dihuni 350 KK baru mendapatkan bantuan 9 karung beras, beberapa dus mie instan dan minyak goreng. Pak Ali Akbar, wali korong Manggopoh Ujung Kecamatan Ulakan Pakis bergantian dengan Pak Manyar dan beberapa orang lainnya menjelaskan keterlambatan bantuan dari Satlak Kabupaten Padang Pariaman. Menurut mereka, prosedur permohonan bantuan yang harus ditandatangani pihak-pihak terkait cukup menyulitkan. Sampai hari itu, mereka bertahan hidup dari bantuan masyarakat perantauan yang pulang kampung untuk membantu keluarga yang terkena bencana. Terlihat 1 bungkus plastik berisi terpal biru dilempar dari mobil petugas Satlak Kecamatan yang melintas di depan Posko Manggopoh Ujung. Jumlahnya sangat terbatas dibanding 350 KK yang memerlukan tenda untuk tempat tinggal sementara di depan rumah mereka yang rusak akibat gempa.

Dari Manggopoh Ujung kami menuju Pasar Ulakan. Banyak sekali rumah yang roboh disana. Menurut Pak Syukur yang ternyata juga Kepala SMPN1 Nan Sabaris, lebih dari 80% rumah di Pasar Ulakan rusak berat bahkan roboh karena gempa. Posko SIKIB dan ASKES Peduli di SD seberang toko kelontong milik Pak Syukur sudah menyiapkan mobil pintar bersama ahli trauma healing. Namun anak-anak belum banyak berdatangan ke sekolah yang rusak berat ini. Bnatuan BAZNAS melalui wali korong Pasar Ulakan bisa menjadi model yang baik untuk penyaluran bantuan kemanusiaan yang lebih berkeadilan. Bantuan pengobatan gratis yang dilaksanakan Posko SIKIB pada tanggal 3-4 Oktober juga sangat membantu penduduk yang terkena bencana. Pak Syukur menyampaikan harapannya untuk mendapatkan bantuan tenda kelas sebanyak 17 buah untuk SMPN 1 Nan Sabaris.

Kami menyampaikan seluruh bantuan yang tersisa di Posko korong pasar Ulakan dengan 72 KK. 5 rumah roboh, 50 rusak berat dan 12 rusak ringan di korong tersebut. Bantuan kemanusiaan yang sudah masuk baru dari masyarakat perantauan dan TVOne. Syukurlah, penduduk yang terkena bencana di korong tersebut bahu membahu memastikan tak ada satupun warganya yang kekurangan makanan.

6 Oktober

Pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan hari ini dilakukan di Batang Kabung, Marapak, Kampani, dan Barangan. Sepanjang jalan Sisingamangaraja ke arah Tujuh Koto, jalan alternatif ke kanan ke Padang Alai dan ke kiri ke Tandikat tempat 3 dusun terkubur longsor akibat gempa Sumatera.
Kepala SD 07 batang Kabung, Ibu Hasmarni bersama Ibu Redawati, Darmawati, Nur’aini, Heppy Yendrawati, Fattah Dina, Hasmayati, Hasniwati, Afri Vidawarni menunjukkan kerusakan yang terjadi di SDN 07 Batang Kabung. Hanya 2 ruang yang cukup layak digunakan sebagai tempat penyimpanan serta ruang perpustakaan yang baru dibangun tahun lalu. Ruang kelas, kantor, dan perumahan guru serta rumah kepala Sekolah hancur oleh gempa. Menurut Ibu Redawati, sekolah tersebut sudah menyiapkan rekening untuk DAK sebesar Rp 900 juta. Pada hari ke-15 puasa di Bank BNI Cabang Kota Pariaman. Pembangunan ruang kelas baru sampai tingkat dua ini dihimbau dapat diselesaikan sampai Desember 2009. Namun kabarnya DAK ini dibatalkan karena gempa. Perlu penelusuran lebih lanjut untuk memastikan bahwa SDN 07 Batang Kabung benar-benar mendapatkan DAK untuk ruang kelas baru.
Ibu Redawati mengharapkan keterlibatan semua pihak untuk merencanakan, mengawasi, melaksanakan dan melaporkan pembangunan ruang kelas baru dari DAK tersebut jika benar-benar dapat dilaksanakan.

Perlu kepastian mengenai pembangunan kembali sekolah yang rusak dan diperlukan 7 tenda kelas untuk pelaksanaan pembelajaran. Mulai tanggl 7 Oktober anak-anak akan dikumpulkan di 2 mushola terdekat. Dikhawatirkan anak-anak mengalami trauma akibat gempa. Pendampingan penanganan psikososial di sekolah tersebut diharapkan dapat dilaksanakan segera.

Kami ditunjukkan Pak Nasrul penduduk desa Marapak mengenai kerusakan di beberapa rumah milik warga yang terlihat berdiri kokoh namun retak di bagian urat bangunan rumah masing-masing.

Dari Marapak kami melakukan pemetaan di Kampani. Terlihat SDN 01 rusak berat. Kami menemui satu kelompok warga yang sebagian rumahnya rata dengan tanah. Mereka adalah satu keluarga besar yang mendapatkan bantuan tenda peleton dari salah satu anggota keluarga yang menjadi anggota Tim SAR sejak tahun 2007. Belum ada bantuan pangan selain bantuan dari keluarga mereka di perantauan. Ada 12 keluarga yang berkumpul saling berseberangan di are tersebut.
Di bagian dalam kami menemui keluarga Yen yang rumah barunya hancur karena gempa. Keluarga tersebut memasak sendiri seadanya di reruntuhan rumah yang dihuni 2 bali, 1 ayah dan 1 ibu. Kedalam lagi kami bertemu dengan Ibu Razani (68 tahun) bersama Mansur suaminya dan Jhon anaknya yang sedang sakit demam. Rumah mereka rusak berat di bagian dapur, kamar mandi dan dinding depan. Kemudian kami menemui Tengku Zulkifli, rumahnya rusak berat di bagian depan, belakang, samping.

Sepanjang jalan masuk menuju posko korong Kampani, terlihat reruntuhan rumah di berbagai area. Makin keatas makin banyak rumah yang rusak. Kami berhenti di SDN 03 Koto untuk mendokumentasikan kerusakan bangunan di sekolah tersebut. Lalu mengunjungi Posko Korong Barangan sambil menyampaikan oleh-oleh yang tersisa.
Pak Jazril menyampaikan bahwa Nagari Lurah Hampala Kecamatan Tujuh Koto Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 15 korong dan dihuni 7.191 jiwa dengan 1.553 KK. Korban gempa yang meninggal sebanyak 15 jiwa, 37 orang luka-luka. Ada 1.421 rumah rusak berat, 199 rusak sedang, 14 rusak ringan. Sumber air mengandalkan air hujan. Jarak dari sungan sekitar 2-3 km. Diperlukan sumber air bersih dan posko medis di korong tersebut.

Saat ini mereka menerima 151 tenda dari Caritas Indonesia, 9 karung beras dari Pemda dan bantuan pangan dari beberapa donatur.

Kami memberikan print out pendataan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat kerusakan rumah yang dialami akibat gempa Sumatera.

Hasil pemetaan kebutuhan di Pariaman mendorong kami untuk membuka posko peduli gempa di rumah Ibu Redawati jalan Sisingamangaraja Batang Kabung samping SDN 07 Batang Kabung dengan Ibu Reda, Darnelis, Rika dan Pak darnel sebagai relawan lokal yang mengelola posko tersebut.

Fokus area kami putuskan di SDN 07 Batang kabung, kelompok kecil Kampani, Pasar Ulakan dan Manggopoh Ujung.

Pukul 15.10 kami berangkat menuju posko peduli gempa Sumatera yang dikelola Andi Liputo di padang. Kami sempat mendokumentasikan beberapa lokasi reruntuhan gedung bertingkat dan masjid di Padang sebelum berkordinasi di posko WALHI provinsi Sumbar. Kordinator : Kha;lid Saefullah 081363482946
Email : kucinglia@yahoo.com
Kami mendapatkan kontak untuk kordinasi di Padang pariaman sebagai berikut :

Posko WALHI Padang Pariaman 0751-690572
Kordinator : Noldi 081363180232
Database : Hendri Insan 081363180232
Logistik : Nurhayati 0813267421763
Infokom : Poniman 081374601283
Bendahara : Rin 085263299983
Email : lumbungderma@gmail.com

Posko Peduli Gempa Sumatera Rumah KerLiP
Penanggung Jawab : YantiKerLiP
Kordinator Infokom dan Advokasi di Padang : Andi Liputo (0751-778771/081267229846)
Kordinator Program di Pariaman : Darnelis 085274158006/085263325564
Bendahara : Redawati 081363447098
Humas dan Logistik : Darlis
Database : Rika (08136375561)
Sekretariat : Rumah Ibu Redawati
Jl. Sisingamangaraja Batang Kabung Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman

Senin, 05 Oktober 2009

Kondisi sekolah pasca gempa di Padang Pariaman

Sepanjang jalan Jati menuju Ulakan kami menemukan sedikitnya 2 SD yang rusak parah.

SD 07 di depan rumah Mika yang hancur karena gempa terlihat sangat parah. Perlu perbaikan besar-besaran. ANak-anak memerlukan tenda kelas untuk kembali belajar. SD lainnya tempat Posko SIKIB dan ASKES bermarkas belum memulai kegiatan belajar karena bangunan sekolah tidak dapat digunakan. Menurut Bapak Syukur pemilik toko di seberang sekolah tersebut, keberadaan Posko ini sangat membantu terutama ketika menyediakan pelayanan gratis. Di korong ini >80% rumah hancur dan rusak berat. Pak Syukur yang ternyata juga Kepala SMP 1 Nan Baris menyampaikan harapannya agar bantuan kemanusiaan disampaikan melalui wali korong. Seperti yang dilakukan Baznas, bantuan kemanusiaan terdistribusi dengan baik di korong ini. Pak Syukur juga menyampaikan permohonannnya dalam bentuk 17 tenda kelas untuk memulai kegiatan belajar bagi 584 pelajar di SMP 1 Nan Baris yang rusak parah akibat gempa.

Kondisi kerusakan sekolah ini adalah salah satu dari 533 gedung sekolah yang dilaporkan rusak akibat gempa seperti kutipan berita berikut ini :

Gempa Rusak 533 Gedung Sekolah di Sumbar


Media Indonesia, 05 Oktober 2009

PADANG--MI:
Sebanyak 533 unit gedung sekolah rusak akibat gempa tektonik 7,6 SR yang menguncang Sumatra Barat, Rabu (30/9).

Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Senin (5/10), menyebutkan, dari 533 gedung sekolah yang rusak, 251 unit diantaranya rusak berat dan sulit untuk bisa digunakan lagi.

Kemudian, sekolah yang rusak sedang mencapai 192 unit dan rusak ringan 90 unit. Gedung sekolah yang paling banyak rusak berat terdapat di Kabupaten Padang Pariaman yakni 124 unit, kemudian Kabupaten Agam (43), Kota Pariaman (34), Kabupaten Pasaman Barat (21) dan Padang (7).

Meski banyak gedung sekolah yang rusak, kegiatan pendidikan telah dimulai Senin ini, namun belum dilakukan secara penuh. Murid-murid yang sekolahnya hancur dan tidak bisa digunakan mengikuti proses belajar mengajar di tenda-tenda sekolah yang didirikan badan BPP,
Unicef.

Tenda-tenda sekolah dikirim Unicef sejak Minggu dan terus didatangkan hingga Rabu (7/10), yang diangut dengan dua kapal, kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar.

Tenda-tenda sekolah itu akan didirikan di sekolah-sekolah yang hancur karena gempa, atau yang tidak bisa dipakai lagi untuk belajar-mengajar. Sedangkan jumlah tenda sekolah yang akan didirikan itu mencapairatusan unit dan akan terus ditambah untuk mencukupi penggantian sementara gedung-gedung sekolah yang rusak, tambahnya.

Tenda-tenda sekolah itu kemungkinan juga ada yang dibawa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang sebelumnya dipakai untuk tempat belajar sementara anak-anak korban tsunami di daerah itu.(Ant/OL-01)

Bantuan kemanusiaan di sepanjang jalan menuju Ulakan - Padang Pariaman sangat minim

Sepanjang jalan dari Jati menuju Ulakan hampir semua penduduk yang terkena bencana dan posko yang didirikan di setiap Korong terutama Mangopoh Ujung yang dihuni > 350 KK belum mendapatkan bantuan kemanusiaan yang memadai. Sampai hari ini mereka baru mendapatkan 5 karung beras dan sedikit mie sehingga setiap keluarga hanya mendapatkan 2 liter beras dan 2 bungkus indomie. Kondisi Posko di salah korong terakhir yang kami temui lebih beruntung karena keluarga dari perantauan mengirimkan bantuan beras dst. Korong di kecamatan Ulakan dengan tingkat kerusakan yang parah ini dihuni >76 KK dan melibatkan anak-anak, ibu-ibu, lansia untuk mengatur bantuan kemanusiaan yang masuk. Sisa Dana dan bantuan makanan anak yang dibawa dari Bandung akhirnya diserahkan di posko tersebut untuk dibagikan secara berkeadilan kepada seluruh penduduk yang terkena bencana di korong masing-masing.

Berikut kliping berita mengenai kondisi di Sumatera Barat pasca gempa

* * *
Duh, 320 Keluarga Terancam Kelaparan

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com- Sebanyak 320 keluarga yang menghuni Korong atau Dusun Koto Tinggi, Kanagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, terancam kelaparan. Wilayah mereka terisolasi karena semua akses jalan menuju Koto Tinggi terputus dan tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Sejak gempa terjadi, bantuan baru datang hari Minggu (4/10).
Korban gempa di Koto Tinggi kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Menurut salah seorang sesepuh dusun, Abdul Azis Sutan Bandaharo, tak banyak bantuan yang diperoleh masyarakat hari Minggu. Semua serba terbatas karena karena bantuan diangkut berjalan kaki, sementara jarak ke dusun kami sangat jauh dari tempat terakhir kendaraan bisa melewati jalan di simpang tiga. "Masyarakat sangat membutuhkan bahan makanan dan obat-obatan karena banyak warga kami yang sakit dan belum terobati," ujar Bandaharo, Senin (5/10).


Menurut dia, sebanyak 13 orang warga Koto Tinggi tertimbun tanah longsor dan belum ditemukan jenazahnya. Selain itu ada dua orang warga yang meninggal di dekat rumahnya yang runtuh, juga belum dapat dievakuasi karena tak ada alat berat. Tim penyelamat baru datang ke Koto Tinggi hari Senin. Mereka terdiri dari tim Manggala Agni Departemen Kehutanan dan relawan dari pemadam kebakaran asal Perancis.
Akses ke Koto Tinggi hanya bisa ditempuh dari dua titik, yakni dari Padang Alai dan Malalak di Kabupaten Agam. Jalan dari Padang Alai maupun Malalak menuju Koto Tinggi terputus sejak gempa.


Bahkan putusnya jalan dari Padang Alai terjadi di tiga titik. Jalan yang terputus bisa mencapai satu kilometer. Selain terputus, di beberapa titik, jalan juga tertimbun longsoran tanah sehingga tak bisa dilewati kendaraan.
Relawan dari Perancis yang juga membawa dokter dan paramedis, sempat mendirikan klinik darurat di sebuah sekolah. Tercatat hampir 50 warga langsung mendatangi klinik tersebut. Sebagian warga mengeluh sesak nafas, sementara anak-anak menderita demam tinggi selama beberapa hari terakhir. Ada juga orangtua yang kekurangan nutrisi karena tak mendapat asupan bahan makanan cukup. Mereka langsung diinfus oleh tim medis relawan asal Perancis.


Kasman, warga setempat menuturkan, bantuan yang datang harus diangkut dengan berjalan kaki dari Padang Alai. Waktu tempuh dari Padang Alai menuju Koto Tinggi berjalan kaki selama dua jam. "Jumlahnya jadi tak seberapa karena diangkut dengan berjalan kaki, sementara kami betul-betul membutuhkan bahan makanan. Mungkin kalau beras, kami masih cukup, karena sebagian warga adalah petani, tetapi bahan makanan lain untuk memasaknya seperti minyak tak bisa kami dapatkan," katanya.
Berharap akses bantuan dari Malalak juga tak mungkin karena jalan dari sana juga terputus di beberapa titik. "Kendaraan yang lewat hanya sepeda motor. Itu pun kami harus berhati-hati," ujar warga lainnya, Zul Effendi.


Bantuan memang bisa didrop lewat udara menggunakan helikopter. Akan tetapi bantuan dari helikopter diturunkan asal-asalan, seperti yang dilakukan oleh helikopter Badan SAR Nasional, Senin sore. Mereka menurunkan bantuan berupa indomie di dekat lapangan sekolah tempat relawan Perancis membuat klinik darurat. Ini membuat korban gempa yang berobat terganggu, sementara tenda darurat yang didirikan warga rusak oleh getaran suara helikopter.
* * *
Jalur Padang-Bengkulu Putus

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.com- Hujan deras yang mengguyur Sumatera Barat, Minggu malam hingga Senin (5/10) siang, menyebabkan jalan lintas barat Sumatera jalur Padang-Bengkulu, terputus di kilometer 43, di Baruang-Baruang Belantai, Kabupaten Pesisir Selatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat, Dody Ruswandi mengatakan, putusnya jalan di kawasan Pesisir Selatan itu karena badan jalan terban digerus arus sungai sepanjang 30 meter. "Jalan alternatif tidak ada, sehingga kini ratusan kendaraan antre baik menuju Painan dan Bengkulu maupun sebaliknya," katanya.

Menurut Dody, pihaknya sepanjang Senin sudah menurunkan petugas dan alat berat untuk menanggulangi. Besok (Selasa, 6/10) diupayakan kendaraan bisa melewati jalan yang masih darurat. Sementara itu, badan jalan lintas tengah Sumatera jalur Padang-Solok yang putus di kawasan Panorama Sitinjau Lauik, Kota Padang, yang menyebabkan dua kendaraan tertimbun, sudah mulai pulih.
Dody mengingatkan, pengendara agar hati-hati jika hari hujan. Kawasan pebukitan rawan longsor, dan kawasan jalan pinggir sunggai rawan ambles/terban. "Berhentilah melewati daerah rawan jika hujan lebat, setelah mereda silakan lanjutkan perjalanan," katanya.

* * *
Lagi, Malam Ini Pariaman Diguncang Gempa 5,1 SR

Rakyat Merdeka, 05 Oktober 2009,



Jakarta, RMOL. Malam ini (Senin, 5/10), sekitar pukul 19.51 WIB terjadi gempa susulan di Pariaman, Sumatera Barat.

Gempa terjadi dengan lokasi 0,5 Lintang Selatan (LS) /99,63 Bujur Timur (BT). Pusat gempa terjadi di 62 KM barat daya Pariaman.

Kekuatan gempa susulan ini mencapai 5,1 skala richter dengan kedalaman 58 KM. [yan]
* * *
Layanan Perbankan di Padang Berangsur Pulih

Senin, 05 Oktober 2009

TEMPO Interaktif, Padang - Aktivitas perbankan di Padang pascagempa berangsur pulih. Masyarakat tampak mulai memadati kantor maupun gerai anjungan tunai mandiri. "Tapi belum semua layanan bisa dilayani," ujar Apep Mochammad, Koordinator Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Padang, Senin (5/10).

Apep mengatakan aktivitas layanan sudah dioperasikan oleh seluruh perbankan di wilayah Padang. Jenis layanan yang paling banyak dimanfaatkan para nasabah umumnya adalah penarikan tunai melalui 288 mesin anjungan tunai mandiri yang tersebar di seluruh Padang.

Sebagai badan otoritas monoter nasional, kata Apep, BI telah menjalankan sejumlah unit kerjanya guna mengatur lalu lintas keuangan antarbank. "Cuma Bank Internasional Indonesia yang belum bisa difasilitasi layanan real time gross settlement (sistem transaksi jumbo antar bank) dan sistim kliring nasional," ujarnya.

Lumpuhnya layanan BII terjadi karena kantor cabang mereka yang berada di Jalan Sudirman rusak berat. Gedung dengan tiga lantai itu roboh dan menghancurkan sejumlah peralatan kerja. "Para karyawan juga masih dalam keadaan berduka karena pimpinan cabang mereka ikut menjadi korban," ujarnya.

Untuk menanggulangi dampak gempa, kata Apep, BI telah menyiapkan stok uang kartal yang cukup bagi warga Padang. Penarikan tunai yang dalam jumlah besar terjadi di Nagari beberapa waktu lalu untuk keperluan pembayaran gaji pegawai pemerintah daerah Padang.

Berdasarkan pantauan Tempo, layanan perbankan di sejumlah tempat memang belum sepenuhnya pulih. Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter yang mengguncang wilayah Padang dan Pariaman lima hari lalu merusak bangunan sejumlah kantor perbankan seperti yang tampak di kantor Cabang Utama BCA, Sawahan.

Akibat kerusakan tersebut, manajemen BCA terpaksa mengalihkan layanan mereka ke kantor cabang yang berada di Jalan Pemuda. Di sana mereka telah mendirikan sebuah tenda besar seluas 24 meter. "Itu juga untuk mengantisipasi dampak gempa susulan," ujar Lefiater Sitohang, Kepala Cabang BCA Padang.

Dampak gempa relatif tidak berpengaruh terhadap Bank Mega di Jalan Sudirman. Kantor dengan tiga lantai itu hanya mengalami retak ringan di sejumlah tempat. "Dua dari tiga gerai ATM kami belum berfungsi. Layanan ATM hanya bisa dimanfaatkan di kantor," ujar Yose Rizal, Kepala Bagian Umum Bank Mega Cabang Padang.

* * *

Ayo bantu

Detik News, 05/10/2009
Warga Keturunan Keluhkan Diskriminasi Bantuan

Padang - Pengiriman bantuan terhadap korban gempa di Sumatera Barat dirasakan tidak merata. Warga keturunan Tionghoa mengeluhkan pemerintah bersikap diskriminatif dalam mengirimkan bantuan di Kampung China, Padang, Sumatera Barat.

"Benar ada diskriminasi. Kami tidak pernah dibantu oleh pemerintah," kata Koordinator Penanggulangan Gempa Masyarakat Tionghoa, Andreas di Kampung China, Padang, Sumatera Barat, Senin (5/10/2009).

Menurut Andreas, warga keturunan Tionghoa mencari dan mengevakuasi mayat sendiri. Pemerintah meski sudah datang ke lokasi bencana, tidak memberikan bantuan apapun.

"Kami lakukan sendiri. Mereka datang kemarin tapi cuma lihat saja tidak memberikan apapun. Dari etnis kita yang tewas 48 orang. Lainnya saya nggak tahu," jelasnya.

Andreas mengatakan, pihaknya pun mengirimkan bantuan kepada korban gempa tidak hanya sesama etnis Tionghoa tapi juga korban lainnya. Bantuan itu didapat keluarga dan jaringan.

"Lalu kita distribusikan kembali ke daerah bencana seperti Pariaman dan kecamatan sekitar sini," imbuhnya.

Kendalanya, lanjut Andreas, bantuan masih dirasa kurang karena banyak korban gempa selain yang di Kampung China mengambil makanan di dapur umum mereka.

"Butuh bantuan yang lebih banyak. Kita kan juga membantu orang yang bukan etnis kita. Kayak mendirikan dapur umum itu banyak yang mengambil di sini," katanya.

* * *

Jawa Pos 05 Oktober 2009


Distribusi Makanan Lambat, Korban Gempa Mulai Kelaparan

PADANG - Para korban gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mulai kelaparan. Mere­ka yang kekurangan makanan tak hanya yang berada di daerah terpencil, tapi juga di Kota Pa­riaman dan Padang.

Bantuan makanan telat datang. Hal itu dikeluhkan para warga Enam Lingkung Naga­ri Pakandangan, Kampung Panas, Padang Pa­riaman. Menurut Yulianti, salah seorang warga, sejak gempa terjadi Rabu lalu (30/9), desanya belum mendapat bantuan makanan sama sekali.

''Ada bantuan pakaian. Tapi, buat apa? Kami nggak butuh pakaian," keluhnya.

Yulianti bersama ratusan warga lain hampir putus asa. Pasalnya, persediaan makanan mereka sudah menipis. ''Bisa makan sekali sehari sudah untung," ujarnya.

Hal serupa terjadi di Kota Pariaman. Tak urung, saat bantuan tiba, para warga langsung mengular antre di posko bencana. Bahkan, mereka saling berebut mi yang dibagikan para relawan. ''Sabar, ya bapak-bapak, ibu-ibu," ujar sa­lah seorang relawan.

Namun, para warga semakin tidak sabar. ''Sabar bagaimana, sudah ke­laparan seperti ini," celutuk salah seorang ibu. Mendengar celetukan itu, para relawan hanya tersenyum.

Di perkampungan China, Kota Padang, warga keturunan Tionghoa juga kekurangan makanan. Apalagi, mereka yang rumahnya habis "tertelan" gempa.

Sampai hari keempat pascagempa, sejumlah masyarakat mengeluh belum menerima bantuan dari pemerintah setempat. Masyarakat hanya bertahan dengan persediaan logistik yang tersisa. Para korban itu mengaku kecewa atas lambannya pendistribusian makanan.

''Sampai hari ini kami sama sekali belum menerima bantuan. Bagaimana bentuk bantuan dan apa rasanya kami tak tahu. Sementara persediaan di rumah sudah sangat terbatas. Jika kondisi ini terus berlanjut, bisa-bisa kami mati kelaparan," ujar Zulkani, salah seorang korban gempa di RT 01 RW 07 Pasar Ambacang.

Dia sangat menyayangkan lambannya pendistribusian logistik dari pemerintah. Padahal, logistik tersebut sangat dibutuhkan masya­rakat setempat. ''Kami sangat ingin bantuan logistik itu segera datang. Kami yang tua-tua bisalah menahan lapar. Tapi, bagaimana dengan anak-anak?" ujarnya. Hal senada dikeluhkan Kasman, ketua RT 03 RW 05 Rawang Ketaping. Padahal, di tempat tinggalnya ada sekitar 500 korban gempa.

Lebih parah lagi beberapa dusun terpencil di Padang Pariaman. Di antaranya Dusun Korong Siala­ngan, Padang Alai, Koto V Timur dan Desa Nagari Tandikek, yang ber­batasan dengan Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung.

Persediaan makanan warga, seper­ti beras dan mi, sudah menipis. Bah­kan, ada yang sudah tak me­miliki beras sama sekali. ''Di bawah (Padang Alai, Red) katanya ada posko. Kami ingin minta bantuan makanan,'' ujarnya.

Memasuki dusun itu, yang terlihat hanya puing-puing rumah berserak­an. Tatapan para bocah terlihat kosong, seolah tak bermasa depan. Sudah beberapa hari ini mereka hanya makan mi. ''Kami harus berhemat. Yang penting bisa makan bareng-bareng,'' jelas Firdaus, salah seorang warga Korong Sialangan.

Bukan hanya kondisi rumah me­reka yang mengenaskan. Pada ma­lam, dusun itu gelap gulita. Selain listrik yang memang belum masuk, minyak tanah yang biasa untuk menghidupkan lampu tidak bisa lagi mereka dapatkan. Kalaupun ada sisa sedikit, mereka lebih memilih menggunakan untuk memasak.

Kemarin warga mulai berbenah. Mereka mengais-ngais barang yang diperkirakan masih bisa dipakai. Peralatan rumah tangga yang masih bisa diperbaiki mereka selamatkan. Kursi, meja, lemari, dan perabotan lain mereka kumpulkan. Mereka juga mengais sisa makanan di reruntuhan rumah mereka. ''Setiap hari kami mencari sisa makanan seperti ini,'' ujar Tahir, warga lainnya.

Karena mulai kelaparan, warga mu­lai ada yang turun ke bawah per­bukitan. Mereka mendatangi posko bantuan yang ada di Padang Alai. ''Hingga hari ini, belum ada bantuan yang datang,'' ujar Samiun, juga warga Korong Sialangan.

Sejatinya, warga memaklumi bila belum ada bantuan yang datang lantaran sulitnya akses menuju ke du­sun mereka. Tapi, mereka berharap agar usaha mencari bantuan makanan ke posko bisa berhasil. ''Dari dulu kami memang terisolasi, apala­gi setelah ada gempa ini,'' ucapnya.

Nagari Tandikek memiliki beberapa korong (setingkat dusun), an­tara lain Jumanak, Gunuang Tigo, dan Lubuaklaweh. Kira-kira 90 persen rumah penduduk dan fasilitas umum di tiga dusun itu rata dengan tanah. Ratusan orang diperkirakan tertimbun reruntuhan bukit yang mengitari nagari tersebut.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Heryanto Rustam tidak menampik adanya daerah yang belum tersentuh bantuan. Karena itu, dia berjanji mempercepat pendis­tribusian bantuan. ''Memang kami akui, mungkin masih ada daerah yang belum tersentuh bantuan. Bantuan yang masuk dibagi rata. Jadi, dapatnya memang sedikit-sedikit seperti itu," jelasnya.

Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI mendeteksi 10 titik yang dikategorikan kawasan rawan penyakit menular. Penyakit yang dianggap rawan tersebut, antara lain, malaria dan kolera. Untuk itu, pihaknya melakukan penyemprotan. Lokasi awal penyemprotan adalah Adira, Ambacang, dan kawasan Pondok. Tiga kawasan itu dianggap rawan terhadap penyakit menular tersebut.

Hingga kemarin, jumlah korban tewas terus meningkat. Namun, pendataan yang dilakukan kerap berbeda. Pada Sabtu (3/10) pukul 21.00, data korban meninggal yang dirilis Satkorlak Pemprov Sumbar mencapai 613 orang. Na­mun, hingga pukul 16.00 kemarin, jum­lahnya turun menjadi 606 orang. "Ada kesalahan verifikasi," ujar salah seorang petugas pendataan yang enggan namanya dikorankan.

Di sisi lain, para korban gempa masih trauma. Ratna, 33, warga yang rumahnya roboh di Jalan Kapal Karam, memilih tidur di luar bersama dua anaknya. "Anak-anak sampai nggak berani tidur di rumah," ungkapnya. Seluruh warga Desa Banuaran, Padang, juga memilih tidur di luar rumah.

Mereka mengkhawatirkan datangnya gempa susulan. "Kami akan tidur di luar sambil memastikan tak ada gempa susulan," ucap Prakoso, salah seorang warga.

Sementara itu, kemarin warga Rao Kabupaten Pasaman dikejutkan guncangan gempa Minggu (4/10) dua kali. Gempa terjadi pukul 03.00 WIB dan pukul 13.45.04 WIB. Gempa dengan kekuatan 4,2 SR itu berlangsung selama beberapa detik disusul getaran kecil.

Gempa tektonik juga mengguncang wilayah Kabupaten Mano­kwari. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan 6,1 Skala Richter (SR) terjadi Ming­gu (4/10) siang pukul 12.36 Wit. (kit/jpnn/iro)
* * *
Militer Asing Berdatangan ke Sumbar


Media Indonesia, 05 Oktober 2009

PADANG-MI:
Puluhan personel militer asing berdatangan ke Sumatra Barat (Sumbar) untuk membantu upaya pencarian korban gempa 7,6 skala Richter di provinsi tersebut.

Berdasarkan pantauan di Satuan Koordinasi Pelaksana (Sarkorlak) Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Minggu (4/10), sejumlah pimpinan dari militer asing berseragam loreng nampak berkoordinasi dan melaporkan kehadirannya di posko
tersebut. Personel asing itu, antara lain dari Australia, Jepang, Rusia, Korsel, Malaysia.

Truk-truk bercat loreng milik militer asing juga mulai nampak di Padang seperti milik Malaysia.

Selain personel militer, ratusan relawan dari puluhan lembaga sosial dan tim pencari serta penolong (SAR) asing juga telah berdatangan ke Sumbar sejak sehari setelah bencana terjadi Rabu (30/9).

SAR asing itu, seperti dari Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Swiss, Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Uni Eropa dan lembaga-lembaga di bawah PBB.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) menawarkan bantuan personel militer dan berbagai peralatan dibawa dengan kapal induk untuk membantu upaya evakuasi para korban gempa.

Tawaran bantuan itu disampaikan pemerintah AS melalui Konsul Jenderal AS untuk Sumatera, kata Ketua Harian Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar Marlis Rahman.

Kapal induk dengan ratusan personel militer serta didampingi kapal korvet AS itu kini tengah berlayar tidak jauh dari perairan Sumatera, tambahnya.

Ia mengatakan, menurut Konsul Jendral AS itu jika tawaran ini dapat diterima pihak Indonesia, maka dalam beberapa hari kapal induk dengan personelnya telah dapat mendekati perairan laut Sumbar. (Ant/OL-7)

* * *
Ya Ampun, Bantuan Korban Gempa Sumbar Dijarah


Rakyat Merdeka, 04 Oktober 2009,



Jakarta, RMOL. Banyak bantuan korban gempa Sumatera Barat berupa makanan yang dibawa truk lewat jalur darat dijarah oleh orang tak dikenal.

"Kita sudah menerima laporan penjarahan yang dilakukan oknum masyarakat dan tindakan itu sangat disesalkan," kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar di Padang, Minggu (4/10).

Dia mengakui bantuan itu memang tidak dikawal oleh aparat. Menurut dia, banyak oknum warga menghentikan truk yang membawa bantuan di tengah jalan. Lalu mereka memaksa barang diturunkan. Supir sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia mengharapkan, masyarakat dapat membantu upaya pendistribusian bantuan bagi para korban gempa dan aksi penjarahan diharapkan tidak lagi terjadi. Sementara itu dari Kabupaten Padang Pariaman, terjadi penjarahan di posko penampungan bahan bantuan. Ironisnya, barang-barang yang dijarah dibawa oleh warga menggunakan kendaraan roda empat. [dry]

Minggu, 04 Oktober 2009

Law of Attraction...mphhhh....Alhamdulillah

Tubuhku merinding semangatku makin bergelora mendapatkan dukungan dari banyak pihak.Sejak kemarin banyak peristiwa yang menggugah kesadaranku tentang berkah dari Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan aku terpelihara dari sifat ujub dan takabbur.
Kemarin siang, sesaat setelah kuputuskan untuk memesan tiket Jakarta - Padang kuhampiri adinda tersayang di kursi panjang kesayangannya. Ada Zakky disana. "Neh, teteh akhirnya memesan tiket ke Padang. Pemberangkatan sebagai relawan WALHI masih belum jelas. Mudah-mudahan kegiatan survey ke Padang bisa mendorong mitra Rumah KerLiP untuk mengirimkan bantuan ke posko yang dibuka keluarganya Yuli, teman teteh dari kota Padang dan keponakannya Teta di Padang Pariaman," jelasku sambil duduk di sebelah ananda Zakky. Zakky sedang menunggu nasi goreng pedas buatan Dedi, suami adikku. "Insya Allah penuh barokah, Teh. Banyak tempat yang belum terjangkau bantuan kemanusiaan disana. Ayo Zakky ikut ibu ke Padang, bantu saudara-saudara kita yang terkena bencana!" seru Bi Usi adikku sambil menepuk pundak Zakky. "Doakan Allah memudahkan ibu untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan untuk ke Padang ya!" imbuhku pada Zakky sambil mencicipi nasi goreng pesanannya. "Oh ya, bantu ibu cari ATM ya! Ibu lupa nyimpen nih! Kalau ngga salah masih dipegang Zamzam," seruku lagi. Zakky dan aku berlomba menghabiskan nasi goreng lezat buatan Om Dedi. Setelah tidak berhasil menelpon Zamzam berkali-kali, kutelpon Ova. Hari ini Ova, Kordinator Rumah KerLiP pergi ke Depok untuk memfasilitasi bimbingan pelajar SMA dan SMP binaan omnya. Dari pembicaraan dengan Ova aku yakin ATM BCA ku masih dipegang Zamzam. Duh! waktu cepat sekali berlalu! Batas pembayaran tiket pesawat hanya btinggal 25 menit saat aku berhasil mengontak Zamzam di Sekretariat Kalyanamandira. Alhamdulillah, ternyata ATM ku masih dipegang Zamzam. Kudiktekan nomor booking dan info lengkap untuk pembayaran tiket pesawatku. Sementara itu kulihat ada sms masuk. Yanti, aku ingin sekali membawa anak-anakku ke Padang. Ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi anak-anak untuk membangun kepedulian terhadap sesama. Sesaat kemudian kutelpon Ratna dari Bali yang mengirim sms tersebut. Dengan penuh semangat kuceritakan rencanaku. Terima kasih Tuhan. Ratna, teman yang kukenal pada saat mengikuti pelatihan advokasi berbasis hak dan adil gender pada tahun 2004 di Yogyakarta ini selalu siap mendukung kegiatan-kegiatanku. Dia mengirimkan beberapa relawan dari Tanjung Benoa Bali ke SD Hikmah Teladan untuk magang implementasi Pendidikan Anak Merdeka yang kurintis dan kukembangkan bersama Aripin dan kawan-kawan di sekolah tersebut beberapa saat setelah membaca gerakan KerLiP di Kompas pada bulan Oktober 2005. Tidak hanya itu, dia mengundang Aripin yang saat itu menjabat sebagai project officer Tim Litbang KerLiP di Perguruan Darul Hikmah Cimahi. Selama beberapa hari Aripin mendampingi para relawannya mengembangkan model pendidikan alternatif bagi anak-anak nelayan di Tanjung Benoa. Kemuliaannya makin terasa saat Ratna menyediakan kendaraan dan Merlyn, staf di perusahaan real estate yang didirikan Ratna yang cantik dan baik hati untuk mempersiapkan kegiatan Rakernas sebuah organisa guru di Denpasar pada tahun 2007. Ratna dan Merlyn pun selalu siap membantuku menyusun dan menyelesaikan laporan kegiatan tersebut. Tidak hanya itu, aku mendapatkan oleh-oleh yang istimewa darinya.
Kini, saat aku tak sabar untuk mendorong penguatan relawan lokal di Padang pasca gempa, Ratna pula yang siap membantu meringankan beban penduduk yang terkena bencana di Sumatera Barat setelah pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan kutuntaskan. Ratna juga berbaik hati untuk mengongkosi ananda Zakky ke Padang untuk membangun karakter bersama anak-anak kesayangannya. Alhamdulillah.Zamzam bergegas menyampaikan bukti pembelian tiket dan ATM BCA yang digunakan untuk membayar beberapa kebutuhan bantuan kemanusiaan yang akan dibawa ke Desa Pamalayan Garut besok.

Sungguh sebuah kemuliaan bagiku mendapatkan kepercayaan untuk memimpin dan mendukung orang-orang yang begitu setia dengan kepedulian yang luar biasa. Setelah adinda Rusi, Dedi suaminya, Ami, Wita dan Sarah yang setia menemani Icha setiap waktu, Ratna, Zamzam, kemudian Ova yang tak kenal lelah melaksanakan program pendampingan penanganan psikososial di Garut, aku pun mendapatkan karunia yang luar biasa. Hari ini, saat mengantri pembayaran brownies kukus di Amanda Dago, ada seorang Ibu cantik ditemani putranya menitipkan bantuan uang Rp 500.000,-. Aku sama sekali tidak mengenalnya, bahkan bertemu pun baru kali ini. Ibu mendapatkan tiket pesawat ke Padang? Ada saudara disana? begitu kudengar pertanyaan dari Ibu cantik ini saat mendengar obrolanku tentang kue yang dikemas khusus untuk oleh-oleh bagi anak-anak korban gempa di Padang. Adinda Rusi menjelaskan bahwa kami tidak memiliki saudara dekat disana, tapi sejak tsunami menimbulkan korban yang luar biasa di Aceh pada tahun 2005 lalu, aku mulai bekerja di daerah yang terkena bencana atas nama Perkumpulan KerLiP.

Sampai di rumah, kuhampiri ananda Icha dan keempat sepupunya yang tengah asyik menonton ’dangdutan’ di rumah tetangga yang menikahkan putrinya hari ini. Anak-anak masih asyik menonton saat kuputuskan untuk menuyiapkan keberangkatanku ke Padang. Dedi memperkenalkanku pada seorang mahasiswi UNPAD dari Padang. Shinta, namanya. Dia cantik dan gemar bercerita. Pengalaman pahit keluarganya memacu semangatnya untuk meraih prestasi. Dia menceritakan pahit getirnya kehidupan yang pernah dijalani keluarganya. Dia juga menceritakan kemampuan ibundanya tercinta yang dapat berkomunikasi jarak jauh dengan Rusi adindaku tersayang.
Sejak taman kanak-kanak dia menjuarai berbagai kegiatan menulis puisi bahkan novel di Bukit tinggi. Yang menarik, dia begitu bersemangat untuk menjadi relawan Rumah KerLiP dan langsung membantu Ova, kordinator program untuk menyusun laporan keuangan harian dari program bantuan kemanusiaan di Jawa Barat dan Sumatra. Alhamdulillah, kami langsung berteman, bahkan Shinta meminjamkan koper merah miliknya untuk mengangkut barang-barang pribadiku ke Padang.

Mudah-mudahan Allah memberkati kami semua untuk menjalankan amanah ini. Aku pun akan berusaha untuk tidak akan mengecewakan siapapun yang begitu setia dengan prinsip demi kepentingan terbaik anak dan perempuan. Insya Allah.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Kliping Berita Gempa Sumatera

Koordinasi Penanganan Gempa Masih Kacau

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang -Hari kedua gempa Sumatera Barat nyaris tanpa penanganan berarti. Minimnya peralatan dan personil, hingga tidak adanya koordinasi yang jelas, membuat penanganan terkesan lamban dan amburadul.

Korban gempa di dua kawasan, kota Padang dan Pariaman, terpaksa menangani persoalannya sendiri. “Sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari kecamatan,“ ujar Kepala Desa Cubadak, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman, Darjis Mansyur, Jumat (2/10).

Darjis Masnyur menyebut, dari 357 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warganya, hampir seluruhnya kini terpaksa mondok di tenda- tenda yang dibuat warga di rumahnya masih-masing.

"Ini daerah yang sangat parah. Semua rumah hampir rubuh. Dua warga tewas, 170 luka parah dan ringan. Kami tidak bisa apa-apa,” kata Darjis. “Makan, minum dan berobat oleh warga sendiri.”

Dari pantauan Tempo pada hari pertama dan kedua pascagempa, di dua kabupaten masing-masing Padang Pariaman dan Kabupaten Agam, setidaknya 4 wilayah pada tiga kecamatan masing-masing Sungai Limau, Kecamatan Sintuk dan Kecamatan Nan Sabaris dan Kecamatan Sintuk Toboh mengalami bencana terparah. Ratusan rumah terlihat ambruk rata dengan tanah.

Namun, hingga hari kedua, seluruhnya dipastikan belum mendapat bantuan apa pun. “Tidak ada yang datang. Ketua RT pun tidak,“ ujar Saharuddin Ambai, warga desa Simpang Toboh, Kecamatan Sota Toboh Gadang.

Saharuddin Ambai menyebut, dari 7 anggota keluarga, empat di antaranya mengalami luka serius. Dua luka akibat tertusuk pecahan kaca, dua lainnya patah tangan. Keempat anggota keluarganya kini terpaksa dirawat di tenda darurat di depan rumah.

Sementara itu, hampir di setiap persimpangan lajur jalan utama Lubuk Basung – Sungai Limau, hingga Lubuk Alung, terlihat warga mendirikan posko-posko bantuan bencana. Namun, posko dimaksud lebih pada meminta sumbangan dari kendaraan-kendaraan yang melintas.

"Kami sudah mendapat izin kepala desa. Kami memang minta bantuan kepada siapa pun yang lewat. Tapi tidak memaksa, “ ujar Zaini, Ketua RT Toboh gadang, Kecamatan Sintuk Gadang. “Posko bikinan kami sendiri dan untuk kami.“

Pemandangan serupa juga terlihat di hampir semua lokasi gempa di Kota Padang. Pantauan Tempo di berbagai lokasi, warga nyaris menangani persoalannya sendiri. Jika ada penanganan, itu telihat hanya di beberapa lokasi gedung, di mana para korban masih tertimbun di reruntuhannya.

Sejumlah keluarga korban menyebut, hampir 48 jam tim penyelamat bekerja dinilai tidak maksimal. “Sudah sejak malam hingga kini, anakku masih tertimbun di dalam. Tim penyelamatan seperti tidak bekerja saja," ujar Op Maxwell Sipayung, orang tua Sri Faulita Sipayung, mahasiswa semester III Sekolah Tinggi Ilmu bahasa Asing Prayoga Padang yang masih terjebak di reruntuhan gedung bersama 14 mahasiswa lainnya.

Menurut Sipayung, sejak datang ke kampus, pada malam kejadian hingga hari kedua ini, pihaknya nyaris tidak tahu mau berbuat apa pun kecuali
menangis. “Tidak ada yg bisa ditanya dan tidak ada yang bisa membantu. Baru pagi tadi ada tim tentara yang datang, “ ujar Op Maxwell Sipayung.

* * *

Aneka berita gempa Sumatra Barat

Jusuf Kalla Keliling Kota Padang yang Remuk Redam

Sabtu, 03 Oktober 2009

TEMPO Interaktif, Padang - Wakil Presiden Jusuf Kalla tiga di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, Sabtu (3/10) pagi tadi. Bersama istri, Nyonya Mufida Kalla, JK keliling Kota Padang untuk meninjau puing-puing akibat gempa pada 7,6 skala Richter Selasa lalu.

Kerusakan di Kota Padang meliputi fasilitan umum, rumah penduduk dan sejumlah perkantoran. Sebagian jalan juga rusak. Tampak bangunan bertingkat roboh, rumah penduduk rata dengan tanah dan puing-puing berserakan.

Sehabis memutari Kota Padang, wakil presiden dengan diantar Gubernur Sumatera Barat Gunawan Fauzi, juga meninjau Pariaman, daerah yang kerusakannya paling parah. "Wapres juga mendengarkan pemaparan kondisi terakhiir pemaparan korban gempa," kata Marlis Rahman, Kepala Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Sumatera Barat.

Berdasarkan data di satuan koordinasi, jumlah korban jiwa mencapai 496 orang, sekitar 400 lebih masih dalam pencarian. Adapun korban luka berat 279 orang dan luka ringan 2.530.
* * *
Maling Mulai Berkeliaran di Pariaman

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang - Gempa berkekuatan 7.6 skala richter yang mengguncang Kota Padang dan Pariaman mulai menimbulkan masalah kriminalitas. “Sejumlah rumah di Kota Pariaman sering kemalingan,” ujar Yasman, 46 tahun, warga Kudu Gantiang, Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (3/10).

Yasman menerangkan, para pencoleng umumnya mulai beraksi di sekitar pemukiman warga di malam hari. Barang-barang yang menjadi incaran tidak hanya barang berharga yang tertimbun reruntuhan rumah, melainkan juga kendaraan motor yang diparkir di depan rumah.

Hingga saat ini, kata Yasman, personil kemanan yang diberikan oleh pihak kepolisian belum sebanding dengan luasnya daerah. “Upaya pengamanan dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar dengan beronda,” katanya.
* * *

Pemerintah Didesak Tentukan Status Bencana Gempa Padang

Jum'at, 02 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Pemerintah pusat harus segera menentukan status bencana gempa bumi di Sumatera Barat apakah menjadi bencana nasional atau bukan. Penentuan status ini penting untuk percepatan penanganan bencana berikut sumber pendanaannya.

Mantan Sekretaris Tim Teknis Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Gempa Jateng-DI Yogyakarta, Danang Parikesit, mengatakan hal itu kepada wartawan di ruang sidang Rektorat UGM, Jumat (2/110).

Menurut Danang, lambannya pemerintah pusat untuk menentukan status bencana Sumatera Barat ini karena pemerintahan saat ini dalam masa transisi. "Kalau melihat skala kerusakannya, gempa bumi di Sumbar ini harusnya dinyatakan sebagai bencana nasional," katanya.

Penentuan status bencana nasional ini, lanjut Danang, sangat penting untuk menentukan langkah pengambilan kebijakan maupun pendanaan. Menurut Danang, penanganan bencana gempa bumi Sumatera Barat bisa menggunakan model Aceh atau model Yogya.

"Di Aceh, penanganan ditangani pemerintah pusat. Sedangkan di Yogya, penanganan diserahkan kepada pemda dan pemerintah pusat hanya bersifat partisipasi," jelasnya.

Danang mengatakan semangat masyarakat Sumatera Barat untuk bangkit sangat berperan untuk mempercepat pemulihan kondisi psikologis maupun fisik. Ia akan menawarkan model penanganan kasus gempa di Yogya untuk diterapkan di Sumatera Barat.

Danang yang juga Ketua LPPM (Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat) UGM menambahkan, institusi UGM akan menerjunkan tim kesehatan, peneliti, dosen dan akan mengerahkan 40 mahasiswa KKN ke lokasi gempa Sumbar.

Bersama UGM akan bergabung pula beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas, Universitas Tamansiswa Padang, Universitas Muhammadiyah Padang, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Putra Indonesia. "UGM akan mendirikan posko di Padang dan Pariaman," ujarnya.

* * *
Korban Tewas Gempa Padang Mencapai 800 Orang

Jum'at, 02 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang - Korban tewas gempa di Kota Padang dan Pariaman, Sumatera Barat, mencapai 800 orang. Data tersebut diperkirakan berasal dari korban yang tertimpa reruntuhan Hotel Ambacang 180 orang, bimbingan belajar GAMA 200 orang, kampus LBA LIA, kampus Akademi Bahasa Asing dan lembaga keuangan Adira Finance.
Menurut Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Sumatera Barat, Ade Edward, diperkirakan masih ada 300 korban yang terperangkap di reruntuhan, baik yang masih hidup maupun meninggal.

"Sesuai dengan himbauan Presiden, kami utamakan korban terperangkap yang masih hidup," ujarnya, Jumat (2/10).
Data sementara korban jiwa hingga pukul 12 siang yang diperoeh dari Badan Kesatun Bangsa Linmas Sumatera Barat, korban tewas 448 orang, luka berat 237 orang, luka ringan 2.099 orang.
Korban meninggal terbanyak dari Kota Padang 197 orang, disusul dari Kabupaten Padang Pariaman 184 orang, Kota Pariaman 49 orang, Bukittinggi 7 orang, Kabupaten Pesisir Selatan 7 orang, Kota Solok 4 orang. Sedangkan pengungsi tidak ada.
Informasi yang diperoleh Tempo menjelaskan, sejak gempa mengguncang Kota Padang dan Pariaman, Rabu (30/9) lalu, ada sejumlah korban yang tertimpa gedung di Stikma dan Prayoga, serta rumah toko di Pondok, kawasan pecinan berteriak meminta tolong. Namun mereka tidak sempat mendapatkan pertolongan karena terbatasnya kemampuan alat dan petugas.

Hari ini, muncul bau tak sedap yang muncul dari gedung tersebut. Bau itu diperkirakan berasal dari dalam gedung yang ditimbulkan oleh mayat korban yanga tak sempat mendapatkan pertolongan.

* * *

Jawa Pos, 02 Oktober 2009
Gempa Susulan 7 SR di Jambi, 1.100 Rumah Rusak

ANCAMAN gempa susulan di ta­nah air diperkirakan terus terjadi. Se­­hari setelah gempa bumi 7,6 skala Richter (SR) mengguncang Suma­te­ra Barat, pukul 08.52 kemarin (1/10) gi­liran Kabupaten Kerinci, Provinsi Jam­bi, dihantam gempa berkekuatan 7,0 SR. Pusat gempa itu berada di ke­dalaman 10 km atau sekitar 48 km teng­gara Kota Sungaipenuh, tepatnya di Kecamatan Gunung Raya, sekitar 460 km barat daya Jambi, ibu kota Pro­vinsi Jambi.

Gempa tersebut dirasakan seluruh war­ga Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh. Warga yang panik ber­hamburan keluar rumah guna menye­lamatkan diri.

Karena panik dan trauma, warga ti­dak berani menyentuh rumah atau har­ta mereka. Mereka hanya diam di tenda pengungsian di depan rumah. Apa­lagi, pukul 09.20 terjadi gempa susulan dengan kekuatan 5,5 SR.

Pusat gempa itu berada di kedalaman 10 km atau sekitar 28 km dari Sungaipenuh, tepatnya di Kecamatan Gunung Raya.

Hampir seluruh 16 desa di Kecamatan Gunung di kabupaten itu rusak akibat gempa. Kondisi terparah dialami Desa Tanjung Sam, Lolo Kecil, dan Lolo Besar. Di tiga desa tersebut, bangunan rumah milik warga rata dengan tanah.

Berdasar data yang dihimpun Radar Sarko (Jawa Pos Group), sedikitnya 1.100 rumah rusak akibat gempa itu. Dua warga tewas, 25 luka berat, dan 12 orang patah tulang. Korban dievakuasi ke RSU Mayjen AH Thalib, Kota Sungaipenuh.

Data sementara di lapangan menyebutkan, di antara 1.100 rumah yang rusak, 600 unit rusak berat dan bahkan nyaris rata dengan tanah. Sebanyak tiga masjid nyaris hancur dan 20 masjid lain rusak ringan. Selain itu, 16 gedung sekolah dasar (SD), tiga SMP, dan dua SMA rusak parah.

Salah seorang korban luka dirawat inap di RSU Mayjen AH Thalib. Meri Eliani, 19, warga Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, yang hamil tua, terjatuh dan tertimpa reruntuhan saat menyelamatkan diri keluar rumah.

Ratusan pasien RSU juga dievakuasi demi keselamatan. Mereka dipindahkan ke pelataran parkir di depan RSU dengan menggunakan tenda bantuan Pemkab Kerinci dan Polisi Militer (PM) Kerinci. ''Mereka dievakuasi untuk mengantisipasi hal yang terburuk,'' jelas Arman Pengabean, direktur RSU Mayjen AH Thalib Sungaipenuh.

Setelah gempa atau sekitar pukul 11.00, jajaran Muspida Kabupaten Kerinci meninjau lokasi gempa di Kecamatan Gunung Raya. Wakil Bupati Kerinci HM. Rahman menyatakan, gempa dan data korban telah dilaporkan ke gubernur Jambi dan Wapres Jusuf Kalla. ''Gempa tadi pagi cukup kuat dan merusak banyak bangunan,'' katanya. Menurut dia, Pemkab Kerinci telah menya­lurkan bantuan berupa makanan, tenda, selimut, dan obat-obatan.

Bangunan di Kota Sungaipenuh, umumnya, hanya rusak ringan. Selain terus mendata kerusakan rumah, Pemkot Sungaipenuh sudah membentuk tim posko Satkorlak di se­tiap kecamatan. Aktivitas ekonomi di Kota Sungaipenuh tetap berjalan seperti sedia kala. Warga kota sudah kembali ke rumah masing-masing sore kemarin.

Tetapi, aktivitas belajar di Kabupaten Ke­rinci dan Kota Sungaipenuh diliburkan kemarin (1/10). Sejumlah sekolah menghentikan proses belajar mengajar dan memulangkan siswa karena alasan keamanan. Sejumlah kantor juga menghentikan aktivitas.

Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Kabupaten Kerinci Armidis mengatakan, penghen­tian aktivitas belajar dan mengajar merupakan inisiatif sekolah karena keadaan yang tidak memungkinkan. ''Tetapi, kami akan memantau kalau ada sekolah yang roboh. Kami juga akan carikan solusi agar siswa bisa belajar di tempat yang aman dari ancaman gempa,'' ujar Armidis. (wdo/ysp/aji/jpnn/dwi)
* * *
Bantuan Sudah Rp 6,3 Miliar

Jumat, 2 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.com- Hingga Jumat (2/10) malam, bantuan dana yang sudah diterima Tim Tanggap Bencana Pemprov Sumbar untuk korban gempa mencapai Rp 6,3 miliar. Penyaluran dana ini sudah dilakukan untuk empat kabupaten/kota, yakni Padang, Padang, Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan.
Untuk bantuan logistik juga sudah berdatangan ke posko Tanggap Bencana di Kediaman Gubernur Sumbar. DI antaranya bantuan beras, mi instan, selimut, dan logistik lainnya.
Sekretaris Daerah Sumbar Firdaus K kepada wartawan menjelaskan, sejumlah bantuan logistik juga sudah disalurkan langsung ke kabupaten/kota. Begitu juga dengan bangtuan logistik.


Pantauan Tribun Pekanbaru di Kantor Kecamatan Padang Timur, sejumlah bantuan logistik sudah menumpuk. Maryati, Kasi Kesos Kecamatan Padang Timur mengatakan baru dua kelurahan yang mengambil bantuan itu.
Di wilayah Tandikek Kabupaten Padang PAriaman, dilaporkan sekitar 300 warga yang terjebak longsor akibat gempa malah belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Begitu juga menurut informasi warga kepada Tribun, di Kecamatan V Koto Kenagarian Kudu Gantiang juga belum menerima bantuan apa pun. Bahkan informasi yang diperoleh Tribun, harga sebungkus mi instan menapai Rp 5.000 dan satu dus air mineral gelas seharga Rp 80 ribu. Warga menyayangkan belum adanya aparat pemerintahan di kenagarian mereka yang melihat dan menanyakan kondisi warga. Selain itu mereka juga heran, dari berita media, bantuan sudah banyak yang datang, begitu juga sumbangan dari perantau, tapi belum bisa mereka terima.
Sementara itu, warga pada Rabu malam, tidak sedikit yang masih tidur di teras rumah. Mereka tidak berani kembali ke rumah. Mereka mengatakan sangat membutuhkan adanya tenda-tenda penampungan.
Saat jumpa pers, Firdaus K menyatakan, tim tanggap bencana mulai menyalurkan bantuan ke masyarakat secara bertahap. Hal itu disebabkan keterbatasan sarana angkutan yang tersedia.

Dukungan Internasional
Dukungan internasional terutama untuk evakuasi juga sudah sampai di Posko Tanggap Bencana. Di antaranya adalah dari UNFPA, UNDP, European Commission, Hoper Indonesia, dan Mahkota Medika Malaysia, JICA (Jepang) dan lainnya.
Selain itu, badan PBB lainnya, United Nation OSOCC (On-Site Operation Coordination Center), juga sudah berkantor di Posko tim Tanggap Darurat.

Situasi RSUD
Situasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr M Jamil Padang, Jumat siang, dipadati warga. Selain ingin memastikan jenasah anggota keluarga mereka, warga juga ingin membesuk dan melihat sanak famili yang dirawat di tenda-tenda darurat di halaman RSUD. Perkiraan, lebih dari 80 persen bangunan RSUD tidak bisa digunakan lagi.Aktivitas sibuk terlihat, terutama hilir mudik ambulan. Di pelataran parkir salah satu unit bangunan di RSUD yang mendadak menjadi kamar mayat darurat, dimana korban-korban hasil evakuasi dibaringkan di lantai dalam kantong mayat, warga terlihat ingin mengenali jenasah untuk mencari sanak keluarga mereka yang hilang.
Di bawah tenda-tenda barak, para korban gempa harus merasakan panasnya udara. Selain panas terik yang menimpa tenda, padatnya isi tenda juga menjadi penyebab udara makin panas di dalam tenda.
Syamsidar (51), salah satu diantara korban yang dirawat di tenda, terlihat menahan rasa sakit di kakinya yang remuk ditimba reruntuhan bangunan. Ia menuturkan, saat gempa terjadi ia berada di kamar di rumahnya di Purus V Padang. Ia langsung berlari. Jarak dari kamar ke pintu keluar rumahnya hanya sekitar empat meter. Namun reruntuhan diding lebih dahulu menimpa kaki dan punggungnya.

Kendala Transportasi
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Mar'ie Muhammad ditemui di posko tanggap bencana, mengatakan transportasi masih menjadi kendala PMI untuk menyalurkan bantuan berupa minuman, kesehatan, tenda keluarga, peralatan bayi, dan bantuan lainnya. Meski demikian ia mengatakan akan melakukan usaha terbaik untuk dapat menyalurkan bantuan itu.
Mar'ie menuturkan, dirinya setuju gempa Sumbar kali ini lebih besar dibandingkan dengan Gempa Jawa Barat dan Jogja beberapa waktu yang lalu.

Bangunan Kota Lama Hancur
Bangunan lama dan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di Kawasan Pondok Padang, terlihat rusak parah. Pantauan Tribun, bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun itu tak kuasa menahan guncangan gempa Rabu kemarin. Reruntuhan dinding bangunan di kawasan Pondok bahkan sampai ke badan jalan dan menghambat arus lalu lintas.
Evakuasi korban masih terlihat di Kawasan Pondok. Rumah-rumah duka di kawasan itu tak henti-henti melaksanakan proses kremasi dan prosesi pemakaman untuk warga Tionghoa.(hnk)

Kantor Wako dan gubernur tak Layak Pakai
*Struktur Bangunan Rusak Berat
* 40 Persen Rumah Warga Padang Harus Diruntuhkan

Padang, Tribun - Gempa 7,6 SR yang mengguncang Sumatra Barat selain membuat banyak bangunan ambruk, juga membuat bangunan yag tesisa kini tidak lagi layak pakai. Terutama bangunan belantai tiga ke atas di seluruh Kota Padang. Selain itu, banyak bangunan rumah warga juga dinilai sudah tidak layak huni lagi.

"Sekitar 40 persen bangunan di seluruh Kota Padang sudah tidak layak pakai lagi. Karena struktur utama bangunan sudah rusak akibat gempa. Bahkan bangunan bertingkat tiga ke atas, seluruhya sudah tidak layak digunakan dan harus dirobohkan," kata Ade Edwad, Ketua Satkorlak Sumbar, saat dihubungi Jumat (2/10) di posko utam Satkorlak Sumbar di Gubernuran Sumbar jalan Sudirman Padang.

Di antara bangunan bertingkat yang tidak bisa digunakan itu, menurut Ade adalah Kantor Wali Kota Padang dan Kantor Gubernur Sumbar. "Kedua bagunan itu strukturnya sudah sangat rusak parah. Kalau terus digunakan akan sangat berbahaya sekali. Bangunan itu harus diruntuhkan," ujar Ade.

Kondisi itu menurutnya berlaku untuk seluruh bangunan bertingkat tiga ke atas di seluruh Kota Padang. Sedangkan untuk bangunan rumah masyarakat, saat ini menurut data awal diperkirakan 40 persen yang tidak layak digunakan lagi.

"Tadi pagi (kemarin) kita sudah kerahkan tim PU untuk memferivikasi seluruh bangunan, terutama perumahan warga yang ada di Kota Padang. Tim ini yang nantinya akan menentukan banguna mana yang masih layak digunakan dan mana yang tidak layak," terangnya.

Gubernur Sumba Gamawan Fauzi mengatakan, unuk melakukan ferivikasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Saat ini, hanya bangunan yang terlihat jelas saja kerusakannya yang dinyatakan tidak layak.

"Sedangkan untuk bangunan lain, harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Baik itu struktur bangunan, kekuatan dinding dan sebagainya. Itu nanti akan dipelajari tim verifikasi yang kita turunkan," terang Gamawan.

Sedangkan untuk bangunan perkantoran yang umumnya bertingkat dua, juga akan dipelajari secara menyeluruh oleh tim ini. Namun untuk bangunan bertingkat tiga yang sudah terlihat jelas tingkat kerusakannya, menurut Gamawan memang tidak akan digunakan lagi. Termasuk kantor gubernur Sumbar.

"Kita akan pindahkan kantor ke bangunan lain milik pemerintah yang masih layak. Begitu juga kantor-kantor pemerintah lainnya, akan dipindahkan dulu kalau memang bangunan yang skarang tidak layak lagi. Lebih baik begitu dari pada membahayakan nanti pegawai yang bekerja di bangunan tersebut," ujarnya.

Dari pantauan di seputar Kota Padang, hampir seluruh bangunan semen mengalami kerusakan, mnimal retak-retak pada dindingnya. Sedangkan bangunan bertingkat hampir semuanya mengalami kerusakan. Paling ringan, kaca-kaca pecah.

Sampai kemarin, masih banyak warga yang tidak berani tidur di dalam rumah, karena khawatir gempa akan kembali megguncang dan mereka menjadi korban bila rumah runtuh. Nofran misalnya, warga Parupuk, Tabing, mengaku dia bersama keluarganya saat ini lebih memilih tidur di dalam tenda seadanya yang didirikan di halaman rumah.

"Rumah saya ini sudah retak-retak dindingnya. Lihat saja," katanya sambil mennjukkan bagian yang retak akibat gempa lalu.

Meski tidak ada bagian yang sampai ambruk, namun Nofran bersama istri dan dua anaknya mengaku masih trauma jika harus bermalam di dalam rumah. "Lagi pula tetangga kami juga masih pada tidur di halaman rumah. Jadi kita hanya kami saja. Apalagi listrik masih padam, jadi lebih enak di halaman pakai lilin," katanya.

Dia mengaku tidak paham tentang struktur bangunan, sehingga tiak tahu apakah bangunan rmahnya masih layak digunakan atau harus diruntuhkan dan dibangun ulang. Karena itu, dia mengaku senang kalau memang akan ada tim ferivikasi dari PU yang akan turun memeriksa rumah-rumah warga, dan memberikan saran apakah rumahnya masih layak atau tidak.

"Hanya saja, kalau memang nanti rmah ini harus diruntuhkan dan dibangun ulang, kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Karena untuk membangun rumah sekarang kan tidak murah, butuh biaya banyak. Rumah ini saja saya cicil selama 20 tahun dan sampai sekarang belum lunas," ujarnya. (rin)

* * *
Rusia Siapkan 2 Pesawat Terbang
Untuk Bantu Korban Gempa Sumbar

Rakyat Merdeka , 03 Oktober 2009,

Moskow, RMOL. Beberapa saat setelah terjadinya gempa bumi di Sumatra Barat, 30 September lalu, Presiden Federasi Rusia, Dmitry Medvedev mengirimkan pesannya kepada bangsa Indonesia. Selain menyatakan rasa duka yang mendalam, Pemerintah Rusia juga siap memberikan bantuannya. Demikian diungkapkan oleh Counsellor KBRI Moskow M.Aji Surya dalam rilisnya kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat (2/10).

Sebagaimana dilansir dalam situs resmi Kepresidenan Rusia, Dmitry Medvedev telah mengirimkan kawat kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang mengungkapkan belasungkawa dan kepedihan atas korban yang meninggal dan terluka dalam bencana alam yang dahsyat dimaksud.

Lebih lanjut dikatakan juga, pada saat Indonesia mengalami kesedihan yang luar biasa seperti sekarang, maka Pemerintah dan warga Rusia berada bersama dengan Pemerintah dan warga Indonesia.

Sebagai bukti dari ikut merasakan kepedihan bangsa Indonesia tersebut, pada tanggal 1 Oktober 2009, Kementerian Keadaan Darurat Federasi Rusia segera mempersiapkan 2 pesawat terbang yang dilengkapi dengan tim dokter, psikolog, regu penolong, anjing pelacak dan peralatan lainnya. Begitu clearance didapat, maka keduanya akan segera diterbangkan.

Sejauh ini, tidak terpantau adanya warga Rusia yang menjadi korban meninggal maupun luka-luka dalam gempa bumi di "ranah Minang" tersebut. Hal itu terjadi karena memang kebanyakan turis Rusia umumnya masih lebih suka berlibur di Bali. Tahun lalu tercatat 65 ribu turis Rusia berkunjung ke Indonesia.

Menurut Counsellor M. Aji Surya, KBRI Moskow juga telah menerima ucapan belasungkawa yang mendalam dari sejumlah nama terkemuka, seperti Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, Gubernur Kemerovsk Region Rusia, Aman Tuleyev serta Pemimpin Redaksi Teve Nasional Rossia, Dmitry Skorobutov.
[asa]


* * *
Akses Darat ke Padang Terputus

Rakyat Merdeka, 02 Oktober 2009,

Jakarta, RMOL. Akses darat ke Kota Padang, Sumatera Barat, terputus pasca gempa berkekuatan 7,6 Scala Richter pukul 17.16 WIB (Rabu, 30/9).

Jalur yang putus akibat lonsgor itu adalah jalur Solok-Padang, Padang Panjang-Padang, Bengkulu-Padang maupun Padang Pariaman-Padang. Di Kabupaten Agam, longsor terjadi di Malalak dan Kelok 44 menuju Danau Maninjau. Jalur menuju Padang dengan melewati Lubuk Basung-Padang Pariaman biasanya menjadi alternatif bila jalur Bukittinggi-Padang Panjang putus. Sementara longsor di Silaiang Kariang menjadikan akses jalur Bukittinggi-Padang Panjang-Padang terputus. Kondisi ini menjadikan kemacetan panjang terjadi dari arah Padang maupun Padang Panjang.

Kemacetan terlihat mulai dari pasar Padang Panjang dan dari Air Terjun Lembah Anai. Kondisi hujan lebat yang mengguyur menjadikan para supir hanya bisa beristirahat di dalam mobil. Sementara di Lintas Barat yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Bengkulu juga mengalami putus total.

"Para penumpang mobil yang terjebak macet ini perlu selimut, lampu emergency dan makanan siap saji,” kata seorang polisi, sebagaimana dilansir JPNN (Kamis, 1/10). [yan]

* * *