Sabtu, 03 Oktober 2009

Kliping Berita Gempa Sumatera

Koordinasi Penanganan Gempa Masih Kacau

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang -Hari kedua gempa Sumatera Barat nyaris tanpa penanganan berarti. Minimnya peralatan dan personil, hingga tidak adanya koordinasi yang jelas, membuat penanganan terkesan lamban dan amburadul.

Korban gempa di dua kawasan, kota Padang dan Pariaman, terpaksa menangani persoalannya sendiri. “Sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak mana pun dan dari siapa pun, termasuk dari kecamatan,“ ujar Kepala Desa Cubadak, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman, Darjis Mansyur, Jumat (2/10).

Darjis Masnyur menyebut, dari 357 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa warganya, hampir seluruhnya kini terpaksa mondok di tenda- tenda yang dibuat warga di rumahnya masih-masing.

"Ini daerah yang sangat parah. Semua rumah hampir rubuh. Dua warga tewas, 170 luka parah dan ringan. Kami tidak bisa apa-apa,” kata Darjis. “Makan, minum dan berobat oleh warga sendiri.”

Dari pantauan Tempo pada hari pertama dan kedua pascagempa, di dua kabupaten masing-masing Padang Pariaman dan Kabupaten Agam, setidaknya 4 wilayah pada tiga kecamatan masing-masing Sungai Limau, Kecamatan Sintuk dan Kecamatan Nan Sabaris dan Kecamatan Sintuk Toboh mengalami bencana terparah. Ratusan rumah terlihat ambruk rata dengan tanah.

Namun, hingga hari kedua, seluruhnya dipastikan belum mendapat bantuan apa pun. “Tidak ada yang datang. Ketua RT pun tidak,“ ujar Saharuddin Ambai, warga desa Simpang Toboh, Kecamatan Sota Toboh Gadang.

Saharuddin Ambai menyebut, dari 7 anggota keluarga, empat di antaranya mengalami luka serius. Dua luka akibat tertusuk pecahan kaca, dua lainnya patah tangan. Keempat anggota keluarganya kini terpaksa dirawat di tenda darurat di depan rumah.

Sementara itu, hampir di setiap persimpangan lajur jalan utama Lubuk Basung – Sungai Limau, hingga Lubuk Alung, terlihat warga mendirikan posko-posko bantuan bencana. Namun, posko dimaksud lebih pada meminta sumbangan dari kendaraan-kendaraan yang melintas.

"Kami sudah mendapat izin kepala desa. Kami memang minta bantuan kepada siapa pun yang lewat. Tapi tidak memaksa, “ ujar Zaini, Ketua RT Toboh gadang, Kecamatan Sintuk Gadang. “Posko bikinan kami sendiri dan untuk kami.“

Pemandangan serupa juga terlihat di hampir semua lokasi gempa di Kota Padang. Pantauan Tempo di berbagai lokasi, warga nyaris menangani persoalannya sendiri. Jika ada penanganan, itu telihat hanya di beberapa lokasi gedung, di mana para korban masih tertimbun di reruntuhannya.

Sejumlah keluarga korban menyebut, hampir 48 jam tim penyelamat bekerja dinilai tidak maksimal. “Sudah sejak malam hingga kini, anakku masih tertimbun di dalam. Tim penyelamatan seperti tidak bekerja saja," ujar Op Maxwell Sipayung, orang tua Sri Faulita Sipayung, mahasiswa semester III Sekolah Tinggi Ilmu bahasa Asing Prayoga Padang yang masih terjebak di reruntuhan gedung bersama 14 mahasiswa lainnya.

Menurut Sipayung, sejak datang ke kampus, pada malam kejadian hingga hari kedua ini, pihaknya nyaris tidak tahu mau berbuat apa pun kecuali
menangis. “Tidak ada yg bisa ditanya dan tidak ada yang bisa membantu. Baru pagi tadi ada tim tentara yang datang, “ ujar Op Maxwell Sipayung.

* * *

Aneka berita gempa Sumatra Barat

Jusuf Kalla Keliling Kota Padang yang Remuk Redam

Sabtu, 03 Oktober 2009

TEMPO Interaktif, Padang - Wakil Presiden Jusuf Kalla tiga di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatera Barat, Sabtu (3/10) pagi tadi. Bersama istri, Nyonya Mufida Kalla, JK keliling Kota Padang untuk meninjau puing-puing akibat gempa pada 7,6 skala Richter Selasa lalu.

Kerusakan di Kota Padang meliputi fasilitan umum, rumah penduduk dan sejumlah perkantoran. Sebagian jalan juga rusak. Tampak bangunan bertingkat roboh, rumah penduduk rata dengan tanah dan puing-puing berserakan.

Sehabis memutari Kota Padang, wakil presiden dengan diantar Gubernur Sumatera Barat Gunawan Fauzi, juga meninjau Pariaman, daerah yang kerusakannya paling parah. "Wapres juga mendengarkan pemaparan kondisi terakhiir pemaparan korban gempa," kata Marlis Rahman, Kepala Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Sumatera Barat.

Berdasarkan data di satuan koordinasi, jumlah korban jiwa mencapai 496 orang, sekitar 400 lebih masih dalam pencarian. Adapun korban luka berat 279 orang dan luka ringan 2.530.
* * *
Maling Mulai Berkeliaran di Pariaman

Sabtu, 03 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang - Gempa berkekuatan 7.6 skala richter yang mengguncang Kota Padang dan Pariaman mulai menimbulkan masalah kriminalitas. “Sejumlah rumah di Kota Pariaman sering kemalingan,” ujar Yasman, 46 tahun, warga Kudu Gantiang, Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (3/10).

Yasman menerangkan, para pencoleng umumnya mulai beraksi di sekitar pemukiman warga di malam hari. Barang-barang yang menjadi incaran tidak hanya barang berharga yang tertimbun reruntuhan rumah, melainkan juga kendaraan motor yang diparkir di depan rumah.

Hingga saat ini, kata Yasman, personil kemanan yang diberikan oleh pihak kepolisian belum sebanding dengan luasnya daerah. “Upaya pengamanan dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar dengan beronda,” katanya.
* * *

Pemerintah Didesak Tentukan Status Bencana Gempa Padang

Jum'at, 02 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Pemerintah pusat harus segera menentukan status bencana gempa bumi di Sumatera Barat apakah menjadi bencana nasional atau bukan. Penentuan status ini penting untuk percepatan penanganan bencana berikut sumber pendanaannya.

Mantan Sekretaris Tim Teknis Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Gempa Jateng-DI Yogyakarta, Danang Parikesit, mengatakan hal itu kepada wartawan di ruang sidang Rektorat UGM, Jumat (2/110).

Menurut Danang, lambannya pemerintah pusat untuk menentukan status bencana Sumatera Barat ini karena pemerintahan saat ini dalam masa transisi. "Kalau melihat skala kerusakannya, gempa bumi di Sumbar ini harusnya dinyatakan sebagai bencana nasional," katanya.

Penentuan status bencana nasional ini, lanjut Danang, sangat penting untuk menentukan langkah pengambilan kebijakan maupun pendanaan. Menurut Danang, penanganan bencana gempa bumi Sumatera Barat bisa menggunakan model Aceh atau model Yogya.

"Di Aceh, penanganan ditangani pemerintah pusat. Sedangkan di Yogya, penanganan diserahkan kepada pemda dan pemerintah pusat hanya bersifat partisipasi," jelasnya.

Danang mengatakan semangat masyarakat Sumatera Barat untuk bangkit sangat berperan untuk mempercepat pemulihan kondisi psikologis maupun fisik. Ia akan menawarkan model penanganan kasus gempa di Yogya untuk diterapkan di Sumatera Barat.

Danang yang juga Ketua LPPM (Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat) UGM menambahkan, institusi UGM akan menerjunkan tim kesehatan, peneliti, dosen dan akan mengerahkan 40 mahasiswa KKN ke lokasi gempa Sumbar.

Bersama UGM akan bergabung pula beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Andalas, Universitas Tamansiswa Padang, Universitas Muhammadiyah Padang, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Putra Indonesia. "UGM akan mendirikan posko di Padang dan Pariaman," ujarnya.

* * *
Korban Tewas Gempa Padang Mencapai 800 Orang

Jum'at, 02 Oktober 2009
TEMPO Interaktif, Padang - Korban tewas gempa di Kota Padang dan Pariaman, Sumatera Barat, mencapai 800 orang. Data tersebut diperkirakan berasal dari korban yang tertimpa reruntuhan Hotel Ambacang 180 orang, bimbingan belajar GAMA 200 orang, kampus LBA LIA, kampus Akademi Bahasa Asing dan lembaga keuangan Adira Finance.
Menurut Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Sumatera Barat, Ade Edward, diperkirakan masih ada 300 korban yang terperangkap di reruntuhan, baik yang masih hidup maupun meninggal.

"Sesuai dengan himbauan Presiden, kami utamakan korban terperangkap yang masih hidup," ujarnya, Jumat (2/10).
Data sementara korban jiwa hingga pukul 12 siang yang diperoeh dari Badan Kesatun Bangsa Linmas Sumatera Barat, korban tewas 448 orang, luka berat 237 orang, luka ringan 2.099 orang.
Korban meninggal terbanyak dari Kota Padang 197 orang, disusul dari Kabupaten Padang Pariaman 184 orang, Kota Pariaman 49 orang, Bukittinggi 7 orang, Kabupaten Pesisir Selatan 7 orang, Kota Solok 4 orang. Sedangkan pengungsi tidak ada.
Informasi yang diperoleh Tempo menjelaskan, sejak gempa mengguncang Kota Padang dan Pariaman, Rabu (30/9) lalu, ada sejumlah korban yang tertimpa gedung di Stikma dan Prayoga, serta rumah toko di Pondok, kawasan pecinan berteriak meminta tolong. Namun mereka tidak sempat mendapatkan pertolongan karena terbatasnya kemampuan alat dan petugas.

Hari ini, muncul bau tak sedap yang muncul dari gedung tersebut. Bau itu diperkirakan berasal dari dalam gedung yang ditimbulkan oleh mayat korban yanga tak sempat mendapatkan pertolongan.

* * *

Jawa Pos, 02 Oktober 2009
Gempa Susulan 7 SR di Jambi, 1.100 Rumah Rusak

ANCAMAN gempa susulan di ta­nah air diperkirakan terus terjadi. Se­­hari setelah gempa bumi 7,6 skala Richter (SR) mengguncang Suma­te­ra Barat, pukul 08.52 kemarin (1/10) gi­liran Kabupaten Kerinci, Provinsi Jam­bi, dihantam gempa berkekuatan 7,0 SR. Pusat gempa itu berada di ke­dalaman 10 km atau sekitar 48 km teng­gara Kota Sungaipenuh, tepatnya di Kecamatan Gunung Raya, sekitar 460 km barat daya Jambi, ibu kota Pro­vinsi Jambi.

Gempa tersebut dirasakan seluruh war­ga Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh. Warga yang panik ber­hamburan keluar rumah guna menye­lamatkan diri.

Karena panik dan trauma, warga ti­dak berani menyentuh rumah atau har­ta mereka. Mereka hanya diam di tenda pengungsian di depan rumah. Apa­lagi, pukul 09.20 terjadi gempa susulan dengan kekuatan 5,5 SR.

Pusat gempa itu berada di kedalaman 10 km atau sekitar 28 km dari Sungaipenuh, tepatnya di Kecamatan Gunung Raya.

Hampir seluruh 16 desa di Kecamatan Gunung di kabupaten itu rusak akibat gempa. Kondisi terparah dialami Desa Tanjung Sam, Lolo Kecil, dan Lolo Besar. Di tiga desa tersebut, bangunan rumah milik warga rata dengan tanah.

Berdasar data yang dihimpun Radar Sarko (Jawa Pos Group), sedikitnya 1.100 rumah rusak akibat gempa itu. Dua warga tewas, 25 luka berat, dan 12 orang patah tulang. Korban dievakuasi ke RSU Mayjen AH Thalib, Kota Sungaipenuh.

Data sementara di lapangan menyebutkan, di antara 1.100 rumah yang rusak, 600 unit rusak berat dan bahkan nyaris rata dengan tanah. Sebanyak tiga masjid nyaris hancur dan 20 masjid lain rusak ringan. Selain itu, 16 gedung sekolah dasar (SD), tiga SMP, dan dua SMA rusak parah.

Salah seorang korban luka dirawat inap di RSU Mayjen AH Thalib. Meri Eliani, 19, warga Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, yang hamil tua, terjatuh dan tertimpa reruntuhan saat menyelamatkan diri keluar rumah.

Ratusan pasien RSU juga dievakuasi demi keselamatan. Mereka dipindahkan ke pelataran parkir di depan RSU dengan menggunakan tenda bantuan Pemkab Kerinci dan Polisi Militer (PM) Kerinci. ''Mereka dievakuasi untuk mengantisipasi hal yang terburuk,'' jelas Arman Pengabean, direktur RSU Mayjen AH Thalib Sungaipenuh.

Setelah gempa atau sekitar pukul 11.00, jajaran Muspida Kabupaten Kerinci meninjau lokasi gempa di Kecamatan Gunung Raya. Wakil Bupati Kerinci HM. Rahman menyatakan, gempa dan data korban telah dilaporkan ke gubernur Jambi dan Wapres Jusuf Kalla. ''Gempa tadi pagi cukup kuat dan merusak banyak bangunan,'' katanya. Menurut dia, Pemkab Kerinci telah menya­lurkan bantuan berupa makanan, tenda, selimut, dan obat-obatan.

Bangunan di Kota Sungaipenuh, umumnya, hanya rusak ringan. Selain terus mendata kerusakan rumah, Pemkot Sungaipenuh sudah membentuk tim posko Satkorlak di se­tiap kecamatan. Aktivitas ekonomi di Kota Sungaipenuh tetap berjalan seperti sedia kala. Warga kota sudah kembali ke rumah masing-masing sore kemarin.

Tetapi, aktivitas belajar di Kabupaten Ke­rinci dan Kota Sungaipenuh diliburkan kemarin (1/10). Sejumlah sekolah menghentikan proses belajar mengajar dan memulangkan siswa karena alasan keamanan. Sejumlah kantor juga menghentikan aktivitas.

Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Kabupaten Kerinci Armidis mengatakan, penghen­tian aktivitas belajar dan mengajar merupakan inisiatif sekolah karena keadaan yang tidak memungkinkan. ''Tetapi, kami akan memantau kalau ada sekolah yang roboh. Kami juga akan carikan solusi agar siswa bisa belajar di tempat yang aman dari ancaman gempa,'' ujar Armidis. (wdo/ysp/aji/jpnn/dwi)
* * *
Bantuan Sudah Rp 6,3 Miliar

Jumat, 2 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.com- Hingga Jumat (2/10) malam, bantuan dana yang sudah diterima Tim Tanggap Bencana Pemprov Sumbar untuk korban gempa mencapai Rp 6,3 miliar. Penyaluran dana ini sudah dilakukan untuk empat kabupaten/kota, yakni Padang, Padang, Padang Pariaman, dan Pesisir Selatan.
Untuk bantuan logistik juga sudah berdatangan ke posko Tanggap Bencana di Kediaman Gubernur Sumbar. DI antaranya bantuan beras, mi instan, selimut, dan logistik lainnya.
Sekretaris Daerah Sumbar Firdaus K kepada wartawan menjelaskan, sejumlah bantuan logistik juga sudah disalurkan langsung ke kabupaten/kota. Begitu juga dengan bangtuan logistik.


Pantauan Tribun Pekanbaru di Kantor Kecamatan Padang Timur, sejumlah bantuan logistik sudah menumpuk. Maryati, Kasi Kesos Kecamatan Padang Timur mengatakan baru dua kelurahan yang mengambil bantuan itu.
Di wilayah Tandikek Kabupaten Padang PAriaman, dilaporkan sekitar 300 warga yang terjebak longsor akibat gempa malah belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Begitu juga menurut informasi warga kepada Tribun, di Kecamatan V Koto Kenagarian Kudu Gantiang juga belum menerima bantuan apa pun. Bahkan informasi yang diperoleh Tribun, harga sebungkus mi instan menapai Rp 5.000 dan satu dus air mineral gelas seharga Rp 80 ribu. Warga menyayangkan belum adanya aparat pemerintahan di kenagarian mereka yang melihat dan menanyakan kondisi warga. Selain itu mereka juga heran, dari berita media, bantuan sudah banyak yang datang, begitu juga sumbangan dari perantau, tapi belum bisa mereka terima.
Sementara itu, warga pada Rabu malam, tidak sedikit yang masih tidur di teras rumah. Mereka tidak berani kembali ke rumah. Mereka mengatakan sangat membutuhkan adanya tenda-tenda penampungan.
Saat jumpa pers, Firdaus K menyatakan, tim tanggap bencana mulai menyalurkan bantuan ke masyarakat secara bertahap. Hal itu disebabkan keterbatasan sarana angkutan yang tersedia.

Dukungan Internasional
Dukungan internasional terutama untuk evakuasi juga sudah sampai di Posko Tanggap Bencana. Di antaranya adalah dari UNFPA, UNDP, European Commission, Hoper Indonesia, dan Mahkota Medika Malaysia, JICA (Jepang) dan lainnya.
Selain itu, badan PBB lainnya, United Nation OSOCC (On-Site Operation Coordination Center), juga sudah berkantor di Posko tim Tanggap Darurat.

Situasi RSUD
Situasi di Rumah Sakit Umum Daerah dr M Jamil Padang, Jumat siang, dipadati warga. Selain ingin memastikan jenasah anggota keluarga mereka, warga juga ingin membesuk dan melihat sanak famili yang dirawat di tenda-tenda darurat di halaman RSUD. Perkiraan, lebih dari 80 persen bangunan RSUD tidak bisa digunakan lagi.Aktivitas sibuk terlihat, terutama hilir mudik ambulan. Di pelataran parkir salah satu unit bangunan di RSUD yang mendadak menjadi kamar mayat darurat, dimana korban-korban hasil evakuasi dibaringkan di lantai dalam kantong mayat, warga terlihat ingin mengenali jenasah untuk mencari sanak keluarga mereka yang hilang.
Di bawah tenda-tenda barak, para korban gempa harus merasakan panasnya udara. Selain panas terik yang menimpa tenda, padatnya isi tenda juga menjadi penyebab udara makin panas di dalam tenda.
Syamsidar (51), salah satu diantara korban yang dirawat di tenda, terlihat menahan rasa sakit di kakinya yang remuk ditimba reruntuhan bangunan. Ia menuturkan, saat gempa terjadi ia berada di kamar di rumahnya di Purus V Padang. Ia langsung berlari. Jarak dari kamar ke pintu keluar rumahnya hanya sekitar empat meter. Namun reruntuhan diding lebih dahulu menimpa kaki dan punggungnya.

Kendala Transportasi
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Mar'ie Muhammad ditemui di posko tanggap bencana, mengatakan transportasi masih menjadi kendala PMI untuk menyalurkan bantuan berupa minuman, kesehatan, tenda keluarga, peralatan bayi, dan bantuan lainnya. Meski demikian ia mengatakan akan melakukan usaha terbaik untuk dapat menyalurkan bantuan itu.
Mar'ie menuturkan, dirinya setuju gempa Sumbar kali ini lebih besar dibandingkan dengan Gempa Jawa Barat dan Jogja beberapa waktu yang lalu.

Bangunan Kota Lama Hancur
Bangunan lama dan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di Kawasan Pondok Padang, terlihat rusak parah. Pantauan Tribun, bangunan yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun itu tak kuasa menahan guncangan gempa Rabu kemarin. Reruntuhan dinding bangunan di kawasan Pondok bahkan sampai ke badan jalan dan menghambat arus lalu lintas.
Evakuasi korban masih terlihat di Kawasan Pondok. Rumah-rumah duka di kawasan itu tak henti-henti melaksanakan proses kremasi dan prosesi pemakaman untuk warga Tionghoa.(hnk)

Kantor Wako dan gubernur tak Layak Pakai
*Struktur Bangunan Rusak Berat
* 40 Persen Rumah Warga Padang Harus Diruntuhkan

Padang, Tribun - Gempa 7,6 SR yang mengguncang Sumatra Barat selain membuat banyak bangunan ambruk, juga membuat bangunan yag tesisa kini tidak lagi layak pakai. Terutama bangunan belantai tiga ke atas di seluruh Kota Padang. Selain itu, banyak bangunan rumah warga juga dinilai sudah tidak layak huni lagi.

"Sekitar 40 persen bangunan di seluruh Kota Padang sudah tidak layak pakai lagi. Karena struktur utama bangunan sudah rusak akibat gempa. Bahkan bangunan bertingkat tiga ke atas, seluruhya sudah tidak layak digunakan dan harus dirobohkan," kata Ade Edwad, Ketua Satkorlak Sumbar, saat dihubungi Jumat (2/10) di posko utam Satkorlak Sumbar di Gubernuran Sumbar jalan Sudirman Padang.

Di antara bangunan bertingkat yang tidak bisa digunakan itu, menurut Ade adalah Kantor Wali Kota Padang dan Kantor Gubernur Sumbar. "Kedua bagunan itu strukturnya sudah sangat rusak parah. Kalau terus digunakan akan sangat berbahaya sekali. Bangunan itu harus diruntuhkan," ujar Ade.

Kondisi itu menurutnya berlaku untuk seluruh bangunan bertingkat tiga ke atas di seluruh Kota Padang. Sedangkan untuk bangunan rumah masyarakat, saat ini menurut data awal diperkirakan 40 persen yang tidak layak digunakan lagi.

"Tadi pagi (kemarin) kita sudah kerahkan tim PU untuk memferivikasi seluruh bangunan, terutama perumahan warga yang ada di Kota Padang. Tim ini yang nantinya akan menentukan banguna mana yang masih layak digunakan dan mana yang tidak layak," terangnya.

Gubernur Sumba Gamawan Fauzi mengatakan, unuk melakukan ferivikasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Saat ini, hanya bangunan yang terlihat jelas saja kerusakannya yang dinyatakan tidak layak.

"Sedangkan untuk bangunan lain, harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Baik itu struktur bangunan, kekuatan dinding dan sebagainya. Itu nanti akan dipelajari tim verifikasi yang kita turunkan," terang Gamawan.

Sedangkan untuk bangunan perkantoran yang umumnya bertingkat dua, juga akan dipelajari secara menyeluruh oleh tim ini. Namun untuk bangunan bertingkat tiga yang sudah terlihat jelas tingkat kerusakannya, menurut Gamawan memang tidak akan digunakan lagi. Termasuk kantor gubernur Sumbar.

"Kita akan pindahkan kantor ke bangunan lain milik pemerintah yang masih layak. Begitu juga kantor-kantor pemerintah lainnya, akan dipindahkan dulu kalau memang bangunan yang skarang tidak layak lagi. Lebih baik begitu dari pada membahayakan nanti pegawai yang bekerja di bangunan tersebut," ujarnya.

Dari pantauan di seputar Kota Padang, hampir seluruh bangunan semen mengalami kerusakan, mnimal retak-retak pada dindingnya. Sedangkan bangunan bertingkat hampir semuanya mengalami kerusakan. Paling ringan, kaca-kaca pecah.

Sampai kemarin, masih banyak warga yang tidak berani tidur di dalam rumah, karena khawatir gempa akan kembali megguncang dan mereka menjadi korban bila rumah runtuh. Nofran misalnya, warga Parupuk, Tabing, mengaku dia bersama keluarganya saat ini lebih memilih tidur di dalam tenda seadanya yang didirikan di halaman rumah.

"Rumah saya ini sudah retak-retak dindingnya. Lihat saja," katanya sambil mennjukkan bagian yang retak akibat gempa lalu.

Meski tidak ada bagian yang sampai ambruk, namun Nofran bersama istri dan dua anaknya mengaku masih trauma jika harus bermalam di dalam rumah. "Lagi pula tetangga kami juga masih pada tidur di halaman rumah. Jadi kita hanya kami saja. Apalagi listrik masih padam, jadi lebih enak di halaman pakai lilin," katanya.

Dia mengaku tidak paham tentang struktur bangunan, sehingga tiak tahu apakah bangunan rmahnya masih layak digunakan atau harus diruntuhkan dan dibangun ulang. Karena itu, dia mengaku senang kalau memang akan ada tim ferivikasi dari PU yang akan turun memeriksa rumah-rumah warga, dan memberikan saran apakah rumahnya masih layak atau tidak.

"Hanya saja, kalau memang nanti rmah ini harus diruntuhkan dan dibangun ulang, kami berharap ada bantuan dari pemerintah. Karena untuk membangun rumah sekarang kan tidak murah, butuh biaya banyak. Rumah ini saja saya cicil selama 20 tahun dan sampai sekarang belum lunas," ujarnya. (rin)

* * *
Rusia Siapkan 2 Pesawat Terbang
Untuk Bantu Korban Gempa Sumbar

Rakyat Merdeka , 03 Oktober 2009,

Moskow, RMOL. Beberapa saat setelah terjadinya gempa bumi di Sumatra Barat, 30 September lalu, Presiden Federasi Rusia, Dmitry Medvedev mengirimkan pesannya kepada bangsa Indonesia. Selain menyatakan rasa duka yang mendalam, Pemerintah Rusia juga siap memberikan bantuannya. Demikian diungkapkan oleh Counsellor KBRI Moskow M.Aji Surya dalam rilisnya kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat (2/10).

Sebagaimana dilansir dalam situs resmi Kepresidenan Rusia, Dmitry Medvedev telah mengirimkan kawat kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono yang mengungkapkan belasungkawa dan kepedihan atas korban yang meninggal dan terluka dalam bencana alam yang dahsyat dimaksud.

Lebih lanjut dikatakan juga, pada saat Indonesia mengalami kesedihan yang luar biasa seperti sekarang, maka Pemerintah dan warga Rusia berada bersama dengan Pemerintah dan warga Indonesia.

Sebagai bukti dari ikut merasakan kepedihan bangsa Indonesia tersebut, pada tanggal 1 Oktober 2009, Kementerian Keadaan Darurat Federasi Rusia segera mempersiapkan 2 pesawat terbang yang dilengkapi dengan tim dokter, psikolog, regu penolong, anjing pelacak dan peralatan lainnya. Begitu clearance didapat, maka keduanya akan segera diterbangkan.

Sejauh ini, tidak terpantau adanya warga Rusia yang menjadi korban meninggal maupun luka-luka dalam gempa bumi di "ranah Minang" tersebut. Hal itu terjadi karena memang kebanyakan turis Rusia umumnya masih lebih suka berlibur di Bali. Tahun lalu tercatat 65 ribu turis Rusia berkunjung ke Indonesia.

Menurut Counsellor M. Aji Surya, KBRI Moskow juga telah menerima ucapan belasungkawa yang mendalam dari sejumlah nama terkemuka, seperti Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko, Gubernur Kemerovsk Region Rusia, Aman Tuleyev serta Pemimpin Redaksi Teve Nasional Rossia, Dmitry Skorobutov.
[asa]


* * *
Akses Darat ke Padang Terputus

Rakyat Merdeka, 02 Oktober 2009,

Jakarta, RMOL. Akses darat ke Kota Padang, Sumatera Barat, terputus pasca gempa berkekuatan 7,6 Scala Richter pukul 17.16 WIB (Rabu, 30/9).

Jalur yang putus akibat lonsgor itu adalah jalur Solok-Padang, Padang Panjang-Padang, Bengkulu-Padang maupun Padang Pariaman-Padang. Di Kabupaten Agam, longsor terjadi di Malalak dan Kelok 44 menuju Danau Maninjau. Jalur menuju Padang dengan melewati Lubuk Basung-Padang Pariaman biasanya menjadi alternatif bila jalur Bukittinggi-Padang Panjang putus. Sementara longsor di Silaiang Kariang menjadikan akses jalur Bukittinggi-Padang Panjang-Padang terputus. Kondisi ini menjadikan kemacetan panjang terjadi dari arah Padang maupun Padang Panjang.

Kemacetan terlihat mulai dari pasar Padang Panjang dan dari Air Terjun Lembah Anai. Kondisi hujan lebat yang mengguyur menjadikan para supir hanya bisa beristirahat di dalam mobil. Sementara di Lintas Barat yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Bengkulu juga mengalami putus total.

"Para penumpang mobil yang terjebak macet ini perlu selimut, lampu emergency dan makanan siap saji,” kata seorang polisi, sebagaimana dilansir JPNN (Kamis, 1/10). [yan]

* * *

Tidak ada komentar:

Page Rank Check,
HTML Web Counter