Rabu, 29 April 2009

Kerangka Acuan Pelaksanaan Pendidikan Alternatif di Kota Bandung dan sekitarnya

Pendahuluan

Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hak atas pendidikan berkualitas ini sudah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, amandemennya dan UU Sisdiknas, bahkan bebas biaya sampai tuntas wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Hak setiap anak untuk mendapatkan kesempatan yang sama agar tumbuh kembang sesuai minat, bakat dan kemampuannya pun dijamin sepenuhnya oleh undang-undang. Namun dalam praktiknya kelalaian dalam pemenuhan dan perlindungan hak atas pendidikan dan hak-hak anak masih terus terjadi.

Sejatinya pendidikan berorientasi kepada pendidikan ke-Indonesia-an yang berakar dari budaya bangsa sendiri. Pasal 1 UU No 20 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sekolah sebagai satuan pendidikan formal yang sampai sekarang menjadi mainstream penyelenggaraan pendidikan baik oleh masyarakat maupun pemerintah diberitakan banyak menuai masalah, mulai dari aksesibilitas masyarakat terhadap sekolah, pengelolaan sekolah sampai metodologi penyelenggaraan pendidikan yang tidak dapat menyelesaikan masalah diri siswa dan masalah bangsa. Sementara ini, banyak penyelenggaraan pendidikan yang menjadi alternatif yang dilakukan oleh komunitas penggiat pendidikan (yayasan, LSM), masyarakat umum. Apakah penyelenggaraan pendidikan alternatif tersebut sudah tercakup dalam kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional, sehingga ada alokasi dana yang memadai yang ditujukan untuk penyelenggaraan pendidikan alternative yang dikelola oleh masyarakan dan komunitas penggiat pendidikan tersebut? Dalam konteks ini, perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) akan menyelenggareakan rangkaian kampanye pendidikan untuk semua terkait dengan penyelenggaraan pendidikan alternatif, khususnya di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Tujuan Kegiatan secara umum
1. Berbagi pengalaman mengenai penyelenggaraan pendidikan alternatif
2. Perumusan prinsip penyelenggaraan pendidikan alternatif
3. Membentuk forum / tim untuk mendesak pemerintah mengalokasikan dana yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan alternatif.


Rencana kegiatan

1. Panggung Narasi Pendidikan Alternatif di Kota Bandung dan Sekitarnya
Hari, tanggal : Minggu, 3 Mei 2009
Waktu : 09.00 – 13.00 WIB
Tempat : Taman Cilaki
Peserta : Komunitas Pendidikan Aternatif di Kota Bandung dan sekitarya, warga belajar komuitas, masyarakat umum, dinas pendidikan kota Bandung
Catatan : masing-masing komunitas penyelenggara pendidikan alternative diharapkan membuat narasi penyelenggaraan pendidikan alternative serta membawa beberapa hasil karya warga belajar yang bisa dipamerkan. Panitia akan mendisplay narasi dan karya warga belajar saat acara berlangsung.

Berikut rangkaian acara kegiatan yang akan dilaksanakan:

Waktu Agenda keterangan
08.00 – 09.00 Persiapan :
1. Absensi, stand pameran, display kreasi yang akan dipamerankan, display hasil narasi yang telah dibuat, data perwakilan komunitas dan warga Belajar yang akan presentasi.
2. Registrasi peserta dan undangan

09.00 – 10.00 Pembukaan
1. Sambutan Ketua Panitia
2. Perkenalan masing-masing komunitas yang hadir Pameran narasi dan hasil karya warga belajar dibuka dari pukul 09.00 – 16.00
10.00 – 11.30 Talk Show Sesi 1
Penyampaian narasi dan diskusi penyelenggaraan pendidikan alternatif dari masing-masing komunitas.
11.30 – 12.45 Talk Show sesi 2
Perumusan gagasan untuk pembentukan forum pendidikan alternatif di Jawa Barat
12.45 – 13.00 Penutupan sesi talkshow

2. Review kebijakan Pendidikan Alternatif

Hari, tanggal : Sabtu, 9 Mei 2009
Waktu : 09.30 – 13.00 WIB
Tempat : Lembaga Kursus Bahasa Inggris EEP
Peserta : Komunitas Pendidikan Aternatif di Kota Bandung dan sekitarya, warga belajar komuitas, masyarakat umum, dinas pendidikan kota Bandung
Materi kegiatan : Review Kebijakan Pendidikan Alternatif


Waktu Agenda keterangan
09.30 – 10.00 Registrasi dan Pembukaan
10.00 – 11.00 Penyampaian hasil kajian masing-masing komunitas terkait kebijakan pendidikan alternatif
11.00 – 13.00 Diskusi dan review kebijakan masing-masing komunitas pendidikan alternatif
13.00 Penutupan

3. Workshop, Seminar dan Pameran Pendidikan Alternatif

Hari, tanggal : selasa - Rabu, 19-20 Mei 2009
Waktu : 09.00 s.d selesai
Tempat : Gedung Indonesia Menggugat / P4TK-IPA
Peserta : Komunitas Pendidikan Aternatif di Jawa Barat dan sekitarya, warga belajar komuitas, mahasiswa, masyarakat umum, pemerintahan.
Materi Kegiatan : posisi, peran dan fungsi Penyelenggaraan Pendidikan Aternatif dalam kebijakan pendidikan nasional.
Rangkaian Acara : masih dirumuskan dan meunggu masukan dari komunitas pendidikan alternatif yang hadir dalam acara tanggal 3 dan 9 mei.

Panduan pembuatan Narasi pendidikan alternatif

1. Ceritakan mengenai sejarah berdiri dan karakter dari pendidikan alternatif dikelola komunitas anda
2. Ceritakan pengalaman terbaik dalam pengelolaan pendidikan alternatif di komunitas anda
3. Ceritakan mengenai penyelenggaraan pendidikan alternatif yang dikelola komunitas anda
4. Mengenai standar nasional pendidikan, tuliskan gagasan anda seperti apa pandangan anda mengenai 8 standar nasional pendidikan dalam konteks penyelenggaraan pendidikan alternatif. Ke delapan standar nasional pendidikan seperti tertuang dalam pasal 2 ayat 1 PP SNP no 19 tahun 20005, yaitu:
a. Standar isi
b. Standar peruses
c. Standar kompetensi lulusan
d. Standar pendidik dan tenaga pendidikan
e. Standar sarana dan prasarana
f. Standar pengelolaan
g. Standar pembiayaan
h. Standar penilaian pendidikan.
5. tuliskan hal lain yang ingin komunitas anda sampaikan terkait penyelenggaraan pendidikan alternative.

Penutupan

Demikian kerangka acuan ini kami buat, sebagai gambaran kegiatan yang akan dilaksanakan. Mari bergerak bersama untuk pemenuhan hak atas pendidikan untuk semua. Terimakasih.

Saran dan kritik bias disampaikan ke

Zamzam Muzaki SM
Jl. Kliningan III 9B Bandung / Jl. Dago Barat 21/159D Bandung
08996933876 / 022-7323003
Email: ragaabdi@gmail.com; rumahkerlip@gmail.com
Web Blog: rumahkerlip.blogspot.com
Web: www.backtohomeschooling.org

Hormat kami,



Zamzam Muzaki SM
Koordinator Kampanye dan Advokasi KerLiP

Rabu, 15 April 2009

Caringin, 22 Maret 2009

NOTULENSI FORUM OK
RUMAH KerLiP – SAHABAT QUR`AN
Caringin, 22 Maret 2009

Acara ini dimulai pukul 10.00 WIB, bertempat di Mushola Nurul Huda, Gg. Lumbung II, di belakang pasar induk Caringin, Kota Bandung. Heri membuka acara dengan salam dan bacaan basmalah. Dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur`an oleh Saeful. Setelah itu, Heri mempersilahkan Ova untuk memandu acara sebagai pembicara utama. Seyogyanya yang akan menjadi pembicara utama adalah Mbak Lovely, sayang beliau harus mendampingi Bu Yanti Sriyulianti dalam beberapa aktivitas di Jakarta.
Ova mulai memandu acara dengan sedikit perkenalan. Ova mengajak semua peserta untuk membicarakan masalah paradigma. Ova membagikan selembar kertas kosong kepada setiap peserta. Ia meminta para peserta menuliskan nama mereka secara vertikal di kertas tersebut. Kemudian kertas itu digeser kepada peserta lain di samping kanan. Setelah setiap peserta memegang kertas rekan peserta di setiap samping kiri, mereka diminta untuk memberi tanggapan tentang setiap peserta yang namanya tertera di kertas.
Setelah itu, Ova meminta satu-persatu peserta yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga, untuk memberi pandangan tentang anak-anak mereka. Beragam pandangan peserta terhadap anak-anaknya, ada yang selalu mendidik anaknya untuk selalu rajin belajar, mengaji dan melaksanakan tugas-tugas lainnya. Seringkali orang tua merasa susah ketika anak-anaknya mulai rewel dan banyak permintaan. Biasanya orang tua akan merasa bahagia ketika anaknya baik, shaleh dan penurut. Orang tua sering kerepotan ketika anak-anaknya sulit diatur dan banyak jajan. Salah seorang ibu yang kebetulan berjauhan dengan anaknya yang tinggal di kampung, bertekad untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi anaknya. Seorang ibu lain sedikit berintrospeksi. Ia masih merasa belum menjadi orang tua yang baik, sehingga ia akan terus-menerus belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Orang tua seringkali sulit mengendalikan emosi, karena kebanyakan orang tua tidak memahami anak-anaknya. Menurut sebagian ibu, anak acapkali lebih takut kepada bapkanya.
Terkait dengan bahasan paradigma, Ova mengungkapkan bahwa pandangan orang tua dan anak seringkali berbeda. Pandangan atau paradigma yang berbeda inilah yang seringkali mengakibatkan perselisihan antara orang tua dan anak. Orang tua sering menyesal ketika sadar bahwa mereka telah melakukan hal yang keliru terhadap anak-anaknya. Seperti juga orang tua atau orang dewasa, anak-anak pun ingin dimengerti dan mendapat perhatian.
Seorang ibu merasa sebagai orang tua harus sering introspeksi ketika berinteraksi dengan anak. Acapkali anak disuruh melakukan sesuatu, tetapi orang tua tidak memberi tauladan bagi anaknya.
Ova menyajikan beberapa tips sederhana bagaiman orang tua harus bersikap terhadap anak, yaitu :
- Dengarkan perkataan, pendapat atau cerita anak.
- Kenali perasaan anak.
- Beri nama perasaan itu
- Beri ruang bagi anak untuk mengenali perasaannya sendiri
Berdasar pengalaman mengajar, Heri berpendapat bahwa penyikapan terhadap anak itu tidak bisa disamakan (digeneralisir). Anak harus disikapi secara beragam.
Sebagai penutup, Ova menuturkan bahwa Paradigma itu seperti kacamata. Sehingga kita harus memilih kacamata yang sesuai dengan kebutuhan kita. Dan kita harus senantiasa mengembangkan paradigma yang positif.

Izoel.euy

Sekepicung, 21 Maret 2009

Kegiatan pembelajaran dimulai pada pukul 14.30. Ova membuka acara dengan sedikit refleksi proses sebelumnya. Karena hari itu ada dua orang pendamping baru, yaitu, Astri dan Nauli, dua orang mahasiswi FISIP – UNPAD, maka Ova mempersilahkan keduanya untuk memperkenalkan diri kepada warga belajar. Kemudian, Ova sedikit menjelaskan metode Cara Asyik Cari Tahu (CACT).
Hari itu, agenda kegiatan di komunitas Bina Bhakti Persada, Sekepicung, Kabupaten Bandung adalah unjuk tutur (presentasi) tugas CACT yang telah dibuat warga belajar. Ova mempersilahkan satu-peserta warga belajar untuk membacakan hasil kerja mereka.
Unjuk tutur dimulai oleh Nurjanah yang membacakan tugasnya yang ia beri judul “Belajar Hidup Mandiri”. Nurjanah memaparkan beberapa pelajaran yang bisa ia ambil dari aktivitas CACT selama hampir dua minggu. Salah satunya adalah, ia dapat memahami diri sendiri, sehingga dapat membantunya untuk bisa lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain dan bisa bersikap profesional. Selain itu, Nurjanah mempelajari bagaimana mengatasi rasa malas dan kantuk yang sering ia alami. Untuk mengatasi malas dan kantuk, Nurjanah menyarankan kami untuk membasuh muka atau berwudlu, mengubah posisi duduk, berganti ruangan, dan minum kopi atau jus. Nurjanah mengambil informasinya ini dari sebuah situs internet, sayang ia lupa mencatat nama situsnya.
Terkait tentang kedirian, Nurjanah menyampaikan beberapa penjelasan tentang melatih introspeksi dengan selalu mengingat kesalahan diri sendiri; menumbuhkan kreativitas dengan selalu bersikap terbuka dan jangan bertahan pada status quo; dan menyikapi segala permasalahan hidup dengan senantiasa bersabar, tawakal dan menyadari bahwa manusia adalah makhluk lemah. Pengetahuan-pengetahuan tadi merupakan hasil wawancara Nurjanah dengan salah seorang gurunya yang bernama Ustadz Samuri. Nurjanah pun bertutur tentang semangat belajar. Menurutnya, belajar harus tepat waktu, karena waktu itu sangatlah terbatas.
Selanjutnya dengan agak malu-malu, Agus sedikit menyitir tentang mempelajari kehidupan dan bagaimana mengenal karakter orang lain. Agus yang sering dipanggil kawan-kawan ‘Itok’ membuat sebuah tulisan dan sebait pantun yang berisi ungkapan cinta.
Sementara itu, Elis mengungkapkan 3 hal yang telah ia pelajari, yaitu: bagaimana bersikap dengan orang lain, bagaimana mengendalikan kemarahan dan tips mengejar cita-cita. Pengendalian kemarahan menurut Elis, bisa dilakukan dengan membaca Istighfar, wudlu dan lain-lain. Adapun tentang tips meraih cita-cita, Elis memaparkannya agak panjang lebar. Dari hasil wawancaranya dengan Pak Lala, Elis mengungkapkan bahwa dalam mengejar cita-cita kita harus fokus dan senantiasa bekerja keras. Selanjutnya Elis menuturkan hasil bacaan dari buku yang berjudul Sobat (Semua Orang Bisa Hebat), karangan Hillon Iswanto Goa. Katanya, jangan pernah belajar dari pengalaman, karena ia akan menelikung kreativitas. Ungkapan Elis yang terakhir inilah yang mengundang kami untuk mendiskusikannya. Acapkali kita mendengar ungkapan, pengalaman adalah guru terbesar dalam hidup. Terakhir, Elis menyerahkan sebuah puisi yang ia tulis sendiri berjudul ‘Taubat’.
Sayang sekali setelah cerita Elis ini, teman-teman lain masih malu-malu untuk bercerita dan ada juga yang belum menyelesaikan tugas CACT. Aisyah, Hardi dan Ema hanya menyiratkan sedikit cerita bahwa mereka telah belajar untuk mengenal lebih jauh tentang diri mereka.
Sebelum Ova menutup seluruh kegiatan, Syahrul, salah seorang warga belajar mengajak kami mendiskusikan tentang untuk apa kita hidup di dunia. Meski tak cukup banyak mendapatkan respon dari warga belajar lainnya, tapi pertanyaan itu cukup membuat kami terhentak.
Akhirnya, Ova menutup seluruh kegiatan pembelajaran sambil memberikan refleksi seluruh kegiatan dan informasi tentang kegiatan selanjutnya.