Kamis, 31 Maret 2011

Advokasi Sekolah Aman paska Rakor di Wamendikas 29 Desember 2010

Saat ini kami menindaklanjuti hasil pertemuan KPB dengan menghubungi BNPB untuk menginisiasi pertemuan dengan SC DRR-BAPPENAS, Kemendiknas dan KPB terkait penuntasan komponen contoh analisa satuan biaya untuk Sekolah Siaga Bencana.

Sepengetahuan kami, saat diundang BNPB dan Bank Dunia yang menindaklanjuti point 2 dalam Surat Wamendiknas kepada BNPB setelah pertemuan di Milennium, terkait dengan rencana pengintegrasian PDASES dimana saya masuk sebagai salah seorang anggota Tim dari HFI dan inisiatif KerLiP untuk ujicoba perangkat penilaian dalam PDASES yang disusun UNESCO dg Kemendiknas dan HFI.

Disepakati dalam pertemuan di Pusdalops BNPB tersebut untuk menggunakan penilaian kerentanan sekolah terhadap gempa yang diterbitkan PMB ITB (atas persetujuan Pak Krishna) dilengkapi dengan beberapa perangkat lain yang bersesuaian seperti Modul Suplemen BOS Bank Dunia, PDASES, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Layak Anak, Sekolah Sehat dan Sekolah Siaga Bencana (Naskah Akademik, SE Kemendinas, kerangka Kerja SSB KPB), Analisa Biaya Direktorat SMK Kemendiknas RI

Pada pertemuan tim kecil penyusun draft panduan di UNESCO, kami melihat pentingnya keterlibatan Plan International terkait pengintegrasian Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Layak Anak dalam perangkat IV Fungsional dan Kelayakan dan Perangkat V.

Mengingat terbatasnya waktu terkait DAK Pendidikan yang akan disosialisasikan Kemendiknas pada tanggal 5 Maret 2011, Perkumpulan KerLiP berinisiatif untuk 'membeli' perangkat PMB ITB dengan meyakinkan Plan untuk menyediakan biaya penggantian insinyur penyusun yang diminta Pak Krishna. Kami pun bekerja secara mandiri di Jabar bersama Lingkar Perlindungan Anak Kota Bandung, Edukasia, TP UKS Jabar, Direktorat SMK Kemendiknas, DPD RI perwakilan Jabar,, BAPPEDA Jabar, Disdik Jabar, Biro Yansos Setdaprov Jabar, BPBD Kabupaten Bandung, Pertacip Kabupaten Bandung dan BPBD Jabar untuk menyusun pengintegrasian setiap perangkat.

Disepakati kemudian perangkat menjadi 4 bagian dalam satu kesatuan dan menjadi lampiran Surat Rekomendasi Kepala BNPB kepada Bapak Wamendiknas RI.

Kami mendorong BNPB untuk membuka kesempatan kepada Kemendiknas untuk menuntaskan Panduan tersebut sesuai dengan kebutuhan dalam juknis DAK pendidikan 2011 dan terkait point 1 dalam surat Wamendiknas yang ditujukan ke BAPPENAS terkait bahan ajar pendidikan PRB. Kami memandang posisi strategis BAPPENAS terkait Sekolah Siaga Bencana yang melibatkan KPB sebagai fasilitator dan penyusun kerangka kerja SSB, ketika dengan sengaja mengosongkan satuan biaya terkait SSB. Kami sampaikan kepada BNPB, bahwa hal ini untuk mendorong partisipasi aktif para pelaku pendidikan PRB terutama di KPB dalam penyusuan Panduan Sekolah Aman.

Pak Fasli mempertemukan kami dengan Direktur SD yang baru terkait DAK Pendidikan 2011 dan pengintegrasian Sekolah Sehat yang merujuk pada SKB 4 Menteri (kemendagri, Kemenkes, kemendiknas, Kemenag). Kami mendorong penggabungan sekretariat TP-UKS menjadi sekretariat tetap TP UKS dan SA (Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah dan Sekolah Aman) sebagai tindak lanjut dari berikrar aman untuk memastikan sekolah aman menjadi komitmen bersama.

Pak Fasli juga berinisiatif untuk bekerjasama dengan Kemeneg PP dan PA terkait dimasukkannya Sekolah Ramah Anak dan Sekolah Layak Anak sesuai dengan permintaan beliau pada pertemuan awal Desember 2010 dan ini sejalan dengan MOU KPPPA dan Kemendiknas untuk memastikan kebijakan yang responsif gender dan peduli anak. Penyusunan Pedoman Pendidikan ramah Anak sudah menjadi rencana aksi 2011 Deputi tumbuh kembang anak, asdep Hak Pendidikan Anak KPPPA.

Indikator kunci hasil kajian dengan Lingkar Perlindungan Anak Kota Bandung dan Edukasia berdasarkan dokumen Sekolah ramah Anak dan Sekolah Layak Anak yang diterbitkan Plan International dengan kemendiknas RI dimasukkan menjadi perangkat III (fungsional dan kelayakan). Kami mendorong kajian terhadap perangkat III panduan Sekolah Aman dalam FGD penyusunan Indikator kunci Pendidikan Ramah Anak oleh Kemeneg PP dan PA dengan melibatkan Kemenkokesra, Kemendagri, Kemendiknas, Kemenag, Kemensos, TdH, Save the Children, WVI, Childfund, KerLiP, YKAI, Gandhi Foundation, dan Unicef (dalam konfirmasi), Perguruan Darul Hikmah Cimahi. Saat ini dirumuskan ada 7 indikator kunci Pendidikan Ramah Anak yang akan dikaji ulang untuk disesuaikan dengan indikator kota Layak Anak.

Kemarin kami mendapat kepastian dari Pak Sugeng atas dorongan dari Pak kepala BNPB untuk menerbitkan SK untuk Panduan Sekolah Aman terkait dengan rencana penilaian kerentanan 44.792 sekolah di Jabar yang kami susun berdasarkan permintaan pemprov Jabar. Sinergi yang akan kami lakukan di Jabar melibatkan, BAPPEDA, BPBD, Disdikprov, Pertacip, Bakorwil, perusahaan penilai aset dan tim penilai dari SMK. Terkait hal ini, Dewan Pakar KerLiP sudah menghubungi Marqueeza (ASEAN-UNISDR) untuk menjadikan Jabar (kota Bandung) sebagai piloting penilaian sekolah aman ASEAN.

Hari ini kami diminta BAPPEDA dan Forum CSR Jabar untuk mengirimkan surat terkait rencana penggunaan Panduan Sekolah Aman dalam penilaian kerentanan sekolah, pembangunan Ruang kelas baru, Unit Sekolah baru dan mendorong budaya aman, selamat dan sehat di sekolah, madrasah dan pesantren di Jabar.

Besar harapan kami, Mbak Titi dan Neda berkenan memfasilitasi pertemuan KPB dengan SC DRR BAPPENAS, Puskur Balitbangdiknas, UNICEF dan BNPB sebelum BNPB menerbitkan SK untuk Panduan Sekolah Aman tersebut. Kami sangat memerlukan contoh satuan biaya penyelenggaraan SSB yang sesuai dengan SE kemendiknas RI.

Salam hangat

Senin, 28 Maret 2011

decide to be happy

We're just a human being
Sometimes we make a big mistake for each other
To forgive is the highest, most beautiful form of love
In return, we will receive untold peace and happiness
always trust our intuition and nurture an environment of deep devotion, patience, and passion. We'll empowered by embracing our emotions as a gift and unconditional love
If we humble ourself in Allah presence,
Allah will set us in a place of honor and respect.
Learn from yesterday
live today
and hope for tomorrow
We've blessed having lovely family and home where the heart is...
Alhamdulillah

Kamis, 24 Maret 2011

Kisah Pemungut Daun (Kerinduan dan Kecintaan pada Kekasih Allah)

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.


Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.


Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.


“Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu


Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.


“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.“


Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?


[Dikisahkan Bapak Herry Sugiharto dari buku "Rindu Rosul", karangan Jalaluddin Rakhmat, penerbit Rosda Bandung, hal 31-33. cetakan pertama September 2001]

Rabu, 16 Maret 2011

Simposium "ASI Eksklusif" oleh FMBJ

Forum Muslimah Peduli Jabar Mengadakan

Yang bertujuan untuk Meningkatkan pemahaman pentingnya ASI di masyarakat.

PESERTA

Kader masyarakat yang berasal dari organisasi kemasyarakatan. Jumlah peserta sekitar 150 orang.

WAKTU DAN TEMPAT

Hari/Tanggal : Rabu, 20 April 2011

Waktu : 13.30 – 15.00 WIB

Tempat : Ruang Seminar PUSDAI

Jl. Diponegoro No.63 Bandung

Pertemuan pokja pendidikan Forum Muslimah Peduli Jawa Barat

Pusdai Jawa Barat, rabu, 16 maret 2011

Bu titin membuka acara

Berdasarkan kesepakatan pada tanggal 7 Maret 2011, Kegiatan launching LPKM akan dilaksanakan tanggal 2 mei. Tetapi Karena pada tanggal 2 mei itu hari pendidikan nasional pada upacara, kegiatan akan dilaksanakan tanggal 8 mei.

Lembaga pendidikan keterampilan Muslimah (LPKM) sendiri menyediakan layanan berupa:

a. Pembinaan pra nikah

b. Pembinaan keluarga sakinah

c. Pembinaan PAUD bina anak berbasis mesjid

d. Bimbingan ibadah haji dan umroh

e. Keaksaraan nasional

f. Manajemen koperasi

g. Kursus pengantin muslimah

Teknis kegiatannya, ada satu tempat namanya LPK keterampilan muslimah. Pada peluncurannya . dalam LPK ada penanggung jawab keterampilan.

Kelompok pranikah

Narasumber:

1. Kanwil Kemenag Jabar – kabid Urais – kebijakan pranikah

2. Dinas kesehatan Prov. Jabar – usia produktif

3. Dinas Pendidikan – bagaimana kebijakan dan pelaksanaan pendidikan non-formal dan informal

Diintegrasikan dengan perguruan tinggi, diintegrassikan kepada program KKn dan lainnya, dibuat kerjasama dengan UIN SKJ.

Yang akan dibicarakan jumat,

1. Mengajukan struktur keseluruhan forum…

2. Menyusun rogram kerja detail

Waktu disepakati hari kamis tanggal 5 Mei 2011.

Jumlah peserta 200 orang. Tiap ormas 10 orang maksimal.

13 Peserta ormas: Perwakilan masing-masing Ormas

…..Mensosialisasikan kesetaraan Gender, meningkatkan SDM kaum Wanita….

Susunan panitia:

Ketua panitia : Ibu Titin

Sekretaris : neng Dhea

Wk. Sekretaris : Ibu farida

Bendahara : Ibu Lani

Seksi Acara : Ibu Ucu, bu Cucu, Ibu Idawati

Akomodasi : Ibu Ai, Ibu Fatimah

Publikasi dan dokumentasi: Aisyiah dan persistri

Tempat di Balai Asri

Susunan Acara:

1. Pembawa Acara: Ela Persistri

2. Pembacaan Ayat : Qoriah: Ibu Farida, Ibu Diah, Ibu Milasari.

3. Sambutan:

a. Laporan Panitia/kordinator FMPJ

b. Karo Yansos/ Ibu Neti

4. Peresmian LPKM

5. Pembacaan doa

6. Serah terima ke seksi acara, Ibu Ucu.

7. Seminar:

a. Moderator

b. Panelis

8. Penutup

9. Pembagian sertifikat

Logo

Catatan: Membuat tim konsep untuk membuat handout, blue print program. Dhea menjadi tim

Tema Kegiatan: liat Proposal

RAB:

Kesekretariatan :

Seminar KIT :

Gedung 1 jt

Narasumber : 3 narasurmer 1 jt

Moderator :

Pubdok : 1,5 Jt

Konsumsi : 10.000 x 200 org + konsumsi 2.500.000

Zamzam menyampaikan paparan mengenai kebutuhan pembelajaran PAUD dari masing-masing organisasi.

Meminta kontribusi dari forum untuk pembinaan terhadap Napi wanita di lapas wanita.

Akan menyusun kerangka program jangnka panjang

Catatan Lokakarya Penyusunan RAD PRB dan pembentukan Forum PRB kabupaten Bandung

Upaya yang telah dan akan dilakukan Para pihak

Tahapan

Pemerintah

Masyarakat korban

Organisasi/kelompok masayarakat

Pra bencana

1. Menyusun RAD Penanggulangan Bencana (draft Perda)

2. Melakukan upaya preventif

3. Penyediaan sarana

4. Akan melakukan komunikasi dengan berbagai pihak

5. Melakukan upaya2 mitigasi (rekayasa teknologi, perubahan perilaku, upaya konservasi,

6. Shelter dan Pembangunan posko Bencana, Penemapatan Gudang2 Penyimpanan

Siap siaga

1. Melakukan kerjasama /Kemitraan antar lembaga dan relawan-relawan ( sekitar 1200 relawan FKPA)

2. Melakukan upaya mitigasi bencana di kecamatan Pacet

3.

Saat bencana

1. Upaya pemenuhan hak dasar warga korban

1. Melakukan evakuasi secara mandiri

Melakukan kerja2 tanggap darurat

Pasca bencana

1. Melakukan perbaikan sarana sanitasi akibat bencana

2. Koordinasi dengan para pihak yang melakukan penanganan bencana (pemerintah dan masyarakat)

3. Kerjabakti massal oleh warga di saluran cigado Baleendah (korban banjir)

4. Ada rencana bantuan untuk fasilitas umum bagi korban

1. FKPA Menginisasi kelompok ibu2 dalam penanganan bencana ke depan

2. Peningkatan kapasitas terhadap rewalan2

3.

Banjir terjadi sejak tahun 1972

Jenis bencana di kabupaten Bandung (YKPA) :

1. Banjir (Bandung Selatan)

Masalah

- Sampah

- Penggudulan hutan

- Limbah industri

- Sedimentasi

- Alih fungsi hutan

- Kekeringan

- Erosi

- Kerentanan tanah

Penanganan :

1. Jangka pendek

2. Jangka menengah

3. Jangka Panjang

Potensi

- Limbah industri

- Daerah industri untuk skala

- Lahan pariwisata

- Potensi lainnya

Solusi

- Belum ada solusi yang signifikan

- Memaksimalkan peran BPBD dengan memberdayakan Pokmas

- Melakukan kerjasama antar pihak

- Melakukan tindakan nyata dalam jangka pendek

- Melakukan penyadaran kepada masyarakat

- Rencana Aksi harus memuat riwayat dan potensi kerawanan dan bencana

-

4. Gempa bumi

5. Longsor

6. Kekeringan

Pusat Mitigasi Bencana ITB

1. Penelitian dan Studi Kebencanaan

2. Studi maintraiming resiko bencana dalam kebijakan perencanaan dan

pembangunan (RTRW,

3. Peta zonasi gempa terbaru

4. Kajian resiko bencana dengan pemerintahan kota Bandung

Masalah Lain:

1. Permasalahan Tata Ruang

2. Pertumbuhan industri yang terus menerus

3. Tata Kelola lahan untuk petani di kawasan hutan dan perkebunan

4. Rencana Aksi Komunitas

5. Banyak potensi-potensi rentan terjadinya bencana di Bandung bagian selatan

BPLHD Propinsi Jawa Barat

- Ada sub bidang mitigasi becana : sosialisasi umum soal bencana, kajian SOP,

- Membentuk basis data di Jawa Barat bagian selatan tahun 2009

- Pemasangan rambu-rambu bencana mitigasi pada tahun 2010

- Kajian perubahan iklim

- Pemantauan terhadap limbah Industri

DPRD

- Undang-undang baru tidak diikuti dengan peraturan turunannnya (PP dll)

- Merumuskan rencana tata ruang di kawasan bencana

- Melakukan review RTRW Kabupaten Bandung pada tahun 2013

- Ada kesulitan dalam perumusan anggaran kebencanaan

- Proporsi anggaran, harus ada skema pendanaan : ON CALL

- Proses legalisasi Draft RAD, pembahasan di Pansus

Pa Asep

- Penanggulangan bencana mampu memberdayakan masyarakat

- Peran aktif dan progresif penyelenggara pemerintahan (eksukutif dan legislatif) dalam penanggulangan bencana

- Peran aktif BPBD sebagai lembaga yang berkaitan langsung dengan kebencanaan

- Konsolidasi BPBD dengan berbagai pihak

- Mereview rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD)

- Revisi Perda RTRW belum spesifik pada identifikisasi potensi rentan dan rawan bencana, harus diturunkan dalam RDTRK

- Penyusunan RDTRK seluruh kecamatan dan kawasan harus sensitif terhadap pengurangan resiko bencana (baru 5 kecamatan)

- Memadukan RPJMD dengan RPJM desa sensitif pengurangan resiko bencana

- Memastikan musrenbang sebagai ruang untuk mengakomodir kepentingan masyarakat

- Memastikan kesepakatan pengelolaan anggaran

Permasalahan yang dihadapi (PMI)

- Lemah dalam sistem data dan informasi

- Ketidakjelasan dalam SOP : fungsi koordinasi lemah

- Pemberdayaan masyarakat belum optimal

Aktivitas PMI: Saklak

- Mengelola dapur umum

- Melakukan pemetaan dan mitigasi

- Evakuasi

- Pertolongan pertama

- Rehabilitasi : 1200 Rumah Bambu di Pangalengan dan sekitarnya

- Menempatkan perahu karet

Upaya Pengurangan resiko bencana

- Pelatihan dalam korider pemberdayaan masyarakat sejak tahun 2008 di desa baros

Dan tahun 2009 pelatihan dilakukan di 4 desa

- Menyediakan tenaga sukarelawan sekitar KSR= 130 orang , yang on call 40 orang, TSR = 20 orang

- Pelatihan-pelatihan siaga bencana

Lencana:

- Melakukan edukasi pendidikan kebencanaan sejak dini, pelajar SD, SMP dst sehingga siap dan siaga

PVMBG (Kementrian ESDM)

- Bencana tidak akan pernah bertanya kesiapan kepada siapapun

- Masalah aturan, anggaran yang dihadapi bukanlah kendala utama dalam penanggulangan bencana tapi harus menjadi spirit

- PVMBG melakukan pemeriksaan dan memotret potensi bencana (rentan, rawan)

- Bagaimana ada perubahan dalam memaknai bencana, alam bukan untuk dilawan

- Mengubah mindset tentang kebencanaan

- Menyiapkan masyarakat untuk mampu adaptasi dengan bencana melalui edukasi yang sesuai dengan kebutuhan

Pa Ikhsan

- Perlu melihat dan mengkaji peta kerawanan dan kerentanan (bencana) : Geologis, Hidrologis dan Penyakit

- Permasalahan tata ruang adalah masalah utama, perlu mengklarifikasi kebijakan Tata Ruang

- Perlu memeriksa RDTRK (peta 1:1000), pertegas zonasi dan block plan dan kab Bandung baru memiliki 5 RDTRK

- Permasalahan kelembagaan (BPBD), sebaiknya tidak menyusun anggaran baru tapi bisa masuk dalam kebijakan anggaran di SKPD yang relevan

- Ada dua madhab dalam kebencanaan : Manajemen Penanggulangan Bencana dan Manajemen Bencana yang berimplikasi pada tindakan

- Permendagri No 13 tidak sejalan dengan upaya penanggulangan bencana

- Urusan RTRW dan Pengurangan resiko bukan hanya masalah teknik, tapi membutuhkan komitmen pemerintah/pimpinan

- Kesenjangan antara RAD dengan kebijakan –kebijakan yang sudah dikeluarkan : soal perijinan dll

- Melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana

Pa Edi

- Ada 2 SD yang melakukan pendidikan kebencanaan di Cicalengka kabupaten Bandung

- Inisiasi untuk melakukan kajian RDTRK yang sensitif pengurangan resiko bencana

-

-

Tindaklanjut/Rekomendasi :

1. Mempertegas komitmen : Penyamaan Cara Pandang dalam Kebencanaan

Pengurangan resiko dan penanggulangan bencana, perluasan wawasan bencana

2. Melakukan elaborasi dan diskusi-diskusi penajaman subtansi Draft RAD

yang sedang disusun oleh BPBD

3. Kebijakan (anggaran) dalam pengurangan resiko bencana

4. Melakukan review dan evaluasi produk2 kebijakan pembangunan di Kabupaten bandung

(RTRW kabupaten Bandung dll)-à Moratorium

5. Konsolidasi antar pihak yang berkontribusi dalam penanganan bencana di Kabupaten Bandung

6. Memastikan posisi RAD yang akan disusun dengan Draft Peraturan daerah tentang penanggulangan bencana yang telah disusun oleh BPBD

Agenda Penyusunan

RAD Pengurangan Resiko Bencana di Kabupaten Bandung

Acuan Penyusunan :

1. RAN PB tahun 2009-2014

2. RAN PRB 3 tahun

Kebutuhan :

1. Penyiapan dan sharing data dan informasi :Peta-peta, riwayat bencana, kerawanan dll

2. Kajian review draft perda penanggulangan bencana di Kabupaten bandung

3. Penyelerasan dengan RPJMD yang sedang disusun : memasukan agenda pengurangan resiko dalam RPJMD

4. Kajian/ review kebijakan RTRW kabupaten dan RDTRK

5. Adanya sekretariat bersama di BPBD kabupaten Bandung


Minggu depan berdiskusi kembali, 8 Maret 2011

Koordinator Tim

Pa Ikhsan

081321027237