Senin, 28 September 2009

Verifikasi data pengungsi dan titik pengungsian

Tercatat ada beberapa titik pengungsian di 9 Kecamatan. Verifikasi ulang melalui telpon dilakukan staf Dinsos merujuk pada laporan lengkap data kerusakan bangunan dan jumlah penduduk yang terkena gempa di 40 Kecamatan se Kabupaten Garut.

Lokasi: Posko Bantuan Dinsos Kabupaten Garut






Rintis Perpustakaan untuk Warga

Meski retak di beberapa sudut, MD AL Falah merupakan tempat terpilih untuk pendirian perpustakaan Rumah KerLiP. Disana tempat forum warga membentuk kepanitiaan yang partisipatif untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Ada dua ruang belajar dan satu dapu...r umum yang dibangun atas swadaya masyarakat yang digalang ayahanda Ajengan Wawan. Pak Endang adalah komite MD Al Falah yang mendidik 82 anak kelas 1-4. Banyaknya balita disana mendorong Rumah KerLiP untuk mendampingi warga Pamalayan mewujudkan impian mereka untuk mendirikan PAUD. Bantu yuk!

Lokasi: Madrasah Diniyyah Al Falah-Pamalayan

Dibalik papan tulis bertuliskan kepanitian yang terbentuk dari hasil pertemuan warga dan aparat desa untuk penggalangan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi di Desa Pamalayan





Ova (baju bergaris) menyampaikan titipan buku-buku pustaka, ATK anak, dan biaya pembuatan sekat dan lemari perpustakaan kepada Pak Endang (baju kuning) setelah Pak Olih menghitung kebutuhan bahan kayu dst.


Ajengan Wawan menyaksikan penandatanganan serah terima dari Kordinator Rumah KerLiP (Ova)

Kumpul bocah rayakan ultah di tengah keprihatinan akibat gempa

Hampir seluruh rumah permanen di Kiarakohok Pamalayan hancur/rusak berat. Rumah ajengan wawan dan keluarganya disamping masjid termasuk yang beruntung selain beberapa rumah panggung yang berdiri kokoh jadi saksi hunian yang dibangun dengan kearifan alam

Lokasi: Rumah Ajengan Wawan samping mesjid RW05 Pamalayan Garut




Minggu, 27 September 2009

Anak-anak korban gempa bermain di tengah keprihatinan

Lokasi: Pamalayan-Garut



Hunian Korban Gempa

Masih ada 3-6 keluarga yang tinggal di tenda pengungsian di lapangan Kiarakohok. Lainnya sudah pindah ke lahan kosong dekat tempat tinggal keluarga masing-masing. mereka membangun hunian sementara dari puing-puing rumah masing-masing beratapkan terpal. Yayasan IBU memberikan 950 terpal. Sudah terbentuk panitia dari warga dan aparat desa untuk menggalang bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi. Pak Endang menyampaikan bahwa sebelumnya ada beberapa perempuan yang mengalami depresi karena banuan tenda dan terpal tak kunjung tiba. Warga masih belum mengetahui kapan rencana pembangunan hunian mereka dilaksanakan. Jika ada donatur yang berkenan membantu silakan hubungi Ajengan Wawan salah satu ketua panitia setempat di 085294203329
Lokasi: Kiarakohok, RW 05- Pamalayan



Sasawungan, tempat tinggal sementara yang dibuat warga memanfaatkan bahan-bahan yang ada



Pak Endang menunjukkan tempat alm. anak korban gempa wafat tertimpa bangunan saat lari menyelamatkan diri




keluarga korban gempa dekat tenda di lahan tetangga



korban gempa dibalik reruntuhan rumahnya

Pembagian Bingkisan Lebaran

1.000 rumah dilaporkan hancur dan rusak berat di desa Pamalayan. Ada 144 anak perempuan, 167 anak laki-laki, 90 balita dan 321 perempuan yang terdata di 9 RW dari 14 RW di Desa Pamalayan yang kehilangan tempat tinggal mereka. Bingkisan baju koko seha...rga Rp 55.000 dan baju muslim seharga Rp 65.000 dibelikan relawan Pamengpeuk dari dana donatur yang dititipkan ke Rumah KerLiP terutama untuk 82 anak yang belajar di kelas 1,2,3 dan 4 Madrasah Diniyyah Al Falah. Diharapkan masih ada donatur yang siap memberikan bantuan dalam bentuk buku pustaka, mainan edukatif, bahan bangunan, bentuk lainnya untuk membantu anak-anak, balita dan ibu-ibu mereka kembali memiliki penghidupan yang layak.


Anak-anak korban gempa di Desa Pamalayan (kelas 1)
1 Salma Tendi
2 Nisa Gilang
3 Dila Mugani
4 Qisthi Farhan
5 Shalpina Riki
6 Lidya Rendi
7 Selly Alpi
8 Sihpa
9 Dhes
10 Intsn
11 Wulsn
12 Lidtisni Falihah
13 Syifa
14 Lala
15 pani



Kelas 2
1 Putrid Alpi
2 Dhea Asep
3 Fitri Haris
4 Putrid Irpan
5 Ranti Dendi
6 resya Gunari
7 Hari
8 irpan



Relawan Pamengpeuk : Usep bersama Ajengan Wawan pimpinan Madrasah Diniyyah Al Falah dan Pak Endang dari komite MD Al Falah yang juga ketua DKM menyerahkan bingkisan untuk anak-anak pada tanggal 16 September 2009


Kelas 3
1 Desi S Andika
2 Resti Dikdik
3 Sindi Sansan
4 Selpi sopian
5 Rika
6 Rista
7 Intan
8 Puja
9 Rina
10 Elin
11 Astir
12 Aisiti
13 Hani
14 Sulastri
15 Depi
16 Yulia
17 Elsa
18 dini



Kelas 4
1 Sahiah Ridwan
2 Hasti Ari
3 Rida Bambang
4 Maya
5 Anisa
6 Yayang
7 Uteri
8 Susan
9 Indri
10 Puri
11 Mesi
12 Melani
13 Fitri
14 cici

Foto Story, Perjalanan Penyerahan Bantuan ke Desa Pamalayan, Cikelet Garut 24 SEPTEMBER 2009

Pemandangan Nagrek-Kadungora-Leles-Garut (kota)

Laporan Kegiatan Bantuan Kemanusiaan Korban Gempa per 12-16 September 2009

1. Rapat Koordinasi Manajemen (Dihadiri oleh Ayu, Dyah, Ova, dan Yanti)
Menyepakati :
 Misi pengiriman relawan
 Relawan yang dibutuhkan
 Pembuatan panduan relawan gelombang kedua
 Dyah menyusun susunan kegiatan relawan 14-16 september.


2. Pembekalan Relawan
Terdiri dari 2 sesi. Sesi I adalah Praktik Trauma Healing difasilitasi oleh oleh Pak Asep. Relawan yang menghadiri Angga, Vivin, Imu, dan Helmi. Sebelum dimulai praktik Trauma Healing terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendampingan sebelumnya oleh Farhan dan ditanggapi oleh teman-teman yang hadir.
Dilanjutkan keesokan harinya sebelum pemberangkatan. Pembekalan sesi 2 lebih kepada pembekalan berdasarkan alur kegiatan selama pendampingan lapangan. Membahas teknis koordinasi pembentukan dasawisma dan teknis pendampingan psikososial. Dipandu oleh Zamzam, Ova , dan Yanti KerLiP.

3. Koordinasi dan Persiapan Kegiatan FGD dan Pembentukan Forum Relawan
Koordinasi dilakukan dengan Pemkab Garut dalam hal ini dengan Pak Mlenik (Asda 3) dan Pak Herman (Kepala Kesbangpol). Sebelumnya Ova sempat mampir di Dinas Sosial Garut untuk menyapa Ibu Elka Kadinsos sekaligus menyampaikan informasi kepastian bantuan dari Pemprov Jabar yang dikirim hari ini (14/9).
Koordinasi dengan Pak Mlenik membahas susunan acara. Ova sampaikan surat dan lampiran berisi susunan acara kepada Pak Mlenik. Ova juga menyampaikan TOR FGD dan pembentukan relawan. Kami membahas pengganti Bupati Garut untuk menyampaikan sambutan. Kata Pak Mlenik yang akan menggantikan adalah Pak Wabup sekaligus menyosialisasikan penanggulangan bencana pada tahap tanggap darurat. Pak Mlenik akan kembali rapat dengan pimpinan pemkab Garut, karena ketika saya datang sedang berlangsung rapat Pimpinan Pemkab Garut (Bupati, Wabup, Sekda, Kepala Kesbang, Asda).
Setelah berkoordinasi dengan Pak Mlenik (dan setelah Dzuhur), Ova menemui Pak Herman Kepala Kesbang untuk membahas dan memastikan para undangan hadir. Ada beberapa tambahan undangan yang belum masuk daftar Kesbang. Kebanyakan adalah NGO lokal dan Internasinal yang belum 'minta izin' dengan Pemkab Garut. Daftar NGO tersebut Ibu Yanti dapatkan dari PBB (UNOCHA). Ketika Ova sampaikan ke Pak Herman, Kesbang pun tidak punya data tentang NGO dalam daftar yang kami bawa. Lalu Pak Herman menyiapkan surat undangan untuk NGO tersebut dan meminta KerLiP menyampaikannya sedangkan waktu tinggal kurang dari sehari. Lalu Ova meminta Pak Herman untuk menghubunginya lewat telpon. Ova menghubungi Ibu Yanti, Usep, dan Ai untuk menanyakan nomor kontak NGO yang ada dalam daftar. Ai memiliki nomor kontak Yayasan Sheep Indonesia, sedangkan Usep Save The Children. Sebagian besar no kontak didapatkan dari Ibu Yanti.
Untuk mengumpulkan kontak NGO dibutuhkan waktu cukup lama. Saya minta Pak Herman menghubungi melalui Kesbang. Pak Herman meminta saya mengirimkan kontak lewat sms saja,, nanti Kesbang yang akan menghubungi. Ova diminta keluar, karena sudah cukup lama saya berada di dalam ruangan Pak Herman.
Merasa sudah beres Ova kembali ke Dinsos untuk berbincang dengan Bu Elka (sekalian internetan di mobil komunikasi).
4. FGD dan Pembentukan Forum Relawan di Pendopo Garut, 15 September 2009

5. Kegiatan Pendampingan Psikososial di Desa Pamalayan, Cikelet 14-16 September 2009
Koordinasi pengaktifan dasawisma dan Pendampingan Psikososial Anak dan Keluarga
LAPORAN PERJALANAN
Kegiatan relawan
Di Kecamatan Cikelet
Desa Cikelet dan Desa Pamalayan
14-16 September 2009
Oleh Tim Kegiatan Penguatan Kapasitas Lokal (Angga TAP)

Persiapan dan penempatan lokasi
Keberangkatan relawan direncakan pada hari Senin, 14 september 2009, pukul 09.00 WIB menuju kecamatan Cikelet Kabupaten Garut. Pagi hari sebelum jam keberangkatan, pukul 06.30-09.00, digunakan untuk pengarahan para relawan, packing barang-barang kebutuhan dan logistik pendukung lainnya seperti alat peraga, buku, alat tulis, dsb.
Berangkat ke lokasi kurang lebih pukul 10.00 WIB, mampir di Cikajang untuk sholat dzuhur dan membeli bahan makanan. Perjalanan dilanjutkan pukul 14.00, cuaca tidak begitu panas, tidak pula hujan, jalanan naik turun tajam berkelok memaksa salah seorang relawan untuk berpindah posisi akibat pusing, kami berhenti sejenak di dekat perkebunan teh.
Kami datang ke lokasi, Desa Cikelet pukul lima sore menjelang buka, disambut oleh relawan setempat-Kang Usep. Di sana sudah ada relawan dari NGO lain-Yayasan Cendikia Anak Indonesia (YCAI), mereka melakukan kegiatan psikososial terhadap anak-anak yang berdomisili di Desa Cikelet dan Desa Cibalong. Kami ditempatkan di posko bersama, rumah bapak Nurjamil di kampung Cieurih Desa Cikelet bersama dengan YCAI dan SPP (Serikat Petani Pasundan).

Kegiatan hari ke-1 (Senin, 14 September 2009)
Sesuai dengan jobdesk yang dibuat oleh Kerlip, kegiatan pertama kami adalah melakukan silaturahmi, koordinasi, dan sosialisasi rencana kegiatan dengan stakeholder setempat: Satlak, Lurah, RT/RW, serta relawan setempat. Sesampainya kami disana, kami langsung melakukan koordinasi, sharing, serta sosialisasi program dengan ibu PKK desa Cikelet yang diwakili oleh Ibu Pipih. Pertemuan tersebut membahas mengenai peran ibu-ibu PKK dalam penanggulangan bencana di lingkungan mereka. Selain itu juga kami meminta informasi mengenai program Dasawisma di Desa Cikelet.
Pada malam harinya, di Posko, kami melakukan koordinasi awal serta merumuskan rencana teknis kegiatan untuk esok hari. Setelah dirasa cukup, kami bergerak ke posko bencana Desa Pamalayan untuk berkoordinasi dengan satlak, RT/RW, serta lurah Desa Pamalayan. Kami didampingi oleh Kang Usep, sekaligus Kang Usep melakukan koordinasi mengenai kegiatan pertemuan dengan stakeholders tingkat kabupaten pada hari Selasa, 15 september 2009 di Pendopo Kabupaten Garut. Pada pertemuan malam tersebut banyak tergali masalah-masalah yang terjadi di lapangan, sekaligus harapan-harapan kepada kami khususnya dan harapan kepada pemerintah. Masyarakat untuk saat ini, sangat membutuhkan tempat berteduh dibandingkan dengan bahan makanan atau sembako. Mengingat sebentar lagi akan datang angin barat dan musim hujan. Selain itu juga, ada saja masyarakat yang masih belum puas, merasa tidak adil dengan pembagian atau pendistribusian sembako, sampai-sampai para panitia posko bencana yang notabene adalah penduduk sekitar ada yang terkena caci maki bahkan ada salah seorang anggota masyarakat yang dipukuli. Untuk masalah kesehatan diri dan keluarga, sanitasi dan pendidikan, serta mata pencaharian, tidak terlalu menjadi sorotan. Mereka meminta segera didatangkan tenda-tenda, seperti terpal. Selain itu juga, kondisi psikologis masyarakat cenderung sangat labil, sampai-sampai karena masalah miskomunikasi, ASTRA yang awalnya akan mengirimkan bantuan di lapangan malah tidak jadi akibat ada warga yang protes. Lebih parah lagi, ada warga masyarakat yang diindikasikan stress berat, di desa Pamalayan sendiri kurang lebih ada lima orang, sehingga meminta adanya bantuan psikologis, motivasi, dsb. Pangkal dari masalah psikologis ini, menurut salah seorang panitia, adalah tidak terpenuhinya kebutuhan pokok mereka, terutama masalah tempat tinggal. Setelah mendengar keluhan, gambaran umum keadaan masyarakat, kami menyampaikan maksud kami, terutama untuk melakukan psikososial atau trauma healing kepada masyarakat terutama anak-anak. Secara spontan ada salah seorang warga yang hadir pada waktu itu, bapak Ade, menyampaikan keinginannya agar kami dapat mengisi di pesantren kilat pada saat perlombaan dan penutupan yakni tanggal 26 dan 27 Ramadhan (16 dan 17 September 2009), selain mengisi meminta pula agar kami dapat mengusahakan pengadaan hadiah perlombaan bagi anak-anak sanlat. Pertemuan berkakhir kira-kira pukul sepuluh malam, kami bergegas menuju posko dan melakukan koordinasi kembali untuk mem-follow up respon dari masyarakat.

Hari ke-2 (selasa, 15 September 2009)
Pada hari ke-2 ini kami hanya berkoordinasi dengan ibu PKK dan atau Ibu Lurah, dikarenakan Bapak lurah dan Camat seyogyanya menghadiri pertemuan di pendopo Kabupaten Garut. Sekitar pukul sebelas siang kami bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh ibu PKK Desa Pamalayan yang juga istri dari ketua RW 06 desa Pamalayan. Pada awalnya kami akan bersilaturahmi dengan Ibu Lurah Desa Pamalayan, namun menurut bapak ketua Satlak Desa Pamalayan, sebaiknya kami tidak menemui bu lurah, karena beliau sedang repot dan mempunyai anak kecil, bapak ketua satlak menyarankan kami untuk menemui bapak ketua RW 06 , Bapak Syarifudin.
Sesampainya di rumah bapak RW, kami malah diterima oleh istri pak RW yang sekaligu sebagai pengurus PKK. Pak RW kebetulan sedang mengantar warga yang diberi kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di daerah Depok Jawa Barat. Menurut penuturan Ibu RW tersebut, ada salah seorang donatur yang ingin memberikan bantuan kepada warga, namun dalam bentuk lain yakni memberikan pekerjaan kepada warga desa perempuan lulusan SMA untuk dipekerjakan di perusahaan elektronik di daerah Depok Jawa Barat. Pada awalnya, orang tua mereka enggan untuk mengizinkan atau menerima tawaran tersebut, karena khawatir kalau-kalau anak mereka malah dijual. Namun, para orang tua dapat diyakinkan, perwakilan dari penyumbang memberi jaminan, sekaligus menawarkan kepada aparat setempat untuk meninjau lokasi calon tempat bekerja bagi anak-anak desa yang akan dikirim ke perusahaan tersebut.
Kami meninjau pula keadaan sanitasi,WC yang dipakai warga, serta sarana ibadah warga. Sanitasi lingkungan kurang memadai, WC mengandalkan sumur dengan jarak pembuangan yang kurang sesuai dengan standar, sarana ibadah (masjid) belum ada karena masjid yang ada hancur luluh. Untuk sementara warga membangun “sasaungan” semacam Gazebo yang agak besar kurang lebih berukuran (10 x 5) meter persegi. Anak-anak tidak bersekolah karena sudah diliburkan, mereka hanya mengikuti kegiatan keagaman-pesantren kilat yang diselenggarakan pada pukul 13.00 sampai Ashar. Pada pagi harinya anak-anak bermain bebas.
Untuk pendistribusian bantuan, bapak RW mengambil jatah warganya dari posko kelurahan/desa, kemudian dibagikan kepada RT sesuai jumlah warga yang terdata sebagai penerima bantuan, pembagian disama ratakan, meski masing-masing hanya dapat satu sendok tetap didistribusikan. Masalah yang terjadi adalah ketidakpuasan terhadap pembagian tersebut, ada yang menganggap pembagian tidak adil karena yang dianggap mampu pun diberi bantuan, belum lagi tudingan nepotisme yang dilakukan RW. Sepintas lalu, Ibu RW kadang mengeluh, sudah berbuat yang terbaik untuk warganya malah mendapat cacian dan makian, padahal dirinya sendiri harus menumpang di rumah saudaranya dikarenakan rumah beliaupun hancur terhempas gempa.
Sosialisasi konsep dasawisma hanya kami sampaikan sedikit, sepintas saja, kami lebih kepada membangun komunikasi, kami juga mencoba menanyakan program ibu-ibu penggerak PKK serta peran ibu-ibu dalam penanggulangan bencana. Program-program PKK yang sudah berjalan diantaranya adalah posyandu. Kegiatan ibu-ibu dalam penanggulanangan bencana lebih terfokus kepada membantu keluarga, menyiapkan makanan, membereskan puing-puing, dsb. Warga pada umumnya melakukan kegiatan masing-masing untuk memperbaiki keadaan mereka. Tidak terasa, terlarut dengan cerita-lebih tepat mungkin curhat-Bu RW waktu memasuki waktu Dzuhur, saya berpamitan, Ibu RW berterima kasih atas lawatan kami, meskipun tidak membawa bantuan berupa barang, lawatan dan dukungan moralpun sangat diterima dengan tulus.
Sore harinya sekitar pukul 16.15, kami menemui ibu lurah Cikelet yang sudah membuat janji bertemu terlebih dahulu melalui ibu Pipih-ibu PKK yang kami temui pertama kali. Di rumah ibu Lurah kami disambut dengan hangat, kami disana mencoba menggali terlebih dahulu keadaan Desa Cikelet pasca gempa. Bu lurah menceritakan mulai dari kronologis bencana hingga gambaran umum warga paling aktual. Warga terkena dampak kerugian moril dan spiritual, beberapa diantara warga ada yang stress berat dan membutuhkan penangan psikolog sesegera mungkin.
Setelah dirasa cukup terjalin komunikasi yang baik serta keterbukaan, kami menanyakan program Dasawisma disana. Program dasawisma telah ada sudah lama, hanya saja dasawisma yang secara konseptual merupakan pembagian kelompok masyarakat setiap sepuluh KK (Kepala Keluarga), di Desa Cikelet untuk setiap kelompok dasawisma terdiri dari 15 KK. Pembagian ini dikarenakan minimnya kader penggerak, yang memiliki rangkap jabatan sebagai penggerak PKK, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan lainnya. Di Desa Cikelet PKK sudah cukup aktif, posyandu, poswindu (lansia), serta pendidikan anak (Bina Keluarga Balita) sudah dirintis. Bantuanpun pernah dikelola dan disalurkan melalui jalur PKK, bantuan tersebut memang dari PKK provinsi sehingga penyalurannyapun dilakukan oleh ibu-ibu penggerak PKK. Selain itu juga, mereka berencana untuk membuat dapur umum, namun dikarenakan alokasinya tidak ada maka tidak jadi dilaksanakan. Di penghujung pertemuan Ibu PKK dan Bu Lurah malah siap dan berharap akan ada program-program lanjutan yang akan diadakan oleh Kerlip khususnya. Mereka siap mengkoordinasikan warga dalam hal ini ibu-ibu untuk dikumpulkan jika memang diperlukan.

Hari ketiga (rabu, 16 september 2009)
Di hari terakhir ini, kami berencana untuk kembali bersilaturahmi dengan semua stakehoder yang ada, sekaligus memberi penekanan, penguatan, serta membentuk komitmen untuk mengaktifkan Dasawisma. Namun, cuaca dari pagi hingga sore diliputi hujan yang cukup lebat dan sarana transportasi tidak memadai. Sehingga kami hanya bisa bersilaturahmi kembali dengan Ibu dan Bapak Lurah Cikelet, itupun hanya berpamitan saja. Kami pulang ke Bandung kurang lebih pukul 14.00 waktu setempat, dalam cuaca hujan dan berkabut. Tiba di Bandung kami langsung pulang ke rumah masing-masing setelah sebelumnya berbuka bersama diperjalanan.
Setelah berkoordinasi, bersilaturahmi dengan beberapa shareholder di tingkat desa dan RT, serta relawan, kami berkesimpulan bahwa Dasawisma telah terbentuk, namun belum efektif dan dalam hal penanggulangan bencana belum digunakan. Masih perlu kiranya pendampingan serta kegiatan semacam coaching terhadap para kader penggerak untuk mengaktifkan Dasawisma sesuai dengan kebutuhan, dalam hal ini kebutuhan penanggulangan bencana alam.
Secara umum pola pendistribusian bantuan, menggunakan struktur pemerintahan setempat, dapat dilihat pada bagan berikut :












Bantuan biasanya bersifat top-down ditunjukkan dengan tanda garis tegas dengan panah ( )
Garis ( ) merupakan garis informasi atau garis permintaan kebutuhan, dan garis putus-putus merupakan arah informasi kebutuhan serta menunjukkan bahwa warga kadang-kadang secara langsung mengambil atau meminta, bertaktik jemput bola dan jika barang tersedia mereka tetap dilayani panitia. Pada kasus ini biasanya dikarenakan terdapat keadaan darurat seperti kebutuhan obat dan tenaga kesehatan bagi warga yang melahirkan atau sakit yang tidak dapat di pindahtempatkan.
Kepala Desa merupakan ketua sekaligus penanggungjawab posko, tanpa acc dari ketua bagian gudang tidak dapat mengeluarkan barang/ bantuan. Sementara sekdes sebagai sekretaris bertugas membuat pengarsipan, pendataan, serta tugas-tugas administratif lainnya. RW dan RT lebih bersifat teknis,bertugas mendata serta menyalurkan bantuan ketingkat grass root. Warga terutama yang menjadi korban langsung, biasanya menunggu di tempat namun ada juga yang datang langsung ke posko jika merasa ada kebutuhan yang mendesak. Di posko, selain panitia dari penduduk sekitar, ada juga dari relawan dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari Bogor.

Selasa, 15 September 2009

Pertemuan dengan BPBD Cianjur





Pertemuan dengan Pak Hendi dan Pak Sriyadie di gedung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur memberikan harapan bagi manajemen penanggulangan bencana dengan terbentuknya BPBD. BPBD Cianjur terbentuk 5 bulan yang lalu berbasarkan Peraturan Bupati dengan nomor mata anggaran dari Kesbangpol sesuai dengan Permendagri. Sejak didirikan sampai terjadinya gempa tanggal 2 September 2009 BPBD mengambil alih fungsi dan kerja Satlak Kabupaten Cianjur. Secara struktur organisasi langsung dipimpin oleh Bupati dengan kelengkapan Satgas sampai ke tingkat desa. Pejabat eselon dan staf di BPBD dan kewenangan yang diberikan kepada BPBD memungkinkan penanggulangan bencana berjalan lebih baik dan kordinasi di Pemkab pun berjalan dengan cepat dan tanggap saat bencana terjadi. Saat ini BPBD Cianjur sudah menuntaskan survey untuk kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan mulai tanggal 15 Oktober 2009. SUngguh terobosan yang luar biasa ditengah kelemahan kordinasi yang terungkap saat Diskusi Terfokus di Pendopo Kabupaten Garut. Diharapkan BNPB bisa mendorong terbentuknya BPBD di Kabupaten lainnya untuk mempermudah kordinasi seperti yang terungkap di BPBD Cianjur

DISKUSI TERFOKUS EVALUASI PB DI KABUPATEN GARUT






NOTULEN DISKUSI TERFOKUS
Hari/Tanggal : Selasa, 15 September 2009
Tempat : Pendopo Kabupaten Garut
Waktu : Pkl. 9.30-12.00
Penyelenggara : Rumah KerLiP, SPP bersama Satlak Kabupaten Garut
Moderator : Ibang (SPP)
Pembawa Acara : Zamzam (Rumah KerLiP)
Agenda : 1. Pembukaan - Zamzam
2. Sambutan - Yanti (Ketua Perkumpulan KerLiP)
3. Diskusi : Evaluasi Bantuan Kemanusiaan Pasca Gempa
Pembicara : Sekda Pemkab Garut dan UNOCHA
4. Tanya Jawab
5. Penutup
Peserta : 42 Camat yang areanya terkena bencana di Kabupaten Garut
Forum Pemuda- Pemudi Pamengpeuk
Bale Rahayat
SEMI Garut
IMM Garut
Rumah KerLiP
Lurah Cikelet
ASDA I, II, III Kabupaten Garut
Kesbangpol Pemkab Garut
Masyarak dari Garut Selatan

Pak Sekda
Kedudukan organisasi Satkorlak PBP yang bersifat adhoc dengan struktur sbb :
Bupati ex officio ketua
Ketua pelaksana : Wabup
Wakil : sekda dibantu asda I, II, III
Secara berjenjang sudah dibentuk di kecamatan
Dg struktur yang disesuaikan dengan struktur yang ada
Organisasi ad hoc dihadapkan pada masalah besar ketika berhadapan dengan bencana yang memerlukan penanganan yang besar dan segera
Kordinasi dalam bentuk komunikasi bisa berjalan, tapi tidak mampu melakukan kerjasama. Hampir setiap kabupaten mengalami kesulitan untuk kordinasi.
Tidak ada persediaan dan transportasi  adhoc  meski sudah ada SOP tidak bisa berjalan  kedudukan satkorlak  peninjauan tentang kedudukan  gubernur BNPB di setiap daerah Pak Camat bekerja atas dasar kerelawanan bukan sebagai satlak  bagaimana organisasi bekerja  bingung untuk melakukan apa dan siapa  bekerja dg kewajiban yang melekat pada institusinya.

Belanja Tak Terduga  permendagri no 13 tahun 2006
Menyiapkan administrasi  keluar uang dari saku sendiri.
Laporan pertama 18.000 pengungsi tercatat di 42 Kecamatan

2. Banyak perhatian  manajemen bantuan menjadi sesuatu yang tidak mudah
Pemberian bantuan seringkali tergantung pemberi bantuan  tidak terjadi pemerataan
Contohnya Depok terlewat karena semua pihak langsung ke daerah2 yang dianggap lebih membutuhkan seperti Cikelet. Jenis bantuan berupa uang senilai 100 juta dari pihak tertentu langsung diserahkan mlkakui satkorlak.

3. Kordinasi belum clear antara pemerintah pusat melalui BNPB, Provinsi, Kabupaten terutama DOLOG yang mengelola bantuan kemanusiaan
Cadangan beras 100 ton di Dolog beli beras
Jika ada kebijakan dari pusat untuk membeli beras dengan harga murah dari persediaan beras yang disediakan di Dolog. Beras didatangkan dari Jawa. Ternyata dari Depsos disebutkan bahwa tidak perlu membeli beras, stock cukup.

4. Akurasi informasi harus bisa dipertanggungjawabkan
5. Menentukan bantuan stimulan kepada masyarakat
6. Penentuan besarnya kerugian berubah-ubah, tidak sekedar menghitung. Harus bertanggung jawab ke seluruh : Damage and Dosis  tidak diberikan kepada camat sejak awal. Muncul isu  dirusak dulu deh biar disebut rusak berat

Catatan tambahan
1. Tanggap darurat bisa menjadi PP 21  lewat tanggap darurat  perpres 8
2. Rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan pada bulan Oktober
3. siapa yang bertanggung jawab untuk rehabilitasi dan rekonstruksi
4. isu mudik
5. kewajiban untuk membantu tetap besar, perhatian yang membantu teralihkan, peraturan pengadaaan sudah diberlakukan normal.

Titi Moektijasih dari UNOCHA

Program UNOCHA
Kordinasi bantuan kemanusiaan

Mengapa?
Fasilitas dari PBB  kantor kordinasi lembaga bantuan internasional baik pemerintah maupun non pemerintah. Ada di Jabar untuk membantu

Apa?
Bersama BNPB  paradigma PB  hanya berfungsi ketika bencana terjadi hanya tanggap darurat. Saat tsunami di Aceh tidak ada panduan penyelamatan  masyarakat sangat tidak siap
Di Bangkok  anak bisa membantu menyelamatkan yang lainnya karena pernah mendapatkan pendidikan kebencanaan.

Pengurangan resiko bencana belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

5 Acuan kesiagaan bencana
1. Pengetahuan dan Sikap terhadap bencana
2. kebijakan  organisasi, peraturan, standar bantuan darurat dari lembaga internasional kepada pusat dan daerah  gugus tugas sudah dibentuk
3. Rencana untuk
4. Ada sedikit kordinasi tapi belum lancar
5. pengurangan resiko bencana menjadi pekerjaan

Kordinasi
1. SDM : kompeten
2. Piranti : Daftar nomor telepon/hp/e-mail, data, peta, manajemen informasi, peralatan, notulen rapat

GP3KB
LSM jangan dijadikan proyek
Jangan hanya mendongeng
Sejauhmana kerja UNOCHA di lapangan

Usep
Hari ini disana tidak hanya kondisi sangat perlu bantuan, yang terjadi disana, jika hanya meminta dan mengandalkan jaringan saja.
Kepedulian terhadap sesama. Yang mereka pedulikan hanya kebutuhan sendiri. Tenda keluarga diperlukan
Yang diperlukan : tenda

KSN
Bantuan harus langsung didistribusikan
Diperlukan bantuan obat-obatan

Wakil ibu2 Pamalayan Cikelet
1. Kondisi di Pamalayan
2. Bantuan

Sekda
1. Belum mampu memberikan bantuan kemanusiaan
2. Sekda sudah > 4 kali ke lokasi
3. bantuan sudah disampaikan
4. Bicara dan bertindak perlu dilakukan
5. Kordinasi perlu dilakukan sebelum tindakan dilakukan
6. Inventarisasi masalah harus ada, ini yang akan kita tindaklanjuti
7. Evaluasi terhadap seluruh piranti yang bekerja
8. Berat dari pusat, sedang provinsi, ringan dari kabupaten
9. Pendataan sudah selesai ditandatangani
10. Sistem informasi
11. Tanggal darurat di Garut sd 23 September
12. Apakah tidak mungkin menggunakan sekolah/bangunan yang tidak rusak, jika persoalan tenda tidak kunjung selesai, jumlah tenda terbatas, tenda keluarga sudah dibagi habis, jika tidak cukup itu pasti

UNOCHA
5 orang staf  jalin kerjasama dengan BNPB lakukan penguatan kordinasi

LSM
OPS  satlak bencana, data kurang teliti

Lurah Cikelet
Persaingan yang terjadi antar desa untuk mendapatkan bantuan
Verifikasi data  prosentase kerusakan menjadi pertimbangan untuk prosentase bantuan
Bantuan terpal sangat diperlukan, jadi permasalahan, mulai turun ke rumah masing-masing. 1:2 satu untuk tidur satu untuk menutupi perlengkapan

KNPI
Evaluasi bantuan  sangat mengharapkan bantuan untuk perbaikan gedung KNPI

Secepatnya kontak dg satlak PBP
Pemahaman/pandangan ttg sistribusi bantuan 
Bahan rapat  masih menunggu
Program padat karya  bukan sekedar diberi
BTT = 2,3 M sangat tidak mungkin
Proses penentuan tahapan
Perbaikan rumah, hunian sementara, dst sudah dibahas dengan deputi rehabiitasi dan rekonstruksi. Bagaimana hal ini dilakukan karena belum difiksasi.
Pendanaan yang akan diberikan belum jelas, tidak bisa berbuat banyak
KNPI mudah-mudahan menjadi masukan

Relawan pendamping psikososial anak-anak korban gempa di Garut



Minggu, 13 September 2009

DISKUSI TERFOKUS EVALUASI PB DI KABUPATEN GARUT

Hari/Tanggal : Selasa, 15 September 2009
Pukul : 8.30 - 11.30
Tempat : Pendopo Kabupaten Garut
Agenda
08.30 - 08.45 Sambutan Bupati Garut
08.45 - 09.15 Sosialisasi Penanggulangan Bencana Dari Satlak Kab. Garut
09.15 - 09.45 Sosialisasi Penanggulangan Bencana Dari Satkorlak Jabar
09.45 - 10.15 Paparan Tentang Pendidikan Bencana
10.15 - 11.30 Diskusi Terfokus Evaluasi Penanggulangan Bencana Tahap Tanggap
Darurat

Peserta : 100 orang terdiri dari
satlak kabupaten Garut, 42 Camat dari 42 Satlak kecamatan yang penduduknya terkena bencana dan perwakilan lembaga bantuan, perempuan dan anak yang berada di titik-titik pengungsisn di 12 kecamatan

HASIL YANG DIHARAPKAN
1. Terbentuk Forum Relawan Siaga Bencana di Kabupaten Garut
2. Terbentuknya Forum Relawan Siaga Bencana di Kecamatan Cikelet dan Cibalong
3. Meningkatnya efektivitas pendistribusian bantuan kemanusiaan untuk keberlanjutan
hidup yang bermartabat bagi penduduk yang terkena bencana dan masyarakat lainnya
4. Menguatnya kapasitas lokal dalam membangun solidaritas untuk respons bencana
pada tahap tanggap darurat

Sabtu, 12 September 2009

Perkembangan Selama penguatan Kapasitas Lokal di Garut

1. Panduan kerja relawan tahap 1 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya
a. Pembekalan relawan terlalu singkat
b. Penduduk yang terkena bencana berkumpul saat pembagian bantuan setiap sore di posko Cikelet
c. Piranti Kajian Awal yang diambil dari arsip Konsorsium Pendidikan Bencana terlalu rumit, perlu dipilah dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, tapi cukup membantu untuk panduan interview dan survey
d. Penduduk yang terkena bencana meminta relawan langsung membagikan bantuan tidak perlu dan memandang kegiatan kajian bantuan kemanusiaan ini tidak diperlukan
e. Ada indikasi menutupi keadaan yang sebenarnya ketika penduduk dan aparat difasilitasi untuk melakukan Diskusi Terfokus
2. Saran penyesuaian yang perlu dilakukan di lapangan:
a. pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan dipandang cukup untuk sementara dengan adanya data dari Satlak dan interview langsung di kerumunan penduduk yang terkena bencana yang tinggadi tenda depan rumahnya masing-masing
b. Pendamping psikososial dan penyuluh kesehatan langsung dikirim
c. Fasilitasi pembentukan dasawisma untuk mempermudah bantuan pendampingan psikososial dan penyuluhan kesehatan
d. Kelompok dasawisma yang terbentuk ini difasilitasi untuk mengadakan pertemuan rutin terkait dengan bantuan kemanusiaan yang diperlukan, diterima dan dilaporkan
e. Pelatihan penanganan psikososial akan dilaksanakan pada tanggal 13 September pukul 16.00 sd selesai
f. Penyusunan panduan kerja relawan yang akan tinggal sd tanggap darurat selesai (14-16 September) oleh Kordinator Relawan
g. Laporan lengkap kerja relawan tahap I akan disusun oleh Farhan
3. Persiapan Diskusi Terfokus bekerjasama dengan SPP dan Satkorlak Kab Garut
a. Nisa, Kordinator SPP menunjuk Ibang, Usep dan Ayi untuk kontak person dari SPP dengan KerLiP
b. Ibang siap mengirim draft TOR Diskusi Terfokus tanggal 13 September 2009
c. Ibu Dewina dan pak Untung dari BNPB dilobi untuk sosialisasikan kebijakan nasional penanggulangan bencana padfa Diskusi Terfokus tersebut
d. Mbak Titi dari CDE siap untuk menyampaikan pentingnya Pendidikan Bencana
e. Usep siap mengerahkan satlak dan lurah di Cikelet, Cibalong, dan Pamengpeuk
4. Penggalangan dana operasional relawan dan sewa motor/mobil untuk distribusi bantuan melalui sms, telpon dan email :
a. Pak Istanto, Ibu Antarina dan Prof. Dr. Hamid Hasan siap transfer
b. Bapak Satridarma dari CBE sudah transfer Rp 1.000.000
c. Mbak Titi akan transfer fidyah atas nama almarhumah Ibunda tersayang, Soetarsih binti Martasoedirdja Rp 1.000.000 dan mengusahakan mobil untuk pergi ke Cikelet
d. Ibu Pudentia dari BMPS Katolik Jakarta siap untuk membantu menggalang dana
e. Ibu Evi S, Syaefini dan Bapak Lukmantias sudah transfer
f. Kupon makanan peduli gempa akan segera dicetak
5. Data dari Satkorlak Jabar, Satlak Kab Garut, Satlak Kecamatan Cikelet, Cibalong dan Pamengpeuk serta dari desa akan diolah untuk updating sasaran program pendampingan Psikososial selama penguatan Kapasitas Lokal dalam respons Bencana

Bandung, 13 September 2009 pk. 11.30

Notulen Kordinasi dengan Satlak Kab Garut



Pertemuan Koordinasi 11 September 2009
Pukul : 9.00-18.00
Ruang Kepala Dinas Kabupaten Garut
Hadir :
1. Esti (UNOCHA)
2. Nisa (SPP)
3. Yanti (KerLiP)
4. Ibang (SPP)
5. Kades Jatisari Cisompet : Pak Asep

SATKORLAK
1. Bapak Mlenik. ASDA III Kabupaten Garut
2. Pak Diki Chandra/Wabup Kabupaten Garut
3. Ibu Elka (Kadinsos Kab Garut)
4. Ibu Ita (Wakadinsos Kab Garut)

Pak ASDA III menyambut baik gagasan KerLiP untuk melakukan Diskusi Terfokus mengenai Tanggap Darurat Bencana yang mempertemukan satkorlak kecamatan, perwakilan penduduk yang terkena bencana dan lembaga bantuan kemanusiaan yang bekerja di Garut.
1. Disepakati FGD akan dilaksanakan pada
• Hari/Tanggal : Selasa, 15 September 2009
• Tempat : Pendopo Kabupaten Garut
• Pukul : 08.30-12.00
• Agenda : Evaluasi Bantuan Kemanusiaan pada tahap tanggap darurat
• Sasaran : 42 Camat terkena bencana
2. Pengajuan bantuan pangan terutama beras akan segera disampaikan ke pihak terkait setelah data terakhir disahkan Bupati dan MUSPIDA Kabupaten Garut
3. Tanggap darurat di kabupaten garut berakhir pada tanggal 16 September, namun tetap berjalan sampai penduduk bisa memenuhi kebutuhan dasar.
4. Koordinasi teknis bantuan kemanusiaan langsung dengan Ibu Elka
5. Koordinasi Logistik dengan Koordinator Logistik Satkorlak Kabupaten Garut, Bapak Mlenik ASDA 3.
6. Jangan sampai Diskusi Terfokus nanti jadi forum curhat, fasilitator harus piawai mengelola kegiatan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan
7. Siap mengundang 42 Camat yang daerahnya terkena bencana
8. Sangat kebetulan pada tanggl 15 September ke -42 camat tersebut diundang kordinasi menjelang tahap tanggap darurat di Garut berakhir.

Yanti
1. KerLiP mengordinasikan bantuan relawan dokter, psikolog dan kesos untuk membantu penduduk dan aparat memetakan kebutuhan dan pendampingan psikososial
2. Inisiasi pembentukan forum relawan terinspirasi oleh konsolidasi relawan, masyarakat dan aparat di Kelurahan Cikelet
3. KerLiP akan menyiapkan agenda Diskusi Terfokus untuk merintis pembentukan relawan tersebut
4. KerLiP akan mengundang lembaga bantuan kemanusiaan terutama di >20 titik pengungsian di 12 kecamatan daerah Garut Selatan yang juga membawa serta perwakilan penduduk yang mengungsi tersebut.
5. Relawan SPP dan Forum Pemuda pemudi Pamengpeuk di Cisompet, Cikelet dan Cibalong siap untuk berpartispasi dalam kegiatan tersebut.
6. Relawan KerLiP dan relawan FPPP sedang menyelesaikan lembar pengesahan proposal pembentukan Forum Relawan dan Pendampiangan Psikososial yang disusun KerLiP bersama mitra untuk penduduk yang terkena bencana di Cikelet dan Cibalong

Ibu Elka
1. Stok beras 41 ton diperkirakan mencukupi sd Minggu, akan sangat membantu jika stok beras yang disampaikan mencukupi oleh BNPB dapat diterima pada hari Sabtu
2. Masih diperlukan bantuan sarden/kornet, mie instan, kecap, saos, family kit, tenda keluarga, hygiene kit
3. Pendataan mutakhir masih dikordinasikan dengan SATKORLAK Kabupaten Garut

Nisa
1. SPP Mengkoordinir Posko Pengungsian di Desa Sagara
2. SPP Mengkoordinir bantuan yang berasal dari NGO Internasional sekaligus mendistribusikan melalui Kepala Desa, RT, dan RW, diketahui oleh Satlak.
3. SPP telah berkoordinasi dengan ASDA 3 Bpk Mlenik di Ruang ASDA 3, pada 11 Sept. 2008, membahas Fokus Area SPP, bantuan yang telah dan akan didistribusikan. Pembahasan mengerucut pada penandatanganan (diketahui oleh Koordinator Logistik Satkorlak Kabupaten Garut).
4. Focus Area SPP di Cibalong, Cikelet, Cisompet
5. Bantuan dari Plan International siap disalurkan di titik pengungsian di 3 kecamatan tersebut : terpal, tikar, selimut dewasa, selimut anak, tambang, 146 dus untuk 146 KK family kit dari Save the Children.untuk Kecamatan Cikelet (namun bila membutuhkan, desa lain bisa mengakses)
6. Kordinasi pendistribusian bantuan dan ketersediaan bantuan dari masyarakat, lembaga bantuan, dan pemerintah agar tidak tumpang tindih
7. Titik pengungsian di Desa Sagara dihuni oleh KK dari Leuwi Pari dst.
8. SPP tidak membantu dalam hal penyediaan makanan.
9. Pengungsi dari Leuwi Pari sebanyak 77 KK dengan 360 jiwa membutuhkan sarden/kornet, mie instan, kecap, saos, family kit, tenda keluarga, hygiene kit, telur, transportasi relawan dalam menyebarkan bantuan.


Esti (UNOCHA)

Rekap data kecamatan tertinggi dalam jumlah pengungsi :
632 KK/ 2528 jiwa 6206 jiwa di Sagara Cibalong di Selatan jiwa dan 1836 Banyuresmi di Utara
Kordinasi dengan fokal point
Wilayah Utara : 7 lokal
Wilayah Selatan : 7 lokal
Yang kecil-kecil sudah tertangani
Minggu depan sampai pemulihan dini 1-3 bulan
Rusak ringan kembali ke rumah  alat tukang akan diprioritaskan

Dinas Kesehatan
Rusak berat sudah ada beberapa yang tertangani Pertacip, MCK, sanitasi
Cukup tidak? Perlu penambahan MCK
Kamar kecil : 1 WC: 25 keadaan biasa 1 WC : 55 darurat
WC di pengungsian Cibalong hanya satu untuk 632 KK
Sanitasi sudah diantisipasi oleh Pemkab Garut tapi jika jumlahnya belum memadai sesuai dengan standar minimum, maka lembaga donor siap untuk mengerahkan bantuan sesuai dengan yang diperlukan
Pemerintah pasti bisa menangani, jika ada kekurangan donor menunggu untuk bergerak mengisi kekurangan. Dana 750 juta dari APBDP sudah diterima seminggu yang lalu namun perlu waktu dan prosedur untuk bisa menggunakan
A. Jumlah Pengungsi :
39156 jiwa sd tanggal 9 September menjadi 64182 jiwa sd tanggal 11 September 16021 KK asumsi 16175 KK
B. Titik Pengungsian
1. Kecamatan Cikelet
1. Masjid Cikelet
2. Pamalayan
3. Kiarakohok
4. Cijambe
5. Linggamanik
6. Karangsari
2. Kecamatan Pamengpeuk
1. Mandalakasih
2. Punaga
3. Kecamatan Cibalong : Sagara 632 = 2528 jiwa (Cimerak hilir 87 KK/324 jiwa, Cimerak Girang 62KK/212 jiwa, Yayasan 53KK/183 jiwa, Leuwi Pari 77KK/364 jiwa, Bendungan 189)
4. Peundeuy
1. Pangrumasan
2. Toblong
5. Kecamatan Bayongbong : Pamalayan
6. Kecamatan Karangpawitan : Lebakagung
7. Kecamatan Cisompet :
1. Neglasari
2. Panyindangan
3. Cihaurkuning
4. Sukamukti
5. Sukanegara
6. Cikondang
7. Jatisari 77KK RB
8. Depok
8. Kecamatan Pamulihan Desa Pakenjeng
9. Kecamatan Pakenjeng Desa Karangsari
10. Karang Tengah
Talegong
Caringin

Wabup
Kendala :
1. Kendala anggaran : Pemkab Garut tidak memiliki anggran untuk respons bencana, ada alokasi biaya tak terduga namun harus melalui berbagai prosedur
2. aparat pemkab tidak pernah melakukan simulasi respons bencana dan tidak memiliki kapasitas dalam penanganan bencana sehingga kerja pada tahap tanggap darurat masih belum berjalan optimal.
3. Pendataan terhambat oleh kantor desa yang rusak, ketidakpahaman dari mulai aparat desa sampai ke atas, masih belajar mohon dimaklumi. Contohnya saja Cibiuk Kadungora baru melaporkan kerusakan kemarin dan 6 kecamatan belum melaporkan data terkini sehingga satkorlak Garut belum memiliki data yang valid, masih berubah-ubah sesuai dengan perkembangan di lapangan.
4. Tercatat ada 18175 rumah rusak berat di kabupaten Garut dalam data resmi yang dikeluarkan Satkorlak Jabar pada tanggal 11 September 2009 sedangkan dalam data bantuan yang akan diajukan oleh Dinsos tercatat 18026 dan ini menjadi basis data permohonan bantuan beras. Pada saat notulen ini dibuat Bupati dan MUSPIDA Kabupaten Garut sedang melakukan kordinasi di ruang Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut.
5. Mindset pejabat masih menunjukkan bahwa semua pihak baru belajar untuk menangani dampak bencana
6. WALHI sebagai focal point dari masyarakat yang disepakati dengan BNPB sudah kordinasi dengan Wabup sejak gempa mengguncang Garut. Selain makanan dan perlindungan masyarakat mengalami depresi akibat tidak dapat melakukan hubungan seksual pasca gempa.
7. Perlu segera dipikirkan kondisi penduduk pasca tanggap darurat dan lebaran
8. Perlu hiburan, games, ceramah untuk relawan seperti yang pernah dilakukan oleh Ibu Wabup bersama PKK di tempat pengungsian.

Esti (UNOCHA)

Sampai pemulihan dini (1-3 bulan pasca gempa) konsentrasi pada bantuan kemanusiaan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar agar penduduk yang terkena bencana terpenuhi haknya atas kehidupan yang bermartabat. Setelah pemulihan dini, World Bank dan UNDP akan melakukan penilaian kerusakan rumah dan potensi usaha kecil keluarga di wilayah yang terkena bencana

Jika diperlukan lembaga donor tertentu mungkin siap membantu menyewakan truk dst, namun perlu kepastian siapa yang bertanggungjawab serta kepastian kapan stock yang siap dikirim

Wabup
Transportasi jadi masalah dalam pendistribusian terutama dari Kecamatan ke rumah-rumah yang tersebar jauh dari satkorlak. Pengiriman diusahakan selalu dilakukan setiap hari untuk 42 kecamatan terdiri dari >400 desa . Bahkan banyak daerah yang tidak masuk mobil. Uang tunai merepotkan untuk dibagikan jadi sangat tidak disarankan.
Pengawasan dijadi penting untuk penyediaan transportasi
Solusi :
1. Beri stimulan anggaran terutama untuk transportasi dari kecamatan ke kampung-kampung
2. pendistribusian dan pengawasan transportasi melibatkan stakeholder di kecamatan
3. GMBI, Mahasiswa, PASKI dan beberapa LSM lainnya sudah bertemu dengan Wagub dan wartawan di Kesbang terkait dengan pemebritaan di media mengenai pengungsi di Leuwi Pari

Catatan tambahan :

1. Agung (pegawai pendataan dan gudang di Disnakersostrans) mengolah data bantuan, kerusakan rumah, bangunan lainnya. KerLiP siap merekrut relawan IT untuk membantu pendataan penduduk yang terkena bencana, kerusakan, dan bantuan kemanusiaan di Pemkab Garut.
2. Ibu Ita dan Ibu Elka terus melakukan verifikasi data pengungsi melalui telpon langsung ke 12 kecamatan dengan 20 titik pengungsi di Garut Selatan untuk Ra[pat Kordinasi MUSPIDA Kabupaten Garut
3. SUrat
4. MUSPIDA Kabupaten Garut melakukan kordinasi internal terkait dengan estimasi anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Sambil menunggu relawan dari Cikelet datang, Ibu Ita dan saya berkordinasi untuk menyelesaikan surat permohonan bantuan logistik yang akan ditujukan ke BNPB dan Gubernur Jawa Barat. Surat tersebut akan difax dan disampaikan KerLiP ke BNPB.
5. Angga-Semi dan Rizal- IMM
i. Penduduk yang terkena bencana di area Garut kota hampir terlupakan, mereka masih memerlukan bantuan kemanusiaan
ii. Seluruh bantuan dari masyarakat, perusahaan dan BUMN langsung menuju Cikelet dan Pamengpeuk
iii. Pendampingan Psikososial diperlukan untuk anak dan perempuan
6. Ibu Wabup menyambut baik harapan yang disampaikan KerLiP mengenai aktivasi dasawisma untuk meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan melalui para penggerak PKK seperti yang telah disampaikan Ibu Dewina dari BNPB pada rapat kprdinasi yang difasilitasi OCHA PBB di STKS pada hari Kamis, 10 September 209 pukul 15.00-17.00
7. Wabup tertarik dengan informasi yang disampaikan KerLiP terkait dengan penandaan rumah berdasarkan tingkat kerusakannya dengan meniru lampu lalu lintas seperti yang disampaikan peserta kordinasi di STKS Bandung relajar dari bencana di Padang. Merah untuk rumah hancur dan rusak berat, kuning untuk rumah rusak sedang yang masih layak huni dan hijau untuk rumah rusak ringan
8. Ova, kordinator Rumah KerLiP yang juga menjadi kordinator program respons bencana KerLiP di Garut menjelaskan hasil pengamatan langsung di Cikelet dan Cibalong lepada Wabup
9. Wabup menegaskan tentang perlunya bantuan transportasi pengiriman bantuan dari Satlak Kecakamatan ke rumah0rumah penduduk. Konsep dasawisma akan sangat membantu mengingat pada tahap pemulihan dini diharapkan seluruh penduduk yang terkena bencana segera kembali ke rumah masing-masing atau ke tenda di depan rumah masing-masing sesuai dengan informasi yang diperoleh dari BNPB.
10. Surat permohonan bantuan kemanusiaan untuk BNPB yang diajukan pemkab Bandung akan disampaikan langsung ke SATLAK Jabar dan BNPB (Ibu Dewina) oleh relawan KerLiP
11. Bapak Herman, Kesbang Kabupaten Garut menyambut baik rencana untuk mengundang seluruh LSM dan Ormas yang menyalurkan dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan untuk penduduk korban bencana di Kabupaten Garut. Beliau siap untuk turut mengundang mereka.
12. Semi dan IMM Garut siap untuk mengerahkan relawan untuk pendampingan psicosocial dan berharap KerLiP dapat memfasilitasi pelatihan dan sarana yang diperlukan untuk pendampingan psicosocial tersebut.

Garut, 11 September 2009 pk. 19.30

Notulis : Yanti KerLiP dan Nisa SPP