Minggu, 27 September 2009

Laporan Kegiatan Bantuan Kemanusiaan Korban Gempa per 12-16 September 2009

1. Rapat Koordinasi Manajemen (Dihadiri oleh Ayu, Dyah, Ova, dan Yanti)
Menyepakati :
 Misi pengiriman relawan
 Relawan yang dibutuhkan
 Pembuatan panduan relawan gelombang kedua
 Dyah menyusun susunan kegiatan relawan 14-16 september.


2. Pembekalan Relawan
Terdiri dari 2 sesi. Sesi I adalah Praktik Trauma Healing difasilitasi oleh oleh Pak Asep. Relawan yang menghadiri Angga, Vivin, Imu, dan Helmi. Sebelum dimulai praktik Trauma Healing terlebih dahulu dilakukan evaluasi pendampingan sebelumnya oleh Farhan dan ditanggapi oleh teman-teman yang hadir.
Dilanjutkan keesokan harinya sebelum pemberangkatan. Pembekalan sesi 2 lebih kepada pembekalan berdasarkan alur kegiatan selama pendampingan lapangan. Membahas teknis koordinasi pembentukan dasawisma dan teknis pendampingan psikososial. Dipandu oleh Zamzam, Ova , dan Yanti KerLiP.

3. Koordinasi dan Persiapan Kegiatan FGD dan Pembentukan Forum Relawan
Koordinasi dilakukan dengan Pemkab Garut dalam hal ini dengan Pak Mlenik (Asda 3) dan Pak Herman (Kepala Kesbangpol). Sebelumnya Ova sempat mampir di Dinas Sosial Garut untuk menyapa Ibu Elka Kadinsos sekaligus menyampaikan informasi kepastian bantuan dari Pemprov Jabar yang dikirim hari ini (14/9).
Koordinasi dengan Pak Mlenik membahas susunan acara. Ova sampaikan surat dan lampiran berisi susunan acara kepada Pak Mlenik. Ova juga menyampaikan TOR FGD dan pembentukan relawan. Kami membahas pengganti Bupati Garut untuk menyampaikan sambutan. Kata Pak Mlenik yang akan menggantikan adalah Pak Wabup sekaligus menyosialisasikan penanggulangan bencana pada tahap tanggap darurat. Pak Mlenik akan kembali rapat dengan pimpinan pemkab Garut, karena ketika saya datang sedang berlangsung rapat Pimpinan Pemkab Garut (Bupati, Wabup, Sekda, Kepala Kesbang, Asda).
Setelah berkoordinasi dengan Pak Mlenik (dan setelah Dzuhur), Ova menemui Pak Herman Kepala Kesbang untuk membahas dan memastikan para undangan hadir. Ada beberapa tambahan undangan yang belum masuk daftar Kesbang. Kebanyakan adalah NGO lokal dan Internasinal yang belum 'minta izin' dengan Pemkab Garut. Daftar NGO tersebut Ibu Yanti dapatkan dari PBB (UNOCHA). Ketika Ova sampaikan ke Pak Herman, Kesbang pun tidak punya data tentang NGO dalam daftar yang kami bawa. Lalu Pak Herman menyiapkan surat undangan untuk NGO tersebut dan meminta KerLiP menyampaikannya sedangkan waktu tinggal kurang dari sehari. Lalu Ova meminta Pak Herman untuk menghubunginya lewat telpon. Ova menghubungi Ibu Yanti, Usep, dan Ai untuk menanyakan nomor kontak NGO yang ada dalam daftar. Ai memiliki nomor kontak Yayasan Sheep Indonesia, sedangkan Usep Save The Children. Sebagian besar no kontak didapatkan dari Ibu Yanti.
Untuk mengumpulkan kontak NGO dibutuhkan waktu cukup lama. Saya minta Pak Herman menghubungi melalui Kesbang. Pak Herman meminta saya mengirimkan kontak lewat sms saja,, nanti Kesbang yang akan menghubungi. Ova diminta keluar, karena sudah cukup lama saya berada di dalam ruangan Pak Herman.
Merasa sudah beres Ova kembali ke Dinsos untuk berbincang dengan Bu Elka (sekalian internetan di mobil komunikasi).
4. FGD dan Pembentukan Forum Relawan di Pendopo Garut, 15 September 2009

5. Kegiatan Pendampingan Psikososial di Desa Pamalayan, Cikelet 14-16 September 2009
Koordinasi pengaktifan dasawisma dan Pendampingan Psikososial Anak dan Keluarga
LAPORAN PERJALANAN
Kegiatan relawan
Di Kecamatan Cikelet
Desa Cikelet dan Desa Pamalayan
14-16 September 2009
Oleh Tim Kegiatan Penguatan Kapasitas Lokal (Angga TAP)

Persiapan dan penempatan lokasi
Keberangkatan relawan direncakan pada hari Senin, 14 september 2009, pukul 09.00 WIB menuju kecamatan Cikelet Kabupaten Garut. Pagi hari sebelum jam keberangkatan, pukul 06.30-09.00, digunakan untuk pengarahan para relawan, packing barang-barang kebutuhan dan logistik pendukung lainnya seperti alat peraga, buku, alat tulis, dsb.
Berangkat ke lokasi kurang lebih pukul 10.00 WIB, mampir di Cikajang untuk sholat dzuhur dan membeli bahan makanan. Perjalanan dilanjutkan pukul 14.00, cuaca tidak begitu panas, tidak pula hujan, jalanan naik turun tajam berkelok memaksa salah seorang relawan untuk berpindah posisi akibat pusing, kami berhenti sejenak di dekat perkebunan teh.
Kami datang ke lokasi, Desa Cikelet pukul lima sore menjelang buka, disambut oleh relawan setempat-Kang Usep. Di sana sudah ada relawan dari NGO lain-Yayasan Cendikia Anak Indonesia (YCAI), mereka melakukan kegiatan psikososial terhadap anak-anak yang berdomisili di Desa Cikelet dan Desa Cibalong. Kami ditempatkan di posko bersama, rumah bapak Nurjamil di kampung Cieurih Desa Cikelet bersama dengan YCAI dan SPP (Serikat Petani Pasundan).

Kegiatan hari ke-1 (Senin, 14 September 2009)
Sesuai dengan jobdesk yang dibuat oleh Kerlip, kegiatan pertama kami adalah melakukan silaturahmi, koordinasi, dan sosialisasi rencana kegiatan dengan stakeholder setempat: Satlak, Lurah, RT/RW, serta relawan setempat. Sesampainya kami disana, kami langsung melakukan koordinasi, sharing, serta sosialisasi program dengan ibu PKK desa Cikelet yang diwakili oleh Ibu Pipih. Pertemuan tersebut membahas mengenai peran ibu-ibu PKK dalam penanggulangan bencana di lingkungan mereka. Selain itu juga kami meminta informasi mengenai program Dasawisma di Desa Cikelet.
Pada malam harinya, di Posko, kami melakukan koordinasi awal serta merumuskan rencana teknis kegiatan untuk esok hari. Setelah dirasa cukup, kami bergerak ke posko bencana Desa Pamalayan untuk berkoordinasi dengan satlak, RT/RW, serta lurah Desa Pamalayan. Kami didampingi oleh Kang Usep, sekaligus Kang Usep melakukan koordinasi mengenai kegiatan pertemuan dengan stakeholders tingkat kabupaten pada hari Selasa, 15 september 2009 di Pendopo Kabupaten Garut. Pada pertemuan malam tersebut banyak tergali masalah-masalah yang terjadi di lapangan, sekaligus harapan-harapan kepada kami khususnya dan harapan kepada pemerintah. Masyarakat untuk saat ini, sangat membutuhkan tempat berteduh dibandingkan dengan bahan makanan atau sembako. Mengingat sebentar lagi akan datang angin barat dan musim hujan. Selain itu juga, ada saja masyarakat yang masih belum puas, merasa tidak adil dengan pembagian atau pendistribusian sembako, sampai-sampai para panitia posko bencana yang notabene adalah penduduk sekitar ada yang terkena caci maki bahkan ada salah seorang anggota masyarakat yang dipukuli. Untuk masalah kesehatan diri dan keluarga, sanitasi dan pendidikan, serta mata pencaharian, tidak terlalu menjadi sorotan. Mereka meminta segera didatangkan tenda-tenda, seperti terpal. Selain itu juga, kondisi psikologis masyarakat cenderung sangat labil, sampai-sampai karena masalah miskomunikasi, ASTRA yang awalnya akan mengirimkan bantuan di lapangan malah tidak jadi akibat ada warga yang protes. Lebih parah lagi, ada warga masyarakat yang diindikasikan stress berat, di desa Pamalayan sendiri kurang lebih ada lima orang, sehingga meminta adanya bantuan psikologis, motivasi, dsb. Pangkal dari masalah psikologis ini, menurut salah seorang panitia, adalah tidak terpenuhinya kebutuhan pokok mereka, terutama masalah tempat tinggal. Setelah mendengar keluhan, gambaran umum keadaan masyarakat, kami menyampaikan maksud kami, terutama untuk melakukan psikososial atau trauma healing kepada masyarakat terutama anak-anak. Secara spontan ada salah seorang warga yang hadir pada waktu itu, bapak Ade, menyampaikan keinginannya agar kami dapat mengisi di pesantren kilat pada saat perlombaan dan penutupan yakni tanggal 26 dan 27 Ramadhan (16 dan 17 September 2009), selain mengisi meminta pula agar kami dapat mengusahakan pengadaan hadiah perlombaan bagi anak-anak sanlat. Pertemuan berkakhir kira-kira pukul sepuluh malam, kami bergegas menuju posko dan melakukan koordinasi kembali untuk mem-follow up respon dari masyarakat.

Hari ke-2 (selasa, 15 September 2009)
Pada hari ke-2 ini kami hanya berkoordinasi dengan ibu PKK dan atau Ibu Lurah, dikarenakan Bapak lurah dan Camat seyogyanya menghadiri pertemuan di pendopo Kabupaten Garut. Sekitar pukul sebelas siang kami bersilaturahmi dengan salah seorang tokoh ibu PKK Desa Pamalayan yang juga istri dari ketua RW 06 desa Pamalayan. Pada awalnya kami akan bersilaturahmi dengan Ibu Lurah Desa Pamalayan, namun menurut bapak ketua Satlak Desa Pamalayan, sebaiknya kami tidak menemui bu lurah, karena beliau sedang repot dan mempunyai anak kecil, bapak ketua satlak menyarankan kami untuk menemui bapak ketua RW 06 , Bapak Syarifudin.
Sesampainya di rumah bapak RW, kami malah diterima oleh istri pak RW yang sekaligu sebagai pengurus PKK. Pak RW kebetulan sedang mengantar warga yang diberi kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di daerah Depok Jawa Barat. Menurut penuturan Ibu RW tersebut, ada salah seorang donatur yang ingin memberikan bantuan kepada warga, namun dalam bentuk lain yakni memberikan pekerjaan kepada warga desa perempuan lulusan SMA untuk dipekerjakan di perusahaan elektronik di daerah Depok Jawa Barat. Pada awalnya, orang tua mereka enggan untuk mengizinkan atau menerima tawaran tersebut, karena khawatir kalau-kalau anak mereka malah dijual. Namun, para orang tua dapat diyakinkan, perwakilan dari penyumbang memberi jaminan, sekaligus menawarkan kepada aparat setempat untuk meninjau lokasi calon tempat bekerja bagi anak-anak desa yang akan dikirim ke perusahaan tersebut.
Kami meninjau pula keadaan sanitasi,WC yang dipakai warga, serta sarana ibadah warga. Sanitasi lingkungan kurang memadai, WC mengandalkan sumur dengan jarak pembuangan yang kurang sesuai dengan standar, sarana ibadah (masjid) belum ada karena masjid yang ada hancur luluh. Untuk sementara warga membangun “sasaungan” semacam Gazebo yang agak besar kurang lebih berukuran (10 x 5) meter persegi. Anak-anak tidak bersekolah karena sudah diliburkan, mereka hanya mengikuti kegiatan keagaman-pesantren kilat yang diselenggarakan pada pukul 13.00 sampai Ashar. Pada pagi harinya anak-anak bermain bebas.
Untuk pendistribusian bantuan, bapak RW mengambil jatah warganya dari posko kelurahan/desa, kemudian dibagikan kepada RT sesuai jumlah warga yang terdata sebagai penerima bantuan, pembagian disama ratakan, meski masing-masing hanya dapat satu sendok tetap didistribusikan. Masalah yang terjadi adalah ketidakpuasan terhadap pembagian tersebut, ada yang menganggap pembagian tidak adil karena yang dianggap mampu pun diberi bantuan, belum lagi tudingan nepotisme yang dilakukan RW. Sepintas lalu, Ibu RW kadang mengeluh, sudah berbuat yang terbaik untuk warganya malah mendapat cacian dan makian, padahal dirinya sendiri harus menumpang di rumah saudaranya dikarenakan rumah beliaupun hancur terhempas gempa.
Sosialisasi konsep dasawisma hanya kami sampaikan sedikit, sepintas saja, kami lebih kepada membangun komunikasi, kami juga mencoba menanyakan program ibu-ibu penggerak PKK serta peran ibu-ibu dalam penanggulangan bencana. Program-program PKK yang sudah berjalan diantaranya adalah posyandu. Kegiatan ibu-ibu dalam penanggulanangan bencana lebih terfokus kepada membantu keluarga, menyiapkan makanan, membereskan puing-puing, dsb. Warga pada umumnya melakukan kegiatan masing-masing untuk memperbaiki keadaan mereka. Tidak terasa, terlarut dengan cerita-lebih tepat mungkin curhat-Bu RW waktu memasuki waktu Dzuhur, saya berpamitan, Ibu RW berterima kasih atas lawatan kami, meskipun tidak membawa bantuan berupa barang, lawatan dan dukungan moralpun sangat diterima dengan tulus.
Sore harinya sekitar pukul 16.15, kami menemui ibu lurah Cikelet yang sudah membuat janji bertemu terlebih dahulu melalui ibu Pipih-ibu PKK yang kami temui pertama kali. Di rumah ibu Lurah kami disambut dengan hangat, kami disana mencoba menggali terlebih dahulu keadaan Desa Cikelet pasca gempa. Bu lurah menceritakan mulai dari kronologis bencana hingga gambaran umum warga paling aktual. Warga terkena dampak kerugian moril dan spiritual, beberapa diantara warga ada yang stress berat dan membutuhkan penangan psikolog sesegera mungkin.
Setelah dirasa cukup terjalin komunikasi yang baik serta keterbukaan, kami menanyakan program Dasawisma disana. Program dasawisma telah ada sudah lama, hanya saja dasawisma yang secara konseptual merupakan pembagian kelompok masyarakat setiap sepuluh KK (Kepala Keluarga), di Desa Cikelet untuk setiap kelompok dasawisma terdiri dari 15 KK. Pembagian ini dikarenakan minimnya kader penggerak, yang memiliki rangkap jabatan sebagai penggerak PKK, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan lainnya. Di Desa Cikelet PKK sudah cukup aktif, posyandu, poswindu (lansia), serta pendidikan anak (Bina Keluarga Balita) sudah dirintis. Bantuanpun pernah dikelola dan disalurkan melalui jalur PKK, bantuan tersebut memang dari PKK provinsi sehingga penyalurannyapun dilakukan oleh ibu-ibu penggerak PKK. Selain itu juga, mereka berencana untuk membuat dapur umum, namun dikarenakan alokasinya tidak ada maka tidak jadi dilaksanakan. Di penghujung pertemuan Ibu PKK dan Bu Lurah malah siap dan berharap akan ada program-program lanjutan yang akan diadakan oleh Kerlip khususnya. Mereka siap mengkoordinasikan warga dalam hal ini ibu-ibu untuk dikumpulkan jika memang diperlukan.

Hari ketiga (rabu, 16 september 2009)
Di hari terakhir ini, kami berencana untuk kembali bersilaturahmi dengan semua stakehoder yang ada, sekaligus memberi penekanan, penguatan, serta membentuk komitmen untuk mengaktifkan Dasawisma. Namun, cuaca dari pagi hingga sore diliputi hujan yang cukup lebat dan sarana transportasi tidak memadai. Sehingga kami hanya bisa bersilaturahmi kembali dengan Ibu dan Bapak Lurah Cikelet, itupun hanya berpamitan saja. Kami pulang ke Bandung kurang lebih pukul 14.00 waktu setempat, dalam cuaca hujan dan berkabut. Tiba di Bandung kami langsung pulang ke rumah masing-masing setelah sebelumnya berbuka bersama diperjalanan.
Setelah berkoordinasi, bersilaturahmi dengan beberapa shareholder di tingkat desa dan RT, serta relawan, kami berkesimpulan bahwa Dasawisma telah terbentuk, namun belum efektif dan dalam hal penanggulangan bencana belum digunakan. Masih perlu kiranya pendampingan serta kegiatan semacam coaching terhadap para kader penggerak untuk mengaktifkan Dasawisma sesuai dengan kebutuhan, dalam hal ini kebutuhan penanggulangan bencana alam.
Secara umum pola pendistribusian bantuan, menggunakan struktur pemerintahan setempat, dapat dilihat pada bagan berikut :












Bantuan biasanya bersifat top-down ditunjukkan dengan tanda garis tegas dengan panah ( )
Garis ( ) merupakan garis informasi atau garis permintaan kebutuhan, dan garis putus-putus merupakan arah informasi kebutuhan serta menunjukkan bahwa warga kadang-kadang secara langsung mengambil atau meminta, bertaktik jemput bola dan jika barang tersedia mereka tetap dilayani panitia. Pada kasus ini biasanya dikarenakan terdapat keadaan darurat seperti kebutuhan obat dan tenaga kesehatan bagi warga yang melahirkan atau sakit yang tidak dapat di pindahtempatkan.
Kepala Desa merupakan ketua sekaligus penanggungjawab posko, tanpa acc dari ketua bagian gudang tidak dapat mengeluarkan barang/ bantuan. Sementara sekdes sebagai sekretaris bertugas membuat pengarsipan, pendataan, serta tugas-tugas administratif lainnya. RW dan RT lebih bersifat teknis,bertugas mendata serta menyalurkan bantuan ketingkat grass root. Warga terutama yang menjadi korban langsung, biasanya menunggu di tempat namun ada juga yang datang langsung ke posko jika merasa ada kebutuhan yang mendesak. Di posko, selain panitia dari penduduk sekitar, ada juga dari relawan dari luar daerah, bahkan ada yang berasal dari Bogor.

Tidak ada komentar: