Minggu, 13 Mei 2012

Serunya Roadshow di SDN Awigombong !

Wwwuuaaahhh ‘O’ !!!
Tepat pukul 12.00 WIB terasa sangat panas, lapar, haus dan jantung pun dag dig dug kembang kuncup nih.. karena eh karena aku ‘Rima Shasvita’ , kak niar ‘mughniar Azzahra’ , vita ‘Devita Murni’ , dan frengki ‘frengki Hotgun Damanik’ (bener gak ya tulisan nama mereka? ^^V) akan melakukan roadshow GERA SHIAGA kami yang pertama. Tapi masih bingung nih, ke SD mana dulu ya ??
Akupun melihat daftar SD yang akan dikunjungi. Hmhmhmhm .. AHA !! Kebetulan ada 2 SD yang beralamat sama nih, kalo kita kesana setidaknya akan mendapatkan 1 SD yang masih melaksanakan proses belajar mengajar. Jadi perjalanan kami nanti akan membuahkan hasil.. \(^_^)/
Aku dan kak niar tengah galau menanti kedatangan vita dan frengki, bawaannya pengen jajan mulu lagi >.< (sabar ima , hemat.. hemat..). Akhirnya frengki si anak Medan datang juga, tidak lama kemudian vita pun menyusul di belakang frengki. Kak Niar ,“ frengki..!! motor kamu mana ??” frengki menjawab dengan irama khas medan , “ ha ?? pakai motorkah kita brangkat ? motor saya ninja, plat medan , tidak ada kaca spion dan saya tidak bawa SIM, naik angkot saja kita sudah, emang kita mau kemana ?” kak niar , “ nah itu dia freng, kita itu mau ke daerah cicadas dan diantara kita gak ada yang tau alamat pasti SDnya.. kalo kita ngangkot bakalan ngabisin duit, nah kalo pake motor kan hemat, sesat berjam-jampun aman lah” Setelah ngobrol ini dan itu akhirnya kak niar dan frengki bertugas mencari transportasi sedangkan aku dan vita ke perpustakaan sejenak mencari buku untuk tugas vita. ggrrrgrrr (critanya hp aku dan vita bergetar) “masih di perpus ? ayo ke satpam , aku ama frengki udah didpan, cepet yah !” (sms dari kak niar) Kita langsung berangkat ke Kanayakan mengambil perlengkapan roadshow , dan tidak lupa pula kita mendapatkan doa dan semangat dari teh iwang cuyung agar kita sukses pada roadshow pertama ini. Dengan membawa 1 tas perlengkapan roadshow dan 10 pohon siap tanam, Kamipun berangkat.. beeemmmm.. beeeemmmmmm.. ccciittt.. beeemmm..ciiitt..cittt.. kak niar dengan keahliannya mengendarai motor melaju sangat cepat, alhasil ketika kak niar nyasar di jalan, aku dan frengki kwalahan mengejarnya. Sesampainya di Cicadas, kami mencari dan bertanya letak jln. Asep Berlian No. 33, kami mendapatkan arah dari juru parkir yang ada di pasar cicadas. Seperti biasanya, kak niar yang tidak sabaran melaju dengan kencang dengan motornya, aku menyadari bahwa kita telah melewati Jln. Asep Berlian no 376. APAAA ???? 0.0 telah terlewat ? dan kita tidak bisa putar arah karena merupakan rute 1 arah. Frengki, “ aduh Niar.. kau cepat sekali.. kita terlewatkan sudah jalannya, sudah aku saja yang di depan. Kau turuti aku di belakang.” kak niar, “ iya haha.. maaf freng, aku kan ngejar waktu buat kamu, takut kamu telat ke acara kampus jam 4 nanti” lalu vita bertanya lagi ke tukang parkir sekitar, penjelasan tukang parkirpun berbelit-belit hingga aku mendapatkan kata kunci jln.Jakarta. Aku bisikan ke frengki “freng aku tau jalannya, biar aku aja yang jadi petunjuk jalannya.” Kita bergerak kembali, menelusuri jalanan yang padat kendaraan. Ternyata aku mengenali jalan yang dituju, kenapa ??? karena sebelumnya aku pernah melewati jalanan ini dengan pacarku ^_^ { malu ih (/.\) }. Sebelum berangkat tadi, aku udah nanyain jalan dulu ke pacarku yang notabenenya orang Bandung. Dengan sedikit penjelasan dari dya, aku tau dimana jalan SD awigombong 1 yang kita tuju. Dan jegejeng eng ing eng.. kami pun tiba d SD awigombong 1. Dengan semangat dan percaya diri aku, kak niar, vita, dan frengki mendatangi kepala sekolah dengan maksud meminta izin untuk melakukan roadshow di SD Awigombong 1 dan SD Cicadas 21. Dan you know WHAT ?? 0.0 di SD 5 gedung ini terdapat 8 SD loh, dengan 3 kepala sekolah dan 80 guru. Namun SD yang kami tuju cuma 2 diantara 8 SD tersebut dan hanya SD Awigombong 1 saja yang ada pada siang itu. Setelah berbincang-bincang dan tanya jawab yang panjang dengan kepala sekolah dan guru SD A wigombong 1, akhirnya kami memulai roadshow kami dengan memasuki kelas 5. Dag dig dug.. laju jantung kami berempatpun semakin cepat. Dengan kecerewetan kak niar dan kelembutan vita, pendekatan kami ke anak SD kelas 5 pun berjalan mulus. Setelah canda-canda pengenalan, masuklah ke acara bernyanyi lagu gempa bersama-sama. kak niar “ ade-ade.. tau lagu gempa gak ??” murid kelas 5 secara serempak “ gak tau kak !! “ kak niar “ nah.. kak ima.. lagu gempa itu kayak apaq sih kak ?? kita gak tau lagunya, ajarin kita dong kak..” apaaa ?????? kenapa ima kebagian jatah menyanyi di depan bocah-bocah SD ini ??? 0.0 astagah.. si kak niar gak konfirmasi dulu ih >.< . Dengan melihat wajah kak niar, vita . dan frengki, aku tau mreka tidak hafal lirik dan irama lagu gempa. Alhasil aku si ima yang pemalu ini bernyanyi dan mengajarkan anak-anak kelas 5 nyanyi lagu gempa.
Wah.. ternyata respon mreka terhadap lagu gempa ini antusias sekali, seneng deh kami bisa melihat canta tawa mreka saat menyanyi lagu gempa dan mempraktekannya langsung. Mau lihat bagaimana mreka menyanyikan lagu gempa ?? ada vidionya kok, dan video tersebut nyusul yah.. soalnya bukan di aku datanya, ada pada rekan frengki.
Lalu ade-ade pun melakukan ikrar sekolah aman,setelah bercanda-canda bareng ade-ade yang unyu, kami pun foto bersama. Aku seneng sesi foto-foto, kita bisa narsis bareng ade-ade unyu.. ade-ade unyu berebutan foto di deket aku.. haha serasa artis aja direbutin untuk foto. Kwow kwow.. dan roadshow kami di kelaspun berakhir, saatnya melambaikan tangan kepada ade-ade unyuu, lambaian tangan mereka akan membuatku kangen  wajah merekapun mengisyaratkan bahwa mereka gak mau pisah secepat ini dengan aku (GR benget ya aku ? haha :D)
Selanjutnya penyerahan bibit pohon dan kenang-kenangan ke pihak sekolah dan 1 perwakilan murid kelas 5. Saat penyerahan bibit pohon, aku menoleh ke kelas 5, aku melihat mereka mengintip dari jendela dan pintu kelas, mereka tidak henti-hentinya melambaikan tangan ke arahku. 3 rekanku sibuk ngobrol dengan kepala sekolah dan staf guru eh akunya malah sibuk lambai-lambaian tangan dengan anak-anak unyu kelas 5. 
Menuju tempat parkiran dan kami berempat melakukan salam sukses, eeitss terlihat wajah kak niar memikirkan sesuatu.
kak niar, “ eh lupa, kita belum minta alamat email sekolah dan ngasih tau tentang lomba foto esai, ayo balik lagi..!!”
kaka niar dan frengki balik lagi ke kantor kepala sekolah, sedangkan aku dan vita menunggu di parkiran. Saat menunggu di parkiran, aku melihat 2 anak SD mengintip dari balik tembok dan melambai “kak rima .. sini !!” . Ada apa ya ini ??? –a eh ternyata mereka meminta nomer hp aku.. ^_^ . Alhamdulillah yah sesuatu.. aku jadi seneng mereka deket sama aku. Sampai sekarang mereka rajin sms aku loh.. asik \(‘0’)/ aku punya ade di Bandung. Cukup sudah lah , aku punya KERLIP, sahabat GERA SHIAGA, pacar n ade-ade unyu dan semuanya itu ada di Bandung.. jadi pulang ke Bukittinggi gak ya ..? HAHA ^_^V

Semoga roadshow berikutnya memiliki pengalaman yang lebih seru lagi, dan cukup sudah sampai disini.. ima gak tau lagi mau crita apa soalnya ima gak ada bakat nulis sedikitpun, dan kalo mau crita yang lebih lengkap, langsung aja temui ima dan 3 rekan yang lainnya. Masalah foto dan video harap bersabar yah..

see u sahabat GERA SHIAGA ^_^

Selasa, 08 Mei 2012

Audiensi dengan Ibu meneg PP-PA

Alhamdulillah sore ini kami diterima oleh Ibu Linda, Meneg PP-PA didampingi Bapak Wahyu, Deputi Tumbuh Kembang Anak dan Ibu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak.

Ibu Linda berkali-kali menyampaikan permintaan maaf karena keterlambatan akibat banyaknya tamu yang beraudiensi dengan beliau hari ini. Penerimaan beliau yang ramah dan penuh perhatian terhadap materi audiensi yang diajukan Perkumpulan KerLiP membuat pertemuan audiensi berjalan dengan baik.

Arlian Puri (14), pelajar SMPN 11 Bandung, menjadi sumber inspirasi. Penuturan cerdasnya mengenai penerapan sekolah aman dari bencana melalui pemodelan GERA SHIAGA di SMPN 11 Bandung menjadi penjelas upaya sinkronisasi kebijakan sampai dalam praktiknya di sekolah. Arlian menyampaikan bahwa penerapan sekolah aman dari bencana bukan hanya masalah struktur bangunan tahan gempa. Penerapan sekolah aman terintegrasi dengan sekolah sehat dan hijau yang dilaksanakan KerLiP bersama Bappenas dalam upaya mewujudkan lingkungan belajar yang aman, sehat dan hijau di DAS Citarum, menurut Arlian didukung oleh partisipasi anak. Praktik-praktik baik di SMPN 11 Bandung yang mendorong pembentukan komunitas anak seperti Zero Waste Event, Jamban BSJ (Bersih, Sehat, Jujur) dan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Menuju Sekolah Aman (MSA) didukung oleh guru yang tak kenal lelah memfasilitasi anak-anak untuk berpartisipasi.

Penjelasan Arlian ini menjadi titik awal untuk menunjukkan bagian penting dari Perka 4/2012 perihal Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana byang baru saja diluncurkan dalam Resepsi Hardiknas oleh Mendikbud. Ibu Yanti, ketua Perkumpulan KerLiP selaku Ketua Seknas Sekolah Aman membukakan halaman mengenai proses penyusunan Perka dan dicantumkannya UU Perlindungan Anak dan Ratifikasi KHA sebagai landasan hukum dalam perka tersebut.

Keterlibatan KPP-PA dalam hal ini melalui Asdep PHPA dalam rangkain konsultasi teknis penyusunan Perka dan pencantuman logo KPP-PA dalam profil program GERA SHIAGA disambut gembira oleh Ibu Meneg PP-PA. Beliau juga sepakat untuk mengedepankan tema Pentingnya Partisipasi Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yg Inklusi dalam side event AMCDRR. Ibu Rini sekretaris Planas PRB menjelaskan tentang tema utama penguatan kapasitas lokal yang didukung tema pengintegrasian PRB dengan Adaptasi Perubahan Iklim, Risk Financing dan Partnership dan pembentukan 7 Working group dalam mempersiapkan AMCDRR.

Planas PRB adalah mitra BNPB dalam menyiapkan AMCDRR didukung para pemangku kepentingan lainnya. Neda menjelaskan tentang profil KPB, Vanda tentang program Plan terkait penerapan sekolah aman di Indonesia, Cina dan Cambodia dan PRB yang inklusi dengan dukungan DIPECHO dalam wadah AID Consortium bersama Handycap International dan Care Foundation di Sikka, Belu dan Kupang.Seluruh praktik bailk ini akan diekspose bersama di AMCDRR.

Yanti juga menjelaskan mengenai peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman tanggal 29 Juli lalu dipimpin Menkokesra, Kepala BNPB, almarhum Ibu Menkes dan Bapak Wamendiknas. Upaya PRB yang luar biasa ini menghantarkan Bapak Presiden untuk menerima penghargaan Global Championship for DRR di Genewa Swiss Mei 2011. Upaya penerapan Sekolah/Madrasah Aman terus menguat seiring dengan terbitnya Perka No 4/2012.

Galuh dan Ria dari Perkumpulan Skala serta Dede dan Ryan dari KerLiP Production juga hadir dalam audiensi. Kami sepakat dengan KPP-PA untuk menghubungkan upaya penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana dengan payung Sekolah Ramah Anak dalam upaya mewujudkan Kab./Kota Layak Anak.

Ibu Linda juga meminta Pak Deputi dan Asdep PHPA untuk menyertakan asdep KLA dan juga ketua ASPAI (Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia) untuk mendukung keberlanjutan Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yang inklusi. Beliau menyambut gembira keselarasan program inklusi yang dijalankan KPP-PA dengan Kemdikbud dan kini dengan BNPB melalui persiapan AMCDRR ini.

Pertemuan audiensi menyepakati beberapa hal terkait hal ini, antara lain:
1. Kesepakatan tema side event "Pentingnya Partisipasi Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yang inklusi
2. Perwakilan anak disabilitas dari Forum Anak Yogya yang akan dikordinasikan dengan ASB Yogya untuk menyampaikan pidato anak setelah Bapak Presiden dalam general assembly
3. Menjadi Keynote Speaker, pembahas Utama dalam talkshow dikaitkan dengan indikator KLA dengan 5 narasumber anak dan pembahas tambahan Wamendik, Kemenag dan WamenPU
4. Materi Komunikasi, Informasi dan Edukasi yang bersesuaian
5. Perwakilan forum anak untuk hadir dalam talkshow anak tersebut
6. Asdep PHPA sebagai kontak KPP-PA untuk persiapan AMCDRR
7. Meminta Pak Deputi untuk menghubungkan tim ini dengan Pak Luhur dari ASPAI terkait kehadiran ASPAI sebagai salah satu narasumber utk tema partnership

Ibu Meneg PP-PA berkali-kali juga menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip hak anak termasuk partisipasi anak serta dukungan terhadap ketersediaan pendidik PAUD yang profesional.

Selanjutnya, KPP-PA melalui asdep PHPA (melekat pada jabatan) akan memperkuat forum kordinasi penerpan skeolah/madrasah aman melalui GERA SHIAGA terhubung dengan SRA sebagai salah satu indikator KLA.

GERA SHIAGA YUK!

Senin, 07 Mei 2012

Istilah Kafe Ilmu dipilih Joko ketika berencana menjangkau lebih banyak sahabat KerLiP atas nama PPLHB. Saat ini Joko sudah mengundurkan diri dari posisi Kordinator PPLHB melalui kontak via telpon. Alhamdulillah diteruskan oleh Tiyas, Taufik, Oka yang mengajak 40 an kawula muda dari STKS untuk bergabung dan diikuti sahabat-sahabat dari ISMAKES Jabar. Kami masih menunggu sahabat-sahabat yang akan mempersiapkan roadshow minggu depan ke SD-SD penerima DAK Pendidikan di Kecamatan Coblong dan Cidadap. Iwang sudah menyiapkan bahan-bahan utama untuk roadshow. Sahabat-sahabat GERA SHIAGA juga sudah konfirmasikan kesediaan. Itu mereka baru sampai... Persiapan kali ini terpaksa diambil alih lagi karena Iwang masih dalam perjalanan kembali ke Kanayakan untuk mengambil Kit GERA SHIAGA. Kilas balik berbagai asumsi dan kesepakatan untuk menyiasati keterbatasan lengkap dengan kisah penjangkauan di Kecamatan Arjasari. Sahabat-sahabat KerLiP yang hadir kali ini adalah Ayu, Intan, Riri, Esti, Evi, Daulika dan Weni. Akhirnya tiba untuk membedah Profil program yang dibawa Iwang menjadi bahan kajian kali ini. Para sahabat KerLiP berbagi peran untuk simulasi 15 menit. Weni menjadi Kepala Sekolah. Intan guru kelas 5, Ayu, Evi dan Esti jadi murid di kelas 5. Riri dan Evi menemani Daulika menjadi Tim GERA SHIAGA. Baru setengah jalan terpaksa dihentikan karena waktu sudah hampir penutupan Dago CFD. Ulasan lengkap mengenai simulasi menambah pengalaman belajar hari ini di Kafe Ilmu KerLiP "GERA SHIAGA yuk!". Senang mendengar ungkapan antusias Ayu saat membaca halaman mengenai nilai-nilai dan prinsip dalam Perka no 4/2012. One stop closer towards Safer School/madrasah in Indonesia. Insya Allah GERA SHIAGA YUK!

Sabtu, 05 Mei 2012

Cara-cara Sederhana untuk Membangun Partisipasi Publik, terutama Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman

Langkah-Langkah Rodshow GERA SHIAGA, model penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana Dimulai setelah melakukan Persiapan dan Koordinasi Dokumen yang disiapkan 1. ID Card 2. Profil Program GeraShiaga 3. Surat penguat dari Kesbanglinmas 4. Surat penguat dari Seknas SA Tim Roadshow setidaknya berjumlah 2 orang mendatangi sekolah-sekolah di satu wilayah Ketua Tim menjelaskan ttg GeraShiaga, Seknas SA Sekolah aman, kerlip, Perka Nomor 4 Tim berbagi tugas jika diijinkan untuk memasuki kelas oleh Pihak Sekolah Jika tidak diijinkan segera pamit dan mengunjungi sekolah berikutnya Kelompok 1 1. Latihan lagu dan gerak siaga gempa 2. Adopsi pohon yang ada di sekolah 3. Kembali ke kelas 4. Nonton Film Sekolah Aman Hak Anak Bangsa versi 2 menit 5. Pembuatan Ikrar Sekolah Aman Online jika dimungkinkan dan Offline selama Tim berembug dengan manajemen sekolah Kelompok 2 1. Pengumpulan data terkait Penggunaan DAK/program rehabilitasi melalui APBN dan dana BOS 2. Penilaian Penerapan GERASHIAGA di sekolah oleh Relawan dengan atau tanpa Manajemen Sekolah 3. Sekilas Bedah Perka dengan perwakilan anak, relawan dan manajemen sekolah Tim lengkap bertemu dengan manajemen sekolah, jika dimungkinkan bersama perwakilan anak perempuan dan anak laki-laki yang mengikuti latihan lagu dan gerak siaga gempa. Tim menyampaikan pentingnya pembuatan Rencana Aksi GERA SHIAGA 100 hari setelah kunjungan pertama serta penawaran untuk mengikutsertakan perwakilan anak kelas 3, dan 6 SD dalam lomba foto essay dan artikel selama Rencana Aksi Nyata tersebut dilaksanakan. Penyerahan kepada sekolah 1. Ketentuan Lomba FotoEssay dan Artikel 2. Fotokopi Perka no 4 tentang pedoman Penerapan Sekolah Aman dan Jamban BSJ 3. Formulir penerapan GERA SHIAGA dalam 5 ruang lingkup Sekolah Ramah Anak 4. pemberian bibit pohon Penerimaan 1. Ikrar Sekolah Aman Offline 2. Formulir Peserta Lomba FotoEssay dan Artikel 3. Dokumen pendukung profil Sekolah (foto dari data profil yang ditempel di dinding kantor) 4. Foto Sekolah Sebelum dan Saat rehabilitasi untuk SD penerima program rehabilitasi Contoh praktik langsung Pengalaman kami dengan murid-murid SD Pinggir Sari pada tanggal 11 April 2012 telah mengajari kami bahwa menerapkan sekolah aman dapat dilakukan dengan cara-cara yang mudah. Pertama, sekolah harus terletak di wilayah yang aman dari bencana. Jika itu sulit diterapkan, maka penghuni sekolah harus berteman dengan bencana. Caranya? Ada di langkah yang kedua: menggali pengetahuan tentang bencana yang pernah terjadi di tempat tinggal anak dan lokasi sekolah berada. Belajar bersama mengenai evakuasi ke tempat aman dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan seperti praktik langsung dan menyanyikan lagu "Kalau ada Gempa". Ketua murid kelas 5 yang kami masuki sangat antusias dengan kegiatan lagu dan gerak ini. Ia berjanji untuk mengumpulkan ketua murid dari kelas lain untuk bersama-sama menyanyikan lagu yang baru saja dikenalnya. Langkah ini juga dijadikan wahana belajar bersama untuk tindakan penyelamatan diri jika ada gempa. Buktiya setelah latihan beberapa kali, anak-anak sudah otomatis melaksanakan tahapan dalam lagu tersebut dalam barisan. Anak-anak juga mengajari kami untuk langkah ketiga, membangun struktur yang baik, dengan cara sederhana. Mereka menyampaikan tentang pentingnya "penguatan struktur bangunan" dan memilih istilah sendiri untuk menyebut penghubung antar balok kayu sebagai "sabuk pengaman". Anak-anak juga belajar dari mandor bangunantentang ketentuan penggunaan besi. Besi harus berdiameter 10 mm, dikumpulkan empat-empat dengan ring 8 mm yang berjarak 15 cm satu sama lain, dan memiliki pengait di tiap ujungnya. Ketentuan inilah yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan bangunan dari rubuh langsung saat terjadi gempa agar warga sekolah termasuk anak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri jika terjadi gempa. Anak yang terlambat menyelamatkan diri bahkan menemukan langkah keempat: dia terlambat karena tersandung kursi dan bangku yang berantakan, maka jalur evakuasi harus lapang dan tanpa halangan. Teman-teman sekelasnya setuju untuk merapikan meja dan kursi dan mengatur jaraknya agar cukup lebar agar cukup untuk menyelamatkan diri. Ini adalah langkah keempat, yaitu memerhatikan tata ruang dan hal ini juga dapat dimanfaatkan untuk belajar bersama mengenai inklusi : jarak aman bagi pengguna kursi roda untuk melewati jalur evakuasi. Kelima, memastikan adanya sarana yang memadai. Anak-anak setuju menempatkan warna-warna rambu lalu lintas untuk menandai jalur aman, hati-hati, dan bahaya di jalur evakuasi. Mereka juga sepakat untuk menempatkan plang yang jelas serta memasang tanda bertuliskan "Titik Kumpul Aman" di Lapangan Upacara. Anak-anak ruapanya pernah belajar mengenai pentingnya CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun), memisahkan toilet laki-laki dan perempuan, dan pengaruh ruang hijau dalam hidup sehari-hari maupun sebagai pencegah bencana seperti banjir. Mereka tertarik untuk mengadopsi pohon-pohon di sekitar lapangan sekolah sebagai adik mereka. Dengan anak-anak yang begitu antusias, peningkatan pengetahuan dan tindakan serta aksi nyata untuk kesiapsiagaan bencana yang kami pelajari dari anak-anak di SD penerima program dalam rehabilitasi sekolah dengan dana APBN ini menambah keyakinan kami bahwa penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana mudah untuk dilaksanakan.