Senin, 29 Juni 2009

Sekepicung, 26 Juni 2009


Hari ini tak banyak warga belajar yang hadir, hanya ada Elis, Nurjanah, Aisyah, Maryam dan Ulfa. Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Saya memulai kegiatan dengan salam. Kemudian, saya meminta setiap warga belajar memilih dan menggambar 5 jenis hewan yang mereka sukai serta menjelaskan alasan mereka memilih hewan-hewan tersebut. Warga belajar pun diminta untuk memilih satu di antara 5 hewan tersebut yang paling mereka sukai dan sangat menggambarkan diri mereka.
Selanjutnya, satu-persatu warga belajar menjelaskan hewan-hewan yang mereka pilih. Dari sekian banyak alasan yang disampaikan, ternyata 5 orang warga belajar ini cenderung menjatuhkan pilihannya pada hewan-hewan yang mereka nilai lucu dan enak dilihat, seperti, kucing, ikan dan kupu-kupu. Sedangkan untuk hewan yang paling disukai dan cukup menggambarkan diri mereka, sebenarnya masing-masing warga belajar agak ragu dan bingung memilih. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau mengasosiakan diri mereka dengan hewan tertentu dan merasa tidak banyak memiliki kesamaan dengan hewan tertentu. Namun akhirnya, mereka pun memilih satu hewan yang cenderung bisa menggambarkan diri mereka, seperti singa untuk menggambarkan diri pemberani atau ikan untuk menunjukkan kekuatan sikap.
Kegiatan selanjutnya dipandu Ova. Ia mengingatkan semua warga belajar, bahwa pada setiap kegiatan hari Jumat seperti sekarang, setiap warga belajar diminta untuk menceritakan aktivitas mereka selama seminggu kemarin. Meski kegiatan bercerita ini sering dilakukan, tetap saja sebagian warga belajar tampak bingung dan enggan bercerita. Seperti itu pula yang terjadi pada hari ini, beberapa orang warga enggan bercerita. Namun, setelah beberapa di antara mereka mulai bercerita, akhirnya semua warga belajar turut bercerita meski tidak terlalu banyak yang mereka ceritakan. Walaupun demikian, kami merasa senang ketika mendengarkan cerita mereka satu-persatu dan beberapa di antaranya mulai menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik bagi mereka.
Di samping bercerita, ada juga warga belajar yang ’setor karya’. Elis dan Ulfa menyampaikan cerpen karya mereka. Hasil tulisan keduanya ini dibacakan juga di hadapan kami. Kemudian setiap dari kami dipersilahkan untuk memberi kritik dan masukan pada dua karya hasil teman-teman ini.
Kegiatan pun berakhir setelah Ova menutupnya dengan salam dan doa. Ternyata jumlah sedikit tidak mengurangi semangat kami untuk terus berkegiatan. (izoel)

Sekepicung, 24 Juni 2009


Beberapa hari yang lalu, Bu Dewi isteri Pak Lala, pemilik rumah tempat kami melakukan pendampingan di daerah Sekepicung ini, menelepon saya untuk memberitahukan kepada para warga belajar bahwa kegiatan pembelajaran hari ini akan dilaksanakan di sebuah rumah milik Ibu Kusuma, salah seorang dosen senior ITB, yang berada di kawasan Ciburial. Saya pun langsung mewartakannya kepada beberapa orang warga belajar kabar tersebut. Sekarang sampai hampir setengah jam lewat dari pukul 14.00 WIB, saya masih menunggu semua warga belajar berkumpul. Baru menjelang Ashar, 9 orang warga belajar hadir di rumah belajar Bina Bakti Persada. Selanjutnya, kami berangkat menuju rumah Bu Kusuma, ditemani Pak Lala, Bu Dewi dan Bu Elis.
Sampailah kami di sebuah rumah yang cukup besar dikelilingi rindangnya pepohonan. Bu Kusuma, pemilik rumah itu menyambut kami dan mempersilahkan kami menggunakan salah satu sisi dari rumahnya untuk kami gunakan sebagai tempat kegiatan hari ini.
Saya memulai kegiatan dengan salam dan review kegiatan sebelumnya. Kemudian, warga belajar dibagi menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 3 orang. Saya membagikan selembar kertas yang berisi beberapa hal yang harus dijawab dengan beberapa kemungkinan, yaitu, bisa berubah sedikit, bisa berubah banyak, bisa berubah semua atau tidak bisa berubah sama sekali. Contohnya agama, apakah warga belajar menilainya dapat berubah sedikit, dapat berubah banyak, dapat berubah semua atau tidak dapat berubah sama sekali.
Pada tahap awal, setiap warga belajar diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan itu masing-masing. Baru setelah itu mereka memberi jawaban kelompok dan membandingkannya dengan jawaban masing-masing.
Sekira 30 menit kemudian, masing-masing warga belajar telah membubuhkan jawabannya di kertas kosong. Tak lupa mereka pun memberi jawaban perkelompok. Dari 20 hal yang ditanyakan, ternyata paling banyak jawaban yang diberikan adalah ’tidak dapat berubah sama sekali’, baru setelah itu ’dapat berubah sedikit’ dan seterusnya.
Dari diskusi yang kami kembangkan dari jawaban-jawaban tadi, ternyata muncul kesimpulan bahwa, perubahan akan selalu terjadi baik sedikit atau banyak dalam segala hal dalam kehidupan ini. Kecuali pada hal-hal yang bersifat kodrati, seperti jenis kelamin, warga belajar menilainya tidak dapat berubah. Tentu saja perubahan itu sebisa mungkin harus menuju ke arah yang lebih baik.
Setelah memberikan refleksi dari proses pembelajaran yang telah dilalui, saya menutup kegiatan. Kemudian kami pun asyik berbincang-bincang sambil menikmati suguhan makanan dan minuman dari tuan rumah. Jazaakillah, Bu!

Senin, 22 Juni 2009

Pendidikan Murah dan Berkualitas bagi Masyarakat, Mungkinkah? (Bagian-1)

Ungkapan di atas merupakan topic dari diskusi pendidikan yang diselenggarakan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bandung, petang sampai malam tadi (22/06) dengan menghadirkan pembicara, Ahmad Bahrudin, pengelola Sekolah Qoryah Thayyibah, Salatiga. Kegiatan ini dibuka dengan pemutaran film “Kepala Sekolahku Seorang Pemulung”, sebuah film documenter yang pernah meraih Eagle Award di Metro TV.
Sebelum memaparkan lebih jauh tentang Qaryah Thayyibah, Ahmad Bahrudin memutar cuplikan liputan Metro TV tentang sekolah Qaryah Thayyibah. Dalam liputan ini digambarkan perbandingan antara dua sekolah dengan latar yang berbeda. Satu sekolah dikatakan sekolah unggulan dengan SPP yang sangat mahal dan fasilitas yang lengkap. Dan satu sekolah lainnya berada di pedesaan dengan SPP yang sangat murah, tetapi memiliki fasilitas yang hamper setara dengan sekolah yang pertama.
“Ternyata, sekolah berkualitas itu tidak perlu mahal.” Demikian Bahrudin membuka pemaparannya.
Sekolah Qaryah Thayyibah hadir di tengah perkampungan Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah pada pertengahan tahun 2003. Awalnya muncul kegelisahan para warga termasuk Bahrudin, karena harus menyekolahkan anak-anak mereka yang telah tamat sekolah dasar (SD) ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) yang letaknya sangat jauh dari kampong mereka. Sehingga para orang tua ini harus mengeluarkan biaya yang sangat besar bagi pendidikan anak-anak mereka. Padahal, rata-rata penghasilan mereka ini sangat kecil. Selaku Ketua RW setempat, Bahrudin mengumpulkan warganya dan mendialogkan permasalahan tersebut. Akhirnya, mereka bersepakat untuk membuat SLTP sendiri dengan biaya yang disesuaikan dengan kemampuan para warga. Dan masuklah 12 orang anak di sekolah yang kemudian dinamai Qaryah Thayyibah.
Sebuah prinsip yang dianut benar oleh sekolah Qaryah Thayyibah ini adalah guru tidak boleh mengajar atau mengarahkan. Guru hanya mendampingi dan mendukung keinginan anak, selama keinginan itu positif dan tidak membawa dampak negatif. Anak-anak diberi ruang berkreasi seluas-luasnya untuk mempelajari segala hal yang menjadi minat mereka masing-masing dengan segala hal yang ada di sekitar mereka. Dan pembelajaran yang dikembangkan adalah pembelajaran berbasis kebutuhan. Sehingga anak-anak mempelajari segala hal yang dekat dan sering mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari dengan kapasitasnya masing-masing. Anak-anak diberi ruang untuk menentukan kompetensinya sendiri, bahkan sampai dalam penyusunan kurikulum.
Tentang fasilitas yang di awal telah disitir oleh Bahrudin, ternyata Sekolah Qaryah Thayyibah pun memulai dengan hal-hal yang sangat sederhana, salah satunya dengan me’manage’ uang jajan anak. Uang jajan itu diperuntukkan untuk tabungan penyediaan alat-alat sekolah termasuk komputer dan penyediaan sarana internet yang dirasakan sangat penting menurut anak-anak. Uang jajan ini pun diposisikan untuk memenuhi asupan gizi anak-anak sehari-hari, sehingga mereka dapat menikmati makanan sehat dan susu murni setiap hari. Khusus dalam penyediaan internet, Bahrudin banyak dibantu oleh seorang kawannya yang kebetulan mengawaki provider Indonet.
Dengan ruang pembelajaran yang sangat luas dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak, prestasi anak-anak pun terus meningkat. Kemampuan berbahasa Inggris anak-anak Qaryah Thayyibah cukup bisa diandalkan. Dan kecakapan beberapa anak-anak dalam menulis pun telah menorehkan banyak prestasi. (bersambung)

Minggu, 21 Juni 2009

PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN : SEKARANG!

KERANGKA ACUAN LOBBY AKBAR ANAK BANGSA

1. PENDAHULUAN

Pemenuhan hak atas pendidikan merupakan proses yang sedang berjalan, demikian juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai Pendidikan untuk Semua (PUS). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas kenyataan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan telah menekankan pentingnya aksi pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis hak asasi manusia yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara. Agar pendidikan dapat disediakan (available); Pemerintah perlu menjamin pendidikan tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut untuk menghargai kebebasan para orang tua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan; Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible); penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang hak asasi manusia internasional perlu menjadi prioritas kebiajakan pendidikan; Agar pendidikan dapat diterima (acceptable); hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran; Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable); pendidikan perlu mengakomodasi dan menyesuaikan minat utama setiap individu anak.



Sayangnya sampai saat ini sistem pendidikan kita masih jauh dari harapan untuk dapat memenuhi hak warga negara atas pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia. Masih banyak kelompok masyarakat yang sulit mendapatkan hak atas pendidikan sebagai perlindungan HAM terutama anak-anak korban bencana, di daerah konflik, terpencil dan perbatasan negara. Guna mendesak para calon presiden untuk mengalokasikan anggaran sekurang-kurangnya 20% serta kekuasaan politiknya untuk mewujudkan EFA sebagai pengakuan mereka terhadap Pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia, kami bermaksud menyelenggarakan LOBBY AKBAR ANAK BANGSA ; PENUHI HAK WARGA NEGARA ATAS PENDIDIKAN : SEKARANG!



Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memastikan para calon presiden dan wakil presiden menjalankan amanat UUD 1945 dan amandemennya untuk memastikan semua anak bangsa Indonesia mendapatkan Hak Atas Pendidikan sebagai dasar bagi pemenuhan Hak Asasi Manusia. KerLiP bersama mitra strategis memfasilitasi anak-anak bangsa melakukan Lobby Akbar bersama para calon presiden dan wakil presiden untuk berkomitmen penuh menjalankan UUD 1945 dan amandemennya secara murni dan konsekuen terutama dalam konteks Pendidikan sebagai Hak Asasi manusia.

B. DAMPAK YANG DIHARAPKAN:



1. Meningkatnya komitmen pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyediakan anggaran yang memadai untuk pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas, bebas biaya sepanjang hayat.

2. Tidak ada seorang anak bangsa pun yang kehilangan hak atas pendidikan berkualitas, bebas biaya sepanjang hayat pada pemerintahan 2009-2014



C. TUJUAN KEGIATAN :



1. Adanya komitmen tertulis dari para calon presiden untuk berkomitmen penuh menghapus seluruh peraturan-perundang-undangan di bidang pendidikan yang tidak konsisten dengan UUD 1945 dan amandemennya

2. Meningkatkan efektivitas partisipasi anak bangsa dalam membangun solidaritas untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional



D. RENCANA PELAKSANAAN



Tanggal 20-23 Juni 2009

1. Penyebaran undangan ke sekolah, TKBM SMP Terbuka, komunitas belajar kelompok marjinal, anak-anak berkebutuhan khusus untuk berpartisipasi dalam kegiatan LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN. SEKARANG

2. Penyampaian surat ke KPUD dan Tim sukses para Calon Presiden

Tanggal 24 Juni 2009

Pelaksanaan pelatihan partisipasi anak di Sekretariat KerLiP

Peserta : 50 anak usia 10-18 tahun perwakilan sekolah dan pendidikan alternatif

Materi :

- Pengkondisian dan Perkenalan peserta

- Ungkap Kasus : pengungkapan kasus-kasus pelanggaran hak atas pendidikan oleh perwakilan peserta

- Bedah buku, ” Meneropong Pemenuhan Hak atas Pendidikan di Indonesia”

- Action Plan : penyusunan rencana-rencana tindakan anak untuk mendorong pemenuhan hak atas pendidikan

- Action Plan 2 : pengorganisasian peserta

a. Pembagian tugas dan peran peserta dalam LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN, SEKARANG!

b. Bedah agenda LOBBY AKBAR ANAK BANGSA

c. Agenda koordinasi tim Lobby dan Audiens

- Evaluasi kegiatan pelatihan

- Persiapan tim Lobby



27 Juni 2009

Press Conference LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN, SEKARANG!

PIC : Ketua Tim Lobby dari Peserta Pelatihan

Koordinator Kampanye dan Advokasi KerLiP



27-28 Juni 2009

MC : Dick Doank dan Desy Ratnasari*(MASIH DALAM KONFIRMASI)

Moderator : Muhammad Zakky Anwar dan Rinie Indira

Peserta : 300 anak perwakilan sekolah dan pendidikan alternatif

Organizer : tim peserta pelatihan partisipasi anak

Tempat : Prefere 72, Noodle, Coffee dan Cafe

Jl. Ir. H. Juanda No 72 Bandung 40132

10.00-12.00

Bahana Anak Merdeka

Persiapan gerai pameran

Panggung ‘berani merdeka’

13.00-14.00 Makan Siang

14.00 – 15.30 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden

15.30 – 16.00 Rehat

16.00 – 17.30 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden

17.30- 19.30 Makan Malam

19.30 – 21.00 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden


MANAJEMEN



Penanggung Jawab/Kordinator Utama: Ketua Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan

Kordinator Teknis : Zamzam Muzakky

Pelaksana Teknis : Rijaludin, Ova, Nur Afiatin, Fitry, Ferry



SEKRETARIAT PANITIA

Perkumpulan KerLiP Jl. Dago Elos V No 423 Bandung 40135

Tlp/fax : 62-22-2505116

Email : rumahkerlip@gmail.com

Site : http://rumahkerlip.blogspot.com


--
Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP)
Wisma Kodel Lt.11 Jl. HR. Rasuna Said Kav B-4 Kuningan Jakarta Selatan 12920
tlp/fax : 021-98941322/5221457
email : rumahkerlip@gmail.com

Minggu, 14 Juni 2009

Sekepicung, 12 Juni 2009

Sekira pukul 14.00 WIB saya sampai di rumah belajar Bina Bakti Persada. Belum satu orang pun warga belajar yang hadir. Sejenak saya duduk santai di sofa butut tapi masih sangat nyaman diduduki yang terdapat di tengah ruangan. Beberapa saat kemudian, Aisyah, Elis, Nurjanah, dan Ulfa berdatangan. Sebenarnya, kami berniat menunggu para warga belajar yang lain. Namun, karena waktu sudah jauh beranjak, kami pun segera memulai kegiatan
Saya membuka kegiatan. Ternyata, kami sepakat untuk belajar di tempat lain. Dan kami sepakat untuk belajar di sekretariat KerLiP yang baru di Dago Elos. Kami pun berpamitan kepada Bu Dewi, pribumi rumah belajar Bina Bakti Persada, dan langsung menuju ke Dago Elos. Di tengah jalan, kami bertemu Ova dan mengajaknya bersama kami.
Sesampainya di basecamp KerLiP, warga belajar langsung berkenalan dengan Bu Yanti KerLiP, yang kebetulan sedang sibuk dengan laptop di ruang depan. Bu Yanti langsung menyapa dan mempersilahkan warga belajar untuk masuk. Saya mengajak warga belajar ke lantai dua dan mempersilahkan warga belajar untuk menunggu dan beristirahat sebentar.
Saya menghampiri warga belajar kembali dan memandu mereka mempelajari citra diri. Di awal, saya meminta warga belajar anggota-anggota tubuh dan menjelaskan fungsinya masing-masing. Kemudian, saya minta mereka memilih salah satu alat tubuh yang paling mereka banggakan dan menjelaskan alasannya.
Setelah selesai, satu-persatu warga belajar menjelaskan gambar anggota tubuh, menjelaskan fungsi dan pilihan alat tubuh yang mereka banggakan. Semula saya berharap warga belajar dapat mengeksplorasi fungsi alat tubuh itu sebanyak-banyaknya. Sayang, kultur belajar kebanyakan kita sering berjalan lambat dan kaku. Hal itulah yang tampak pada proses belajar hari ini. Sebenarnya, kondisi seperti ini pun acapkali saya rasakan dan lakukan sendiri. Suatu kondisi belajar yang minim eksplorasi, kreativitas dan inovasi. Akhirnya melihat kondisi seperti ini, saya seakan-akan berkaca tentang diri saya sendiri. Dan kenyataan ini menjadi PR kita bersama untuk mengubahnya.
Sebelum ditutup, saya memberi sedikit tebakan tentang kecenderungan karakter setiap warga belajar. Mereka pun terpancing untuk berkomentar. Dan saya memberi suatu refleksi dari keseluruan proses belajar hari ini.

Senin, 01 Juni 2009

Catatan Forum Pendidikan Alternatif (1)

Rumah Belajar Bahtera, 31 Mei 2009

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya di Taman Cilaki dan EEP Dago, hari ini Forum Pendidikan Alternatif bertandang ke Rumah Belajar Bahtera di kawasan Sukajadi, Bandung. Seperti yang telah dibicarakan pada pembicaraan sebelumnya, kegiatan ini diarahkan pada pembangunan jaringan dan saling berbagi antar komunitas pendidikan alternative. Sekarang, giliran Yayasan Bahtera Indonesia yang menjadi tuan rumah dialog dan memaparkan apa saja yang telah mereka lakukan selama ini. Kegiatan ini sendiri diikuti oleh beberapa komunitas pendidikan, seperti KerLiP, Kalyanamandira, Sanggar, Gita Pontianak, Walagri Tasikmalaya dan tentu saja Bahtera sebagai tuan rumah. Berikut intisari dialog yang dipandu oleh Zamzam tersebut :
Yayasan Bahtera Indonesia didirikan oleh beberapa orang guru yang mengajar di sekolah formal sejak tahun 80-an. Saat itu, mereka banyak melakukan pendampingan dan advokasi terhadap anak-anak yang orang tuanya dianggap terlibat G30S/PKI atau gerakan Darul Islam (DI). Antara tahun 1993 – 1994 mereka pun mendampingi anak-anak cacat. Baru pada tahun 1995 mereka mendirikan Yayasan Bahtera Indonesia yang banyak mengurusi anak-anak jalanan dan terlibat proyek IPEC – ILO bersama Muhammadiyyah.
Basecamp utama Bahtera bertempat di Cijerah, Bandung. Mereka melakukan pendampingan di 9 titik di Kota Bandung, seperti, di Ciroyom, Pasir Koja, Alun-alun, Stasiun Bandung, Sukajadi dan beberapa tempat lainnya. Semula semua kegiatan dilakukan di jalanan. Baru pada 1999/2000 sebagian aktivitas dilakukan di rumah singgah atau rumah belajar.
Pada masa awal pendampingan anak-anak jalanan ini, para relawan Bahtera melakukan proses penjangkauan. Proses ini dilakukan dengan cara menyimpan seorang relawan di beberapa titik tempat anak-anak jalanan berkumpul. Para relawan mengamati perilaku anak-anak, berdialog dengan mereka, sampai mencari tahu di mana mereka tinggal.
Ada beberapa cerita menarik dalam proses penjangkauan ini, khususnya yang dialami oleh Pak Maman salah seorang pendiri Bahtera. Ketika beliau melakukan pengamatan anak-anak di jalanan, ia sempat disatroni oleh seorang kepala preman. Namun, setelah dijelaskan si preman itu malah mendukung kegiatan ini. Kejadian menarik pun terjadi ketika Bahtera mulai masuk di kawasan Sukajadi. Hampir 3 bulan setelah Pak Maman dan kawan-kawan tinggal di kawasan ini, para warga lebih sering menutup pintu mereka karena mereka merasa khawatir dan takut. Selidik punya selidik, ternyata mereka melihat tampang Pak Maman mirip kepala tibum (Satpol PP). Namun, setelah melakukan dengan warga dan pemerintah setempat akhirnya Bahtera dapat diterima di kawasan ini.
Selain dilakukan di jalanan, sekarang ini proses pendampingan pun dilakukan di rumah belajar. Di rumah belajar ini anak-anak dapat belajar apa saja yang mereka sukai. Anak-anak pun diikut sertakan ke dalam Kelas Layanan Khusus (KLK) sebagai wahana transisional sebelum anak-anak merasa siap masuk kelas regular/formal. Semula Bahtera hanya menargetkan anak-anak dapat menulis dan membaca saja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai tuntutan, anak-anak pun diikut sertakan dalam program kesetaraan baik Paket A, Paket B sampai Paket C.
Selain pendampingan anak di jalanan dan rumah belajar, pendampingan pun dilakukan dengan cara home visit, yaitu dengan cara mengungjungi orang tua anak. Hal ini dilakukan agar orang tua mengetahui perkembangan anak-anak mereka yang lebih banyak hidup di jalan. Di samping itu, kegiatan ini pun diarahkan pada pemberdayaan para orang tua.
Pola pendampingan yang dilakukan Bahtera didasarkan pada kesepakatan bersama anak. Kesepakatan ini termasuk pada penyusunan modul-modul pembelajaran. Di samping penyusunan modul-modul ini, Bahtera pun mendampingi anak-anak untuk menulis beberapa literasi jalanan. Literasi jalanan yang ditulis anak-anak dalam perkembangannya sekarang telah dapat dibukukan. Bahtera pun melakukan pendampingan dalam penanganan kasus HIV/AIDS dengan beberapa pelatihan kesehatan reproduksi bagi anak. Bahtera pun acapkali mengadakan Pekan Hari Anak. Sejauh ini, Bahtera mendampingi ± 600 orang anak di sekitar Bandung.
Di akhir dialog muncul beberapa catatan bersama tentang proses yang telah banyak dilakukan oleh komunitas-komunitas pendidikan alternative. Sebagian besar komunitas mempunyai kelemahan di sisi dokumentasi dan analisa program, sehingga seringkali komunitas memulai segalanya dari nol apabila terjadi pergantuan kepengurusan. Komunitas-komunitas ini pun merasa perlu ada panduan bersama yang dapat dipergunakan oleh komunitas mana pun yang mempunyai concern yang sama di bidang pendidikan. Setiap komunitas pun perlu melakukan rekam jejak eksistensi mereka sejak awal berdiri sampai sekarang. (izoel_KerLiP)

Sekepicung, 29 Mei 2009

Sudah dua kali pertemuan saya tidak turut mendampingi warga belajar di daerah Cibacang - Sekepicung. Baru hari ini saya bisa mendampingi bersama Ova dan Wika. Saya datang di rumah belajar Bina Bakti Persada lebih awal sekira jam 2 siang. Baru Ova, Elis, Wika dan warga belajar lainnya secara berturut-turut datang ke rumah belajar.
Ova membukan kegiatan dengan salam dan review kegiatan sebelumnya. Hari ini, Ova meminta para warga belajar untuk menceritakan kembali kegiatan pada hari rabu 27 Mei, dua hari yang lalu. Pada hari itu, Ova mengajak para warga belajar untuk ikut belajar bersama komunitas Sahabat Kota di kawasan Sekeloa – Dipati Ukur.
Sebelum setiap warga belajar menceritakan kembali kegiatan pada hari Rabu, Ova mempersilahkan Rosmawati, salah seorang warga belajar yang baru hari ini ikut pendampingan, untuk memperkenalkan diri kepada seluruh yang hadir di rumah belajar. Setelah itu, Ova meminta setiap orang untuk mengungkapkan perasaan yang dirasakan pada saat memulai proses pendampingan sekarang dengan satu kata. Dan secara bergantian kami mengungkapkan perasaan kami dengan satu kata.
Selanjutnya, setiap warga belajar mulai menuliskan kesan dan persepsi mereka tentang kegiatan belajar bersama komunitas Sahabat Kota pada hari Rabu 27 Mei kemarin lusa. Mereka cukup antusias meski tak banyak yang mereka tulis karena bingung mereka mau cerita apa. Tampaknya, mereka merasa senang dengan kegiatan hari rabu kemarin.
Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah satu-persatu warga belajar menceritakan kegiatan kemarin. Agus atau sering dipanggil Itok, mulai bercerita di hadapan kami. Menurutnya, pada kegiatan kemarin, warga belajar diajak untuk turut belajar di kawasan sekeloa depan pom bensin Dipati Ukur. Di sana mereka diminta untuk membuat maket bangunan yang belum ada di kota Bandung. Ternyata, kata Itok, impian setiap orang itu berbeda-beda. Itok sendiri memimpikan dibangun candi di kota Bandung ini. Sebuah harapan yang unik, bukan?
Agus menunjuk Samsam untuk melanjutkan cerita. Samsam merasa senang dengan kegiatan kemarin karena ia dan teman-teman dapat berkenalan dengan orang-orang baru dari komunitas lain. Ia pun dapat sedikit belajar tentang arsitektur. Samsam dan teman-teman lainnya diminta untuk membuat sebuah maket bangunan secara berkelompok.
Giliran Nurjanah yang bercerita. Ia tidak banyak bercerita hanya mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan kemarin. Ia merasa senang dengan kegiatan kemarin, karena ia mendapatkan pengetahuan baru dan kawan-kawan baru dari komunitas Sahabat Kota.
Nurjanah menunjuk Ulfa untuk melanjutkan cerita. Ulfa merasa senang dengan kegiatan kemarin karena ia mendapat ilmu tentang arsitektur. Lebih menyenangkan lagi katanya, ketika ia dan teman-teman sekolompoknya bersama-sama membuat maket sambil diselingi canda-tawa. Ketika maket hasil kerja kelompok itu dipresentasikan kepada teman-teman yang lain, hasilnya cukup bagus. Ulfa berharap, semoga maket buatan kelompoknya itu dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Elis melanjutkan cerita. Semula dalam kegitan kemarin itu, ia merasa mengantuk. Kegiatan mulai meriah ketika ia dan teman-teman belajar membuat maket sambil bermain. Elis pun dapat mengetahui bangunan atau tempat yang diidamkan teman-teman. Dan kita bisa membuat sesuatu dengan apa saja yang ada di sekitar kita.
Aep, Adi dan Asep secar bergantian dan saling menimpali sama lain dengan canda mengungkapkan kesan-kesan mereka terhadap kegiatan kemarin. Menurut mereka, kegiatan kemarin itu cukup menyenangkan meski agak membingungkan. Mereka dapat berkenalan dengan teman-teman baru dan bisa saling bekerjasama. Adi dan kelompoknya membuat maket sebuah taman, adapun Asep membuat kereta gantung yang berpusat di terminal Cicaheum.
Ova pun tak ketinggalan untuk bercerita. Ia sengaja mengajak warga belajar ke Dipati Ukur, karena ia ingin mempelajari hah-hal baru khususnya bidang arsitektur. Ternyata belajar arsitektur tidak serumit yang selama ini ia bayangkan. Menurut Ova, kita bisa belajar dengan segala hal yang ada di sekitar kita. Dalam kegiatan kemarin, kita bisa berinteraksi dengan teman-teman baru. Bersama kelompoknya, Ova membuat maket Dago Tea House dengan beberapa pengembangan. Masih menurut Ova, dengan suatu simulasi dan ruang kebebasan berkreasi yang sangat terbuka seperti pada kegiatan kemarin, ide, kreativitas dan inovasi kita dapat mengalir dengan deras.
Ova : saya ingin belajar, khususnya tentang arsitektur. Ternyata belajar arsitektur tidak serumit yang selama ini saya bayangkan. Kita bisa belajar dengan apa yang ada di sekitar kita. Kita bisa berinteraksi dengan teman-teman baru. Kita bermimpi mengembangkan Dago Tea House. Semua ide dan kreativitas kita bisa mengalir deras.
Terakhir, secara bergantian Nurhayati dan Aisyah mengungkapkan kesan-kesan mereka tentang kegiatan kemarin. Keduanya merasa senang dengan kegiatan kemarin, karena mereka dapat belajar bersama dengan segala hal yang ada di sekitar kita. Akan sangat menyenangkan bila hasil yang kita buat sesuai dengan rencana sebelumnya. Proses belajar yang unik karena kita bisa belajar arsitektur, khususnya membuat maket, dengan apa saja yang ada di sekitar kita.
Setelah semuanya bercerita, Ova menutup kegiatan dengan suatu refleksi. Di akhir kegiatan, Pak Lala mengumumkan tentang akan diadakannya latihan keterampilan elektronik di rumah belajar Bina Bakti Persada pada setiap hari Sabtu.