Tampilkan postingan dengan label Kampanye dan advokasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampanye dan advokasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

PERS RELEASE “ DAK PENDIDIKAN UNTUK SEKOLAH AMAN” K

Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, anak-anak di sekolah merupakan komunitas yang sangat rentan terhadap bencana. Hal itu mengingat dari 1,2 miliar jumlah anak usia sekolah di seluruh dunia, sebanyak 875 juta siswa, termasuk di Indonesia, tinggal di daerah rawan gempa bumi. Ia menyayangkan banyaknya bangunan sekolah berkualitas di bawah standar, padahal sebagian besar kehidupan anak berlangsung di sekolah. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2010, jumlah sekolah Indonesia termasuk empat yang terbanyak di dunia. Dari 144.507 Sekolah Dasar, terdapat 76% atau 109.401 sekolah berada di provinsi dengan risiko gempa tinggi. Sebanyak 109.401 SD dari total 144.507 SD, 1.147 sekolah dari total 1.455 SLB, 18.855 dari total 26.277 SMP dan 7.237 dari total 10.239 SMA di Indonesia berada di kawasan dengan risiko gempa yang cukup tinggi.

Menurut paparan Wamendiknas dalam Refleksi satu tahun peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman di Jakarta 27 Juli 2011 lalu, saat ini ada lebih 120 ribu kelas di seluruh Indonesia yang masih rusak termasuk didalamnya yang terkena dampak bencana. Sebagai contoh, SD Sirnajaya II di Arjasari Kabupaten Bandung masih rusak akibat gempa Tasikmalaya yang terjadi 2009 lalu. Siswa masih belajar di emperan kelas yang masih roboh.

Pemerintah Indonesia sudah mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 % dari APBN. Pada tahun 2010, anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) fokus pada peningkatan mutu, sementara untuk DAK tahun 2011 akan difokuskan pada peningkatan mutu dan rehabilitasi sekolah. Alokasi DAK Pendidikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2003, anggaran DAK pendidikan Rp 600 miliar, tahun 2010 mencapai Rp 9.3 triliun, sementara tahun 2011 sebesar Rp 10.04 triliun.

Pemerintah bukan hanya berkewajiban merehabilitasi sekolah yang rusak, tetapi juga harus memastikan adanya jaminan keamanan, keselamatan dan kesehatan pada setiap anak di sekolah terutama di daerah berisiko bencana yang tinggi. Komitmen ini dinyatakan pemerintah dalam bentuk berikrar aman pada peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman di Jakarta 29 Juli 2010.

Sekolah aman adalah sekolah yang mengakui dan melindungi hak-hak anak dengan menyediakan suasana dan lingkungan yang menjamin proses pembelajaran, kesehatan, keselamatan, dan keamanan siswanya terjamin setiap saat. Sekolah aman adalah komunitas pembelajar yang berkomitmen akan budaya aman dan sehat, sadar akan risiko, memiliki rencana yang matang dan mapan sebelum, saat, dan sesudah bencana, dan selalu siap untuk merespons pada saat darurat dan bencana. Sekolah aman adalah sekolah yang menerapkan standar sarana dan prasarana yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungan disekitarnya dari bahaya bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data sekolah yang akan direhabilitasi pasca bencana. Di Sumatera Barat terdapat 8372 sekolah, Jawa Barat 4197 sekolah, Jawa Tengah 135 sekolah. Disamping perkuatan struktur dan faktor keselamatan bangunan lingkungan sekolah, BNPB juga sudah merekomendasikan kepada wakil menteri pendidikan nasional Panduan teknis Sekolah Aman untuk dilampirkan dalam Petunjuk Teknis DAK Pendidikan.

DAK dialokasikan dalam APBN untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah dan meningkatkan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber dayanya. Meskipun DAK termasuk ke dalam APBD, dalam pemanfaatannya, pemda harus mengikuti berbagai regulasi pusat, seperti Undang-undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden, Peraturan/Keputusan Menteri, Surat Edaran Direktur Jenderal, dan Surat Edaran Direktur departemen yang memperoleh alokasi DAK. Dengan banyaknya regulasi pusat tersebut, sangat sedikit daerah yang membuat regulasi untuk memerinci kebijakan pengelolaan DAK.

Dalam upaya mendorong adanya alokasi anggaran yang memadai agar semua anak Indonesia menikmati hak atas pendidikan terutama jaminan rasa aman, selamat dan sehat melalui rehabilitasi dan pembangunan ruang kelas baru sesuai dengan Panduan SEKOLAH AMAN, maka kami mendesak komitmen penuh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat :

1. Komisi X DPR RI untuk mempercepat pengesahan panduan teknis DAK pendidikan dengan panduan teknis sekolah aman untuk dimasukan sebagai lampiran.

2. Reformasi berbagai regulasi tentang organisasi dan tugas kementerian/lembaga perlu dilakukan agar pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah pada umumnya dan pengelolaan DAK pada khususnya dapat dilaksanakan dengan baik.

3. Penguatan pemerintah provinsi dalam hal kewenangan pengalokasian, pengkoordinasian, dan pengawasan pelaksanaan atas penggunaan DAK oleh pemerintah kabupaten/kota dengan sejumlah regulasi yang dapat menjamin terlaksananya transparansi, partisipasi, dan prosedur akuntabilitas yang jelas.

4. Peningkatan kesadaran dari para penentu kebijakan dan publik secara luas mengenai pentingnya Sekolah Aman untuk dimasukkan dalam strategi nasional.

5. Sanksi bagi aparat birokrasi, bukan daerah/rakyat secara keseluruhan, atas kelalaian mereka dalam mengelola DAK pada khususnya dan keuangan daerah pada umumnya perlu dikembangkan.

Jakarta, 1 Agustus 2011

Kordionator Kampanye dan Advokasi

Zamzam Muzaki

HP : 081221766512

Selasa, 07 Juni 2011

CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-2)

Dalam pendampingan posisi kita sebagai fasilitator tidak berarti menjadi guru bagi para warga dampingan, justru para fasilitator semestinya mendorong para warga dampingan menjadi subjek utama dalam melakukan perubahan-perubahan di komunitasnya sendiri. Itulah yang saya coba lakukan saat mendampingi ibu-ibu di BojongAsih.

Saya tidak sekedar mengeksplorasi masalah-masalah yang sering dihadapi oleh ibu-ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya, saya pun mencoba menggali prak

tek atau pengalaman baik yang pernah mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap pengalaman-pengalaman baik ibu-ibu di BojongAsih ini dapat menginspirasi ibu-ibu di tempat lain.

Beberapa pengalaman baik itu saya coba rangkumkan dalam tulisan ini.

Bu Yani (25 tahun), tertarik untuk mencoba mengikuti saran saya tentang membiasakan diri untuk bercerita atau mendongeng selama 20 menit saja kepada anak. Menurutnya ketika ia telah membiasakan diri untuk mendongeng terhadap Evan, anaknya yang berusia 2 tahun, Evan mulai banyak bercerita bahkan mendongengi ibunya sendiri serta mengalami penambahan perbendaharaan kata yang sangat significan.

Selain pengalaman di atas Bu Yani pun bercerita tentang pengalamannya menjalankan toilet training kepada anaknya, yaitu dengan membiasakan diri mengajak anaknya buang air kecil di kamar mandi dan member I kenyamanan kepada anak saat buang air.

Bu Hani (27 tahun) yang sering direpotkan dengan perselisihan dengan 2 orang anaknya ternyata sangat terbuka atau selalu memberikan waktu mendengarkan cerita-cerita dari kedua anaknya tersebut. Reina 7 tahun, anak pertama dari Ibu Hani, senantiasa merasa nyaman bercerita segala hal yang ia temui kepada ibunya baik di rumah maupun di sekolah. Adel (3 tahun) yang agak cerewet dan mempunyai daya imaginasi yang cukup kuat menemukan kenyamanan untuk mengungkapkan banyak hal kepada ibunya. Sikap ibu Hani seperti ini tentu saja akan sangat membantu proses tumbuh kembang anaknya di kemudian hari. Sebagai Ibu baru Ibu Pupung 25 tahun belum mempunyai banyak pengalaman terkait pengasuhan Rousan, anaknya yang baru berusia 7 minggu. Namun diantara kesibukkannya mengajar dan kuliah ia berusaha selalu memberikan ASI serta tetap memberikan kedekatan dan kenyamanan kepada anaknya.

Masih banyak pengalaman-pengalaman baik dari ibu-ibu di sekitar kita, sayang kita seringkali luput dari hal-hal tersebut. Padahal pengalaman-pengalaman itu akan memperkaya khazanah pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

izoel.080611

Jumat, 20 Mei 2011

Pers Release “20 Menit yang Memukau” Wahana Pendidikan Karakter berbasis Keluarga Menuju Keluarga Idaman

Bagi anak, orang tua adalah pendidik, perawat dan pengasuh yang pertama dan utama. Hampir setengah dari usia dini seorang anak berada dalam pengasuhan orang tua sepenuhnya. Hubungan dan kelekatan dengan pendidik pertama dan utama ini menjadi pola sosialisasi anak usia dini. Sayangnya, fakta menunjukkan ada sekitar 60 juta anak Indonesia menonton acara TV apa saja selama berjam-jam (Guntarto, 2006) bahkan anak-anak di Jakarta menghabiskan waktu untuk menonton TV 30-35 jam dalam sepekan (YKAI, 2002). Dalam rentang waktu yang hanya tersisa sedikit ditengah kesibukan orangtua bekerja mencari nafkah, orangtua harus kreatif memanfaatkan waktu berkualitas bersama anak.

Pemenuhan akan hak-hak anak menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua. Diperkirakan jumlah anak usia 0 - 6 tahun pada tahun 2010 mencapai sebanyak 29,8 juta atau 12.8% dari total penduduk 237,6 juta jiwa dan diantaranya ada 1.186.941 anak balita yang masih telantar (Pusdatin Kemsos 2009/2010). Rendahnya ketersediaan fasilitas layanan pengembangan anak usia dini, peraturan perundang-undangan yang belum sinkron dan belum optimalnya pelayanan bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, kemiskinan, kurangnya pengetahuan dan keterampilan pengasuhan orangtua dan keluarga, budaya lokal dan global yang masuk terutama melalui media TV yang tidak mendukung tumbuh kembang anak menjadi permasalahan tersendiri. Peningkatan akses pelayanan tumbuh kembang dan perlindungan serta peningkatan aksesibilitas anak usia dini yang holistik dan terintegrasi perlu diimbangi dengan penguatan kelembagaan keluarga terutama orangtua dan kapasitas kelembagaan perlindungan anak.

Kebutuhan anak atas perhatian dan pengasuhan intensif dari orangtuanya tidak dapat ditunda. Hubungan antar anak dan orangtua sangat menentukan pola perkembangan psikis, sosial, dan emosional anak di masa depan. Meskipun pola ini akan berubah dengan semakin besarnya bayi (anak) dan meluasnya lingkungan, tetapi pola intinya cenderung tetap. Inilah sebabnya mengapa hubungan yang baik antar anak dan orangtuanya sejak dini merupakan unsur yang sangat penting bagi perkembangan balita (Hurlock B.E, 93:1980).

Di sisi lain, orangtua akan selalu berkejaran dengan waktu karena anak terus tumbuh dan berkembang. Diperlukan komitmen dan kesungguhan orangtua untuk meningkatkan kemampuan berkreasi dalam mengisi waktu berkualitas bersama anak-anak. Di antara banyak metode yang dapat digunakan seperti permainan sederhana, bercerita, permainan sebab-akibat, dan permainan kata-kata, mendongeng diyakini efektif bagi pendidikan anak usia dini. Laura Numeroff pengarang dan illustrator cerita anak-anak terlaris versi New York Times, seperti dikutip kantor berita Xinhua mengatakan bahwa membacakan dongeng untuk anak selama 20 menit dapat meningkatkan kecerdasan dalam membaca dan menulis setara dengan sekurang-kurang-kurangnya belajar 10 hari di sekolah.

Kampanye “20 menit yang memukau: Wahana Pendidikan karakter Berbasis keluarga Menuju Keluarga Idaman (Indah, Damai dan Aman)” dipersembahkan bagi anak-anak Indonesia untuk merengkuh kembali kebahagiaan dan sukacita keluarga saat anak terlahir. Melalui rangkaian kegiatan yang diawali dengan Konferensi Pers di Hari Kebangkitan Nasional, penyusunan Panduan Pelatihan Mendongeng, Pelatihan Mendongeng bagi pendidik dan keluarga balita pada Hari Keluarga, Pencanangan Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Anak Usia Dini pada Hari Anak Nasional, Penyusunan dan Peluncuran Buku Dongeng Nusantara terkait budaya aman dari berbagai pelosok nusantara dan diakhiri dengan Festival Kreasi dan Inovasi Pendidikan Karakter Idaman (Indah, Damai dan Aman) di keluarga, sekolah dan komunitas, diharapkan akan membangkitkan kesadaran semua pemangku kepentingan terutama orangtua dalam memanfaatkan waktu berkualitas bersama anak.

Kami mengajak semua pihak untuk mendukung gerakan keluarga peduli pendidikan anak usia dini dengan cara:
1. Membiasakan mendongeng dalam mengisi 20 menit yang memukau sebagai wahana pendidikan karakter idaman (indah, damai dan aman) di keluarga, sekolah dan komunitas;
2. Memberdayakan masyarakat dan dunia usaha terutama untuk PAUD HI bagi keluarga balita miskin dan sangat miskin;
3. Meningkatkan komitmen, kordinasi dan kerjasama antara pemerintah, pemerintah daerah, sector usaha, media, lembaga penyelenggara layanan, dan masyarakat;
4. Mendorong pemerintah untuk memperkuat dan harmonisasi landasan hukum dan alokasi anggaran yang memadai untuk memastikan setiap anak Indonesia menikmati layanan Pengembangan Anak Usia Dini holistik-integratif.


PANITIA BERSAMA GERAKAN KELUARGA PEDULI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
1. Perkumpulan KerLiP (Yanti 08122055069)
2. Komunitas Dongeng DAKOCAN (Ivan 085366490538)
3. Smile (Safer Milennium- Ova 085220701021)
4. PPAM (Pusat Penelitian Pendidikan Anak Merdeka-Lovely 081377912097)
5. Tim Penggerak PKK DKI Jakarta (Ibu Aty 08164803628)
6. Yayasan Darul Hikam (Pak Sodik 08121491491)
7. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Minggu, 21 Juni 2009

PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN : SEKARANG!

KERANGKA ACUAN LOBBY AKBAR ANAK BANGSA

1. PENDAHULUAN

Pemenuhan hak atas pendidikan merupakan proses yang sedang berjalan, demikian juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai Pendidikan untuk Semua (PUS). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas kenyataan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia yang mendasar dan telah menekankan pentingnya aksi pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis hak asasi manusia yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara. Agar pendidikan dapat disediakan (available); Pemerintah perlu menjamin pendidikan tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut untuk menghargai kebebasan para orang tua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan; Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible); penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang hak asasi manusia internasional perlu menjadi prioritas kebiajakan pendidikan; Agar pendidikan dapat diterima (acceptable); hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran; Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable); pendidikan perlu mengakomodasi dan menyesuaikan minat utama setiap individu anak.



Sayangnya sampai saat ini sistem pendidikan kita masih jauh dari harapan untuk dapat memenuhi hak warga negara atas pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia. Masih banyak kelompok masyarakat yang sulit mendapatkan hak atas pendidikan sebagai perlindungan HAM terutama anak-anak korban bencana, di daerah konflik, terpencil dan perbatasan negara. Guna mendesak para calon presiden untuk mengalokasikan anggaran sekurang-kurangnya 20% serta kekuasaan politiknya untuk mewujudkan EFA sebagai pengakuan mereka terhadap Pendidikan sebagai Hak Asasi Manusia, kami bermaksud menyelenggarakan LOBBY AKBAR ANAK BANGSA ; PENUHI HAK WARGA NEGARA ATAS PENDIDIKAN : SEKARANG!



Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memastikan para calon presiden dan wakil presiden menjalankan amanat UUD 1945 dan amandemennya untuk memastikan semua anak bangsa Indonesia mendapatkan Hak Atas Pendidikan sebagai dasar bagi pemenuhan Hak Asasi Manusia. KerLiP bersama mitra strategis memfasilitasi anak-anak bangsa melakukan Lobby Akbar bersama para calon presiden dan wakil presiden untuk berkomitmen penuh menjalankan UUD 1945 dan amandemennya secara murni dan konsekuen terutama dalam konteks Pendidikan sebagai Hak Asasi manusia.

B. DAMPAK YANG DIHARAPKAN:



1. Meningkatnya komitmen pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyediakan anggaran yang memadai untuk pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas, bebas biaya sepanjang hayat.

2. Tidak ada seorang anak bangsa pun yang kehilangan hak atas pendidikan berkualitas, bebas biaya sepanjang hayat pada pemerintahan 2009-2014



C. TUJUAN KEGIATAN :



1. Adanya komitmen tertulis dari para calon presiden untuk berkomitmen penuh menghapus seluruh peraturan-perundang-undangan di bidang pendidikan yang tidak konsisten dengan UUD 1945 dan amandemennya

2. Meningkatkan efektivitas partisipasi anak bangsa dalam membangun solidaritas untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional



D. RENCANA PELAKSANAAN



Tanggal 20-23 Juni 2009

1. Penyebaran undangan ke sekolah, TKBM SMP Terbuka, komunitas belajar kelompok marjinal, anak-anak berkebutuhan khusus untuk berpartisipasi dalam kegiatan LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN. SEKARANG

2. Penyampaian surat ke KPUD dan Tim sukses para Calon Presiden

Tanggal 24 Juni 2009

Pelaksanaan pelatihan partisipasi anak di Sekretariat KerLiP

Peserta : 50 anak usia 10-18 tahun perwakilan sekolah dan pendidikan alternatif

Materi :

- Pengkondisian dan Perkenalan peserta

- Ungkap Kasus : pengungkapan kasus-kasus pelanggaran hak atas pendidikan oleh perwakilan peserta

- Bedah buku, ” Meneropong Pemenuhan Hak atas Pendidikan di Indonesia”

- Action Plan : penyusunan rencana-rencana tindakan anak untuk mendorong pemenuhan hak atas pendidikan

- Action Plan 2 : pengorganisasian peserta

a. Pembagian tugas dan peran peserta dalam LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN, SEKARANG!

b. Bedah agenda LOBBY AKBAR ANAK BANGSA

c. Agenda koordinasi tim Lobby dan Audiens

- Evaluasi kegiatan pelatihan

- Persiapan tim Lobby



27 Juni 2009

Press Conference LOBBY AKBAR ANAK BANGSA : PENUHI HAK ATAS PENDIDIKAN, SEKARANG!

PIC : Ketua Tim Lobby dari Peserta Pelatihan

Koordinator Kampanye dan Advokasi KerLiP



27-28 Juni 2009

MC : Dick Doank dan Desy Ratnasari*(MASIH DALAM KONFIRMASI)

Moderator : Muhammad Zakky Anwar dan Rinie Indira

Peserta : 300 anak perwakilan sekolah dan pendidikan alternatif

Organizer : tim peserta pelatihan partisipasi anak

Tempat : Prefere 72, Noodle, Coffee dan Cafe

Jl. Ir. H. Juanda No 72 Bandung 40132

10.00-12.00

Bahana Anak Merdeka

Persiapan gerai pameran

Panggung ‘berani merdeka’

13.00-14.00 Makan Siang

14.00 – 15.30 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden

15.30 – 16.00 Rehat

16.00 – 17.30 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden

17.30- 19.30 Makan Malam

19.30 – 21.00 Dialog Perwakilan Anak Bangsa dengan Calon Presiden


MANAJEMEN



Penanggung Jawab/Kordinator Utama: Ketua Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan

Kordinator Teknis : Zamzam Muzakky

Pelaksana Teknis : Rijaludin, Ova, Nur Afiatin, Fitry, Ferry



SEKRETARIAT PANITIA

Perkumpulan KerLiP Jl. Dago Elos V No 423 Bandung 40135

Tlp/fax : 62-22-2505116

Email : rumahkerlip@gmail.com

Site : http://rumahkerlip.blogspot.com


--
Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP)
Wisma Kodel Lt.11 Jl. HR. Rasuna Said Kav B-4 Kuningan Jakarta Selatan 12920
tlp/fax : 021-98941322/5221457
email : rumahkerlip@gmail.com
Page Rank Check,
HTML Web Counter