Minggu, 31 Agustus 2008

Komunitas Sekolah-rumah

Disunting dari artikel fi Kompas 2007

Memindahkan anak-anak dari sekolah secara permanen menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara homeschooling alias sekolah-rumah. Bagi masyarakat kita, ijazah masih menjadi satu-satunya modal untuk meningkatkan taraf hidup. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini sumber daya sekolah di Indonesia diarahkan untuk selembar ijazah yang diperoleh dengan sistem penilaian sesaat untuk menentukan kelulusan.

Belajar tiga tahun di sekolah menengah seolah tidak berarti apa pun dalam menentukan kelulusan dari sekolah. Akibatnya, guru-guru, sekolah, bahkan dinas terkait mengarahkan anak-anak untuk mengejar nilai akhir. Jika demikian halnya, apa jadinya anak-anak bangsa di masa depan?

Sejatinya, pemenuhan hak atas pendidikan menjadi komitmen pemerintah. Demikian juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai pendidikan untuk semua (education for all). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia (HAM) dan telah menekankan pentingnya komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis HAM yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara.

Menurut Katarina Tomasevski dalam buku Pendidikan Berbasis Hak Asasi, agar pendidikan dapat disediakan (available) pemerintah perlu menjamin pendidikan tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut menghargai kebebasan para orangtua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan berkualitas.

Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible), penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang HAM internasional perlu menjadi prioritas kebijakan pendidikan. Agar pendidikan dapat diterima (acceptable), hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran. Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable), pendidikan perlu menyesuaikan minat utama setiap individu anak.

Di tengah keengganan pemerintah untuk mendengar amanat hati nurani warga negara terkait dengan korban UN 2006 dan memenuhi amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas mengenai anggaran 20 persen dari APBN dan APBD, ada secercah harapan dengan adanya pengakuan Direktorat Kesetaraan Ditjen PLS Depdiknas terhadap komunitas sekolah-rumah.

Pendidik terbaik

Apakah saya dapat menjadi pendidik? Hampir semua orangtua akan bertanya seperti ini ketika memutuskan untuk memilih sekolah-rumah sebagai model pendidikan bagi anak-anak. Apakah mungkin bagi orangtua untuk beralih fungsi menjadi guru bagi anak? Bukankah perlu waktu bertahun-tahun untuk memenuhi kualifikasi guru?

Jawabannya adalah "ya". Namun, belajar di sekolah sangat berbeda daripada belajar di sekolah-rumah. Pengelompokan anak-anak sebaya dengan minat dan kemampuan yang berbeda selama 6-7 jam sehari dalam satu ruang kelas pasti memerlukan profesional yang sejahtera.

Bagi anak, mengembangkan potensi secara aktif berarti melestarikan pengetahuan, penguasaan, dan kebajikan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan dalam bimbingan pendidik terbaik. Homeschooling atau sekolah-rumah tidak menuntut orangtua menjadi guru layaknya guru dalam ruang kelas. Cukup dengan mendorong anak untuk menumbuhkan pengalaman belajar dalam balutan cinta, kasih sayang, dan kehangatan keluarga. Keberhasilan sekolah-rumah sebenarnya sudah dimulai ketika orangtua menyadari bahwa tiap anak adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan.

Pengalaman belajar kami sebagai orangtua diperoleh ketika Zakky (11), anak kami, disiapkan untuk sekolah-rumah sejak Oktober 2005 dan berhenti dari sebuah sekolah alternatif di Jakarta. Sebelumnya, Zakky mendapatkan model pendidikan anak merdeka dari kelas I sampai IV di SD Hikmah Teladan Cimahi. Tujuh bulan lamanya masa transisi dari sekolah ke sekolah-rumah kami lalui dengan membaca sejarah penemu dan ciptaannya serta melatih cara berpikir kritis, peduli, dan kreatif untuk menjalankan kembali pendidikan anak merdeka.

Sejarah merupakan gerbang yang membuka cara berpikir dan imajinasi jauh melebihi dataran, waktu, dan peradaban manusia. Cerita atau dongeng sejarah membantu anak-anak memahami bagaimana orang- orang pada waktu dan tempat yang berbeda, bagaimana perbedaan karakteristik masyarakat dan peradaban manusia berubah dan bagaimana mereka bisa bersama-sama menghasilkan karya- karya terbaik yang tak lekang oleh zaman. Cerita-cerita terpilih seperti kisah para nabi, biografi penemu-penemu ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sejarah bangsa-bangsa mendorong motivasi berprestasi, cara menyikapi kegagalan dan kajian untuk bertahan hidup.

Cerita Fitry (15) tentang mitologi dari negara Skandinavia mengenai penciptaan dunia manusia yang diperolehnya saat menelusuri referensi tentang gerhana matahari, atau antusiasme Zakky menggali referensi tentang sejarah penciptaan alam semesta setelah keluar dari planetarium, menyadarkan saya akan waktu-waktu berharga untuk tumbuh bersama anak-anak yang sudah lama hilang. Anak- anak pada dasarnya telah jadi pendidik terbaik.

Awalnya, kami memfasilitasi pembelajaran Zakky dalam bentuk menyediakan guru dari SD Hikmah Teladan dan mengajak keluarga penggiat sekolah-rumah lainnya untuk bergabung. Setelah mencari informasi dari beragam sumber, kami memutuskan untuk membuka komunitas sekolah-rumah dengan menguatkan partisipasi anak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Pengajaran harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta memperkokoh rasa penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan asasi. Pengajaran harus mempertinggi saling pengertian, rasa saling menerima, serta rasa persahabatan di antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan atau golongan penganut agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian.

Dalam konteks ini, komunitas sekolah-rumah sebagai model pendidikan kesetaraan yang diakui pemerintah ditantang untuk bisa menjamin perlindungan anak agar tidak menyalahi prinsip penyelenggaraan yang diamanatkan UU Sisdiknas maupun praktik indoktrinasi yang mengarah pada fanatisme.

Modal belajar

Penyelenggara sekolah-rumah tidak perlu berlelah-lelah dengan batasan kurikulum dalam sebuah kelas yang disibukkan oleh 24 anak, bahkan lebih. Ketika hambatan terhadap penghargaan ditiadakan, minat dan kemampuan anak terus digali serta tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, maka budaya belajar jadi niscaya.

Masalahnya, belum banyak orangtua yang yakin dapat mempraktikkan hal ini. Seminar, lokakarya, dan pelatihan parenting mungkin dapat membantu. Tapi, ini belum lengkap tanpa pendampingan program belajar keluarga.

Menghadirkan fasilitator yang berpengalaman dalam mengimplementasikan pendidikan anak merdeka dalam Forum OK! (Obrolan Keluarga) ternyata dapat memperkuat komunitas sekolah-rumah.

Setiap keluarga penyelenggara sekolah-rumah dapat berbagi pengalaman belajar sambil mendiskusikan perkembangan anak- anak dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Bahkan, kini sudah ada asosiasi sekolah-rumah dan pendidikan alternatif yang diharapkan dapat menjadi badan amanah bagi komunitas sekolah-rumah dan pendidikan alternatif di Indonesia.

Seluruhnya menjadi modal belajar yang sangat berarti bagi komunitas sekolah-rumah. Apalagi jika komitmen pemerintah dan pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran yang memadai bagi pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas dan bebas biaya tidak hanya bagi anak-anak sekolah, tetapi juga bagi pelaksana sekolah-rumah dan pendidikan alternatif segera direalisasikan.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Akhir pekan di SMP Bhakti Nusantara 2

Laporan keuangan tahun pelajaran 2006/2007 dan 2007/2008 yang disusun Ibu Tuti sangat membantu untuk bahan penyusunan RAPBS 2008/2009. Adzan Subuh terdengar di kejauhan saat RAPBS berhasil disusun. Menuju sekolah ramah anak di SMP Bhakti Nusantara dimulai dengan keterbukaan dan dorongan agar keluarga berpartisipasi aktif dalam memantau, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi seluruh aspek yang diperlukan untuk mengembangkan diri anak-anak. Tepat pukul 07.15 aku tiba di rumah Kepala Sekolah. Bahan-bahan yang disiapkan seperti draft KTSP, RAPBS, Neraca RAPBS segera difotokopi oleh Pak Tisna. Ternyata ada kesalahpahaman. Orang tua siswa sudah lama menunggu di sekolah saat Ibu Rini menemuiku di rumah Bu Aida. Di gerbang masjid ada seorang ibu yang bergegas pulang dan menyatakan kekecewaannya karena sudah 90 menit menunggu. Lebih dari 20 orang berdiri di halaman aula Yayasan dan segera memasuki ruangan. Pertemuan diawali dengan beberapa informasi perkembangan anak-anak selama aku mengajar. Terlihat antusiasme beberapa orang tua yang berkomitmen untuk memantau perkembangan putra-putri mereka di rumah. Beberapa kasus yang mengindikasikan terjadinya bullying kupaparkan. Respon dari orang tua sangat menarik. Mereka cukup sabar untuk menahan keingintahuan tentang biaya yang biasanya disampaikan setiap pertemuan manajemen sekolah bersama orang tua siswa. Kutegaskan bahwa masalah keuangan sepenuhnya akan dibahas bersama Bu Aida.
Diskusi seputar draft KTSP SMP Bhakti Nusantara mulai beralih ke keuangan setelah Pak Agus, salah satu orang tua yang dipilih menjadi ketua Komite Sekolah mencermati neraca yang dibagikan. RAPBS lengkap yang disiapkan terbatas diberikan kepada Pak Agus untuk rincian neraca. Pak Agus menyoroti Upah SDM yang disebutkan untuk 1 orang sebesar FRp 4.000.000/bulan. Rupanya Pak Agus kurang menyimak beberapa catatan yang disampaikan pada awal pertemuan.
Setiap guru mendapatkan upah Rp 10.000/tatap muka tanpa dikali 4 ditambah tunjangan transport Rp 5.000/kehadiran. Orang tua manggut-manggut ketika disampaikan betapa kecilnya upah SDM di sekolah ini. Mereka bersedia untuk ikut memperjuangkan agar dana BOS ditingkatkan untuk memberikan Upah Minimum Layak hidup bagi guru, buku pelajaran gratis, penambahan dan perbaikan sarana dan operasional sekolah. Sampai saat ini selain SPP Rp 75.000/bulan orangtua juga dibebani biaya-biaya lainnya sebesar Rp 200.000-Rp 300.000 untuk ulangan, ujian dan kegiatan 1 tahun. Biasanya mereka memberikan dalam bentuk cicilan. Advokasi untuk sekolah gratis juga di sekolah swasta tanpa menyengsarakan guru menjadi prasyarat utama terpenuhinya hak atas pendidikan dan perlindungan hak-hak anak. Semoga orangtua SMP Bhakti Nusantara tetap teguh untuk ikut berjuang.

Akhir pekan di SMP Bhakti Nusantara

Sejak subuh kutekuni rencana pengembangan SMP Bhakti Nusantara. Satu per satu jawaban guru dan TU untuk setiap point mulai dari visi menjadi sekolah ramah terbaik di Indonesia sampai analisa SWOT SMP Bhakti Nusantara kubaca kembali. Tak Ada yang berubah, bahkan sebagian besar menyatakan kesediaan untuk berkomitmen penuh terhadap seluruh draft bahan KTSP SMP Bhakti Nusantara ini. Genap satu bulan setiap Senin, Rabu dan Jum'at kutemani anak-anak belajar. Anak-anak sangat antusias menanyakan kelanjutan diskusi pendidikan yang sudah mereka ikuti pada hari Rabu lalu. Akbar dan ketiga temannya sibuk menyusun laporan kegiatan diskusi. Anak-anak perempuan di kelas VIII berdiskusi menyimak buku sekolah elektronik Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku tentang menyimak laporan. Ervan, Amin dkk berebut membuka bse yang ada di laptop. Aku lebih tertarik melibatkan Haikal, Marbiansyah, Eva, Rahman dan Fahri dalam kegiatan belajar menyusun laporan. Haikal dan Fahri saling tuding menyebutkan bahwa seminggu ini mereka kena skorsing Bu Rini karena ketahuan merokok oleh Pak Lukman. Meski terlihat ragu-ragu, Rahman bersedia menjadi MC dan mempersilakan Haikal menyampaikan laporan lisan tentang tidak enak merokok. Berkali-kali Fahri menyangkal pernyataan Haikal. Fahri siap menyampaikan laporan pembelaan setelah Haikal selesai menjawab berbagai konfirmasi dan klarifikasi atas laporan yang disampaikannya di depan kelas.
Teman-teman Haikal menyimak laporan Haikal dan Fahri. Nampaknya mereka masih kebingungan menggunakan formulir untuk menyimak isi laporan yang mereka salin dari BSE. Tidak lama kemudian bel berbunyi, saatnya pindah ke kelas VII. Anak-anak kelas VII paling senang belajar berkelompok. Kali ini mereka belajar menulis cerpen berkelompok, pengumuman mengikuti format seperti yang tertera di BSE, menulis laporan kegiatan belajar dan menyusun cerita berantai.
Mereka sepakat untuk menyusun hasil kegiatan belajar hari ini pada mading kelas VII edisi kedua. Kita tunggu.

Bel pulang sudah berbunyi. Bu Rini dan bu Tuti sedang bersiap untuk pulang saat aku sampai di kantor. Keduanya sangat penting untuk menuntaskan identitas sekolah dalam format KTSP yang sedang kususun. Bu Rini langsung mengetik data-data yang diperlukan pada tabel yang sudah kusediakan di halaman-halaman tertentu. Bu Tuti menyiapkan laporan keuangan tahun pelajaran 2006/2007 dan 2007/2008. Rupanya data SMP Bhakti Nusantara belum diketik di komputer kecuali keuangan. Laporan keuangan yang disusun Bu Tuti sangat membantu dalam penyusunan RAPBS 2008/2009 dengan menganalisan laporan tersebut. Ada konsultan teknik yang datang untuk klarifikasi berbagai hal penting terkait dengan RKB SMP Bhakti Nusantara. Tidak lama Aida pun datang. Dia sedang sibuk promosi Herba Life. Rapat persiapan pertemuan dengan orang tua murid terpaksa ditunda karena harus menghadiri Diskusi di LBH Jakarta.Bagian ini bisa dilihat di http://fgii-federasiguruindependenindonesia.blogspot.com

Rabu, 27 Agustus 2008

fakta dan opini

Rabu, 27 Agustus 2008

Hari ini, Zakky dan Icha kembali ikut masuk di kelas
Icha duduk di bangku depan diantara dua anak saat aku masuk ke kelas VII. Zakky masih terlihat menjaga jarak dan memilih duduk di bangku belakang. Seperti biasanya, Zakky menjadi notulen kegiatan belajar.
Beberapa anak yang membawa perlengkapan untuk membuat mading berkumpul di depan kelas. Sisanya menyusun cerita berantai bersamaku. Sebelum dimulai anak-anak sepakat menyusun rubrik karya pantun, puisi, drama, cerita, gambar, dan wawancara tebntang SMP Bhakti Nusantara. Awalnya mereka masih memilih berita dari koran bekas dan menempelkan salah satu berita tentang resensi film di pojok kiri bawah kertas kalender yang menjadi media mading. Setelah diingatkan kembali untuk memilih karya-karya terbaik sesuai dengan pembagian tugas sebelumnya, anak-anak mulai asyik menggunting. Aku menggunting huruf-huruf terpilih dari koran bekas untuk judul karya mandiri. Revda menuliskan judul mading yang disepakati, Novia mendampingi Bahatiar dan Reza mewawancarai kepala sekolah untuk rubrik sekolah kami. Hasna dan Chandra sibuk membuat pantun baru, Monik menuliskan kembali dialog yang menjadi bahan drama yang sudah diperankannya bersama Hasna pada pertemuan sebelumnya, Rahma menuliskan ceritanya. Bahtiar, Reza, Lutfi, Ervan, Chandra, dan Agung baru saja menyelesaikan cerita berantai. Menarik sekali mendengar Chandra berulang-ulang menyambung cerita teman-temannya setelah berkali-kali menyatakan tidak bisa mengarang. Lebih menarik lagi melihat tim kecil ini berhasil menyusun ceritan yang diberi judul mandiri oleh Lutfi. Notulen cerita berantai disusun oleh Zakky sedangkan Lutfi menceritakannya kembali dengan bahasanya. Kedua cerita tersebut ditempel di mading bersama karya mandiri lainnya. Faris, Ervan, Bunga, Novia dkk menggunting huruf-huruf dari koran dan menempelkan nama mereka di mading tersebut. Revda menghiasi mading dengan gambar. Dengan bangga anak-anak menempelkan mading mereka di dinding sebelah kiri papan tulis. Mereka berjanji untuk memperbaharui mading tersebut setiap bulan. Semoga!

Tidak lama kemudian bel berbunyi. Aku masuk ke kelas IX. Beberapa anak yang biasa menunggu diluar kelas, satu-per satu masuk dan mengeluarkan LKS masing-masing. Rizki bersedia membagikan buku tulis teman-temannya. Aku minta maaf karena tidak memeriksa hasil belajar anak-anak pada hari Senin yang lalu. Kuminta mereka untuk melanjutkan menulis cerpen bebas yang mengikat makna hidup masing-masing. Rizki mengajukan usul untuk mengerjakan LKS. Kutawarkan pada anak-anak untuk memilih LKS atau membuat cerpen. Hanya ada 3 anak yang mau menulis cerpen, sisanya ingin mengerjakan LKS halaman 17-18. Akhirnya mereka sepakat untuk menulis cerpen di rumah sebanyak 750 kata dan menyelesaikan LKS. Kutinggalkan kelas sebentar untuk menenangkan diri di kantor. Bagaimanapun sulit bagiku menerima kenyataan bahwa anak-anak lebih senang mengerjakan soal. Tapi aku harus belajar untuk mengakomodasi keinginan anak-anak sambil melihat kemungkinan untuk menemani mereka belajar lebih konstruktif.
Ketika kembali ke kelas, beberapa anak terlihat diluar kelas. Tidak lama kemudian anak-anak menyerahkan LKS masing-masing. Melihat tumpukan LKS tersebut, kupikir lebih baik melibatkan anak untuk menilai hasil belajar mereka. Rizki menyediakan diri untuk membagikan LKS secara acak dengan catatan tidak ada satu pun anak yang mendapatkan LKSnya. Anak-anak menyebutkan jawaban setiap soal. Kesempatan belajar terbuka ketika ada jawaban yang berbeda untuk soal yang terkait dengan fakta, opini, kalimat pengandaian dan perbandingan. Cara asyik Cari tahu pun dimulai. Anak-anak dibimbing untuk mencari perbedaan fakta dengan oping, kalimat pengandaian dengan perbandingan, kata dengan makna yang diperluas dan dipersempit. Rencananya kegiatan CACT ini akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya.

Di kelas VIII kukihat LKS mereka sekilas. Materi penyusunan laporan kupilih untuk mengangkat masalah yang mereka hadapi. Hari ini anak-anak kelas VIII disetrap oleh Bu Ria. Aku yakin tidak ada satupun dari mereka yang menyukai perlakuan tersebut. Satu anak menunjukkan kertas kosong untuk pembuatan buku teka-teki kelas yang disepakati pada pertemuan sebelumnya. Namun kualihkan anak tersebut dan bersama-sama dengan anak lainnya menyusun laporan kegiatan hari ini. Kutuliskan langkah-langkah penyusunan laporan mulai dari hari, tanggal, tim penyusun, fakta, opini, kesimpulan dan evaluasi. Selain Akbar,anak-anak memilih berkelompok. Aku senang melihat mereka mengerjakannya sambi sesekali bertanya untuk mencari tahu apa yang dimaksud dengan fakta, opini, kesimpulan, dan evaluasi. 45 menit kemudian anak-anak menunjukkan laporan kegiatan individu dan kelompok. Fakta bahwa mereka disetrap ditulis lengkap dengan rinciannya. Opini diisi dengan pendapat mereka tentang perlakuan tersebut. Dua kelompok menuliskan usul perbaikan model hukuman jika mereka melanggar kesepakatan, kelompok lainnya menuliskan perasaan tidak suka terhadap perlakuan tersebut. Beberapa catatan untuk mendorong mereka mengisi opini lengkap dengan usulan kutuliskan pada kertas kerja anak-anak.
Sebelum pulang, anak-anak kuminta untuk menyusun opini tentang sekolah gratis. Fakta bahwa anak-anak masih membayar SPP dan LKS serta adanya peraturan dalam UUD 1945 dan UU Sisidiknas menjamin pendidikan dasar 9 tahun dibiayai pemerintah dan pemerintah daerah menjadi bahan kajian berikutnya.

Ada 10 anak kelas IX dan VII yang bersedia mengikuti diskusi pendidikan dengan tema mengusung APBN pendidikan yang memperbaiki kondisi belajar peserta didik dan kondisi kerja guru (non PNS) yang diselenggarakan oleh FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) di wisma Kodel. Kami berjalan beriringan menuju halte Busway Pasar Genjing. Bela dan Irni mengubah panggilan terhadapku. Agak jengah ketika mendengan anak-anak memanggil mamah kepadaku. Mungkin karena tidak terbiasa ya.
Anak-anak terlihat antusias saat diminta memperkenalkan diri. Mereka juga menyimak dengan seksama paparan dari Ketua Umum DPP FGII, pengamat pendidikan dan rektor UHAMKA. Rizki, Bela, Akbar, Reza, Irny menyampaikan harapan mereka untuk mendapatkan sekolah gratis, buku gratis, transportasi gratis, perbaikan laboratorium, perpustakaan, WC, bahan-bahan praktek, dan kelas tanpa membebankan biaya kepada anak-anak. Mereka juga tidak lupa menyampaikan tentang perlunya peningkatan gaji guru. Reza bilang gaji guru sebaiknya Rp 6.000.000. Semoga didengar pemerintah dan pemerintah daerah ya.

Jumat, 22 Agustus 2008

teka-teki

Rasa kantuk belum juga sirna ketika pembelajaran hari ini dimulai.
Anak-anak sedang asyik main tebak-tebakan.
"Selamat pagi anak-anak. Maukah kalian meneruskan permainan dengan membuat teka-teki?" tanyaku membuka dialog dengan anak-anak kelas VII.
"Apakah kalian pernah mengisi teka-teki?" Tanyaku lagi.
"TTS ya, Bu!" seru Haikal
Anak-anak mengangguk setuju untuk menyusun teka-teki secara berkelompok dan perorangan. Ada yang mengusulkan penggunaan antonim, sinonim, nama lain, definisi, dan sebagainya.
Sengaja kupilih bangku paling belakang untuk menemani anakku bermain kata di laptop. Satu per satu menghampiriku untuk konfirmasi bentuk teka-teki yang dibuatnya. Beberapa anak terlihat menuliskan teka-teki masing-masing di papan tulis. Anak-anak mulai asyik bertukar kata sementara yang lainnya bergegas mencari buku-buku cerita untuk mencari kata-kata. Pabrik kata-kata pun mengalir dari alat tulis mereka. Ternyata tidak perlu ke Joger Bali ya untuk menemukan kata-kata.

Ada tiga bentuk teka-teki yang dibuat anak-anak. Masing-masing menunjukkan kehebatan mereka menyusun pertanyaan dari jawaban yang sudah ditulis pada rangkaian kotak untuk teka-teki mereka. Anak-anak sepakat untuk membuat buku teka-teki karya kelas hari Rabu yang akan datang.

Buku-buku cerita yang diambil anak-anak kelas VIII dari perpustakaan kubagikan untuk setiap bangku di kelas VII. Mereka masih lupa membawa perlengkapan untuk pembuatan majalah dinding. Ada beberapa anak yang membawa, tapi kesepakatannya, mading tersebut dibuat dengan kontribusi setiap anak. Akhirnya mereka asyik membaca buku-buku cerita tersebut. Faris jadi anak pertama yang kupanggil untuk membaca 1 menit dan menghitung kata-kata yang dibacanya serta menyebutkan kata yang diingat selama membaca. Jumlah kata yang relatif lebih kecil dari teman-temannya mendorong Faris untuk membaca ulang buku lainnya. Dan ternyata kecepatan membacanya bertambah. Rata-rata kecepatan membaca anak-anak kelas VII 101-162 kata per menit. Kata-kata yang mereka ingat 2-9 kata. Belum ada satupun yang memahami bacaan masing-masing. Mereka sepakat untuk membawa buku cerita masing-masing dan menceritakan kembali secara tertulis dalam 3 paragraf. Semoga mereka tidak lupa lagi ya

Senin, 18 Agustus 2008

Pekerjaan

Satu per satu anak-anak datang membawa buku tulis mereka.
Mila unjuk tulis terbarunya. Dia sudah bisa menulis nama-nama dari huruf A.
Rina dan Irma lupa mengerjakan CACT puasa dan berjanji untuk menyelesaikannya Kamis nanti. Selesai berdoa bersama-sama, review pembelajaran sebelumnya pun dilakukan.
Satu per satu menyebutkan kembali definisi kepala keluarga. "Bu, Irma mau bekerja setelah besar nanti," seru Rina. "Iya Bu, saya mau bekerja di PD menjadi penjaga toko yang menjual baju," seru Irma menyusul. "Rina mau bekerja juga? tanyaku. "Aku mau seperti Irma, bekerja di toko baju," jawab Rina. "Kalau aku mau jadi raja," kata Mila. "Aku juga mau seperti Mila," kata Desi. Keempat anak tersebut ingin segera bekerja dan membantu menfkahi keluarga masing-masing. Mereka siap menjadi kepala keluarga seperti yang mereka definisikan sebelumnya. Ah, anak-anak...

Pekerjaan dan pekerja anak menjadi topik diskusi hari ini. Anak-anak memisahkan jenis pekerjaan berdasarkan ada tidaknya bos dan kebutuhan surat lamaran.
Pekerjaan-pekerjaan yang disebutkan ada bosnya pasti memerlukan surat lamaran : penjaga toko, menjadi anak buah penjual kantong dan emas serta pembuat dan penjual kulit lumpia. Sedangkan pekerjaan yang dilaksanakan secara mandiri dengan sarana milik sendiri tidak memerlukan surat lamaran contohnya adalah tukang ojek engan sarana motor dan bensin, pembuat dan penjual emping memerlukan martil, batu, tampah, penggorengan, dan pasir serta tukang parkir yang memerlukan peluit untuk bekerja.

Anak-anak cukup antusias belajar dari keseharian mereka. Mudah-mudahan bisa mengembalikan indahnya dunia belajar bagi mereka ya

Minggu, 17 Agustus 2008

pelatihan fasilitator di Bandung

keluarga Indobnesia,

Relawan KerLiP di Bandung berhasil menyelenggarakan pelatihan fasilitator reriungan Anak dan Keluarga untuk Adaptasi Perubahan Iklim. Ada 18 peserta ditambah 10 peserta yang datang saat makan siang.
Saat fasilitator training tiba dari Jakarta, Ijul sedang membuat kesekatan jadwal dengan teman-teman fasilitator dari KerLiP, Sahabat alhi, Kalyanamandira, GSSC, dst. Pelatihan sepakat diakhiri sebelum magrib.
Sesi pertama, perkenalan sekaligus pemetaan pikiran tentang perubahan iklim. Anak-anak terutama anak-anak dari keluarga miskin merupakan korban terdepan dari perubahan iklim akibat polusi oleh kendaraan, kebakaran, pembalakan hutan, merokok, budaya materialistik. Anak-anak perlu pendidikan dan kasih sayang agar memahami pentingnya adaptasi perubahan iklim. Peserta didorong untuk memahami anak-anak sebagai korban terdepan dalam konteks bernegara.

Sesi kedua diisi oleh Irsyad Ridho dengan pendidikan multikultur.
Pada sesi ini peserta diajak untuk mengkaji budaya materialistik akibat pembentuikan hasrata yang dilakukan oleh korporasi. Menarik ketika proses pembelajaran di kampung Jawa dijadikan studi kasus untuk klarifikasi pemahaman tentang multikultur yang mendorong kesadaran akan adanya hierarki bahkan diskriminasi antara budaya dominan dan marjinal.Dikisahkan pada hari Kamis, 13 Agustus 2008, anak-anak Kampung Jawa berminat untuk memulai pembelajaran dengan mengenal tetangga. Disepakati mulai dengan menyebutkan jumlah setiap anggota keluarga yang tinggal diantara rumah Aing dan pendopo. Mereka berbagi tugas. Ada yang menyebutkan nama tetangga, jumlah anak mereka, dan ada yang menuliskan. Anak-anak yang belum bisa menulis ditemani anak-anak yang lebih besar untuk belajar menghitung dengan menggunakan angka-angka jumlah anggota pada setiap rumah. Anak-anak lainnya mendiskusikan tentang kepala keluarga. Konflik terjadi ketika ada anak yang bersikeras ada 21 kepala keluarga sedangkan yang lainnya bilang hanya adfa 13 sesuai dengan jumlah rumah yang mereka hitung. Diskusi berkembang sampai pada pendefinisian kembali tentang kepala keluarga.
Menurut Irsyad, kepala keluarga adalah tema karena, anak-anak terbiasa memahami bahwa kepala keluarga pasti seorang ayah tapi pada kenyataannya di kampung Jawa ada satu rumah yang dihuni oleh anak perempuan atau laki-laki, ibu, nenek yang bekerja menafkahi keluarganya.
Diskusi tentang kepala keluarga mendorong peserta didik dan fasilitator untuk merekonstruksi sebuah pengetahuan baru. pendefinisian kembali sebuah tema yang memunculkan konflik seperti ini tidak terlepas dari posisi ideologi fasilitator. Dalam hal ini, fasilitator mengajak peserta didik untuk memahami tentang gender dan seksualitas. Kurikulum dikembangkan dari posisi/tempat peserta didik. Inilah yang dikenal sebagai paedagogy of place.
Dalam pendidikan multikultur, place merupakan tempat dimana budaya dominan dan marjinal coba direduksi melalui pendidikan agar terjadi sebuah perubahan sosial yang melibatkan peserta didik.

Sampai disini, Irsyad Ridho berhasil mengajak peserta pelatihan untuk memahami pendidikan multikultur dan mendefiniskan kembali ciri-ciri fasilitator yang baik. Secara tersirat, LIBRA (Lembar Inspirasi Bagi Beragam Anak) pun mulai diperkenalkan. Model bahan ajar Cara Asyik Cari Tahu yang akan diujicobakan pada RAKA nanti diawali dengan LIBRA yang dikembangkan fasilitator dengan model pendidikan multikultur. Fasilitator mengajak anak dan keluarga untuk mengkaji kembali tema-tema pokok dalam keseharian mereka. Topik CACT ditetapkan dari hasil identifikasi kehidupan sehari-hari peserta didik dan keluarga mereka. Nama dan pekerjaan menjadi topik menarik di Samoja karena anak-anak cenderung resisten/malu ketika ditanya nama dan pekerjaan kepala keluarga masing-masing. Di kampung Jawa, kepala keluarga menjadi topik menarik untuk dipelajari lebih jauh.

Pada sesi berikutnya, Irsyad melakukan review dan menyebutkan ciri-ciri fasilitator dalam pendidikan multikultur : senang belajar bersama menemukan tema pokok (topik), unlearning (reformatted pola pikir), pengubahan bahasa, dan klarifikasi ideologi.
Ideologi didefinisikan sebagai hal-hal yang dipandang ideal tapi bukan milik peserta didik. Misalnya kepala keluarga adalah seorang ayah adalah ideologi ketika dijadikan pelajaran pada anak-anak di kampung jawa. Fasilitator yang memiliki sensitivitas gender belajar bersama anak-anak untuk mendefinisikan kembali keala keluarga sebagai seseorang, laki-laki atau perempua, tua atau muda, menikah atau tidak yang bekerja mencari nafkah untuk memberi makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan pendidikan agar seluruh anggota keluarga hidup layak. Kata-kata agar seluruh anggota keluarga hidup seperti apa dan ditemukan kata-kata hidup layak dapat menjadi tema berikutnya di Kampung Jawa jika ditemukan ada perbedaan definisi umum tentang hidup layak dengan kebiasaan hidup di kampung Jawa.
Dalam hal ini tema sangat ditentukan oleh posisi ideologi fasilitator yang berupaya mengembangkan kurikulum berdasarkan keseharian peserta didik agar terjadi sebuah transformasi intelektual. Hal ini juga dipengaruhi ragam sumber belajar yang tersedia. Rumah tetangga dan anggota keluarga di rumah tersebut menjadi sumber belajar yang menarik di kampung jawa.
Fasilitator dari Samoja menyampaikan kritik yang kemudian mengubah proses pelatihan jadi lebih partisipatif. Sayangnya dia tidak ikut sejak awal. Susi Fitry kemudian memfasilitasi peserta untuk menemukan tema dan mempresentasikannya pada pelatihan ini kemudian mengkaji bersama-sama peserta. Ijul dan Ova menceritakan pengalaman di rumah tahanan sedangkan Heri di TKBM SMP Terbuka. Dari cerita mereka, Susi Fitri mengajak peserta untuk memiliki skill pendidikan multikultur.
Pelatihan diakhiri dengan pengenalan model CACT (Cara ASyik Cari Tahu) dalam dua kelompok terpisah.
Disepakati untuk mengadakan pertemuan fasilitator pada hari Senin untuk menggali tema sesuai dengan place peserta RAKA yang sudah dipastikan akan mengikuti kegiatan tersebut.
RAKA ini akan dilaksanakan pada tanggal 23-24 Agustus dan diikuti anak dan keluarga dari komunitas mentari, taboo dan samoja. Masih belum jelas bagaimana persiapan sarana dan prasarana RAKA. Informasi terakhir, panitia belum memiliki dana untuk kegiatan RAKA. Ada yang bersedia membantu?

Kamis, 14 Agustus 2008

Pendopo Pak Ustadz

Lama tak jumpa dengan anak-anak di kampung Jawa.
Sejak Januari diserahkan ke Abi secara bertahap, lebih banyak diskusikan model bahan ajar yang tepat bagi anak-anak.
Hari ini, anak-anak kembali belajar. Hanya ada anak-anak kecil yang putus sekolah karena tidak mampu. Kelompok usia yang lebih besar sudah mulai bekerja kembali. Seperti biasanya mereka jadi ekerja kontrak untuk jangka waktub tertentu di beberapa counter terpilih. Ah, anak sekecil itu harus berjuang mendapatkan uang.
Beberapa anak yang sudah besar mengusulkan untuk belajar dengan modular.
Mungkin ini yang lebih tepat bagi mereka.
Hari Selasa 12 Agustus disepakati, ibu-bu yang tinggal di sekitar pendopo akan bergantian membantu anak-anak untuk kembali belajar.
Nampaknya anak-anak lebih antusias belajar di pendopo Pak Ustadz daripada ditempatkan di sekretariat RW. Rencananya di sekretariat RW hanya untuk kelompok usia > 11 tahun.

Pembelajaran dimulai dengan permainan khas kampung Jawa.
Anak-anak diajak untuk menjelajah RT 16. Anak-anak yang sudah bisa menulis diminta untuk menyebutkan rumah dan jumlah anggota keluarga yang tinggal di antara ruma Syahrir dan pendopo. Anak-anak yang belum bisa menulis, bermain pertambahan dari angka-angka hasil penjumlahan anggota setiap rumah. Kelompok yang sudah bisa menulis mulai mengisi Aku Tahu tentang tetangga dan kepala keluarga. mereka membuat definisi tentang kepala keluarga yakni seseorang, laki-laki atau perempuan, tua atau muda yang bekerja mencari nafkh untuk memberi makan, minum, pakaian, tempat tingggal dan pendidikan agar keluarga bisa hidup dengan layak. Hebat ya...

Dari definisi ini anak-anak menganalisa keluarga mereka sendiri. Ada 9 point penting yang mereka tuliskan. Masing-masing anak menyebutkan kepala keluarga mereka. Peran Ibu. Biaya makan dan beli pakaian baru. kebetulan sebentar lagi bulan puasa. mereka antusias karena biasanya mendapat pakaian baru saat lebaran. Irma (13 tahun putus sekolah kelas 3 SD) menyebutkan bapaknya mendaoatkan Rp 30.000-60.000 per hari. Ibunya belanja bahan makanan Rp 25.000 per hari. Uang jajannya Rp 3.000 per hari. Bapaknya menyediakan Rp 200.000 untuk pakaian lebaran Irma. Betapa bangganya Irma ketika menceritakan kelahiran adiknya yang terpaksa dicaesar. Bapaknya Irma mendapatkan pinjaman untuk operari caesar dan sudah hampir lunas. Ibunya juga sangat hebat, kata Irma. Senangnya punya kepala keluarga ujar Irma. Hal yang sama juga disampaikan Rina (12 tahun putus ekolah kelas 2 SD). Penghasilan bapaknya Rp 25.000, untuk belanja Rp 15.000. uang jajan Rina Rp 1.500, dia ikut arisan Rp 1.000/hari dan mendapatkan Rp 90.000 jika menang. Celana Jins lebaran dibelikan abangnya, blusnya dari pemberian tetangga. Rina tinggal di rumah sendiri yang dibangun oleh warga setempat di tanah bapaknya. Ada 2 kamar tidur, ruang tamu, dapur, teras, kamar mandi. Karena jumlah anggota keluarganya 7 orang, Rina biasa tidur di bale-bali. Dia juga bangga karena ibu sudah melahirkan dan mendidiknya pintar memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memberi uang jajan. Duh bahagianya.
Adit dan Maulana belajar berhitung. Mereka dibantu Ria dan Isma yang duduk dikelas 3 madrasah.
Anak-anak yang lebih kecil, berlarian kesana kemari mengelilingi kakak-kakak mereka yang sedang asyik belajar. Pendopo Pak Ustadz belum selesai dibangun, tapi sudah terasa manfaatnya. Setiap sore anak-anak belajar mengaji, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Mudah-mudahan anak-anak kembali menikmati indahnya dunia belajar bersama keluarga dan komunitas. Amin

Rabu, 13 Agustus 2008

Menuju Sekolah Ramah Anak 4

Rabu, 13 Agustus 2008

Alhamdulillah masih ada Deby, satu-satunya anak kelas VII yang berhasil membuat puisi yang berhubungan dengan topik sistem peredaran darah. Teman-temannya menyebutkan bingung dengan berbagai alasan berikuit : susah, belum dicari, tidak tahu/mengerti, malas, dan keder.Anak-anak menyimpulkan belajar membuat pantun yang termudah dibanding puisi, karangan, drama dan kalimat yang benar. Mereka membuktikannya! Dalam waktu 10 menit beragama pantun jenaka berhasil mereka buat. Hanya ada 2 anak yang agak enggan karena merasa sulit mendapatkan inspirasi. Namun setelah dipandu untuk mengekspresikan perasaan sebagai isinya, keduanya berhasil membuat pantun.

Sambil mendengar satu per satu membacakan pantun di bangkunya masing-masing, kucari materi pantun dari buku sekolah elektronik untuk memandu anak-anak Cari Tahu tentang pantun. Mereka menyimpulkan sendiri bahwa, pantun sekurang-kurangnya terdiri dari dua kalimat yang tidak perlu saling berhubungan. Kalimat pertama disebut sampiran dan kalimat kedua merupakan isi. Anak-anak penasaran dengan perbedaan antara kata dengan kalimat. Kata-kata yang mereka tulis di papan tulis menjadi bahan kajian untuk membedakan kata dan kalimat. Anak-anak berhasil menyimpulkan bahwa kata adalah rangkaian huruf yang bermakna sedangkan kalimat adalah rangkaian kata yang mengandung makna. "Wah, kalau gitu kalimat lebih banyak hurufnya dari kata ya!" ujar salah satu dari mereka.

Anak-anak mulai keluar masuk melihat teman-teman mereka sudah berkumpul di lapangan untuk memulai lomba. Setelah dicek ternyata anak kelas IX sedang bersiap-siap olah raga. Karena lomba belum dimulai kuajak mereka masuk kembali dan melakukan permainan kelompok. Anak-anak saling bergandengan tangan membentuk lingkaran dan diminta membalikkan badan tanpa melepaskan pegangan tangan mereka. Kelompok laki-laki berhasil melakukannya dengan petunjuk Revda, tapi tanpa diduga mereka membalikkan badan kembali dan Revda jatuh terhuyung-huyung. Sambil duduk melingkar di lantai kuminta Revda menceritakan senangnya bisa memandu teman-teman. Ketika ditanyakan mengapa sampai terjatuh, Lutfi menyatakan bahwa penyebabnya karena Revda tidak mendengar aba-aba darinya. Kesempatan emas bagiku untuk membangun solidaritas dan kekompakan kelas VII.
Anak-anak sepakat memilih Revda dan Novi untuk menemani Deby menjadi dewan redaksi yang memberi aba-aba saat penyusunan majalah dinding kelas mereka pada hari Jum'at yang akan datang.

Sayangnya, hal yang sebaliknya terjadi pada kelas IX. mereka terlalu lelah melanjutkan pembelajaran setelah olah raga. Rizki, Arief, Vinda, Desy dan Nuraita yang secara sukarela menjadi dewan redaksi tidak berhasil memenuhi tugas yang diberikan oleh teman-temannya. Rizki tampil ke depan untuk menyelamatkan rencana pembuatan mading. Disepakati ada 4 rubrik mading dwimingguan kelas IX diasuh secara bergiliran. Kita tunggu hasilnya mulai Jumat.

Kelas VIII hanya menyisakan anak-anak perempuan karena anak-anak laki-laki mengikuti lomba futsal. kelima anak perempuan kelas VIII ditambah beberapa anak perempuan kelas IX satu per satu curhat tentang perlakuan yang dirasakan mengganggu bahkan mengindikasikan kekerasan terhadap beberapa anak yang terjadi di sekolah. Momentum yang tepat untuk mulai menyosialisasikan UU Perlindungan hak anak kepada mereka.
Anak-anak perempuan sangat antusias untuk menyusun narasi perjalanan masing-masing saat wisata ke Taman Mini. Mereka berjanji untuk menyerahkan narasi ini pada hari Jum'at.

ALhamdulillah

Menuju Sekolah Ramah Anak 3

Senin 11 Agustus 2008

Hari ini Zakky mau ikut ke Bhakti Nusantara. Kami tiba saat pimpinan uoacara menyiapkan barisan. Kuputuskan untuk duduk di ruang guru dan menanyakan beberapa hal kepada Zakky. Terdengar Pak Ali menyampaikan pidato tentang makna kemerdekaan dan makin lemahnya perekonomian Indonesia dibanding negara-negara lain.
Di sela-sela pidato Pak Ali, kulihat seorang guru menarik seorang anak ke depan karena terlihat mengobrol saat upacara. Beberapa kali teriakan seorang guru mengusik telingaku. Tidak hanya itu, ketika anak-anak sudah bergegas menuju kelas masing-masing, seorang memanggil salah satu murid baru. Lagi-lagi kesalahan anak-anak menjadi fokus perhatian seorang guru. Ah...

Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IX dimulai dengan mengajak anak-anak menggali isi pidato Pak Ali. Rizky bilang isinya tentang keburukan ekonomi di Indonesia, Tesa bilang tentang kemerdekaan. Anak-anak kuajak untuk melakukan Cara Asyik cari Tahu tentang keburukan perekonomian di Indonesia. Mereka tahu BBM naik akibatnya jajanan mereka berkurang. Transportasi tidak terlalu terasa karena 10 dari 21 anak jalan kaki menuju sekolah.
Sayangnya aku tidak berhasil menggelitik rasa ingin tahu mereka lebih jauh. Anak-anak lebih senang Cara Asyik Cari Tahu tentang proklamasi kemerdekaan. Mereka memilih membuat pantun, menulis dan mencari puisi dengan topik tersebut. Semua anak menuju ke perpustakaan. Sekelompok anak mendiskusikan isi puisinya, sekolompok lagi menunjukkan buku kumpulan puisi yang akan mereka kutip, sekelompok lainnya terlihat mengobrol. Kubiarkan semuanya melakukan cara pilihan untuk CACT Proklamasi kemerdekaan. Hanya Reza yang berkali-kali menunjukkan puisi buatannya di dalam kelas. Aku baru sadar kalau tangan Reza tidak normal. Semangat belajarnya yang tinggi membuatku baru menyadari hal ini.
Tepat pk. 08.30 kuminta Reza mengajak teman-temannya kembali kedalam kelas.
"Siapa yang tidak mengerjakan apapun?" tanyaku kemudian. Kulihat Hendor mengacungkan tangan. "Masih ada yang lain?" tanyaku lagi. Akbar dan Hendro tidak mengerjakan apapun. Kudekati mereka untuk mengungkap alasannya. Kuminta anak-anak untuk bertepuk tangan karena keduanya anak-anak yang hebat dan jujur. Ada dua anak yang menyalin puisi, 2 anak yang membuat puisi sendiri. Sisanya menulis pantun yang beraneka ragam.
Duh senangnya! Ternyata anak-anak tetap antusias belajar di tengah budaya sekolah yang nampaknya belum ramah anak.

Jumat, 08 Agustus 2008

Menuju Sekolah ramah Anak 2

Nama saya Astrid Okvi di kelas VIII ini saya sudah belajar atau mendengar tentang pelajaran Bahasa Indonesia dengan berjudul Bangga Berbahasa Indonesia lalu guru Bahasa Indonesia mengajarkan tentang percakapan, tanya jawab, wawancara, menulis, mendngar, membaca, mengarang kata dan memeperhatikan dan menjelaskan isis-isi Nama saya Astrid Okvi di kelas VIII ini saya sudah belajar atau mendengar tentang pelajaran Bahasa Indonesia dengan berjudul Bangga Berbahasa Indonesia lalu guru Bahasa Indonesia mengajarkan tentang percakapan, tanya jawab, wawancara, menulis, mendngar, membaca, mengarang kata dan memeperhatikan dan menjelaskan isis-isi pantun, cerpen dan tata bahasa. Lalu mengajarkan memperkenalkan diri dengan cara asyik cari tahu pantun, cerpen dan tata bahasan dengan cara pilihanku

Kalimat pembuka ini, ditulis oleh peserta didikku di SMP Bhakti Nusantara. Hari ini, tanggal 8 Agustus 2008 pk.08.20-09.40 adalah hari pertamaku masuk ke kelas VIII. Ketika aku memasuki ruangan, sudah ada Ibu Wiwi, guru IPA yang siap menggantikaknku karena ijin membaca Al Qur’an pada pernikahan seorang kawan di seberang rel depan sekolah kami.

Sebenarnya aku ingin sekali mengajak Zakky dan Icha kembali mengikuti praktek kelas seperti Senin lalu. Namun karena harus mampir di pernikahan dan sepulang sekolah mengikuti pertemuan FGII dengan Sekretaris Public Service International dari Jepang, niat ini tidak jadi dilaksanakan.

Kegemaranku mencoba hal baru, menjadi alasan kuat untuk menemani anak-anak belajar bangga berbahasa Indonesia. Kucoba untuk mempraktekkan Cara Asyik Cari Tahu di kelas setelah menuliskan kajian bahan ajar tersebut untuk komunitas homeschooling KerLiP serta mempraktekkannya langsung untuk setiap topik yang diminati anak-anak Komunitas Rumah KerLiP Kampung Jawa dan Zakky.

Senin lalu ketika masuk ke kelas IX aku masih melihat kecenderungan beberapa buku pelajaran bahasa Indonesia yang ku download dari www.bse.depdiknas.go.id. Sebelumnya dari rumah kubawa beberapa lembar kertas bekas, buku Laskar Pelangi dan Laptop. Dimulai dengan permainan kertas yang diperkenalkan Apa Utomo Dananjaya dan kusederhanakan untuk menemani anak menemukan sendiri bahwa praktek langsung jauh lebih jelas hasilnya dan dapat dinilai bersama-sama kebenarannya dibanding sekedar melihat. Media yang digunakan masih kertas yang sama ketika anak-anak kuminta untuk menyimak Bab I dari novel Laskar pelangi yang dibacakan salah satu peserta didikku yang secara sukarela maju ke depan. Nampaknya beberapa anak belum antusias menyimak temannya sampai akhirnya atas permintaan mereka kemudian dibacakan ulang oleh anak lainnya yang bersuara lebih lantang.

Ada 6 tugas yang kudiktekan kepada mereka seperti yang tercantum dalam salah satu buku pelajaran ketika memperkenalkan cerpen sebagai materi ajar bahasa Indonesia. Tugas anak-anak belum rampung ketika bel sudah berbunyi. Kututup sesi pertama dengan anak-anak kelas IX dengan evaluasi bersama. Anak-anak menyatakan bahwa hari itu mereka belajar beberapa hal sebagai berikut:
1. Cara memperkenalkan teman di sebelah kanan
2. Cara mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang berkenan menerima tugas secara sukarela
3. Cara me minta ijin untuk membacakan jawaban yang ditulis teman masing-masing
4. Setiap anak mengetahui hak mengijinkan atau melarang temannya membacakan jawaban milik mereka
5. Jika ada anak yang menyebutkan kata yang tidak pantas segera meminta maaf kepada teman yang dikatai.
6. Hanya melihat saja tidak cukup untuk membuktikan pekerjaan tersebut sudah dikerjakan dengan baik atau tidak
7. Memotong kertas dengan tangan adalah contoh praktek langsung mempelajari sesuatu yang secara jelas dapat dinilai langsung oleh semua pihak
8. Mempelajari tema, alur, tokoh, karakter, dan lainnya lebih asyik dengan praktek langsung setelah menyimak penggalan novel yang dibacakan temannya

Hari Jum’at ini, giliranku masuk ke kelas VIII dan VII. Kali ini aku tidak membuka buku pelajaran tapi langsung bergerak dari Topik Bangga Berbahasa Indonesia. Sperti yang ditulis Astrid, notuln hari ini di kelas VIII. Sebelum masuk ke materi CACT hari ini, pada pembukaan kumulai dengan perkenalan.

1. Teman-teman diminta berhitung 1, 2, 3
2. Adi diminta menjadi presenter karena tidak ada teman berhitung. Lalu Ibu guru memperkenalkan diri sebelum memperkenalkan Adi dan menanyakan tentang presenter idola masing-masing kepada teman-teman
3. Adi malu dan menunjuk Budi untuk menjadi temannya, lalu Budi menunjuk Amin. Adi masih malu juga
4. Amin menunjuk Akbar sebagai teman dekat Budi
5. Karena Adi dan teman-teman masih malu juga yang terakhir mereka menunjuk Ziqri
6. Akhirnya tak ada seorangpun yang mau memperkelakan diri sendiri
7. Mereka ditanyakan sudah berapa lama belajar Bahasa Indonesia? Apa saja yang sudah dipelajari?
Lalu mereka mengisi Aku Tahu di bawah topik : Bangga Berbahasa Indonesia. Masing-masing menuliskan satu kata yang berbeda :
1. percakapan
2. tanya jawab
3. wawancara
4. menulis
5. mendengar

- kelimanya dipersilakan untuk duduk di bangku masing-masing
- kemudian ditanyakan lagi siapa yang ingin menambahkan Aku Tahu lagi? lalu ada lagi yang menjawab
6. membaca
7. mengarang kata
8. memperhatikan
-Ibu guru meminta teman-teman mengisi Aku Ingin Tahu
1. pantun
2. cerpen
3. tata bahasa
- Teman-teman disuruh menulis CACT (Cara Asyik Cari Tahu) dengan topik bangga berbahasa Indonesia dan mengisi aku tahu dan cara asyik cari tahu sesuai dengan judul yang dipilih kelompok masing-masing : pantun,cerpen, tata bahasa. Masing-masing kelompok yang sudah diatur dengan berhitung 1,2,dan 3 menentukan cara pilihan yang sama yaitu mengunjungi perpustkaan untuk mencari tahu apa yang ditugaskan. Kelompok satu memilih pantun, kelompok dua memilih cerpen,dan kelompok tiga memilih
tata bahasa.
- Istirahat deh

Astrid baru beristirahat setelah selesai menuliskan semua kalimat diatas. Rupanya anak-anak kelas IX dan VII tertarik dengan kehebohan anak-anak kelas VIII. Menyenangkan sekali menyaksikan anak-anak kelas IX antusias menunjukkan ha yang mereka pelajari sebelumnya kpada adik-adik kelas mereka. Irni bahkan menuliskan sebuah pantun dalam laptopku.
Ikan hiu goyang-goyang, I love you sayang

Ah, anak-anak, dunia masih begitu indah bagi mereka. Padahal sesaat lagi anak-anak kelas IX harus menghadapi Ujian Nasional. Semoga mereka bisa bertahan sampai para pemimpin negara ini menjadikan prinsip demi kepentingan terbaik anak sebagai dasar penentuan kebijakan terutama di bidang pendidikan.
Tak lama kemudian Ibu Lia datang menggantikanku di kelas VIII.
Aku pun menuju kelas VII yang sudah menunggu gurunya masuk.
Seperti umumnya anak-anak, mereka sangat antusias menunjukkan kepandaian mereka berbalas pantun. Ada tiga anak laki-laki yang mau berbalas pantun di depan kelas. Sayangnya mereka tidak jadi melakukannya karena masih malu-malu.
Seorang peserta didik perempuan brsedia menuliskan pantunnya di papan tulis menyusul kemudian temannya.

Satu persatu pantun tersebut dibaca anak-anak. Kuminta mereka memperbaiki huruf kapital yang sesuai dari penulisan kedua pantun tersebut.
Lalu aku mulai menuliskan CARA ASYIK CARI TAHU di papan tulis. Topiknya diisi dengan matri pelajaran E nglish yang mereka terima sebelumnya. Mereka menyebutkan tubuh manusia. Lalu kutulis topik kali ini adalah tubuh manusia. Sistem peredaran darah menjadi judul pilihan. Mereka tidak mau menulis di buku tulis. Kuminta mereka mengisi Aku Tahu di papan tulis sukarelawan :
1. pembuluh darah
2. golongan darah
3. pmompa darah
4. saluran darah

Kupandu anak-anak untuk mengisi Aku Ingin tahu dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Organ apa saja yang berhubungan dalam sistem perderan tubuh manusia?
2. Mengapa golongan darah yang dikenal A,B, O, AB?
3. Siapa penemu golongan darah ?
4. Selain nadi, pembuluh darah lainnya adalah....

Setelah itu kutanyakan apa saja yang ingin mereka ketahui dari pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka menyebutkan belajar puisi, karangan, drama, pantun dan kalimat yang benar.Kuminta mereka berhitung sampai lima. Setiap kelompok ditugaskan memilih salah satu materi pelajaran bahasa Indonesia dan menuliskan hasil CARA ASYIK CARI TAHU minggu depan. Beberapa anak mengerumuni teman mereka yang menjadi notulen hari ini dalam laptop ini.Rupanya mereka keasyikan membuka file video dan gambar-gambar dalam laptopku. Ah, sayangnya mereka belum mengerti pentingnya meminta ijin ketika bel pulang terdengar. Salah seorang anak memimpin salam dan doa, kebudian mereka keluar kelas setelah menyalamiku.Di ruang guru dengan antusias kuceritakan kehebatan anak-anak. Ada seorang anak masuk ke ruang guru, Bu Natali guru English menanyakan perilaku anak tersebut. Kujawab, dia anak yang baik dan selalu antusias menjawab pertanyaanku. Dia memang tukang ngobrol, kata Bu Natalie dan diamini yang lainnya. Ah, tugas baru nih...Kuceritakan tentang kegelisahan ketika menyaksikan korban UN pada usia anak. Nampaknya semua guru seperti aku juga. Melihat UN sebagai penentu kelulusan mengorbankan kepentingan terbaik anak. Alhamdulillah, aku yakin mereka berkomitmen tinggi untuk menuju sekolah ramah anak a la KerLiP

Rabu, 06 Agustus 2008

MENUJU SEKOLAH RAMAH ANAK

Keluarga Indonesia

Saat ini, kami sedang meningkatkan SMP Bhakti Nusantara menjadi Sekolah Ramah Anak yang menjadikan keluarga sebagai mitra pendidik utama. Komitmen dari wakil Ke[pala Sekolah dan guru-guru untuk rencana program pengembangan SRA gaya KerLiP ini sedfang dipelajari. Seluruh SDM SMP Bhakti Nusantara menyatakan berkomitmen penuh untuk mendukung program tersebut. Semoga!

SMP Bhakti Nusantara terpilih menjadi tempat pengembangan SRA karena komitmen Kepala Sekolah dan kenyataan bahwa peserta didik nya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Sambil berjalan, beberapa peserta SANDI KerLiP (homeschooling mandiri) mulai mendaftarkan diri menjadi peserta didik SMP Bhakti Nusantara untuk mendapatkan legalitas sesuai dengan aturan yang berlaku saat ini. Masih dirancang beberapa aturan peralihan, namun melihat semangat Wakasek, Kepsek dan beberapa guru, kami yakin bisa mulai merintis Sekolah Ramah Anak.

Berikut adalah tulisan yang dikutip dari beberapa blog

SEKOLAH RAMAH ANAK

Mengapa kekerasan terhadap anak amat mudah terjadi? Salah satu jawabnya adalah karena banyak orang tidak mengenal dengan baik pengertian/batasan kekerasan terhadap anak.

Bahkan definisi berikut mungkin dipandang mengada-ada oleh sebagian orang. Kekerasan terhadap anak adalah “Semua bentuk perlakuan salah secara fisik dan/atau emosional, penganiayaan seksual, penelantaran, atau eksploitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan nyata ataupun potensial terhadap perkembangan, kesehatan, dan kelangsungan hidup anak ataupun terhadap martabatnya dalam konteks hubungan yang bertanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan” (UNICEF, 2002).

Seorang ibu yang menjewer telinga anaknya agar mau mandi dianggap wajar, padahal tindakan itu berupa kekerasan fisik. Guru membentak-bentak murid agar mau duduk manis dan mendengarkan, terjadi di mana pun dan itu dianggap wajar, padahal guru telah melakukan kekerasan emosional. Bahkan kekerasan kepada anak sering “dibungkus” dengan alasan budaya. Misalnya, “Anak-anak di sini harus dipukul secara fisik agar disiplin karena budaya kita keras.”

Di tengah masih derasnya arus kekerasan seperti itu, diperlukan pendekatan baru, yakni penting menempuh pendekatan kelembutan terhadap anak. Dan salah satu tempat paling besar peluangnya untuk melakukan kelembutan terhadap anak adalah sekolah. Maka, sebaiknya dikembangkan apa yang disebut sekolah ramah anak (SRA). Kunci utama pembuka kemungkinan SRA tentu guru dan jalan menuju SRA yang harus ditempuh guru memang sulit, tetapi dapat dicoba.

Langkah awal

Rudolf Dreikurs menawarkan 10 langkah menuju SRA, antara lain, pertama, jadilah guru tidak lagi sebagai penguasa kelas/mata pelajaran atau mata pelajaran (mapel), tetapi pembimbing kelas/mapel.

Kedua, kurangi kelantangan suara dan utamakan keramahtamahan suara. Ketiga, kurangi sebanyak mungkin nada memerintah dan diganti ajakan.

Keempat, hindarkan sebanyak mungkin hal-hal yang menekan siswa.

Kelima, hal-hal yang menekan diganti dengan memberi motivasi sehingga bukan paksaan yang dimunculkan, tetapi memberi stimulasi.

Keenam, jauhkan sikap guru yang ingin “menguasai” siswa karena yang lebih baik ialah mengendalikan. Hal itu terungkap bukan dengan kata-kata mencela, tetapi kata-kata guru yang membangun keberanian/kepercayaan diri siswa.

Ketujuh, guru hendaknya menjauhkan diri dari hanya mencari-cari kesalahan siswa, tetapi akuilah prestasi sekecil apa pun yang dihasilkan siswa.

Kedelapan, guru sering berkata, “Aku yang menentukan, kalian menurut saja apa perintahku,” gantilah dengan “Aku anjurkan/minta, mari kalian ikut menentukannya juga.”

Perubahan sikap guru tak akan banyak berarti jika tidak terus dikomunikasikan kepada siswa, kepala sekolah, orangtua siswa, dan pihak lain, seperti polisi.

Peran dan kekerasan

Guru hendaknya memberi tahu (dan mengajak siswa) tentang pentingnya gerakan antikekerasan di sekolah. Sekecil apa pun tindak kekerasan terhadap siswa harus didiskusikan dan dicari penyelesaiannya. Laporan adanya tindak kekerasan juga perlu diakomodasi cepat dan jangan dibiarkan/tertunda sampai hari berikut.

Langkah lebih lanjut yang lebih jitu adalah libatkan siswa menyusun peraturan sekolah atau mendaftar perilaku yang baik yang harus ditunjukkan, baik oleh guru maupun siswa, setiap saat. Melibatkan siswa membuat rambu-rambu atau aturan pasti akan membuahkan hal yang amat mengejutkan bagi banyak guru.

Selama ini aturan sekolah disusun hanya oleh sekolah (kepala sekolah dan guru), padahal seharusnya dibuat oleh siswa sendiri berikut sanksinya. Semakin sering sekolah mendatangkan pihak kepolisian pasti berdampak baik karena siswa dapat semakin akrab dengan polisi sehingga berani melaporkan jika terjadi kekerasan apa pun.

Pihak orangtua (komite sekolah) dapat memfasilitasi hal-hal seperti mendatangkan polisi dan mengundang aparat pemerintah setempat untuk memberikan perhatian kepada sekolah.

Singkatnya, SRA amat mudah dan murah dilaksanakan di semua sekolah di mana pun berada, tetapi hasilnya akan amat mengagumkan ketika kita menyaksikan (kelak) tidak ada lagi kekerasan terhadap anak-anak oleh siapa pun.

Ditulis oleh:
JC Tukiman Taruna Praktisi Manajemen Berbasis Sekolah; Tinggal di Ungaran, Jawa Tengah
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/29/opini/4015330.htm

Senin, 04 Agustus 2008

Penghapusan....

Entah harus sedih atau lega. perasaanku saat ini lebih mengarah ke sedih. Selama minggu lalu, aku berusaha keras menerjemahkan sebuah buku, dari Alfie Kohn, yang berjudul The Case Against Standardized Test. Kemudian websitenya kutemukan dan mereka bilang bukunya akan diterbitkan di Indonesia secara legal oleh Lentera Hati.

Dan, dan, rasanya sangat sedih. Aduh, ditolak. Tapi bukan masalah. Semoga hal itu akan bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. (Padahl akhirnya aku bersemangat untuk menerjemahkan sesuatu. Ah...

~ Fitry

Jurnal Minggu 2 Agt 2008

Pk. 05.30 aku, Zakky, Icha berjalan menuju gerbang. Seperti biasa, mobil-mobil tetangga bergantian lewat di samping kanan trotoar yang kami lewati. Masih dingin. Masih sepi.
Kami naik GAMYA ke halte pertanian. Antrian sudah dipenuhi anak-anak sekolah dan para pekerja. Trans Jakarta pertama penuh. Agak lama kami menunggu bis berikutnya setelah beberapa bis kosong lewat di halte. Masuk ke dalam bis, kursi sudah dipenuhi para pekerja. Aku dan Zakky menjaga Icha agar dapat berdiri stabil. Di depan kami, duduk 4 orang pekerja laki-laki Satu diantaranya menawarkan diri untuk menggendong Icha. Icha menolak, bahkan setelah pekerja tersebut memberi sedikit ruang di kursi yang didudukinya untuk Icha.
"Utamakan wanita hami, penyandang cacat dan lansia. Anak kecil kok ngga diutamakan?" Tanya Icha melihat sticker yang menempel di jendela bis. "Ibu kan sering ke KPAI, bilang dong biar stickernya ditambah anak kecil juga, ya Bu," katanya Icha lagi. Aku balik bertanya, "Menurut Icha, apa alasannya bahwa anak kecil harus diutamakan juga?'. "Kan tangan anak kecil belum bisa memegang gantungan kuning itu," Icha menjawab sambil menunjukkan pegangan tangan yang menggantung di tasa kepalanya. "Bagaimana kalau Icha sendiri yang menulis surat untuk Ibu Masnah atau Ibu Susi dari KPAI?" tanyaku lagi. Icha tidak menjawab. Bunyi rem terdengar keras, Icha segera memeluk erat tubuhku. "Silakan duduk disini Bu," seorang pekerja perempuan berdiri dari kursinya. Ah, baik sekali gadis itu. Kuucapkan terima kasih lalu duduk sambil memangku Icha. Zakky menolak untuk duduk. Katanya dia terbiasa berdiri setiap kali pergi menuju Kodel.

"Bu, kita turun dimana?" pertanyaan Zakky membangunkanku. Rupanya aku tertidur. Bis berhenti di halte Kuningan Madya. "Sebentar lagi, Nak" jawabku. Tak lama kemudian kami sampai di halte Halimun. Calon penumpang Bis ke Pulo Gadung sudah menyesaki halte yang tidak begitu luas. Kami naik bis yang kedua. Kali ini Zakky tidak menolak untuk duduk sampai turun di halte Pasar Genjing. Bergandengan tangan kami berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan 04. Pk. 06.49 kami tiba di gerbang rumah Ibu Kepala Sekolah. Setelah mampir sejenak, kami pun menuju SMP Bhakti Nusantara.

"Wah, Pak Ali memang teladan anak-anak! Pagi-pagi sudah menyapu halaman sekolah,"Sapaku pada Pak Ali, wakil Kepala SMP Bhakti Nusantara. Zakky menawarkan diri untuk menggantikan Pak Ali menyapu, tapi Pak Ali menolak. Zakky memang anak yang baik hati ya. Kukenalkan Zakky dan Icha kepada guru-guru yang ada di ruang guru. Tak lama kemudian, Ibu Aida, Kepala sekolah kami pun datang. "Mbak, hari ini giliran Pak Ali yang menjadi pembina upacara," kat Bu Aida kepadaku. Kulihat di ruang guru, jam mengajarku di jam terakhir. Segera kuminta Pak Ali untuk bertukar tempat. Aku akhirnya diperkenankan mengajar pada jam pertama dan kedua.
Icha mulai terlihat tak nyaman. Dia menarik bajuku. Zakky kuminta bergabung bersama teman-temannya yang sedang bersiap-siap untuk upacara bendera. Anak-anak berbaris teratur ketika kepala sekolah kami memeriksa atribut yang digunakan. Anak-anak yang menggunakan sabuk dan dasi yang tidak sesuai masuk dalam barisan tersendiri. Zakky kuminta masuk dalam barisan tersebut karena tidak menggunakan seragam. Tugas berat nih! Nampaknya disiplin di SMP Bhakti Nusantara mengikuti pola pendisiplinan di SMP negeri.

Beberapa nama siswa terdengar disebut-sebut untuk menjadi petugas upacara. Mereka punya andalan siswa untuk petugas tertentu. Tak lama kemudian, siswa pembawa acara mempersilakan pemimpin upacara memimpin barisan. Aku mengajak Icha untuk berbaris di belakang barisan anak-anak kelas VII. Pak Ali sebagai pembina upacara meminta para petugas upacara dipinjamkan atribut yang sesuai oleh teman-temannya. Ah, lagi-lagi penyeragaman.
Kulihat selain Pak Ali, Ibu Rini dan seorang guru laki-laki yang belum kukenal tak ada guru yang mengikuti upasara. Ibu Aida mondar-mandir di depan, guru-guru yang terlambat datang pun hanya menonton. Padahal anak-anak yang terlambat segera masuk barisan setelah menemui kepala sekolah. Ah, tugasku bertambah lagi nih.

Selesai upacara, aku menuju kelas IX ditemani Icha dan Zakky. Setelah menyapa anak-anak, aku meminta mereka untuk mengatur tempat duduk masing-masing secara melingkar. Sambil menunggu mereka, laptop kupasang, kertas bekas yang dibawa Zakyy dari rumah kukeluarkan. Anak-anak heboh sekali. "Apakah kalian sudah saling mengenal? Bagaimana kalau setiap anak memperkenalkan teman di sebelah kanan masing-masing dengan menyebutkan ciri-ciri khas yang kalian kenali?" Seruku pada anak-anak setelah meminta mereka untuk tepuk pramuka bersama-sama. "Sebutkan namanya saja, Bu!" jawab murid di sebelahku. "Atau perkenalkan diri sendiri aja!" Kata teman di sebelah kanannya. Akhirnya kami sepakat untuk memperkenalkan nama teman di sebelah kanan masing-masing.
.....bagian kesatu dulu ya....

Sabtu, 02 Agustus 2008

Salam hangat

Keluarga Indonesia,

Lama tak berkirim kabar. Ada banyak blog yang sengaja dibuka berdasarkan keperluan masing-masing. Silakan lihat daftar blognya ya.
Oh ya, untuk membantu kawan-kawan, kami sedang men-download buku sekolah elektronik- dari blog atau bse depdiknas. Perlu kesabaran untuk download semuanya. Rencananya akan diburn ke CD sesuai dengan tingkatan pendidikan. BSE untuk SMP jadi prioritas karena 155 dari 223 homeschooler KerLiP berada pada tingkatan tersebut. Kemudian SD lalu SMA> Harapan kami, CD ini kelak membantu anak-anak memilih sumber belajar bagi yang menentukan cara pilihan dari buku pelajaran. Sumber belajar yang tersedia di lingkungan dan alam sekitar jauh lebih beragam. Jangan sampai terjebak mengikuti langkah-langkah dari buku pelajaran tersebut. Diharapkan keluarga tetap membantu anak tumbuh kembang mandiri sesuai minat, bakat dan kemampuan, bukan berdasarkan banyaknya halaman yang belum dipelajari dari buku. Seperti sumber belajar tertulis lainnya, diharapkan anak-anak dapat memilah sesuai dengan topik dan judul CACT (Cara Asyik Cari Tahu) yang diminati minggu ini.

Khusus untuk Rumah KerLiP, masih dicarikan sumber perakitan komputer yang dapat dirakit, dipelihara, diisi dengan berbagai sumber belajar yang diperlukan. Kami akan terus membantu agar anak-anak kembali menikmati indahnya dunia belajar dalam balutan cinta, kasih sayang dan kehangatan keluarga.

Semoga!