Minggu, 31 Agustus 2008

Komunitas Sekolah-rumah

Disunting dari artikel fi Kompas 2007

Memindahkan anak-anak dari sekolah secara permanen menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara homeschooling alias sekolah-rumah. Bagi masyarakat kita, ijazah masih menjadi satu-satunya modal untuk meningkatkan taraf hidup. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini sumber daya sekolah di Indonesia diarahkan untuk selembar ijazah yang diperoleh dengan sistem penilaian sesaat untuk menentukan kelulusan.

Belajar tiga tahun di sekolah menengah seolah tidak berarti apa pun dalam menentukan kelulusan dari sekolah. Akibatnya, guru-guru, sekolah, bahkan dinas terkait mengarahkan anak-anak untuk mengejar nilai akhir. Jika demikian halnya, apa jadinya anak-anak bangsa di masa depan?

Sejatinya, pemenuhan hak atas pendidikan menjadi komitmen pemerintah. Demikian juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai pendidikan untuk semua (education for all). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia (HAM) dan telah menekankan pentingnya komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis HAM yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara.

Menurut Katarina Tomasevski dalam buku Pendidikan Berbasis Hak Asasi, agar pendidikan dapat disediakan (available) pemerintah perlu menjamin pendidikan tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut menghargai kebebasan para orangtua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan berkualitas.

Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible), penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang HAM internasional perlu menjadi prioritas kebijakan pendidikan. Agar pendidikan dapat diterima (acceptable), hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran. Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable), pendidikan perlu menyesuaikan minat utama setiap individu anak.

Di tengah keengganan pemerintah untuk mendengar amanat hati nurani warga negara terkait dengan korban UN 2006 dan memenuhi amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas mengenai anggaran 20 persen dari APBN dan APBD, ada secercah harapan dengan adanya pengakuan Direktorat Kesetaraan Ditjen PLS Depdiknas terhadap komunitas sekolah-rumah.

Pendidik terbaik

Apakah saya dapat menjadi pendidik? Hampir semua orangtua akan bertanya seperti ini ketika memutuskan untuk memilih sekolah-rumah sebagai model pendidikan bagi anak-anak. Apakah mungkin bagi orangtua untuk beralih fungsi menjadi guru bagi anak? Bukankah perlu waktu bertahun-tahun untuk memenuhi kualifikasi guru?

Jawabannya adalah "ya". Namun, belajar di sekolah sangat berbeda daripada belajar di sekolah-rumah. Pengelompokan anak-anak sebaya dengan minat dan kemampuan yang berbeda selama 6-7 jam sehari dalam satu ruang kelas pasti memerlukan profesional yang sejahtera.

Bagi anak, mengembangkan potensi secara aktif berarti melestarikan pengetahuan, penguasaan, dan kebajikan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan dalam bimbingan pendidik terbaik. Homeschooling atau sekolah-rumah tidak menuntut orangtua menjadi guru layaknya guru dalam ruang kelas. Cukup dengan mendorong anak untuk menumbuhkan pengalaman belajar dalam balutan cinta, kasih sayang, dan kehangatan keluarga. Keberhasilan sekolah-rumah sebenarnya sudah dimulai ketika orangtua menyadari bahwa tiap anak adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan.

Pengalaman belajar kami sebagai orangtua diperoleh ketika Zakky (11), anak kami, disiapkan untuk sekolah-rumah sejak Oktober 2005 dan berhenti dari sebuah sekolah alternatif di Jakarta. Sebelumnya, Zakky mendapatkan model pendidikan anak merdeka dari kelas I sampai IV di SD Hikmah Teladan Cimahi. Tujuh bulan lamanya masa transisi dari sekolah ke sekolah-rumah kami lalui dengan membaca sejarah penemu dan ciptaannya serta melatih cara berpikir kritis, peduli, dan kreatif untuk menjalankan kembali pendidikan anak merdeka.

Sejarah merupakan gerbang yang membuka cara berpikir dan imajinasi jauh melebihi dataran, waktu, dan peradaban manusia. Cerita atau dongeng sejarah membantu anak-anak memahami bagaimana orang- orang pada waktu dan tempat yang berbeda, bagaimana perbedaan karakteristik masyarakat dan peradaban manusia berubah dan bagaimana mereka bisa bersama-sama menghasilkan karya- karya terbaik yang tak lekang oleh zaman. Cerita-cerita terpilih seperti kisah para nabi, biografi penemu-penemu ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sejarah bangsa-bangsa mendorong motivasi berprestasi, cara menyikapi kegagalan dan kajian untuk bertahan hidup.

Cerita Fitry (15) tentang mitologi dari negara Skandinavia mengenai penciptaan dunia manusia yang diperolehnya saat menelusuri referensi tentang gerhana matahari, atau antusiasme Zakky menggali referensi tentang sejarah penciptaan alam semesta setelah keluar dari planetarium, menyadarkan saya akan waktu-waktu berharga untuk tumbuh bersama anak-anak yang sudah lama hilang. Anak- anak pada dasarnya telah jadi pendidik terbaik.

Awalnya, kami memfasilitasi pembelajaran Zakky dalam bentuk menyediakan guru dari SD Hikmah Teladan dan mengajak keluarga penggiat sekolah-rumah lainnya untuk bergabung. Setelah mencari informasi dari beragam sumber, kami memutuskan untuk membuka komunitas sekolah-rumah dengan menguatkan partisipasi anak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Pengajaran harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta memperkokoh rasa penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan asasi. Pengajaran harus mempertinggi saling pengertian, rasa saling menerima, serta rasa persahabatan di antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan atau golongan penganut agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian.

Dalam konteks ini, komunitas sekolah-rumah sebagai model pendidikan kesetaraan yang diakui pemerintah ditantang untuk bisa menjamin perlindungan anak agar tidak menyalahi prinsip penyelenggaraan yang diamanatkan UU Sisdiknas maupun praktik indoktrinasi yang mengarah pada fanatisme.

Modal belajar

Penyelenggara sekolah-rumah tidak perlu berlelah-lelah dengan batasan kurikulum dalam sebuah kelas yang disibukkan oleh 24 anak, bahkan lebih. Ketika hambatan terhadap penghargaan ditiadakan, minat dan kemampuan anak terus digali serta tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, maka budaya belajar jadi niscaya.

Masalahnya, belum banyak orangtua yang yakin dapat mempraktikkan hal ini. Seminar, lokakarya, dan pelatihan parenting mungkin dapat membantu. Tapi, ini belum lengkap tanpa pendampingan program belajar keluarga.

Menghadirkan fasilitator yang berpengalaman dalam mengimplementasikan pendidikan anak merdeka dalam Forum OK! (Obrolan Keluarga) ternyata dapat memperkuat komunitas sekolah-rumah.

Setiap keluarga penyelenggara sekolah-rumah dapat berbagi pengalaman belajar sambil mendiskusikan perkembangan anak- anak dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Bahkan, kini sudah ada asosiasi sekolah-rumah dan pendidikan alternatif yang diharapkan dapat menjadi badan amanah bagi komunitas sekolah-rumah dan pendidikan alternatif di Indonesia.

Seluruhnya menjadi modal belajar yang sangat berarti bagi komunitas sekolah-rumah. Apalagi jika komitmen pemerintah dan pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran yang memadai bagi pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas dan bebas biaya tidak hanya bagi anak-anak sekolah, tetapi juga bagi pelaksana sekolah-rumah dan pendidikan alternatif segera direalisasikan.

Tidak ada komentar: