Rabu, 13 Agustus 2008

Menuju Sekolah Ramah Anak 3

Senin 11 Agustus 2008

Hari ini Zakky mau ikut ke Bhakti Nusantara. Kami tiba saat pimpinan uoacara menyiapkan barisan. Kuputuskan untuk duduk di ruang guru dan menanyakan beberapa hal kepada Zakky. Terdengar Pak Ali menyampaikan pidato tentang makna kemerdekaan dan makin lemahnya perekonomian Indonesia dibanding negara-negara lain.
Di sela-sela pidato Pak Ali, kulihat seorang guru menarik seorang anak ke depan karena terlihat mengobrol saat upacara. Beberapa kali teriakan seorang guru mengusik telingaku. Tidak hanya itu, ketika anak-anak sudah bergegas menuju kelas masing-masing, seorang memanggil salah satu murid baru. Lagi-lagi kesalahan anak-anak menjadi fokus perhatian seorang guru. Ah...

Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IX dimulai dengan mengajak anak-anak menggali isi pidato Pak Ali. Rizky bilang isinya tentang keburukan ekonomi di Indonesia, Tesa bilang tentang kemerdekaan. Anak-anak kuajak untuk melakukan Cara Asyik cari Tahu tentang keburukan perekonomian di Indonesia. Mereka tahu BBM naik akibatnya jajanan mereka berkurang. Transportasi tidak terlalu terasa karena 10 dari 21 anak jalan kaki menuju sekolah.
Sayangnya aku tidak berhasil menggelitik rasa ingin tahu mereka lebih jauh. Anak-anak lebih senang Cara Asyik Cari Tahu tentang proklamasi kemerdekaan. Mereka memilih membuat pantun, menulis dan mencari puisi dengan topik tersebut. Semua anak menuju ke perpustakaan. Sekelompok anak mendiskusikan isi puisinya, sekolompok lagi menunjukkan buku kumpulan puisi yang akan mereka kutip, sekelompok lainnya terlihat mengobrol. Kubiarkan semuanya melakukan cara pilihan untuk CACT Proklamasi kemerdekaan. Hanya Reza yang berkali-kali menunjukkan puisi buatannya di dalam kelas. Aku baru sadar kalau tangan Reza tidak normal. Semangat belajarnya yang tinggi membuatku baru menyadari hal ini.
Tepat pk. 08.30 kuminta Reza mengajak teman-temannya kembali kedalam kelas.
"Siapa yang tidak mengerjakan apapun?" tanyaku kemudian. Kulihat Hendor mengacungkan tangan. "Masih ada yang lain?" tanyaku lagi. Akbar dan Hendro tidak mengerjakan apapun. Kudekati mereka untuk mengungkap alasannya. Kuminta anak-anak untuk bertepuk tangan karena keduanya anak-anak yang hebat dan jujur. Ada dua anak yang menyalin puisi, 2 anak yang membuat puisi sendiri. Sisanya menulis pantun yang beraneka ragam.
Duh senangnya! Ternyata anak-anak tetap antusias belajar di tengah budaya sekolah yang nampaknya belum ramah anak.

Tidak ada komentar: