Minggu, 17 Agustus 2008

pelatihan fasilitator di Bandung

keluarga Indobnesia,

Relawan KerLiP di Bandung berhasil menyelenggarakan pelatihan fasilitator reriungan Anak dan Keluarga untuk Adaptasi Perubahan Iklim. Ada 18 peserta ditambah 10 peserta yang datang saat makan siang.
Saat fasilitator training tiba dari Jakarta, Ijul sedang membuat kesekatan jadwal dengan teman-teman fasilitator dari KerLiP, Sahabat alhi, Kalyanamandira, GSSC, dst. Pelatihan sepakat diakhiri sebelum magrib.
Sesi pertama, perkenalan sekaligus pemetaan pikiran tentang perubahan iklim. Anak-anak terutama anak-anak dari keluarga miskin merupakan korban terdepan dari perubahan iklim akibat polusi oleh kendaraan, kebakaran, pembalakan hutan, merokok, budaya materialistik. Anak-anak perlu pendidikan dan kasih sayang agar memahami pentingnya adaptasi perubahan iklim. Peserta didorong untuk memahami anak-anak sebagai korban terdepan dalam konteks bernegara.

Sesi kedua diisi oleh Irsyad Ridho dengan pendidikan multikultur.
Pada sesi ini peserta diajak untuk mengkaji budaya materialistik akibat pembentuikan hasrata yang dilakukan oleh korporasi. Menarik ketika proses pembelajaran di kampung Jawa dijadikan studi kasus untuk klarifikasi pemahaman tentang multikultur yang mendorong kesadaran akan adanya hierarki bahkan diskriminasi antara budaya dominan dan marjinal.Dikisahkan pada hari Kamis, 13 Agustus 2008, anak-anak Kampung Jawa berminat untuk memulai pembelajaran dengan mengenal tetangga. Disepakati mulai dengan menyebutkan jumlah setiap anggota keluarga yang tinggal diantara rumah Aing dan pendopo. Mereka berbagi tugas. Ada yang menyebutkan nama tetangga, jumlah anak mereka, dan ada yang menuliskan. Anak-anak yang belum bisa menulis ditemani anak-anak yang lebih besar untuk belajar menghitung dengan menggunakan angka-angka jumlah anggota pada setiap rumah. Anak-anak lainnya mendiskusikan tentang kepala keluarga. Konflik terjadi ketika ada anak yang bersikeras ada 21 kepala keluarga sedangkan yang lainnya bilang hanya adfa 13 sesuai dengan jumlah rumah yang mereka hitung. Diskusi berkembang sampai pada pendefinisian kembali tentang kepala keluarga.
Menurut Irsyad, kepala keluarga adalah tema karena, anak-anak terbiasa memahami bahwa kepala keluarga pasti seorang ayah tapi pada kenyataannya di kampung Jawa ada satu rumah yang dihuni oleh anak perempuan atau laki-laki, ibu, nenek yang bekerja menafkahi keluarganya.
Diskusi tentang kepala keluarga mendorong peserta didik dan fasilitator untuk merekonstruksi sebuah pengetahuan baru. pendefinisian kembali sebuah tema yang memunculkan konflik seperti ini tidak terlepas dari posisi ideologi fasilitator. Dalam hal ini, fasilitator mengajak peserta didik untuk memahami tentang gender dan seksualitas. Kurikulum dikembangkan dari posisi/tempat peserta didik. Inilah yang dikenal sebagai paedagogy of place.
Dalam pendidikan multikultur, place merupakan tempat dimana budaya dominan dan marjinal coba direduksi melalui pendidikan agar terjadi sebuah perubahan sosial yang melibatkan peserta didik.

Sampai disini, Irsyad Ridho berhasil mengajak peserta pelatihan untuk memahami pendidikan multikultur dan mendefiniskan kembali ciri-ciri fasilitator yang baik. Secara tersirat, LIBRA (Lembar Inspirasi Bagi Beragam Anak) pun mulai diperkenalkan. Model bahan ajar Cara Asyik Cari Tahu yang akan diujicobakan pada RAKA nanti diawali dengan LIBRA yang dikembangkan fasilitator dengan model pendidikan multikultur. Fasilitator mengajak anak dan keluarga untuk mengkaji kembali tema-tema pokok dalam keseharian mereka. Topik CACT ditetapkan dari hasil identifikasi kehidupan sehari-hari peserta didik dan keluarga mereka. Nama dan pekerjaan menjadi topik menarik di Samoja karena anak-anak cenderung resisten/malu ketika ditanya nama dan pekerjaan kepala keluarga masing-masing. Di kampung Jawa, kepala keluarga menjadi topik menarik untuk dipelajari lebih jauh.

Pada sesi berikutnya, Irsyad melakukan review dan menyebutkan ciri-ciri fasilitator dalam pendidikan multikultur : senang belajar bersama menemukan tema pokok (topik), unlearning (reformatted pola pikir), pengubahan bahasa, dan klarifikasi ideologi.
Ideologi didefinisikan sebagai hal-hal yang dipandang ideal tapi bukan milik peserta didik. Misalnya kepala keluarga adalah seorang ayah adalah ideologi ketika dijadikan pelajaran pada anak-anak di kampung jawa. Fasilitator yang memiliki sensitivitas gender belajar bersama anak-anak untuk mendefinisikan kembali keala keluarga sebagai seseorang, laki-laki atau perempua, tua atau muda, menikah atau tidak yang bekerja mencari nafkah untuk memberi makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan pendidikan agar seluruh anggota keluarga hidup layak. Kata-kata agar seluruh anggota keluarga hidup seperti apa dan ditemukan kata-kata hidup layak dapat menjadi tema berikutnya di Kampung Jawa jika ditemukan ada perbedaan definisi umum tentang hidup layak dengan kebiasaan hidup di kampung Jawa.
Dalam hal ini tema sangat ditentukan oleh posisi ideologi fasilitator yang berupaya mengembangkan kurikulum berdasarkan keseharian peserta didik agar terjadi sebuah transformasi intelektual. Hal ini juga dipengaruhi ragam sumber belajar yang tersedia. Rumah tetangga dan anggota keluarga di rumah tersebut menjadi sumber belajar yang menarik di kampung jawa.
Fasilitator dari Samoja menyampaikan kritik yang kemudian mengubah proses pelatihan jadi lebih partisipatif. Sayangnya dia tidak ikut sejak awal. Susi Fitry kemudian memfasilitasi peserta untuk menemukan tema dan mempresentasikannya pada pelatihan ini kemudian mengkaji bersama-sama peserta. Ijul dan Ova menceritakan pengalaman di rumah tahanan sedangkan Heri di TKBM SMP Terbuka. Dari cerita mereka, Susi Fitri mengajak peserta untuk memiliki skill pendidikan multikultur.
Pelatihan diakhiri dengan pengenalan model CACT (Cara ASyik Cari Tahu) dalam dua kelompok terpisah.
Disepakati untuk mengadakan pertemuan fasilitator pada hari Senin untuk menggali tema sesuai dengan place peserta RAKA yang sudah dipastikan akan mengikuti kegiatan tersebut.
RAKA ini akan dilaksanakan pada tanggal 23-24 Agustus dan diikuti anak dan keluarga dari komunitas mentari, taboo dan samoja. Masih belum jelas bagaimana persiapan sarana dan prasarana RAKA. Informasi terakhir, panitia belum memiliki dana untuk kegiatan RAKA. Ada yang bersedia membantu?

Tidak ada komentar: