Rabu, 07 Oktober 2009

Terima Kasih Pak Willy

Andy mengendarai mobilnya perlahan membawaku ke Pecinan. Kami menyusuri pesisir Pantai Barat Sumatera. Gedung Joang 45 terlihat hampir roboh seluruhnya akibat gempa. Air laut di seberang gedung tersebut terlihat tenang. Masuk ke arah Pondok, lokasi Pecinan di kota Padang, mulai terlihat reruntuhan. Dimana-mana! Hampir tak ada gedung yang selamat pasca gempa Sumatera kali ini.Reruntuhan rumah, gedung, toko, perkantoran terlihat hampir sepanjang jalan. Kami berhenti di depan posko Brimob seberang posko PLN. Ada seorang polisi jaga disana. Maksud kedatangan kami adalah untuk mengklarifikasi isu yang berkembang mengenai penjarahan toko di Pecinan tersebut dan diskriminasi bantuan kemanusiaan dari pemerintah terhadap penduduk yang terkena bencana di Pondok. Isu ini kami terima dari seorang kawan di Jakarta. Polisi jaga tersebut meminta kami untuk menanyakan langsung kepada seorang bapak yang menghampiri posko untuk meminta segelas kopi.
Tidak lama kemudian muncul Pak Willi, dokter gigi pemilik optik Murni yang ternyata ketua RW di wilayah Pondok ini. Usia 66 tahun tidak mengurangi semangatnya untuk membantu warga. Pak Willy menjelaskan banyak hal setelah menyerahkan makanan dan minuman untuk para polisi jaga di posko tersebut.

Sungguh luar biasa, di tengah keprihatinan akibat gempa tidak menyurutkan langkah Pak Willy dan kawan-kawan di HTT, HBT dan PSKPP juga Perkumpulan Keluarga Lie-Kwee untuk membantu penduduk yang terkena bencana tanpa membedakan siapapun. Menurut Pak Willy, perkumpulan HTT, HBT, Santu Yusuf dan keluarga Lie dan Kwee membantu evakuasi korban, pemakaman, dan logistik tanpa pandang apapun.

Mobil Andy pun mengikuti mobil Pak Willi menuju HTT sambil mampir di posko yang terkewati. Kami diterima dengan baik oleh para pengurus HTT. Pak Albert Herman Lukman menjelaskan beberapa hal terkait dengan bantuan kemanusiaan dan keamanan di lingkungan HTT. Beberapa pengurus HTT lainnya turut menambahkan bahkan menegaskan bahwa tak ada penjarahan di toko-toko milik anggota Perkumpulan HTT. Ada beberapa pengiriman bantuan dari Medan yang diminta oleh posko warga di beberapa titik menuju Padang. Namun hal ini dapat dimaklumi mengingat kondisi penduduk yang terkena bencana di daerah Pariaman tersebut banyak yang belum tersentuh bantuan kemanusiaan. Pak Willy juga sempat menambahkan tentang lubang yang membesar di toko Damarus. Kami juga sempat menyapa beberapa warga yang tengah membereskan dua ruko yang rusak berat. Menurut salah seorang pekerja tersebut, mereka diminta Pak Benny, pemilik kedua ruko untuk merapikan reruntuhan. Pak Willy tidak memastikan tentang hal tersebut.

Para pengurus HTT berbesar hati dengan kepercayaan yang mereka rasakan dari pemerintah bahwa mereka mampu mengurus kebutuhan dasar tanpa bantuan kemanusiaan dari pemerintah. Disampaikan oleh Pak Albert bahwa anggota Perkumpulan HTT rutin memberikan iuran tahunan dan melaksanakan subsidi silang untuk biaya pemakaman. 11 jenazah korban gempa dimakamkan dengan biaya perkumpulan HTT bersama jenazah lainnya yang diurus oleh HBT dan PSKP. Bantuan kemanusiaan yang terus mengalir ke wilayah tersebut membuka kemungkinan bagi sebagian warga terdekat untuk mendapatkan bantuan dari posko yang dibuka HTT. Bahkan atas inisiatif Pak Willy dan kawan-kawan mereka juga mengirimkan bantuan kemanusiaan sebagian ke daerah Padang Pariaman.

Dari HTT, Pak Willy mengajak kami ke HBT. Disana kami bertemu dengan Pak Andreas yang meyakinkan kami bahwa HBT dapat mengurus keperluan anggota dan masyarakat di sekitarnya secara mandiri. Klinik HBT tanpa henti mengobati penduduk yang terluka. Beberapa keluarga yang rumahnya hancur atau rusak berat karena gempa menginap di gedung HBT. Jumlahnya berangsur-angsur berkurang.

Ada dua anak perempuan yang ditemani ibu mereka di gedung milik perkumpulan keluarga Lie dan Kwee yang berdiri kokoh di tengah-tengah reruntuhan gedung. Menurut pengurusnya ada 10-20 KK yang menginap di gedung tersebut setiap malamnya. Mereka kehilangan rumah akibat gempa. Hal yang sama kami saksikan di PSKP. Pak Charli mengajak kami menemui Pak SOfyan adiknya yang kehilangan rumah mereka di Kp Nias 3 belakang gedung PSKP. Ada empat rumah bertingkat yang tengah dikerumuni 25-30 orang yang mengumpulkan besi dari reruntuhan rumah tersebut. Pak Sofyan dan Pak Charli berharap mendapatkan bantuan dalam bentuk police line untuk memberi kesempatan kepada keluarganya mencari dan menemukan surat-surat berharga di bawah reruntuhan gedung tersebut. Pak Willy pamit duluan dipamnggil istri tercinta setelah kami menemui keluarga yang tengah menyiapkan pemakaman putra mereka yang meninggal karena demam berdarah di rumah duka milik PSKP.

Pak Albert dan Pak Sofyan berjanji untuk hadir dalam kordinasi di pendopo rumah Gubernur pada jam 18.30 untuk menyampaikan perkembangan kondisi bantuan kemanusiaan di wilayah pendopo dan harapan mereka untuk mendapatkan bantuan penjagaaan keamanan di reruntuhan ruko yang dimiliki warga. Agak lama saya dan Andy menunggu kehadiran keduanya. Akhirnya kami putuskan untuk menyampaikan langsung perkembangan pemetaan kebutuhan di Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman dan di Pondok, Kota Padang. BNPB menyarankan untuk langsung menyampaikan laporan perkembangan tersebut ke Satkorlak Provinsi Sumbar.
Kami diterima 2 penjaga piket yang menerima seluruh laporan tertulis, sedangkan keperluan penjagaan keamanan di wilayah Pondok akan ditindaklanjuti oleh Ibu Dewi Sartika dari Kapolda.

Esok harinya kami memastikan bantuan kemanusiaan yang diperlukan posko Manggopoh Ujung, Pasar Ulakan, Kampani, Bato, Batang Kabung dan bantuan dalam bentuk penjaga keamanan di wilayah Pondok, kota Padang benar-benar diterima yang berhak sebelum pulang ke Bandung.
ALhmadulillah..bantuan polisi dan police line sudah diterima oleh warga di daerah pecinan tersebut. Namun sampai hari ini, SDN 07 Batang Kabung baru mendapatkan dana bantuan untuk membangun 4 kelas darurat. Penduduk di Manggopoh Ujung, Pasar Ulakan dan Tujuh Kota sudah mulai mendapatkan bantuan kemanusiaan dari donatur dan keluarga mereka di perantauan. Penduduk yang terkena bencana di Kelurahan Bantar Buat Kota Padang belum mendapatkan tenda dan logistik secara merata.

Mudah-mudahan hari ini semuanya bisa mendapatkan bantuan logistik dan bantuan kemanusiaan lainnya sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Amin

Tidak ada komentar: