Selasa, 06 Oktober 2009

Narasi Perjalanan Pemetaan Kebutuhan di Sumbar

Masalahnya rumah rusak/rata dg tanah ada diman-mana dan ciri khas orang minang : orang tidak mengungsi bersama dan tidur di tenda yang sama, tapi mereka pasang tenda seadanya di pekarangan rumah mereka, jadi anak-anak pun ikut tersebar, tidak berada di satu tempat, maka perlu kelompok-kelompok kecil yang datang ke lingkungan-lingkungan tertentu untuk menghibur anak-anak. Beda dengan Aceh yang pengungsinya disatukan.
Ada policy Bahwa semua bantuan harus disatukan di pusat baru disalurkan. Itu ide bagus, tapi tidak bagus di pelaksanaan karena pencatatan lamban, info daerah mana yang belum dapat bagian, lambat diterima dan minim.
Banyaknya wisatawan bencana mempersuli distribusi, jalan-jalan dipenuhi mobil dan motor yang isinya para pesiar yang nonton bencana, sesuatu yang sangat saya benci. Jalan macet, truk barang dan alat berat tidak bisa lewat dengan mulus, tanah labil, tapi kendaraan padat merayap karena terhalang motor parkir seenaknya karena mau nonton bencana. Sangat tidak etis. Mereka yang jadi penonton tidak berbuat apa-apa, beda dengan kita yang datang untuk tahu apa yang harus dilakukan, dengan siapa berkordinasi dll. Jadi harap ibu bisa bantu meyakinkan orang-orang juga bawa menonton/wisata bencana itu tidak etis.
..ini bunyi sms dari Ibu Meuthia Hatta pada tanggal 7 Oktober 2009 ini diteruskan ke kordinator OCHA di Padang, Mbak Titi yang langsung akan meneruskannya ke cluster pendidikan dan shelter.

Berikut ini adalah narasi lengkap perjalanan pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan di Sumatera Barat yang dilakukan untuk mendorong penguatan kapasitas lokal dalam meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan selama tanggap darurat pasca gempa Sumatera.

5 Oktober 2009
Pesawat GIA menuju bandara Minangkabau baru mengudara pukul 10.00 dari jam 9.15 yang direncanakan. Tiket pesawat yang kupesan untuk keberangkatan pukul 8.00.
Hujan cukup deras pagi itu saat aku bertemu dengan Rika, penduduk Pariaman yang tinggal dan bekerja sebagai Guru SMK Dinamika di Tegal. Rika pulang untuk menengok keluarganya yang terkena bencana gempa Sumatera. Kami saling bertukar cerita selama 3 jam menunggu pesawat yang membawa kami ke ranah Minang.
Rika senang sekali menemaniku mengunjungi lokasi yang terkena gempa, bahkan akhirnya aku tinggal di rumah neneknya di Bato, Pariaman. Rupanya Kota Pariaman berbeda dengan Kabupaten Padang Pariaman. Rencanaku untuk melakukan pemetaan di Padang bersama Andi Liputo, adinda Yuliani Liputo teman sekampus di ITB dulu kutunda.

Aku duduk disamping Pak Zulkawi penduduk Kecamatan Ulakan yang kabarnya mengalami kerusakan >80% akibat gempa Sumatera. Pak Zulkawi menceritakan kejadian gempa di Maransi, tempat tinggal yang ditinggalkannya sejak gempa terjadi. Hari ini Pak Zulkawi berencana menemui keluarga besarnya di Padang Pariaman setelah membawa istri dan anak-anaknya tinggal di Jakarta. Anak yang sulung berusia 5,5 tahun terperangkap di mobil saat gempa terjadi. Sampai saat ini masih mengalami trauma akibat gempa.

Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Minangkabau pada pukul 11.40. Hujan masih membasahi ranah Minang.
Aku dan Rika cukup lama menunggu barang-barang yang kubawa dari Bandung. Ada beberapa kotak makanan anak yang sengaja kubeli untuk oleh-oleh bagi anak-anak korban gempa. Pamannya Rika sudah menunggu kami di tempat parkir. Ternyata Andi juga menjemputku di bandara bersama temannya. Andi tidak keberatan dengan rencana pemetaan di Pariaman yang akan kulakukan bersama Rika sampai hari Selasa. Dia memberiku peta Sumatera, Solok dan Padang setelah menerima beberapa berkas yang disiapkan Zamzam dan Ova untuk pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan pasca gempa Sumatera.

Jalanan cukup ramai. Reruntuhan rumah terlihat di sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal neneknya Rika. Kami tiba di Bato pada pukul 13.50. Ada retakan melintang sepanjang dinding kiri rumah neneknya Rika. Dinding tersebut ditahan dengan beberapa bambu dari bagian luar.
Siti Asawar sudah berusia 80 tahun langsung menceritakan kejadian gempa terbesar yang pernah dialaminya sepanjang hidup saat kami duduk di ruang tamu. Ceritanya dalam bahasa daerah yang belum kumengerti sepenuhnya. Tidak lama kemudian ayahnya Rika, Pak Darlis datang. Kabarnya sampai hari itu belum ada petugas yang mendatangi rumah kediaman mereka untuk melakukan pendataan apalagi mengirimkan bantuan. Syukurlah, paman Rika dari Palembang datang membawa bahan makanan untuk membantu nenek, ayah, dan ketiga adik Rika.
Rupanya keterlambatan bantuan tersebut juga dialami beberapa penduduk Kecamatan Pariaman Tengah yang kami temui sore harinya. Ibu Radiah terlihat memungut bata-bata merah dari reruntuhan rumahnya. Suaranya hampir hilang terkena ISPA sejak gempa merobohkan rumah kediamannya yang juga tempat Alvin adiknya membuka usaha sablon. Mereka kehilangan pelanggan yang juga menjadi korban bencana. Ibu Radiah bersama keluarganya menumpang tidur di rumah saudara mereka. Mereka bahu membahu memunguti sisa-sisa bahan bangunan yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah. Tetangga mereka, Ibu Erna dan 9 orang anggota keluarganya hanya pasrah melihat reruntuhan rumah mereka. Hampir tak ada yang tersisa. Kedua keluarga yang tinggal berdekatan ini baru mendapatkan 2 liter beras dan 2 bungkus mie sejak gempa Sumatera merobohkan rumah mereka pada tanggal 30 September lalu.
Kami juga menyempatkan memotret SDN 07 Batang Kabung yang hancur.

Sore itu kami menyusuri jalan Jati menuju Ulakan, tempat kediaman Pak Zulkawi. Ada beberapa posko yang didirikan warga bersama Wali Korong yang sempat kami temui. Bantuan pangan dan uang titipan Rumah KerLiP sudah mulai didistribusikan dari rumah Ibu Radiah. Korong Manggopoh Ujung yang dihuni 350 KK baru mendapatkan bantuan 9 karung beras, beberapa dus mie instan dan minyak goreng. Pak Ali Akbar, wali korong Manggopoh Ujung Kecamatan Ulakan Pakis bergantian dengan Pak Manyar dan beberapa orang lainnya menjelaskan keterlambatan bantuan dari Satlak Kabupaten Padang Pariaman. Menurut mereka, prosedur permohonan bantuan yang harus ditandatangani pihak-pihak terkait cukup menyulitkan. Sampai hari itu, mereka bertahan hidup dari bantuan masyarakat perantauan yang pulang kampung untuk membantu keluarga yang terkena bencana. Terlihat 1 bungkus plastik berisi terpal biru dilempar dari mobil petugas Satlak Kecamatan yang melintas di depan Posko Manggopoh Ujung. Jumlahnya sangat terbatas dibanding 350 KK yang memerlukan tenda untuk tempat tinggal sementara di depan rumah mereka yang rusak akibat gempa.

Dari Manggopoh Ujung kami menuju Pasar Ulakan. Banyak sekali rumah yang roboh disana. Menurut Pak Syukur yang ternyata juga Kepala SMPN1 Nan Sabaris, lebih dari 80% rumah di Pasar Ulakan rusak berat bahkan roboh karena gempa. Posko SIKIB dan ASKES Peduli di SD seberang toko kelontong milik Pak Syukur sudah menyiapkan mobil pintar bersama ahli trauma healing. Namun anak-anak belum banyak berdatangan ke sekolah yang rusak berat ini. Bnatuan BAZNAS melalui wali korong Pasar Ulakan bisa menjadi model yang baik untuk penyaluran bantuan kemanusiaan yang lebih berkeadilan. Bantuan pengobatan gratis yang dilaksanakan Posko SIKIB pada tanggal 3-4 Oktober juga sangat membantu penduduk yang terkena bencana. Pak Syukur menyampaikan harapannya untuk mendapatkan bantuan tenda kelas sebanyak 17 buah untuk SMPN 1 Nan Sabaris.

Kami menyampaikan seluruh bantuan yang tersisa di Posko korong pasar Ulakan dengan 72 KK. 5 rumah roboh, 50 rusak berat dan 12 rusak ringan di korong tersebut. Bantuan kemanusiaan yang sudah masuk baru dari masyarakat perantauan dan TVOne. Syukurlah, penduduk yang terkena bencana di korong tersebut bahu membahu memastikan tak ada satupun warganya yang kekurangan makanan.

6 Oktober

Pemetaan kebutuhan bantuan kemanusiaan hari ini dilakukan di Batang Kabung, Marapak, Kampani, dan Barangan. Sepanjang jalan Sisingamangaraja ke arah Tujuh Koto, jalan alternatif ke kanan ke Padang Alai dan ke kiri ke Tandikat tempat 3 dusun terkubur longsor akibat gempa Sumatera.
Kepala SD 07 batang Kabung, Ibu Hasmarni bersama Ibu Redawati, Darmawati, Nur’aini, Heppy Yendrawati, Fattah Dina, Hasmayati, Hasniwati, Afri Vidawarni menunjukkan kerusakan yang terjadi di SDN 07 Batang Kabung. Hanya 2 ruang yang cukup layak digunakan sebagai tempat penyimpanan serta ruang perpustakaan yang baru dibangun tahun lalu. Ruang kelas, kantor, dan perumahan guru serta rumah kepala Sekolah hancur oleh gempa. Menurut Ibu Redawati, sekolah tersebut sudah menyiapkan rekening untuk DAK sebesar Rp 900 juta. Pada hari ke-15 puasa di Bank BNI Cabang Kota Pariaman. Pembangunan ruang kelas baru sampai tingkat dua ini dihimbau dapat diselesaikan sampai Desember 2009. Namun kabarnya DAK ini dibatalkan karena gempa. Perlu penelusuran lebih lanjut untuk memastikan bahwa SDN 07 Batang Kabung benar-benar mendapatkan DAK untuk ruang kelas baru.
Ibu Redawati mengharapkan keterlibatan semua pihak untuk merencanakan, mengawasi, melaksanakan dan melaporkan pembangunan ruang kelas baru dari DAK tersebut jika benar-benar dapat dilaksanakan.

Perlu kepastian mengenai pembangunan kembali sekolah yang rusak dan diperlukan 7 tenda kelas untuk pelaksanaan pembelajaran. Mulai tanggl 7 Oktober anak-anak akan dikumpulkan di 2 mushola terdekat. Dikhawatirkan anak-anak mengalami trauma akibat gempa. Pendampingan penanganan psikososial di sekolah tersebut diharapkan dapat dilaksanakan segera.

Kami ditunjukkan Pak Nasrul penduduk desa Marapak mengenai kerusakan di beberapa rumah milik warga yang terlihat berdiri kokoh namun retak di bagian urat bangunan rumah masing-masing.

Dari Marapak kami melakukan pemetaan di Kampani. Terlihat SDN 01 rusak berat. Kami menemui satu kelompok warga yang sebagian rumahnya rata dengan tanah. Mereka adalah satu keluarga besar yang mendapatkan bantuan tenda peleton dari salah satu anggota keluarga yang menjadi anggota Tim SAR sejak tahun 2007. Belum ada bantuan pangan selain bantuan dari keluarga mereka di perantauan. Ada 12 keluarga yang berkumpul saling berseberangan di are tersebut.
Di bagian dalam kami menemui keluarga Yen yang rumah barunya hancur karena gempa. Keluarga tersebut memasak sendiri seadanya di reruntuhan rumah yang dihuni 2 bali, 1 ayah dan 1 ibu. Kedalam lagi kami bertemu dengan Ibu Razani (68 tahun) bersama Mansur suaminya dan Jhon anaknya yang sedang sakit demam. Rumah mereka rusak berat di bagian dapur, kamar mandi dan dinding depan. Kemudian kami menemui Tengku Zulkifli, rumahnya rusak berat di bagian depan, belakang, samping.

Sepanjang jalan masuk menuju posko korong Kampani, terlihat reruntuhan rumah di berbagai area. Makin keatas makin banyak rumah yang rusak. Kami berhenti di SDN 03 Koto untuk mendokumentasikan kerusakan bangunan di sekolah tersebut. Lalu mengunjungi Posko Korong Barangan sambil menyampaikan oleh-oleh yang tersisa.
Pak Jazril menyampaikan bahwa Nagari Lurah Hampala Kecamatan Tujuh Koto Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 15 korong dan dihuni 7.191 jiwa dengan 1.553 KK. Korban gempa yang meninggal sebanyak 15 jiwa, 37 orang luka-luka. Ada 1.421 rumah rusak berat, 199 rusak sedang, 14 rusak ringan. Sumber air mengandalkan air hujan. Jarak dari sungan sekitar 2-3 km. Diperlukan sumber air bersih dan posko medis di korong tersebut.

Saat ini mereka menerima 151 tenda dari Caritas Indonesia, 9 karung beras dari Pemda dan bantuan pangan dari beberapa donatur.

Kami memberikan print out pendataan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat kerusakan rumah yang dialami akibat gempa Sumatera.

Hasil pemetaan kebutuhan di Pariaman mendorong kami untuk membuka posko peduli gempa di rumah Ibu Redawati jalan Sisingamangaraja Batang Kabung samping SDN 07 Batang Kabung dengan Ibu Reda, Darnelis, Rika dan Pak darnel sebagai relawan lokal yang mengelola posko tersebut.

Fokus area kami putuskan di SDN 07 Batang kabung, kelompok kecil Kampani, Pasar Ulakan dan Manggopoh Ujung.

Pukul 15.10 kami berangkat menuju posko peduli gempa Sumatera yang dikelola Andi Liputo di padang. Kami sempat mendokumentasikan beberapa lokasi reruntuhan gedung bertingkat dan masjid di Padang sebelum berkordinasi di posko WALHI provinsi Sumbar. Kordinator : Kha;lid Saefullah 081363482946
Email : kucinglia@yahoo.com
Kami mendapatkan kontak untuk kordinasi di Padang pariaman sebagai berikut :

Posko WALHI Padang Pariaman 0751-690572
Kordinator : Noldi 081363180232
Database : Hendri Insan 081363180232
Logistik : Nurhayati 0813267421763
Infokom : Poniman 081374601283
Bendahara : Rin 085263299983
Email : lumbungderma@gmail.com

Posko Peduli Gempa Sumatera Rumah KerLiP
Penanggung Jawab : YantiKerLiP
Kordinator Infokom dan Advokasi di Padang : Andi Liputo (0751-778771/081267229846)
Kordinator Program di Pariaman : Darnelis 085274158006/085263325564
Bendahara : Redawati 081363447098
Humas dan Logistik : Darlis
Database : Rika (08136375561)
Sekretariat : Rumah Ibu Redawati
Jl. Sisingamangaraja Batang Kabung Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman

Tidak ada komentar: