Senin, 05 Oktober 2009

Bantuan kemanusiaan di sepanjang jalan menuju Ulakan - Padang Pariaman sangat minim

Sepanjang jalan dari Jati menuju Ulakan hampir semua penduduk yang terkena bencana dan posko yang didirikan di setiap Korong terutama Mangopoh Ujung yang dihuni > 350 KK belum mendapatkan bantuan kemanusiaan yang memadai. Sampai hari ini mereka baru mendapatkan 5 karung beras dan sedikit mie sehingga setiap keluarga hanya mendapatkan 2 liter beras dan 2 bungkus indomie. Kondisi Posko di salah korong terakhir yang kami temui lebih beruntung karena keluarga dari perantauan mengirimkan bantuan beras dst. Korong di kecamatan Ulakan dengan tingkat kerusakan yang parah ini dihuni >76 KK dan melibatkan anak-anak, ibu-ibu, lansia untuk mengatur bantuan kemanusiaan yang masuk. Sisa Dana dan bantuan makanan anak yang dibawa dari Bandung akhirnya diserahkan di posko tersebut untuk dibagikan secara berkeadilan kepada seluruh penduduk yang terkena bencana di korong masing-masing.

Berikut kliping berita mengenai kondisi di Sumatera Barat pasca gempa

* * *
Duh, 320 Keluarga Terancam Kelaparan

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com- Sebanyak 320 keluarga yang menghuni Korong atau Dusun Koto Tinggi, Kanagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, terancam kelaparan. Wilayah mereka terisolasi karena semua akses jalan menuju Koto Tinggi terputus dan tak bisa dilalui kendaraan roda empat. Sejak gempa terjadi, bantuan baru datang hari Minggu (4/10).
Korban gempa di Koto Tinggi kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Menurut salah seorang sesepuh dusun, Abdul Azis Sutan Bandaharo, tak banyak bantuan yang diperoleh masyarakat hari Minggu. Semua serba terbatas karena karena bantuan diangkut berjalan kaki, sementara jarak ke dusun kami sangat jauh dari tempat terakhir kendaraan bisa melewati jalan di simpang tiga. "Masyarakat sangat membutuhkan bahan makanan dan obat-obatan karena banyak warga kami yang sakit dan belum terobati," ujar Bandaharo, Senin (5/10).


Menurut dia, sebanyak 13 orang warga Koto Tinggi tertimbun tanah longsor dan belum ditemukan jenazahnya. Selain itu ada dua orang warga yang meninggal di dekat rumahnya yang runtuh, juga belum dapat dievakuasi karena tak ada alat berat. Tim penyelamat baru datang ke Koto Tinggi hari Senin. Mereka terdiri dari tim Manggala Agni Departemen Kehutanan dan relawan dari pemadam kebakaran asal Perancis.
Akses ke Koto Tinggi hanya bisa ditempuh dari dua titik, yakni dari Padang Alai dan Malalak di Kabupaten Agam. Jalan dari Padang Alai maupun Malalak menuju Koto Tinggi terputus sejak gempa.


Bahkan putusnya jalan dari Padang Alai terjadi di tiga titik. Jalan yang terputus bisa mencapai satu kilometer. Selain terputus, di beberapa titik, jalan juga tertimbun longsoran tanah sehingga tak bisa dilewati kendaraan.
Relawan dari Perancis yang juga membawa dokter dan paramedis, sempat mendirikan klinik darurat di sebuah sekolah. Tercatat hampir 50 warga langsung mendatangi klinik tersebut. Sebagian warga mengeluh sesak nafas, sementara anak-anak menderita demam tinggi selama beberapa hari terakhir. Ada juga orangtua yang kekurangan nutrisi karena tak mendapat asupan bahan makanan cukup. Mereka langsung diinfus oleh tim medis relawan asal Perancis.


Kasman, warga setempat menuturkan, bantuan yang datang harus diangkut dengan berjalan kaki dari Padang Alai. Waktu tempuh dari Padang Alai menuju Koto Tinggi berjalan kaki selama dua jam. "Jumlahnya jadi tak seberapa karena diangkut dengan berjalan kaki, sementara kami betul-betul membutuhkan bahan makanan. Mungkin kalau beras, kami masih cukup, karena sebagian warga adalah petani, tetapi bahan makanan lain untuk memasaknya seperti minyak tak bisa kami dapatkan," katanya.
Berharap akses bantuan dari Malalak juga tak mungkin karena jalan dari sana juga terputus di beberapa titik. "Kendaraan yang lewat hanya sepeda motor. Itu pun kami harus berhati-hati," ujar warga lainnya, Zul Effendi.


Bantuan memang bisa didrop lewat udara menggunakan helikopter. Akan tetapi bantuan dari helikopter diturunkan asal-asalan, seperti yang dilakukan oleh helikopter Badan SAR Nasional, Senin sore. Mereka menurunkan bantuan berupa indomie di dekat lapangan sekolah tempat relawan Perancis membuat klinik darurat. Ini membuat korban gempa yang berobat terganggu, sementara tenda darurat yang didirikan warga rusak oleh getaran suara helikopter.
* * *
Jalur Padang-Bengkulu Putus

Senin, 5 Oktober 2009

PADANG, KOMPAS.com- Hujan deras yang mengguyur Sumatera Barat, Minggu malam hingga Senin (5/10) siang, menyebabkan jalan lintas barat Sumatera jalur Padang-Bengkulu, terputus di kilometer 43, di Baruang-Baruang Belantai, Kabupaten Pesisir Selatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Barat, Dody Ruswandi mengatakan, putusnya jalan di kawasan Pesisir Selatan itu karena badan jalan terban digerus arus sungai sepanjang 30 meter. "Jalan alternatif tidak ada, sehingga kini ratusan kendaraan antre baik menuju Painan dan Bengkulu maupun sebaliknya," katanya.

Menurut Dody, pihaknya sepanjang Senin sudah menurunkan petugas dan alat berat untuk menanggulangi. Besok (Selasa, 6/10) diupayakan kendaraan bisa melewati jalan yang masih darurat. Sementara itu, badan jalan lintas tengah Sumatera jalur Padang-Solok yang putus di kawasan Panorama Sitinjau Lauik, Kota Padang, yang menyebabkan dua kendaraan tertimbun, sudah mulai pulih.
Dody mengingatkan, pengendara agar hati-hati jika hari hujan. Kawasan pebukitan rawan longsor, dan kawasan jalan pinggir sunggai rawan ambles/terban. "Berhentilah melewati daerah rawan jika hujan lebat, setelah mereda silakan lanjutkan perjalanan," katanya.

* * *
Lagi, Malam Ini Pariaman Diguncang Gempa 5,1 SR

Rakyat Merdeka, 05 Oktober 2009,



Jakarta, RMOL. Malam ini (Senin, 5/10), sekitar pukul 19.51 WIB terjadi gempa susulan di Pariaman, Sumatera Barat.

Gempa terjadi dengan lokasi 0,5 Lintang Selatan (LS) /99,63 Bujur Timur (BT). Pusat gempa terjadi di 62 KM barat daya Pariaman.

Kekuatan gempa susulan ini mencapai 5,1 skala richter dengan kedalaman 58 KM. [yan]
* * *
Layanan Perbankan di Padang Berangsur Pulih

Senin, 05 Oktober 2009

TEMPO Interaktif, Padang - Aktivitas perbankan di Padang pascagempa berangsur pulih. Masyarakat tampak mulai memadati kantor maupun gerai anjungan tunai mandiri. "Tapi belum semua layanan bisa dilayani," ujar Apep Mochammad, Koordinator Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Padang, Senin (5/10).

Apep mengatakan aktivitas layanan sudah dioperasikan oleh seluruh perbankan di wilayah Padang. Jenis layanan yang paling banyak dimanfaatkan para nasabah umumnya adalah penarikan tunai melalui 288 mesin anjungan tunai mandiri yang tersebar di seluruh Padang.

Sebagai badan otoritas monoter nasional, kata Apep, BI telah menjalankan sejumlah unit kerjanya guna mengatur lalu lintas keuangan antarbank. "Cuma Bank Internasional Indonesia yang belum bisa difasilitasi layanan real time gross settlement (sistem transaksi jumbo antar bank) dan sistim kliring nasional," ujarnya.

Lumpuhnya layanan BII terjadi karena kantor cabang mereka yang berada di Jalan Sudirman rusak berat. Gedung dengan tiga lantai itu roboh dan menghancurkan sejumlah peralatan kerja. "Para karyawan juga masih dalam keadaan berduka karena pimpinan cabang mereka ikut menjadi korban," ujarnya.

Untuk menanggulangi dampak gempa, kata Apep, BI telah menyiapkan stok uang kartal yang cukup bagi warga Padang. Penarikan tunai yang dalam jumlah besar terjadi di Nagari beberapa waktu lalu untuk keperluan pembayaran gaji pegawai pemerintah daerah Padang.

Berdasarkan pantauan Tempo, layanan perbankan di sejumlah tempat memang belum sepenuhnya pulih. Gempa berkekuatan 7.6 skala Richter yang mengguncang wilayah Padang dan Pariaman lima hari lalu merusak bangunan sejumlah kantor perbankan seperti yang tampak di kantor Cabang Utama BCA, Sawahan.

Akibat kerusakan tersebut, manajemen BCA terpaksa mengalihkan layanan mereka ke kantor cabang yang berada di Jalan Pemuda. Di sana mereka telah mendirikan sebuah tenda besar seluas 24 meter. "Itu juga untuk mengantisipasi dampak gempa susulan," ujar Lefiater Sitohang, Kepala Cabang BCA Padang.

Dampak gempa relatif tidak berpengaruh terhadap Bank Mega di Jalan Sudirman. Kantor dengan tiga lantai itu hanya mengalami retak ringan di sejumlah tempat. "Dua dari tiga gerai ATM kami belum berfungsi. Layanan ATM hanya bisa dimanfaatkan di kantor," ujar Yose Rizal, Kepala Bagian Umum Bank Mega Cabang Padang.

* * *

Tidak ada komentar: