Senin, 05 Oktober 2009

Ayo bantu

Detik News, 05/10/2009
Warga Keturunan Keluhkan Diskriminasi Bantuan

Padang - Pengiriman bantuan terhadap korban gempa di Sumatera Barat dirasakan tidak merata. Warga keturunan Tionghoa mengeluhkan pemerintah bersikap diskriminatif dalam mengirimkan bantuan di Kampung China, Padang, Sumatera Barat.

"Benar ada diskriminasi. Kami tidak pernah dibantu oleh pemerintah," kata Koordinator Penanggulangan Gempa Masyarakat Tionghoa, Andreas di Kampung China, Padang, Sumatera Barat, Senin (5/10/2009).

Menurut Andreas, warga keturunan Tionghoa mencari dan mengevakuasi mayat sendiri. Pemerintah meski sudah datang ke lokasi bencana, tidak memberikan bantuan apapun.

"Kami lakukan sendiri. Mereka datang kemarin tapi cuma lihat saja tidak memberikan apapun. Dari etnis kita yang tewas 48 orang. Lainnya saya nggak tahu," jelasnya.

Andreas mengatakan, pihaknya pun mengirimkan bantuan kepada korban gempa tidak hanya sesama etnis Tionghoa tapi juga korban lainnya. Bantuan itu didapat keluarga dan jaringan.

"Lalu kita distribusikan kembali ke daerah bencana seperti Pariaman dan kecamatan sekitar sini," imbuhnya.

Kendalanya, lanjut Andreas, bantuan masih dirasa kurang karena banyak korban gempa selain yang di Kampung China mengambil makanan di dapur umum mereka.

"Butuh bantuan yang lebih banyak. Kita kan juga membantu orang yang bukan etnis kita. Kayak mendirikan dapur umum itu banyak yang mengambil di sini," katanya.

* * *

Jawa Pos 05 Oktober 2009


Distribusi Makanan Lambat, Korban Gempa Mulai Kelaparan

PADANG - Para korban gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mulai kelaparan. Mere­ka yang kekurangan makanan tak hanya yang berada di daerah terpencil, tapi juga di Kota Pa­riaman dan Padang.

Bantuan makanan telat datang. Hal itu dikeluhkan para warga Enam Lingkung Naga­ri Pakandangan, Kampung Panas, Padang Pa­riaman. Menurut Yulianti, salah seorang warga, sejak gempa terjadi Rabu lalu (30/9), desanya belum mendapat bantuan makanan sama sekali.

''Ada bantuan pakaian. Tapi, buat apa? Kami nggak butuh pakaian," keluhnya.

Yulianti bersama ratusan warga lain hampir putus asa. Pasalnya, persediaan makanan mereka sudah menipis. ''Bisa makan sekali sehari sudah untung," ujarnya.

Hal serupa terjadi di Kota Pariaman. Tak urung, saat bantuan tiba, para warga langsung mengular antre di posko bencana. Bahkan, mereka saling berebut mi yang dibagikan para relawan. ''Sabar, ya bapak-bapak, ibu-ibu," ujar sa­lah seorang relawan.

Namun, para warga semakin tidak sabar. ''Sabar bagaimana, sudah ke­laparan seperti ini," celutuk salah seorang ibu. Mendengar celetukan itu, para relawan hanya tersenyum.

Di perkampungan China, Kota Padang, warga keturunan Tionghoa juga kekurangan makanan. Apalagi, mereka yang rumahnya habis "tertelan" gempa.

Sampai hari keempat pascagempa, sejumlah masyarakat mengeluh belum menerima bantuan dari pemerintah setempat. Masyarakat hanya bertahan dengan persediaan logistik yang tersisa. Para korban itu mengaku kecewa atas lambannya pendistribusian makanan.

''Sampai hari ini kami sama sekali belum menerima bantuan. Bagaimana bentuk bantuan dan apa rasanya kami tak tahu. Sementara persediaan di rumah sudah sangat terbatas. Jika kondisi ini terus berlanjut, bisa-bisa kami mati kelaparan," ujar Zulkani, salah seorang korban gempa di RT 01 RW 07 Pasar Ambacang.

Dia sangat menyayangkan lambannya pendistribusian logistik dari pemerintah. Padahal, logistik tersebut sangat dibutuhkan masya­rakat setempat. ''Kami sangat ingin bantuan logistik itu segera datang. Kami yang tua-tua bisalah menahan lapar. Tapi, bagaimana dengan anak-anak?" ujarnya. Hal senada dikeluhkan Kasman, ketua RT 03 RW 05 Rawang Ketaping. Padahal, di tempat tinggalnya ada sekitar 500 korban gempa.

Lebih parah lagi beberapa dusun terpencil di Padang Pariaman. Di antaranya Dusun Korong Siala­ngan, Padang Alai, Koto V Timur dan Desa Nagari Tandikek, yang ber­batasan dengan Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung.

Persediaan makanan warga, seper­ti beras dan mi, sudah menipis. Bah­kan, ada yang sudah tak me­miliki beras sama sekali. ''Di bawah (Padang Alai, Red) katanya ada posko. Kami ingin minta bantuan makanan,'' ujarnya.

Memasuki dusun itu, yang terlihat hanya puing-puing rumah berserak­an. Tatapan para bocah terlihat kosong, seolah tak bermasa depan. Sudah beberapa hari ini mereka hanya makan mi. ''Kami harus berhemat. Yang penting bisa makan bareng-bareng,'' jelas Firdaus, salah seorang warga Korong Sialangan.

Bukan hanya kondisi rumah me­reka yang mengenaskan. Pada ma­lam, dusun itu gelap gulita. Selain listrik yang memang belum masuk, minyak tanah yang biasa untuk menghidupkan lampu tidak bisa lagi mereka dapatkan. Kalaupun ada sisa sedikit, mereka lebih memilih menggunakan untuk memasak.

Kemarin warga mulai berbenah. Mereka mengais-ngais barang yang diperkirakan masih bisa dipakai. Peralatan rumah tangga yang masih bisa diperbaiki mereka selamatkan. Kursi, meja, lemari, dan perabotan lain mereka kumpulkan. Mereka juga mengais sisa makanan di reruntuhan rumah mereka. ''Setiap hari kami mencari sisa makanan seperti ini,'' ujar Tahir, warga lainnya.

Karena mulai kelaparan, warga mu­lai ada yang turun ke bawah per­bukitan. Mereka mendatangi posko bantuan yang ada di Padang Alai. ''Hingga hari ini, belum ada bantuan yang datang,'' ujar Samiun, juga warga Korong Sialangan.

Sejatinya, warga memaklumi bila belum ada bantuan yang datang lantaran sulitnya akses menuju ke du­sun mereka. Tapi, mereka berharap agar usaha mencari bantuan makanan ke posko bisa berhasil. ''Dari dulu kami memang terisolasi, apala­gi setelah ada gempa ini,'' ucapnya.

Nagari Tandikek memiliki beberapa korong (setingkat dusun), an­tara lain Jumanak, Gunuang Tigo, dan Lubuaklaweh. Kira-kira 90 persen rumah penduduk dan fasilitas umum di tiga dusun itu rata dengan tanah. Ratusan orang diperkirakan tertimbun reruntuhan bukit yang mengitari nagari tersebut.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Heryanto Rustam tidak menampik adanya daerah yang belum tersentuh bantuan. Karena itu, dia berjanji mempercepat pendis­tribusian bantuan. ''Memang kami akui, mungkin masih ada daerah yang belum tersentuh bantuan. Bantuan yang masuk dibagi rata. Jadi, dapatnya memang sedikit-sedikit seperti itu," jelasnya.

Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI mendeteksi 10 titik yang dikategorikan kawasan rawan penyakit menular. Penyakit yang dianggap rawan tersebut, antara lain, malaria dan kolera. Untuk itu, pihaknya melakukan penyemprotan. Lokasi awal penyemprotan adalah Adira, Ambacang, dan kawasan Pondok. Tiga kawasan itu dianggap rawan terhadap penyakit menular tersebut.

Hingga kemarin, jumlah korban tewas terus meningkat. Namun, pendataan yang dilakukan kerap berbeda. Pada Sabtu (3/10) pukul 21.00, data korban meninggal yang dirilis Satkorlak Pemprov Sumbar mencapai 613 orang. Na­mun, hingga pukul 16.00 kemarin, jum­lahnya turun menjadi 606 orang. "Ada kesalahan verifikasi," ujar salah seorang petugas pendataan yang enggan namanya dikorankan.

Di sisi lain, para korban gempa masih trauma. Ratna, 33, warga yang rumahnya roboh di Jalan Kapal Karam, memilih tidur di luar bersama dua anaknya. "Anak-anak sampai nggak berani tidur di rumah," ungkapnya. Seluruh warga Desa Banuaran, Padang, juga memilih tidur di luar rumah.

Mereka mengkhawatirkan datangnya gempa susulan. "Kami akan tidur di luar sambil memastikan tak ada gempa susulan," ucap Prakoso, salah seorang warga.

Sementara itu, kemarin warga Rao Kabupaten Pasaman dikejutkan guncangan gempa Minggu (4/10) dua kali. Gempa terjadi pukul 03.00 WIB dan pukul 13.45.04 WIB. Gempa dengan kekuatan 4,2 SR itu berlangsung selama beberapa detik disusul getaran kecil.

Gempa tektonik juga mengguncang wilayah Kabupaten Mano­kwari. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan 6,1 Skala Richter (SR) terjadi Ming­gu (4/10) siang pukul 12.36 Wit. (kit/jpnn/iro)
* * *
Militer Asing Berdatangan ke Sumbar


Media Indonesia, 05 Oktober 2009

PADANG-MI:
Puluhan personel militer asing berdatangan ke Sumatra Barat (Sumbar) untuk membantu upaya pencarian korban gempa 7,6 skala Richter di provinsi tersebut.

Berdasarkan pantauan di Satuan Koordinasi Pelaksana (Sarkorlak) Penanggulangan Bencana Sumbar di Padang, Minggu (4/10), sejumlah pimpinan dari militer asing berseragam loreng nampak berkoordinasi dan melaporkan kehadirannya di posko
tersebut. Personel asing itu, antara lain dari Australia, Jepang, Rusia, Korsel, Malaysia.

Truk-truk bercat loreng milik militer asing juga mulai nampak di Padang seperti milik Malaysia.

Selain personel militer, ratusan relawan dari puluhan lembaga sosial dan tim pencari serta penolong (SAR) asing juga telah berdatangan ke Sumbar sejak sehari setelah bencana terjadi Rabu (30/9).

SAR asing itu, seperti dari Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Swiss, Jerman, Kanada, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Uni Eropa dan lembaga-lembaga di bawah PBB.

Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) menawarkan bantuan personel militer dan berbagai peralatan dibawa dengan kapal induk untuk membantu upaya evakuasi para korban gempa.

Tawaran bantuan itu disampaikan pemerintah AS melalui Konsul Jenderal AS untuk Sumatera, kata Ketua Harian Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar Marlis Rahman.

Kapal induk dengan ratusan personel militer serta didampingi kapal korvet AS itu kini tengah berlayar tidak jauh dari perairan Sumatera, tambahnya.

Ia mengatakan, menurut Konsul Jendral AS itu jika tawaran ini dapat diterima pihak Indonesia, maka dalam beberapa hari kapal induk dengan personelnya telah dapat mendekati perairan laut Sumbar. (Ant/OL-7)

* * *
Ya Ampun, Bantuan Korban Gempa Sumbar Dijarah


Rakyat Merdeka, 04 Oktober 2009,



Jakarta, RMOL. Banyak bantuan korban gempa Sumatera Barat berupa makanan yang dibawa truk lewat jalur darat dijarah oleh orang tak dikenal.

"Kita sudah menerima laporan penjarahan yang dilakukan oknum masyarakat dan tindakan itu sangat disesalkan," kata Kepala Sekretariat Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar di Padang, Minggu (4/10).

Dia mengakui bantuan itu memang tidak dikawal oleh aparat. Menurut dia, banyak oknum warga menghentikan truk yang membawa bantuan di tengah jalan. Lalu mereka memaksa barang diturunkan. Supir sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia mengharapkan, masyarakat dapat membantu upaya pendistribusian bantuan bagi para korban gempa dan aksi penjarahan diharapkan tidak lagi terjadi. Sementara itu dari Kabupaten Padang Pariaman, terjadi penjarahan di posko penampungan bahan bantuan. Ironisnya, barang-barang yang dijarah dibawa oleh warga menggunakan kendaraan roda empat. [dry]

1 komentar:

Arisat mengatakan...

Ini info soal diskriminasi, boleh minta link lengkapnya dari detik??
Thanx