Sabtu, 17 Oktober 2009

Semangat gotong royong penduduk Pangawaren Pamalayan

Kerja para relawan gelombang kedua menjelang lebaran lalu mempertemukan Rumah KerLiP dengan penduduk yang terkena bencana di Pamalayan. Menurut data yang kami peroleh dari satlak Kabupaten Garut, ada 1.000 rumah rusak berat di desa tersebut. "Tadi malam Pokmas untuk rekonstruksi dan rehabilitasi baru dibentuk, Bu," jelas Usep saat mendengar paparan Pak Endang, Sekretaris Komite MDA Al Falah Pangawaren mengenai tim verifikasi data rumah rusak pasca gempa Tasik yang datang ke Desa Pamalayan. Pak Endang juga menjelaskan tentang keheranannya terkait dengan shelter berukurun 4X2,5 m yang dibangun ACT sebanyak 82 unit untuk penduduk RW 05 dan RW lainnya yang kehilangan tempat tinggal. Selain ukuran, masalah peggunaan asbes untuk atap rumah, dan ketiadaan MCK dan fasilitas sanitasi yang memadai menjadi alasan warga Pangawaren tidak segera menempati shelter tersebut.

Penduduk RW05 patut dibanggakan dengan pengelolaan lumbung yang dilakukan oleh DKM Al Falah. Disampaikan bahwa DKM Al Falah yang juga diurus Pak Endang dan Ustadz Wawan mendapatkan 400 bata tanah sawah wakaf. Hasil panennya selalu disimpan di lumbung masjid dan dipinjamkan pada masa paceklik kepada warga yang membutuhkan. Saat gempa tasik menerjang daerah tersebut, mereka memiliki persediaan beras sebanyak 2,5 ton yang langsung menjadi sumber makanan pokok sampai bantuan kemanusiaan berdatangan. Semangat gotong royong masyarakat Pangaware juga turut memperkuat kehadiran MDA Al Falah yang sudah turun temurun dkelola oleh keluarga Ustads Wawan.

Pembentukan komite MDA Al Falah yang dipimpin oleh Ibu Ucu menjadi salah satu bentuk semangat gotong royong yang luar biasa. Kemitraan yang khas dengan Komite MDA Al Falah Pangawaren inilah yang mendorong umah KerLiP untuk membantu memfasilitasi terbentuknya TBM dan PAUD di MDA Al Falah pangawaren sebagai wahana untuk pendampingan penanganan psikososial sampai tanggal 31 Desember 2009.

"Sampai kapan Rumah KerLiP bekerja di Pamalayan?" tanya Zeta dan Andru dari Yayasan IBU pada hari pertama tasyakuran dilaksanakan. "Kayaknya panjang nih!Apalagi kita baru menyiapkan wahana untuk pendampingan penanganan psikososial" jawab Ova spontan. Jawaban ini menghantarkan kami pada pembicaraan yang lebih intensif mengenai program penguatan kapasitas masyarakat Pamalayan pada malam hari bersama Usep dan kawan-kawan di Cieurih.

Pembicaraan di posko SPP tersebut diawali dengan apresiasi terhadap kerelawanan masyarakat yang dipadu dengan semangat gotong royong. Prinsip demi kepentingan terbaik anak menjadi bahan kajian sebelum pembahasan mengenai rincian kegiatan di Pamalayan. Program Penguatan kapasitas Lokal diinisiasi dengan Pendampingan Penanganan Psikososial berbasis keluarga melalui aktivasi TBM dan PAUD.

Psikolog dari yayasan IBU menjadi pendamping utama tutor PAUD dan ibu-ibu yang bergabung di MDA Al Falah untuk memahami psikologi perkembangan pada usia dini. Penerapan Play Therapy diharapkan dapat membantu anak-anak untuk memasuki masa pemulihan secara mandiri. Khusus untuk perempuan, tema ketahanan pangan akan menjadi pilihan materi untuk kegiatan Keaksaraan Fungsional bagi perempuan usia 25 keatas yang masih buta akasara. Diharapkan akan terbit modul dan buku hasil penulisan warga desa Pamalayan dengan materi Ketahanan Pangan tersebut. Rumah KerLiP juga menginisiasi kemandirian kelompok nelayan Santolo ini melalui pendampingan penguatan Kelompok usaha Produktif Perempuan. Hasil olah ikan dan makanan pokok yang variatif ini akan turut membantu perkembangan fisik anak-anak yang terkena gempa terutama anak-anak usia dini. Diharapkan terbentuk gerakan sosial kritis keluarga berbasis komunitas yang mendorong demokratisasi pendidikan demi kepentingan terbaik anak melalui kemandirian anak dan perempuan berbasis komunitas.

Tidak ada komentar: