Selasa, 19 Mei 2009

NOTULENSI FORUM OBROLAN KELUARGA (FORUM OK) PERKUMPULAN KELUARGA PEDULI PENDIDIKAN (KerLiP) EEP-Dago, 16 Mei 2009

NOTULENSI

FORUM OBROLAN KELUARGA (FORUM OK)

PERKUMPULAN KELUARGA PEDULI PENDIDIKAN (KerLiP)

EEP-Dago, 16 Mei 2009

oleh Izoel_KerLiP


Zamzam membuka acara dan memberikan review tentang pembicaraan sebelumnya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Taman Cilaki Bandung, 3 Mei 2009.

Zamzam : Pada Forum OK kali ini, akan kita coba perbincangkan dan rumuskan bersama Forum Komunitas Pendidikan Alternatif sebagai wahana bagi komunitas-komunitas untuk saling berbagi dan berkomunikasi.

Astrid (Gerakan Ilmu Untuk Semua) : Apa Pendidikan Alternatif itu? Haruskah keluar dari Depdiknas?

Zamzam : Pendidikan alternative adalah konsep pendidikan yang berbeda dengan konsep pendidikan yang banyak dikembangkan di sekolah-sekolah formal dan merupakan pilihan alternative atas ketidakpuasan masyarakat dengan pola pendidikan yang telah ada. Dalam pertemuan ini kita akan mendorong kepada pemerintah agar men-support secara penuh perkembangan pendidikan alternative ini.

Agung (Bahtera) : Seringkali anak-anak dari kawasan pinggiran atau luar kota sulit mengakses pendidikan, sehingga Bahtera terdorong untuk memfasilitasi mereka. Kami mengembangkan metode belajar sambil bermain, baik di Rumah Belajar Bahtera maupun di jalanan. Jadi, pendidikan alternative diarahkan pada anak-anak yang sulit mengakses pendidikan.

Ari (Bahtera) : Sejauh ini pendidikan alternative yang diselenggarakan oleh Bahtera berupa persiapan atau transisi bagi anak-anak jalanan menuju pendidikan formal. Hal ini kami lakukan melalui KLK (Kelas Layanan Khusus). Setelah itu barulah anak-anak masuk di kelas regular.

Astrid : Di Balikpapan, kami mendidik anak jalanan dan anak-anak pasar melalui homeschooling. Selanjutnya, mereka dibimbing untuk mengikuti ujian persamaan. Kegiatannya dilaksanakan 3 kali seminggu.

Agung : Di samping melakukan pendidikan alternative sebagai proses transisi anak-anak jalanan, Bahtera pun telah menyusun buku literasi anak.

Astrid : Selain melakukan homeschooling bagi anak-anak jalanan, kami bekerjasama dengan Pesantren Hidayatullah untuk mendidik anak-anak yang berada di area lokalisasi.

Zamzam : Bagaimanakah caranya agar Depdiknas memperhatikan penyelenggaraan pendidikan-pendidikan alternative di masyarakat? Kita harus mendorong pemerintah agar men-support bahkan mensubsidi penyelenggaraan pendidikan alternative bukan malah membatasi dengan berbagai macam prasyarat. Kemudian, pemerintah harus memberi ruang kepada para penyelenggara pendidikan alternative agar tetap berjalan dengan kekhasannya masing-masing.

Rima (YPBB) : YPBB sebagai lembaga yang concern terhadap masalah lingkungan, lebih focus pada penyusunan kurikulum yang berbasis lingkungan hidup. Kami berpandangan bahwa pendidikan alternative adalah konsep pendidikan khususnya kurikulum yang berbeda dari kurikulum yang terdapat di sekolah-sekolah formal. Kami sering mengajak anak-anak untuk belajar di alam, terutama di taman-taman kota.

Bu Yanti : Topik pendidikan alternative ini menjadi diskusi di saat-saat pertama pembentukan E-Net Justice di Surabaya. Sayang dalam diskusi tersebut, belum bisa merumuskan definisi pendidikan alternative. Kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan alternative itu selalu berada di luar sekolah formal. Padahal, bila kita memperhatikan perkembangan pendidikan di Negara-negara lain, ternyata konsep pendidikan alternative juga dikembangkan di sekolah-sekolah formal. Dikarenakan masih banyak masyarakat menganggap sekolah formal sebagai mainstream dan menjadi institusi pendidikan yang utama, maka kita perlu mendorong konsep pendidikan alternative ini ke arah mainstream. Dalam pertemuan ini, mari kita merumuskan kata-kata kunci untuk terus membumikan wacana pendidikan alternative ini dan pembentukan forum bersama.

Zamzam : Kita harus mendorong pemerintah agar membuat kebijakan demi pengembangan konsep-konsep pendidikan alternative ini di wilayah-wilayah mainstream.

Bu Yanti : Menurut sebuah data, di Indonesia masih ada ± 11 juta jiwa buta aksara. Padahal keaksaraan ini merupakan hal yang paling utama dalam pendidikan dan pembangunan anak-anak bangsa. Terkait hal ini, kami bersama elemen-elemen lain sedang mengajukan uji materi UU Sisdiknas ke Mahkamah Konstitusi, terutama berhubungan dengan masalah anggaran. Kita pun harus melakukan uji materi tentang definisi dan implementasi pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana.

Zamzam : Untuk menguatkan daya dorong tersebut, kita harus menyatukan kekuatan dalam sebuah forum bersama. Di samping itu, kita harus menata gerakan advokasinya.

Kang Dan Satriana (Kalyanamandira) : Dalam pembentukan forum itu mesti diperhatikan, jangan sampai kita menggali lubang kubur sendiri. Artinya, pembentukan forum ini bukan malah membatasi ruang gerak dan mengebiri kreativitas para penyelenggara pendidikan alternative. Kita memang harus melakukan berbagai cara agar pendidikan di Negara menjadi lebih baik. Namun, para pelaku pendidikan alternative harus senantiasa ada dan terus-menerus mengembangkan kreativitas dan inovasinya.

Zamzam : Dengan demikian, gerakan kita ini akan senantiasa ‘mengganggu’ konsep pendidikan yang telah menjadi mainstream.

Bu Yanti : Mungkin kita harus belajar dari proses pendidikan yang berlangsung di New Zealand, di mana standar pendidikan sangat sedikit sehingga para pelaku pendidikan mendapat ruang yang sangat luas dan terbuka untuk berkreasi.

Kang Dan : Advokasi terhadap pendidikan harus terus berjalan, dan penyelenggaraan pendidikan alternative pun harus terus muncul di pinggiran. Penyelenggaraan pendidikan formal, nonformal dan informal harus terus disempurnakan. Dan selalu saja ada celah untuk mewadahi energi para pelaku pendidikan alternative.

Bu Yanti : Jadi kata kuncinya, pendidikan alternative harus senantiasa dinamis dan menemukan hal-hal baru. Pendidikan alternative akan menjadi cermin bagi konsep mainstream. Oleh karena itu, kita harus menjalin komunikasi dan saling berbagi gagasan dan ide untuk memperkaya khazanah pendidikan alternative.

Kang Dan : Perlu diingat, bila pendidikan alterbatif diarahkan pada mainstream ada kekhawatiran penyelenggaraan pendidikan alternative ini akan dibatasi ruang geraknya. Oleh karena itu, saya beranggapan bahwa pendidikan alternative harus selalu berada di luar mainstream dan campur tangan Negara. Boleh jadi Negara akan belajar banyak dari penyelenggaraan pendidikan alternative. Saran saya, forum ini lebih diarahkan pada saling memperkaya ide dan gagasan antar komunitas. Selanjutnya, kita bisa ‘mengepung’ Negara dengan pengalaman-pengalaman kita dalam penyelenggaraan pendidikan alternative.

Sebelum Zamzam menutup acara, dihasilkan kesepakatan untuk melakukan pertemuan lanjutan di Rumah Belajar Bahtera, pada tanggal 31 Mei 2009. (izoel)


Tidak ada komentar: