Selasa, 08 Mei 2012

Audiensi dengan Ibu meneg PP-PA

Alhamdulillah sore ini kami diterima oleh Ibu Linda, Meneg PP-PA didampingi Bapak Wahyu, Deputi Tumbuh Kembang Anak dan Ibu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak.

Ibu Linda berkali-kali menyampaikan permintaan maaf karena keterlambatan akibat banyaknya tamu yang beraudiensi dengan beliau hari ini. Penerimaan beliau yang ramah dan penuh perhatian terhadap materi audiensi yang diajukan Perkumpulan KerLiP membuat pertemuan audiensi berjalan dengan baik.

Arlian Puri (14), pelajar SMPN 11 Bandung, menjadi sumber inspirasi. Penuturan cerdasnya mengenai penerapan sekolah aman dari bencana melalui pemodelan GERA SHIAGA di SMPN 11 Bandung menjadi penjelas upaya sinkronisasi kebijakan sampai dalam praktiknya di sekolah. Arlian menyampaikan bahwa penerapan sekolah aman dari bencana bukan hanya masalah struktur bangunan tahan gempa. Penerapan sekolah aman terintegrasi dengan sekolah sehat dan hijau yang dilaksanakan KerLiP bersama Bappenas dalam upaya mewujudkan lingkungan belajar yang aman, sehat dan hijau di DAS Citarum, menurut Arlian didukung oleh partisipasi anak. Praktik-praktik baik di SMPN 11 Bandung yang mendorong pembentukan komunitas anak seperti Zero Waste Event, Jamban BSJ (Bersih, Sehat, Jujur) dan Gerakan Siswa Bersatu (GSB) Menuju Sekolah Aman (MSA) didukung oleh guru yang tak kenal lelah memfasilitasi anak-anak untuk berpartisipasi.

Penjelasan Arlian ini menjadi titik awal untuk menunjukkan bagian penting dari Perka 4/2012 perihal Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana byang baru saja diluncurkan dalam Resepsi Hardiknas oleh Mendikbud. Ibu Yanti, ketua Perkumpulan KerLiP selaku Ketua Seknas Sekolah Aman membukakan halaman mengenai proses penyusunan Perka dan dicantumkannya UU Perlindungan Anak dan Ratifikasi KHA sebagai landasan hukum dalam perka tersebut.

Keterlibatan KPP-PA dalam hal ini melalui Asdep PHPA dalam rangkain konsultasi teknis penyusunan Perka dan pencantuman logo KPP-PA dalam profil program GERA SHIAGA disambut gembira oleh Ibu Meneg PP-PA. Beliau juga sepakat untuk mengedepankan tema Pentingnya Partisipasi Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yg Inklusi dalam side event AMCDRR. Ibu Rini sekretaris Planas PRB menjelaskan tentang tema utama penguatan kapasitas lokal yang didukung tema pengintegrasian PRB dengan Adaptasi Perubahan Iklim, Risk Financing dan Partnership dan pembentukan 7 Working group dalam mempersiapkan AMCDRR.

Planas PRB adalah mitra BNPB dalam menyiapkan AMCDRR didukung para pemangku kepentingan lainnya. Neda menjelaskan tentang profil KPB, Vanda tentang program Plan terkait penerapan sekolah aman di Indonesia, Cina dan Cambodia dan PRB yang inklusi dengan dukungan DIPECHO dalam wadah AID Consortium bersama Handycap International dan Care Foundation di Sikka, Belu dan Kupang.Seluruh praktik bailk ini akan diekspose bersama di AMCDRR.

Yanti juga menjelaskan mengenai peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman tanggal 29 Juli lalu dipimpin Menkokesra, Kepala BNPB, almarhum Ibu Menkes dan Bapak Wamendiknas. Upaya PRB yang luar biasa ini menghantarkan Bapak Presiden untuk menerima penghargaan Global Championship for DRR di Genewa Swiss Mei 2011. Upaya penerapan Sekolah/Madrasah Aman terus menguat seiring dengan terbitnya Perka No 4/2012.

Galuh dan Ria dari Perkumpulan Skala serta Dede dan Ryan dari KerLiP Production juga hadir dalam audiensi. Kami sepakat dengan KPP-PA untuk menghubungkan upaya penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana dengan payung Sekolah Ramah Anak dalam upaya mewujudkan Kab./Kota Layak Anak.

Ibu Linda juga meminta Pak Deputi dan Asdep PHPA untuk menyertakan asdep KLA dan juga ketua ASPAI (Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia) untuk mendukung keberlanjutan Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yang inklusi. Beliau menyambut gembira keselarasan program inklusi yang dijalankan KPP-PA dengan Kemdikbud dan kini dengan BNPB melalui persiapan AMCDRR ini.

Pertemuan audiensi menyepakati beberapa hal terkait hal ini, antara lain:
1. Kesepakatan tema side event "Pentingnya Partisipasi Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dan PRB yang inklusi
2. Perwakilan anak disabilitas dari Forum Anak Yogya yang akan dikordinasikan dengan ASB Yogya untuk menyampaikan pidato anak setelah Bapak Presiden dalam general assembly
3. Menjadi Keynote Speaker, pembahas Utama dalam talkshow dikaitkan dengan indikator KLA dengan 5 narasumber anak dan pembahas tambahan Wamendik, Kemenag dan WamenPU
4. Materi Komunikasi, Informasi dan Edukasi yang bersesuaian
5. Perwakilan forum anak untuk hadir dalam talkshow anak tersebut
6. Asdep PHPA sebagai kontak KPP-PA untuk persiapan AMCDRR
7. Meminta Pak Deputi untuk menghubungkan tim ini dengan Pak Luhur dari ASPAI terkait kehadiran ASPAI sebagai salah satu narasumber utk tema partnership

Ibu Meneg PP-PA berkali-kali juga menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip hak anak termasuk partisipasi anak serta dukungan terhadap ketersediaan pendidik PAUD yang profesional.

Selanjutnya, KPP-PA melalui asdep PHPA (melekat pada jabatan) akan memperkuat forum kordinasi penerpan skeolah/madrasah aman melalui GERA SHIAGA terhubung dengan SRA sebagai salah satu indikator KLA.

GERA SHIAGA YUK!

Senin, 07 Mei 2012

Istilah Kafe Ilmu dipilih Joko ketika berencana menjangkau lebih banyak sahabat KerLiP atas nama PPLHB. Saat ini Joko sudah mengundurkan diri dari posisi Kordinator PPLHB melalui kontak via telpon. Alhamdulillah diteruskan oleh Tiyas, Taufik, Oka yang mengajak 40 an kawula muda dari STKS untuk bergabung dan diikuti sahabat-sahabat dari ISMAKES Jabar. Kami masih menunggu sahabat-sahabat yang akan mempersiapkan roadshow minggu depan ke SD-SD penerima DAK Pendidikan di Kecamatan Coblong dan Cidadap. Iwang sudah menyiapkan bahan-bahan utama untuk roadshow. Sahabat-sahabat GERA SHIAGA juga sudah konfirmasikan kesediaan. Itu mereka baru sampai... Persiapan kali ini terpaksa diambil alih lagi karena Iwang masih dalam perjalanan kembali ke Kanayakan untuk mengambil Kit GERA SHIAGA. Kilas balik berbagai asumsi dan kesepakatan untuk menyiasati keterbatasan lengkap dengan kisah penjangkauan di Kecamatan Arjasari. Sahabat-sahabat KerLiP yang hadir kali ini adalah Ayu, Intan, Riri, Esti, Evi, Daulika dan Weni. Akhirnya tiba untuk membedah Profil program yang dibawa Iwang menjadi bahan kajian kali ini. Para sahabat KerLiP berbagi peran untuk simulasi 15 menit. Weni menjadi Kepala Sekolah. Intan guru kelas 5, Ayu, Evi dan Esti jadi murid di kelas 5. Riri dan Evi menemani Daulika menjadi Tim GERA SHIAGA. Baru setengah jalan terpaksa dihentikan karena waktu sudah hampir penutupan Dago CFD. Ulasan lengkap mengenai simulasi menambah pengalaman belajar hari ini di Kafe Ilmu KerLiP "GERA SHIAGA yuk!". Senang mendengar ungkapan antusias Ayu saat membaca halaman mengenai nilai-nilai dan prinsip dalam Perka no 4/2012. One stop closer towards Safer School/madrasah in Indonesia. Insya Allah GERA SHIAGA YUK!

Sabtu, 05 Mei 2012

Cara-cara Sederhana untuk Membangun Partisipasi Publik, terutama Anak dalam Penerapan Sekolah/Madrasah Aman

Langkah-Langkah Rodshow GERA SHIAGA, model penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana Dimulai setelah melakukan Persiapan dan Koordinasi Dokumen yang disiapkan 1. ID Card 2. Profil Program GeraShiaga 3. Surat penguat dari Kesbanglinmas 4. Surat penguat dari Seknas SA Tim Roadshow setidaknya berjumlah 2 orang mendatangi sekolah-sekolah di satu wilayah Ketua Tim menjelaskan ttg GeraShiaga, Seknas SA Sekolah aman, kerlip, Perka Nomor 4 Tim berbagi tugas jika diijinkan untuk memasuki kelas oleh Pihak Sekolah Jika tidak diijinkan segera pamit dan mengunjungi sekolah berikutnya Kelompok 1 1. Latihan lagu dan gerak siaga gempa 2. Adopsi pohon yang ada di sekolah 3. Kembali ke kelas 4. Nonton Film Sekolah Aman Hak Anak Bangsa versi 2 menit 5. Pembuatan Ikrar Sekolah Aman Online jika dimungkinkan dan Offline selama Tim berembug dengan manajemen sekolah Kelompok 2 1. Pengumpulan data terkait Penggunaan DAK/program rehabilitasi melalui APBN dan dana BOS 2. Penilaian Penerapan GERASHIAGA di sekolah oleh Relawan dengan atau tanpa Manajemen Sekolah 3. Sekilas Bedah Perka dengan perwakilan anak, relawan dan manajemen sekolah Tim lengkap bertemu dengan manajemen sekolah, jika dimungkinkan bersama perwakilan anak perempuan dan anak laki-laki yang mengikuti latihan lagu dan gerak siaga gempa. Tim menyampaikan pentingnya pembuatan Rencana Aksi GERA SHIAGA 100 hari setelah kunjungan pertama serta penawaran untuk mengikutsertakan perwakilan anak kelas 3, dan 6 SD dalam lomba foto essay dan artikel selama Rencana Aksi Nyata tersebut dilaksanakan. Penyerahan kepada sekolah 1. Ketentuan Lomba FotoEssay dan Artikel 2. Fotokopi Perka no 4 tentang pedoman Penerapan Sekolah Aman dan Jamban BSJ 3. Formulir penerapan GERA SHIAGA dalam 5 ruang lingkup Sekolah Ramah Anak 4. pemberian bibit pohon Penerimaan 1. Ikrar Sekolah Aman Offline 2. Formulir Peserta Lomba FotoEssay dan Artikel 3. Dokumen pendukung profil Sekolah (foto dari data profil yang ditempel di dinding kantor) 4. Foto Sekolah Sebelum dan Saat rehabilitasi untuk SD penerima program rehabilitasi Contoh praktik langsung Pengalaman kami dengan murid-murid SD Pinggir Sari pada tanggal 11 April 2012 telah mengajari kami bahwa menerapkan sekolah aman dapat dilakukan dengan cara-cara yang mudah. Pertama, sekolah harus terletak di wilayah yang aman dari bencana. Jika itu sulit diterapkan, maka penghuni sekolah harus berteman dengan bencana. Caranya? Ada di langkah yang kedua: menggali pengetahuan tentang bencana yang pernah terjadi di tempat tinggal anak dan lokasi sekolah berada. Belajar bersama mengenai evakuasi ke tempat aman dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan seperti praktik langsung dan menyanyikan lagu "Kalau ada Gempa". Ketua murid kelas 5 yang kami masuki sangat antusias dengan kegiatan lagu dan gerak ini. Ia berjanji untuk mengumpulkan ketua murid dari kelas lain untuk bersama-sama menyanyikan lagu yang baru saja dikenalnya. Langkah ini juga dijadikan wahana belajar bersama untuk tindakan penyelamatan diri jika ada gempa. Buktiya setelah latihan beberapa kali, anak-anak sudah otomatis melaksanakan tahapan dalam lagu tersebut dalam barisan. Anak-anak juga mengajari kami untuk langkah ketiga, membangun struktur yang baik, dengan cara sederhana. Mereka menyampaikan tentang pentingnya "penguatan struktur bangunan" dan memilih istilah sendiri untuk menyebut penghubung antar balok kayu sebagai "sabuk pengaman". Anak-anak juga belajar dari mandor bangunantentang ketentuan penggunaan besi. Besi harus berdiameter 10 mm, dikumpulkan empat-empat dengan ring 8 mm yang berjarak 15 cm satu sama lain, dan memiliki pengait di tiap ujungnya. Ketentuan inilah yang dibutuhkan untuk menjamin keamanan bangunan dari rubuh langsung saat terjadi gempa agar warga sekolah termasuk anak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri jika terjadi gempa. Anak yang terlambat menyelamatkan diri bahkan menemukan langkah keempat: dia terlambat karena tersandung kursi dan bangku yang berantakan, maka jalur evakuasi harus lapang dan tanpa halangan. Teman-teman sekelasnya setuju untuk merapikan meja dan kursi dan mengatur jaraknya agar cukup lebar agar cukup untuk menyelamatkan diri. Ini adalah langkah keempat, yaitu memerhatikan tata ruang dan hal ini juga dapat dimanfaatkan untuk belajar bersama mengenai inklusi : jarak aman bagi pengguna kursi roda untuk melewati jalur evakuasi. Kelima, memastikan adanya sarana yang memadai. Anak-anak setuju menempatkan warna-warna rambu lalu lintas untuk menandai jalur aman, hati-hati, dan bahaya di jalur evakuasi. Mereka juga sepakat untuk menempatkan plang yang jelas serta memasang tanda bertuliskan "Titik Kumpul Aman" di Lapangan Upacara. Anak-anak ruapanya pernah belajar mengenai pentingnya CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun), memisahkan toilet laki-laki dan perempuan, dan pengaruh ruang hijau dalam hidup sehari-hari maupun sebagai pencegah bencana seperti banjir. Mereka tertarik untuk mengadopsi pohon-pohon di sekitar lapangan sekolah sebagai adik mereka. Dengan anak-anak yang begitu antusias, peningkatan pengetahuan dan tindakan serta aksi nyata untuk kesiapsiagaan bencana yang kami pelajari dari anak-anak di SD penerima program dalam rehabilitasi sekolah dengan dana APBN ini menambah keyakinan kami bahwa penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana mudah untuk dilaksanakan.
Page Rank Check,
HTML Web Counter