Sabtu, 07 April 2012

Sosialisasi GERA SHIAGA di kabupaten Bandung

Ternyata untuk sampai di Kantor Desa Cipeujeuh Kecamatan Pacet perlu 1,5 jam perjalanan dengan motor-nya Dede. Sampai disana, anak-anak dari berbagai SMA/MA sudah menunggu bersama petugas dari Kecamatan, Erick dan beberapa relawan FKPA Kabupaten Bandung. Dede langsung membantu menyiapkan LCD sementara bahan presentasi GERA SHIAGA diringkas agar langsung pada sasaran.

Setelah pembukaan oleh petugas Kecamatan, aku memulai presentasi dengan mengangkat konteks Ujian Nasional dan advokasi yang dilakukan KerLiP bersama para orangtua korban Ujian Nasional 2006 dan mitra lainnya. Kondisi kerja guru menjadi wacana yang menarik. Dalam sudut pandang anak, guru harus bertanggung jawab penuh kepada seluruh siswanya tanpa melihat berpa imbalan yang diperoleh. Salah satu narasumber yang calon guru dan anak seorang guru agama menceritakan bagaimana kehidupan keseharian keluarga guru. Aku berusaha mengkonstruksikan pengalaman belajarku dengan pengalaman belajar anak-anak.

Menarik ketika, Neti, salah seorang peserta menyampaikan pertanyaan mengenai guru yang terlambat mengajar karena menguru keluarga dulu. Dua dari 3 orang yang menjawab sepakat bahwa guru tersebut bertanggung jawab karena mendahulukan kebutuhan keluarganya, sedangkan seorang lagi bersikeras bahwa guru seharusnya mendahulukan kepentingan anak.

Pintu masuk untuk belajar bersama prinsip-prinsip hak anak. Hak hidup dan bebas menyatakan pendapat paling mengemuka disampaikan oleh peserta. Nampaknya latar belakang organisasi yang mereka ikuti di sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR menarik untuk dipelajari. Jawaban guru haru mendahulukan kepentingan terbaik anak dikaji lebih mendalam untuk melihat alasan perlunya memperjuangkan nasib guru dan keluarganya. Apalagi semua peserta berasal dari SMA/MA yang diselenggarakan masyarakat.

Kemudian persyaratan sarana dan prasarana yang sudah diatur dalam permendiknas 24/2007 menjadi bahan yang menarik dibahas ketika aku menunjukkan foto berita di Kompas mengenai sekolah aman yang dikirim oleh Mas Wijaya dari IAG ITB.
Anak-anak kemudian diajak untuk menyanyikan lagu terkait simulasi gempa. kemudian aku ajak mereka untuk menggunakan tanda-tanda yang dikenal oleh masyarakat umum untuk menandai zona hati-hati dan aman di sekolah. Anak-anak sepakat untuk menggunakan stiker warna lampu lalu lintas. Pembahasan pun sampai ke upaya-upaya penyelamatan mata air sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana di pendidikan. Anak-anak cukup terhibur dengan istilah sehari-hari yang mereka kenal terkait pembuangan limbah rumah tangga, kotoran manusia dan sapi untuk menjaga kualitas air Citarum. bayangkan betapa anehnya saat aku sadar bahwa selama 4 tahun di jakarta menikmati air dari Citarum 'bekas' anak-anak buang kotoran. Hiiy...

Dari sanalah GERA SHIAGA mulai diperkenalkan. bagaimana prinsip-prinsip hak anak menjadi dasar dalam upaya menjadikan anak dan kawula muda mitra dalam penerapan sekolah aman. Anak-anak mendefinisikan ulang mengenai kemitraan. Sempat menyerempet isu aktual tentang rencana kenaikan BBM dan partisipasi anak untuk menyuarakan hajat hidup rakyat Indonesia. Menarik ya.

Abdul manan menjadi peserta favorit apalagi dia bersedia maju kedepan untuk menyanyikan lagu simulasi gempa. Sebagai hadiahnya, kuberikan buku kimia karya dosenku di TPB ITB dulu. Anak-anak pun senang.

Persyaratan ketiga yang diminta dalam advokasi UN 2006 adalah akses informasi menjadi penutup sesi belajar bersama GERA SHIAGA. Surat dari tahun 2070 mengenai kelangkaan ketersediaan air disimak dengan khidmat.

Aku dan Dede pun segera pamit setelah menikmati umbi-umbian yang disediakan Forum Komunikasi pecinta Alam kabupaten bandung.

Dalam perjalanan menuju SMAN 1 Banjaran, kami memutuskan mampir di SDN Pinggir Sari yang sedang direhabilitasi. Menarik menyimak pernyataanmandornya mengenai ukuran besi dan kait yang diperpanjang sebagai bagian dari komitmen mereka untuk membangun ruang tahan gempa. Juga penambahan tinggi ruangan agar sirkulasi udara didalam kelas lebih baik lagi.

Terlihat jelas kalau dari aspek besi yang digunakan sih sudah benar ukuran 12 inchi dan dikaitkan diujung terutama untuk penghubung antar sudut ruang. Mandornya juga fasih jelaskan tentang standar bangunan tahan gempa.Pak Sukanda namanya, sudah sepuh. Dia juga menunjukkan gambar-gambar desasi bangunan untuk rehabilitasi 3 ruang di SDN Pinggir Sari.

Menurut Pak Sukanda gambar tersebut dari Dinas PU/Cipta Karya.
Pak Wawan temannya menyampaikan bahwa selain SDN Pinggir sari yang menerima bantuan rehabilitasi di Kecamatan Arjasari antara lain : SDN otista, Ciburuy dan Arjasari III. Kabarnya SDN Sirnajaya II tidak memperoleh bantuan. Aku khawatir terkait pembuatan film sekolah aman yang melibatkan KerLip disana bekrjasama dengan LKBN ANtara dan movie maker yang kemudian menjadi relawan KerLiP production.

Tadi sempet juga aku menanyakan kelengkapan WC perempuan dan laki-laki. katanya meskipun tidak ada gambarnya, mereka akan membuat di sudut bangunan. diingatkan juga untuk membuat fasilitas cuci tangan 1 untuk setiap 2 ruang kelas dan perbaikan drainase didepan kelas. Pak Wawan sempat menunjukkan ada salurannya hanya bagian depan kelas masih tertutup bongkaran dinding yang sedang direhab.

Oh ya, selain SDN Pinggir Sari, ada SDN Otista, Ciburuy dan Arjasari III yang juga memperoleh bantuan rehabilitasi. Kabarnya SDN Siranajaya batal menerima. Aku khawatir terkait pernyataan kritis kepala sekolahnya di film sekolah aman yang dibuat LKBN Antara. Akupun meminta kesediaan Pak Sukanda dan tim untuk menerima kunjungan kami berikutnya. Insya Allah langsung disiapkan tim investigasi dari movie maker yang sekarang bergabung di KerLiP production.

Di SMAN 1 Banjaran, kami bertemu dengan Pak Rudi, wakasek sekaligus guru biologi, pembina PMR dna pramuka. Beberapa rencana yang sudah dibicarakan dengan Pak Yance, ayahanda Ria Putri Ramadhani, pemimpin komunitas Jamban BSJ di Kick Andy beberapa hari yang lalu menjadi bahan pembicaraan kami. Disepakati untuk menyiapkan ketua-ketua komunitas anak di SMAN 1 Banjaran untuk turut belajar bersama saat kami melaksanakan kunjungan berikutnya ke SDN Pinggir Sari dan 4 sekolah lainnya di Kecamatan Arjasari. Kami juga akan menyiapkan assesment khusus untuk bahan diskusi terfokus penyusunan rencana Aksi GERA SHIAGA di SMAN 1 Banjaran.

Insya Alllah

Tidak ada komentar: