Selasa, 28 Februari 2012

Narasi Devita@KerLiP - Gerashiaga edisi inklusi, 28 Feb 2012

Hening, rumah ini seakan tak berpenghuni. Sesampainya di Rumah Ibu Yanti terlihat sosok bersitegang dengan layar monitor. Ka dede lagi menyelesaikan laporan., dan seorang lagi terbujur di sudut kursi sedang tidur dengan polosnya. Hoho Lantas aku bergerak kearah kursi kosong di seberang dan menjajarkannya di ujung samping ka dede, terlihat masih tidak bergerak beliau, lalu akupun membuka sesi bicara dengan ka dede ala kadarnya. Bahas apa ya. Proposal fundrissing, dan apa jawabannya coba? masih sama “belum saya cek” dasar >.< padahal ini kerumah berharap ada sesuatu yang baru, tapi tak apalah, aku bisa memaklumi kesibukan tokoh-tokoh ini. Lantas di sodorkanlah sebuah laptop di hadapankku, sontak dalam fikiranku, narasi. Hehe

Memulai obrolan dengan mengkorek informasi tentang agenda pelatihan minggu depan, sangat disayangkan memang aku tidak bisa ikut pelatihan minggu-minggu kedepan. Berat memang, tapi aku harus komit dengan apa yang sudah aku rencanakan. Dua agenda kegiatan melayang lantas, yang ada di depan tidak mungkin aku juga relakan. Dan akupun memilih untuk tetap intens mencari pembelajaran di rumah Ibu Yanti minggu2 ini. Karena sepertinya untuk minggu-minggu kedepan aku akan melewatkan moment moment berharga bersama kerlip. Pastinya juga akan menjadi hal sangat aku rindukan.

Hujan tak jua kunjung reda , kami (Vita, ka dede, dan ka zamzam) masih asyik dengan layar laptop masing2, ketika beliau ini sedang diburu deadline yang gak kunjung selesai, aku sendiri asyik dengan menari-nari diatas keyboard. ^^ Tulisan ini akan terus aku asah sembari, aku yakin dan memantapkan hati untuk menekuni bidang ini. Ya menyiapkan untuk menjadi seorang yang terkenal. Duh siapa yang tidak ingin menjadi terkenal? eits terkenal disini yang aku maksud ialah menjadi penulis terkenal. Amin (^_^)

Menilik layar monitor tapi tak juga penuh dan berganti halaman. . Wah kehabisan kata-kata? Pastilah ada cara untuk mengakalinya. Yuk bahas Gera Shiaga, hayo ada yang tau gera shiaga? Gerashiaga adalah gerakan sehat, hijau, inklusi bagi anak dan keluarga. Eh ada yang berbeda nih dengan singkatan gerashiaga yang sekarang. Kalau dulu kan I di Shiaga adalah indah, tapi sekarang jadi Inklusi, Inklusi?=,= Inklusi ini maksudnya menerima semua anak, baik latar belakang maupun perbedaan yang di milikinya. Wah luar biasa? Artinya baik di keluarga maupun yang di rumah hendaknya sadar akan betapa pentingnya ada Sistem dan lingkungan yang tidak membedakan pelayanan. Kebutuhan anak dengan orang dewasa itu berbeda, Inklusi maksudnya bisa memberikan pelayanan yang sama untuk anak. Misalnya kan ada seorang Tuna Rungu, nah Tuna rungu in pastilah memiliki cara belajar yang beda dengan anak normal pada umumnya. Seharusnya sekolah tidak menolak hadirnya mereka di tengah-tengah sekolah umum yang seharusnya ia rasakan. Inklusi ini sekolah di maksudkan memiliki Layanan khusus seperti daerah terpencil kan beda dengan sekolah di kota (urban)? Jadi bukankah seharusnya merasakan apa yang di dapatrkan anak di kota? Inklusi ini nanti maksudnya sekolah punya system dimana semua anak yang berkebutuhan khusus mendapatkan haknya. Sekolah yang pernah di dirikan Kerlip ialah SD Hikmah Teladan ini menggunakan sistem(Inklusi). Sekolah ini dijadikan permodelan bagaimana cara menerapkan sekolah yang inklusi. Inklusi juga haruslah memiliki system baru merupakan konsekuensi bagi semua pihak untuk melayani apa yang di butukan anak teersebut. Hal ini semata-mata demi terpenuhinya kepentingan terbaik anak. Mereka ini emang khusus jadi harus di tangani dengan khusus, tapi pelayanan ini tidak menghilangkan apa yang seharusnya dimiliki anak. Contohnya sekolah menyediakan pendampingan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus ini seperti pendamping yang mengarahkan anak.Hak anak tidak di batasi, jadi mereka berhak mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.Pada nantinya anak ini kembali ke masyarakat jadi sebelum mendapatt perlakuan yang kurang mengenakan lantas anak kudu di berikan kenyamanan sedini mungkin sehingga ketika ia berada di lingkungan masyarakat akan merasa nyaman dan mendapatkan haknya. Orang-orang ini mempunyai kelebihan. Orang-orang sekitar seharusnya peka terhadap anak-anak ini, lantas harus mereka hargai dan di perhatikan lagi. Sekolah seharusnya membuat anak nyaman . sekolah seharusnya sebagai proses belajar. Jika di Sd anak mampu mengenal perbedaan yang ada di lingkungan sekitarnya. Maka sudah menjadi kewajiban orang dewasa menyediakan ruang yang kondisif, menyediakan lingkungan optimal agar anak mampu tumbuh kembang dengan maksimal.

**Indonesia menuju pendidikan Inklusi :D

Tidak ada komentar: