Kamis, 10 September 2009

RENCANA PEMBENTUKAN FORUM RELAWAN SIAGA BENCANA DI KABUPATEN GARUT

I. LATAR BELAKANG

Hak penduduk korban bencana terhadap perlindungan dan bantuan termasuk bagian terpenting yang diuraikan dalam Piagam Kemanusiaan dan Standar-standar Minimum dalam penanggulangan bencana. UU Penanggulangan Bencana pun sudah mengatur hal ini. Namun dalam pelaksanaannya ternyata kordinasi di lapangan belum berjalan sesuai dengan harapan. Penyebaran korban gempa Tasik yang sangat luas di berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat menjadi kendala tersendiri. Di Kabupaten Garut yang termasuk daerah dengan dampak bencana yang parah, bantuan kemanusiaan sudah mulai memasuki kecamatan tersebut namun ternyata i menurut berita Liputan 6 SCTV baru bisa disalurkan secara efektif pada hari ini tanggal 10 September 2009 . Menurut data yang kami terima dari Wakadinsos Pemkab Garut dari satkorlak Kabupaten Garut yang ditandatangani pada tanggal 5 September pukul 12.00, ada 7 orang wafat, 10 luka berat, 120 luka ringan, 13.350 pengungsi 6 Kecamatan, 2925 rumah hancur di Banjarwangi, Cibalong dan Cikelet, 6911 rusak berat di 36 kecamatan, 3702 rusak sedang di 14 kecamatan, 15280 rusak ringan di 35 kecamatan, 5 masjid rusak berat, 180 sedang, 78 ringan, 182 sekolah rusak berat, 82 sedang, 27 ringan, dan 1 pondok pesantren. Data ini sangat mungkin bertambah karena data yang dikumpulkan di Cikelet saja ada penduduk yang meninggal tanggal 5 September malam laki-laki usia 45 tahun, 1 anak perempuan (4 tahun ), 5 perempuan (23-49 tahun) mengalami luka-luka, 386 rumah rusak berat, 326 sedang, 25 masjid/mushola rusak sedang, 12 sekolah rusak ringan, 1 ponpres rusak berat, balai kampung rusak sedang dan 4 madrasah rusak berat.

Temuan relawan ada 74 kepala Keluarga yang terpaksa mengungsi di kebon karet terdiri dari 106 orang dewasa dan 126 anak-anak tanpa logistik yang memadai sampai tanggal 6 September 2009 sangat memprihatinkan. Banyaknya korban yang tinggal dan mendirikan tenda daurat di depan rumah masing-masing karena khawatir gempa susulan akan merubuhkan rumah mereka yang rusak menjadi masalah tersendiri. Kekecewaan dan kesedihan ibu-ibu di tenda pengungsian ketika menceritakan pengalaman saat gempa terjadi dan bantuan kemanusiaan yang belum tersalurkan dengan baik .
Penduduk yang terkena korban bencana yang tersebar di 42 kecamatan dan kordinasi satu atap yang belum terjalin dengan efektif antara posko penyaluran bantuan kemanusiaan dengan satkorlak baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten mendorong kami untuk mendorong satkorlak Kabupaten Garut untuk bersama pekerja kemanusiaan lainnya membentuk Forum Relawan Siaga Bencana yang terdiri dari perwakilan satkorlak kabupaten dan satkorlak kecamatan, penduduk yang terkena bencana, lembaga bantuan kemanusiaan yang ada di Garut dan masyarakat Garut lainnya. Diskusi Terfokus mengenai bantuan kemanusiaan di Garut akan menjadi kegiatan awal dalam perintisan pembentukan Forum Relawan Siaga Bencana.
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membangun solidaritas dan kordinasi antara Satkorlak, masyarakat, dan pekerja kemanusiaan di kabupaten Garut dalam upaya penguatan kapasitas lokal untuk meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan bagi penduduk Garut yang terkena bencana di 42 kecamatan.

II. TUJUAN
a. Membangun solidaritas antara pekerja kemanusiaan di pemerintah Kabupaten Garut, lembaga bantuan kemanusiaan yang bekerja di garut, penduduk yang terkena bencana dan masyarakat luas
b. Meningkatkan efektivitas bantuan kemanusiaan untuk penduduk yang terkena bencana terutama anak, perempuan, lanjut usia, penderita cacat dan pengidap penyakit menular dan kelompok rentan lainnya
c. Menjadi wahana yang tepat untuk mendorong penguatan kapasitas lokal dalam respons bencana yang melibatkan se\mua stakeholder khususnya di Kabupaten Garut dan di Provinsi Jawa Barat pada umumnya

III. HASIL YANG DIHARAPKAN
Hasil yang diharapkan dari kegiatan respon tanggap darurat sebagai berikut :
1. Terbentuk Forum Relawan Siaga Bencana di Kabupaten Garut
2. Terbentuknya Forum Relawan Siaga Bencana di Kecamatan Cikelet dan Cibalong
3. Meningkatnya efektivitas pendistribusian bantuan kemanusiaan untuk keberlanjutan hidup yang bermartabat bagi penduduk yang terkena bencana dan masyarakat lainnya
4. Menguatnya kapasitas lokal dalam membangun solidaritas untuk respons bencana pada tahap tanggap darurat

IV. SASARAN

1. 100 Pekerja kemanusiaan yang bekerja di SATKORLAK Kabupaten Garut, 42 SATKORLAK Kecamatan, perempuan dan anak perempuan yang berada di tenda pengungsian di Cikelet, Cibalong, Pamengpeuk, Cisompet, Karang Politan, Bayongbong, Peundeuy, Pakenjeng, dan Pamulihan, 28 perwakilan lembaga bantuan kemanusiaan dan masyarakat Garut mengikuti Diskusi Terfokus yang akan diselenggarakan pada bulan September 2009 di Pendopo Kabupaten Garut
2. Sedikitnya 50 orang dari peserta FGD siap mengaktifkan Forum Relawan Siaga Bencana
3. 50 pekerja kemanusiaan di kecamatan Cikelet membentuk dan mengaktifkan Forum Relawan Siaga Bencana
4. 50 pekerja kemanusiaan di kecamatan Cikelet membentuk dan mengaktifkan Forum Relawan Siaga Bencana

V. PENERIMA MANFAAT
Manfaat langsung diharapkan dapat diterima oleh relawan yang menjadi pekerja kemanusiaan di Desa Cikelet dan Cibalong yang mendampingi sedikitnya 282 pengungsi terdiri dari 106 orang dewasa dan 176 anak-anak di tenda pengungsian desa Cikelet dan Leuwi Pari dari 13.350 pengungsi di Kabupaten Garut

Manfaat tidak langsung diharapkan akan diterima oleh 39.100 penduduk yang terkena bencana di Kabupaten Garut yang dilayani oleh para pekerja kemanusiaan di 42 SATKORLAK tingkat kecamatan dan 28 lembaga bantuan yang bekerja di Kabupaten Garut.

Tidak ada komentar: