Minggu, 06 September 2009

Narasi hasil pengamatan di Pameungpeuk




1. Perjalanan ke Cikelet menuju rumah Boy Frido

Kordinasi intensif dengan Boy Frido, pendidik di MTs Pasawahan dan Mts Sururon melalui handphone sejak hari Jum’at tanggal 4 September mengawali program bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Jawa Barat. Rincian kondisi di lapangan yang disampaikn Boy Frido langsung disebarluaskan melalui internet dan dibahas dalam Forum OK! Obrolan KerLiP di lembaga kursus EEP Jl. Ir. H. Juanda No 130B Bandung 40132 pada hari Sabtu tanggal 5 Spetember 2009 pukul 10.30 – 12.30. Jaringan Pak Soesatyo dari KPPN di Kabupaten Garut sangat membantu proses kordinasi dengan Dinsos Pemkab Garut dan RS. Dr. Slamet. Hasil konsolidasi pada Forum OK! Langsung kami tindaklanjuti dengan penelusuran media oleh Ayu, Dyah dan Pak Soesatyo, kunjungan ke Pameungpeuk dipimpin saya, Ibu Kusmeni dari ISFI berkomitmen untuk mengumpulkan data di Pangalengan.

Saya, Ova, Ayu dan Dyah berangkat dari Dago pada hari Minggu tanggal 6 September 2009 saat sahur pukul 3.30 ke Cicaheum. Satu-satunya bis yang langsung ke Cikelet baru berangkat dari Cicaheum pada pukul 6.00. Bis penuh sesak dengan penumpang terutama perempuan yang bekerja di garmen di daerah Cicalengka.
Kami sempat tertidur di bis dan terbangun di jalan berkelok-kelok menuju Pameungpeuk. Tak terlihat kerusakan apapun sepanjang jalan tersebut. Kebun teh terhampar di kanan kiri jalan diiringi bukit-bukit yang gundul dan beberapa bagian jalan yang nampaknya rawan longsor. Tidak lama kemudian bisa yang kami tumpangi sampai pada bagian yang dipenuhi hutan primer yang sangat lebat. Terlihat sungai mengalir jernih di lembah yang dihimpit hutan lebat tersebut. Hawa mulai terasa panas, belum terlihat kerusakan bangunan. Saya dan Ayu mulai mengambil foto-foto dari bis saat melihat posko Yayasan pendidikan Al Azhar kemudian posko Save the Children estela Pondok Pesantren Al Falah. DI kiri jalan terlihat beberapa rumah retak dan roboh dan bangunan SD Depok 01. Mungkin ada 3 kelas yang hancur karena gempa. Menjelang pertigaan menuju Cikelet makin banyak rumah hermanen yang roboh. Sopir bisa dan penumpang disebelah menunjuk salah-satu bangunan yang roboh di kanan jalan. Kata mereka ada dua orang yang meninggal di reruntuhan rumah tersebut.
Saya lihat ada mobil Indosat di posko bantuan kemanusiaan sub kabupaten Garut, Beberapa mobil IBU foundation terlihat di kanan jalan. Tenda-tenda darurat terlihat dipasang di depan rumah yang rusak karena gempa. DI pertigaan menuju Desa Cikelet terlihat tenda-tenda militer dan polisi. Mungkin disana tempat satkorlak kecamatan Pameungpeuk. Rumah permanen yang rusak berat makin banyak. Hampir semua toko di Pasar dekat Cikelet terlihat sudah buka. Ada balai pengobatan di kanan jalan. Pukul 12 kami tiba di depan rumah Boy Frido. Terlihat Boy dan kawan-kawannya menunggu di pinggir jalan. Rupanya rumah Boy dilewati bis menuju Desa Cikelet. Bagian depan rumah rubuh. Buku-buku di perpustakaan masih menumpuk rapi. Ada 2 orang dari PERGERAKAN Bandung, 3 orang dari Serikat Petani Pasundan, 1 orang dari jakarta dan 1 relawan setempat.

Boy menyampaikan perkembangan pengumpulan data, bantuan yang masuk, kordinasi di kelurahan Cikelet, Usep menambahkan dengan keterangan dari Kiara Kohok, Yufik dan Ayi tentang Desa Cibalong. Boy mengajak kami langsung ke posko di depan masjid yang dibuka atas inisiatif warga bersama aparat kelurahan Cikelet. Mereka memutuskan untuk membentuk posko tersebut untuk meningkatkan partsipasi warga dan efektivitas penyaluran bantuan kemanusiaan berkordinasi dengan Kecamatan dan satkorlak Kecamatan.


2. Diskusi Terfokus dengan Sekdes dan Lurah Cikelet

Pak Sekdes menjelaskan tentang bantuan-bantuan kemanusiaan yang diterima dan didistribusikan melalui RT. Ada 28 RT di Desa Cikelet yang letaknya sangat berjauhan. Warga dan aparat sepakat untuk menyalurkan bantuan langsung melalui ketua RT atau pengurus RT yang mewakili untuk memastikan seluruih bantuan terdistribusikan dengan baik. Selurh bantuan dipastikan dapat diterima warga beberapa jam setelah diterima oleh Posko. Tenda militer digunakan untuk dapur umum yang dikelola oleh TNI dan tempat evakuasi > 50 ibu dan anak yang kehilangan tempat tinggal.

Pak Sekdes kemudian meminta ijin untuk menerima tamu di rumahnya.
Boy, saya, Ova, Usep membahas beberapa hal teknis yang perlu dikordinasikan:
• Jika diperlukan testimoni aparat dan warga pada kordinasi yang direncanakan bersama Sekda dan Wagub Jabar disarankan untuk memperhatikan waktunya. Koordinasi jangan jam10 pagi, sebaiknya ba’da Ashar karena keterbatasan transportasi.
• Pengumpulan data berdasarkan usia dan jenis kelamin sedang dijalankan oleh pengurus RT dan segera dikirim setelah terkumpul
• Koordinasi penanggulangan bencana di Desa Cikelet langsung dipimpin oleh Pak Lurah.
• Dilema tentang rumah yang retak. Masih menunggu kesepakatan dengan satkorlak. Dikhawatirkan rumah-rumah yang retak tersebut membahayakan pemilik yang tinggal di tenda depan rumah masing-masing terutama anak-anak. Ada keinginan untuk meminta warga merubuhkan bangunan yang retak namun harus diantisipasi dengan tempat evakuasi warga dan reruntuhan rumah tersebut
• Dipertanyakan komitmen pemerintah provinsi Jawa Barat setelah adanya bantuan dana yang disampaikan oleh Presiden RI beberapa hari yang lalu. Bagaimana rencana pendistribusian dan dasar pendistribusiannya mengingat sebaran korban bencana sangat luas di seluruh Provinsi jawa barat.
• Perkumpulan KerLiP memfasilitasi advokasi bantuan kemanusiaaan untuk korban gempa di Jawa Barat bersama Pak Soesatyo dari KPPN, Ibu Kusmeni dari ISFI Jabar, Ayu dan Dyah guru Sekolah Alam Bandung, Rifki dari BEM UPI. Pak Haidir guru Al Azhar Bandung.
o Sekretariat di Rumah KerLiP Bandung Jl. Dago Elos V No 423 Bandung 40135 Tlp/HP : 022-2505116/081220555069 email : peduligempa@gmail.com situs : www.rumahkerlip.blogspot.com
o Pengumpulan data hasil penelusuran media dan pendataan di Bandung, Pangalengan dan Pameungpeuk sd 6 September 2009
o Penyusunan rekomendasi dan pers release di sekretariat pada hari Senin tanggal 7 September 2009 pukul 10 sampai selesai
o Penyampaian surat permohonan audiensi dan lobby personal oleh Pak Soesatyo
o Audiensi dengan Sekda Jabar, Wagub jabar, dan Satkorlak Jabar sete
o Rekrutmen dan pelatihan relawan pendamping anak, dokter dan psikolog
o Penggalangan bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak
o Rencana Tindak lanjut lainnya
o Warga sudah mulai terserang ISPA karena kemarau panjang dan debu dari reruntuhan bangunan yang belum dapat dievakuasi.

Pak Lurah kemudian datang menjelaskan rekapitulasi sementara data dari 28 RT Kelurahan Cikelet. Kertas berisi tulisan tangan hasil rekapitulasi yang akan dibawa Pak Lurah ke Satkorlak Kecsamatan sudah didokumentasikan. Ada 714 rumah rusak ringan sampai berat, 2715 pengungsi, 3 perempuan dan 2 laki-laki (1,5 – 49 tahun), 1 perempuan (71 tahun) dan 1 laki-laki (45 tahun) meninggal, 12 sekolah rusak ringan, 4 madrasah rusak berat, 25 mushola/masjid, balai kampung rusak berat, pesantren rusak berat.

Ayu dan Dyah menemui anak-anak korban gempa yang sedang bermain di tenda biru samping masjid. Sebagian anak-anak juga terlihat main di sungai. Ada Tamiya yang disewa anak-anak Rp 1.000/hari tanpa batasan jam dari kakak salah satu anak lainnya.Ayu dan Dyah juga berkeliling mendokumentasikan bangunan yang rusak dan sarana MCK di Desa Cikelet.

Yufiq terlihat mendokumentasikan dengan kameranya sebelum berangkat dengan Ayi ke posko SPP di Cibalong. Tidak lama kemudian Usep menyusul mereka.

Saya, Ova, Ayu dan Dyah berjalan mengikuti Boy untuk bersiap-siap ke RS Dr. Slamet Garut. Saya dan Ova menyempatkan mampir dan mengobrol dengan warga di beberapa tempat yang dilewati

Saya dan Ova berkenalan dengan Ibu Suhamah, Ibu Cica, Ibu Tingting dan Ibu Neng yang sedang me’rompes’ kacang panjang serta ananda Fachri yang terkena penyakit cacar. Kelimanya menghuni tenda posko kelurahan desa Cikelet bersama puluhan ibu dan anak lainnya yang kehilangan tempat tinggal mereka karena gempa. Ibu Suhamah menceritakan kehilangannya dengan mencucurkan air mata. Bu Neng mengusulkan pembuatan parit untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan. Saya menyarankan Fachri untuk tinggal di tempat terpisah untuk mengantisipasi kerentanan korban gempa terhadap penyakit menular ini. Sampai hari itu Fachri belum berobat. Menurut Bu Neng, ibunya, Fachri dan ayahnya yang terkena cacar, tapi saya tidak melihat ayahnya disana. Sebelum keluar dari tenda tersebut, saya meminta keempat ibu ini menuliskan saran dan masukan mereka untuk disampaikan kepada Pak Lurah.

Ada dua perawat sedang memeriksa seorang bapak di posko kesehatan. Saya sempat berkenalan dan mampir menanyakan kebutuhan bantuan di posko tersebut. Keduanya menjelaskan bahwa mereka dalam tanggung jawab Puskesmas dan bergantian berjaga. Sangat diharapkan ada bantuan dokter, antibiotik, sallisil talk, dan salep setelah mendengar kabar bahwa Fachri terkena cacar. Rupanya mereka baru mengetahui hal tersebut.

Saya sempat berkenalan dengan Ibu Muh yang tinggal di bagian rumahnya yang tersisa. Tumpukan reruntuhan rumahnya terlihat menggunung. Saya merasa agak khawatir melihat bagin rumah yang ditinggali Bu Muh dengan dua anaknya. Kemudian saya meminta ijin kepada Ibu Subchon pemilik pondok pesantren di desa Cikelet untuk ikut ke toiletnya. Beliau menunjukkan bagian dapur dan kobong yang hancur oleh gempa. Pada saat gempa terjadi ada ratusan anak dari berbagai kampung yang sedang mengikuti pesantren kilat terpaksa dipulangkan.

Kami sempat diajak pulang bersama ke Bandung oleh Ibu Kades Girimekar dari Ujungberung dan pihak lainnya, manun kami memutuskan untuk naik omprengan ke Pameungpeuk kemudian naik elf ke Garut.

Selama dalam perjalanan dari Pameungpeuk menuju Bandung, saya sempat menghubungi berbagai pihak. Antisipasi untuk Rencana Tindak Lanjut dilakukan dengan berbagai cara. Kordinasi melalui telpon dengan pengawas di dinas pendidikan Kabupaten Garut diharapkan dapat memperkuat rencana Kesiagaan bencana melalui lembaga pendidikan. Beliau menyambut baik dan siap ditemui saat kami kembali ke Garut. Persatuan Insinyur Indonesia akan segera berkordinasi untuk membantu rekonstruksi. Ibu Meneg BUMN siap membantu menghubungkan dengan BUMN-BUMN untuk mengirimkan bantuan ke Pameungpeuk. Tifa Foundation, Tara mitra Informatama, Bapak M. Lukmantyas dan Bapak Tarto dari IM2 Jakarta siap membantu. Ibu Feni dari Shafira House sudah menghubungi kontak dengan Bapak Arifin Panigoro untuk segera datang ke lokasi. Garuda dan Esia sudah masuk ke Posko kelurahan Cikelet setelah SCTV dan TVOne. Di sepanjang jalan juga terlihat posko ACT dan yang lainnya serta mobil-mobil yang bergantian menyalurkan bantuan terutama di Kiarakohok.

Waktu maghrib sudah lewat saat kami tiba di terminal Garut. Sms jawaban dari Ibu Dr. Widjayanti, kepala RS Dr. Slamet masuk pada saat yang bersamaan. Awalnya kami memutuskan untuk langsung menemui beliau di rumah sakit. Namun ternyata beliau baru masuk tol PasirKoja untuk mengikuti rapat evaluasi pasca gempa bersama Pemkab Garut. Saya menyampaikan kebutuhan obat-obatan yang diminta petugas Posko kesehatan dan Ibu Doker Widjayanti berjanji akan segera menghubungi dokter di Puskesmas setempat. Beliau juga sempat menjelaskan beberapa hal terkait dengan penanganan kesehatan korban gempa dalam telpon.
Belia menegaskan bahwa pertemuan evaluasi ini bersifat intern dan dihadiri Bupati, Wakil Bupati, Satkorlak, BMG dan pihak terkait lainnya.

Saya mencoba menghubungi Pak Mlenik Asda II Pemkab Garut melalui sms. Dijawab oleh Ibu Mlenik bahwa suaminya sedang ke masjid dan segera menuju tempat rapat. Kordinasi via telpon bersama Pak Soesatyo sangat membantu. Saya dan Ova memutuskan pergi ke Posko di Dinas Sosial Pemkab Garut untuk verifikasi data dari lapangan setelah mendapatkan nomor Ibu Elka, Kadinsos Pemkab Garut. Ayu dan Dyah meutuskan untuk langsung pulang ke Bandung karena esok harinya harus pergi mengajar.

Sebelum sampai di Posko kami bertemu dengan Ibu Ita, wakadinsos yang menyambut baik hasil kajian di lapangan. Beliau menyampaikan beberapa hal mengenai proses terjadinya gempa dan pendistribusian bantuan yang menjadi tanggung jawab Dinsos sebagai wakil skretaris satkorlak. Satkorlak dipimpin langsung oleh Bapak Wakil Bupati yang tanpa kenal lelah memantau perkembangan korban gempa, pendistribusian bantuan dan hal terkait lainnya di kantor Pemkab Garut. Pelaksana harian satkorlak menjadi tanggungjawab Setda dan ketiga ASDA di pemerintahan Kabupaten Garut. Menurut Bu Ita, sudah dicapai kesepakatan untuk memindahkan kantor satkorlak ke kantor Dinsos agar kordinasi berjalan lebih baik. Seluruh bantuan sudah didistribusiken melalui satkorlak kecamatan. Beliau terkejut mendengar paparan Usep mengenai ketiadaan bantuan makanan di Desa Leuwi Pari, Jampang, Mancagahar, dan Jatimulya sampai kemarin.

Data yang disampaikan Usep dari keempat desa tersebut lebih sedikit dari data yang dikumpulkan Posko di Dinsos sampai tanggal 5 September pukul 12.00. Dalam rapat terakhir disampaikan bahwa diperlukan 287 ton beras untuk sekitar 39 ribu korban di 42 kecamatan di Kabupaten Garut. Penyebaran korban yang begitu luas dengan kondisi kerusakan yang sangat bervariasi membuat pendistribusian bantuan agak terhambat. Bu Ita menjelaskan kekurangan tagana, tenda, alat komunikasi, dan tenaga relawan yang siap membantu mendistribusikan bantuan. Posko Kabupaten garut akan memprioritaskan perhatian ke daerah-daerah yang jarang dikunjungi pihak-pihak yang menyalurkan bantuan langsung.
Alhamdulillah sebelum pulang kami dibekali salinan data yang dikumpulkan Bu Ita dan jajarannya di Dinas Sosial Pemkab Garut.

Tidak ada komentar: