Minggu, 19 Juli 2009

Workshop Para Penggagas Pendidikan Multikultur

Bandung terasa begitu dingin setelah tiga hari ditinggal ke Jakarta untuk mengikuti Workshop Para Penggagas Pendidikan Multikultur atas undangan Tifa Foundation. Peristiwa meledaknya bom di JW Marriot dan Ritz Hotel membuka perbincangan para peserta workshop pada saat makan siang bersama. Pukul 13.30 Prof. H.A.R Tilaar sudah menunggu ditemani Renata, Direktur Tifa Foundation ketika saya bersama Ki Priyo dari Perguruan Taman Siswa, Listia dari Interfidei dan Qowwim dari Fakultas Tarbiyyah UIN Yogyakarta menaiki tangga menuju ruangan. Sistem Pendidikan Nasional dan Profil Mendiknas yang dikupas dalam diskusi yang diselenggarakan Education Forum dengan menghadirkan Bapat Daoed Joesoef menjadi tema perbincangan berikutnya sebelum workshop dimulai. Tidak lama setelah Irsyad hadir, workshop pun dibuka dengan perkenalan peserta. Menyusul hadir Yayasan Paras, Ridho dari JIMM, Jaja dari PIM UIN Jakarta, Marbawi, Misa dan Rahman dari AGPAI,Bahrudin dari Qoriyah Thoyibah, Widji dari Sahabat Gloria, Retno dari SMAN 13 Jakarta, Ibu Titi dari UIN Malang, dan Utomo Dananjaya dari IER Universitas Paramadina.

Meng-Indonesia menjadi kata kunci yang menarik hati saya dari paparan Prof HAR Tilaar apalagi ketika dikaitkan dengan Trikon dan Tri pusat-nya Kihajar seperti yang dipaparkan Ki Priyo. Bagi saya paparan kedua penggagas pendidikan multikultur ini menjadi penting untuk dikaji lebih mendalam terkait dengan visi KerLiP untuk membangun gerakan keluarga peduli pendidikan. Apalagi ketika mendengar paparan dari seluruh penggagas pendidikan multikultur yang hadir dan membawa portofolio masing-masing. Makin kuat hasrat saya dengan menggunakan CACT (Cara Asyik Cari Tahu) bersama peserta didik, keluarga dan masyarakat tempat Pesantren KerLiP dirintis sebagai model pengarusutamaan pendidikan multikultur berbasis keluarga dan komunitas. Apalagi ketika Apa Utomo Dananjaya memfasilitasi saya dan kawan-kawan untuk melakukan beberapa praktek pembelajaran. Para pesertA WORKSHOP pun kemudian bersepakat untuk membentuk PERDIKAN (Persaudaraan Pendidikan Kebinekaan) dan berbagi tanggung jawab proses menjadi Indonesia dengan narasi-narasi setiap proses pembelajaran yang dilaksanakan di komunitas masing-masing.

Perdebatan panjang tentang ideologi, teologi, dan teori pendidikan yang dipandang Bapak Utomo Dananjaya disederhanakan dengan membuka kembali UUD 1945 dan amandemennya dan UU Sisdiknas disepakati sebagai titik awal untuk mengarusutamakan pendidikan kebinekaan dari praktek-praktek terbaik yang dikumpulkan dan direview bersama dalam persaudaraan. Impian akan adanya lembaga pendidikan guru menjadi cakrawala pendidikan kebinekaan pun dimulai dari langkah awal mendaftarkan praktek-praktek terbaik ini.

PERDIKAN sepakat untuk berbagi peran dalam melakukan review atas model RPP dan silabus yang disusun AGPAI sampai esok hari. Blog PERDIKAN siap menjadi sarana komunikasi dalam pantauan Sahabat Gloria dan KerLiP mulai hari Rabu yang akan datang. Sumber belajar PERDIKAN akan dikumpulkan di kantor PARAS dengan Irsyad sebagai penjaganya dan Apa Utomo siap memfasilitasi Marbawi sebagai Koordinator PERDIKAN setiap hari Rabu di Wisma Kodel. Beberapa inisiasi awal untuk saling memperkuat penbdidikan multikultur sudah muncul antara lain kerjasama Interfidei dengan Perguruan Taman Siswa, KerLiP dan Retno dengan Paras dan komitmen Tifa untuk memfasilitasi Pelatihan Debat bagi guru sebagai model Pendidikan Multikultur.

Dunia pendidikanlah yang mendorong menguatnya penghormatan dan pemahaman tentang kesetaraan budaya sejak muncul di Inggris kemudian di Amerika Serikat. Diharapkan akan tumbuh Indonesia baru yang ber- Bhinneka Tunggal Ika melalui pengarusutamaan pendidikan multikultural yang berawal dari guru pendidikan keagamaan Islam.

Tidak ada komentar: