Minggu, 19 Juli 2009

Pesantren KerLiP : langkah awal membangun kemandirian berbasis keluarga dan komunitas

Pesantren kehidupan yang diinisiasi oleh Rumah KerLiP, DKM Ar-Rahim Dago Elos dan Pesantren Pena Cendikia. Kita bermimpi pada tahun 2011 nanti, pesantren kerliP siap mengembangkan karakter dan kemandirian anak, keluarga dan komunitas dengan dukungan penuh dari masyarakat sekitar, penggiat pendidikan, pengusaha, pemerintahan dan stakeholder. Prinsip demi kepentingan terbaik anak menjadi basis gerakan pendidikan kebinekaan berbasis keluarga dan komunitas.

Para peserta didik diharapkan mampu mengatur diri dan lingkungan dalam komunitas yang menghormati dan memahami kebinekaan dengan menyusun, melaksanakan, melaporkan dan mempresentasikan DReAM (Daftar Rencana Anak Mandiri). Kegiatan Tahfizh Qur'an yang dilaksanakan oleh DKM Ar-Rahim merupakan kegiatan bersama yang dilaksanakan peserta didik, ibu dan bapak masing-masing setiap Magrib sampai Isya. Kegiatan tahajjud bersama yang sudah berjalan sejak enam bulan yang lalu diharapkan dapat diikuti oleh seluruh keluarga muslim di daerah Dago Elos ini. Adanya asrama STKS yang dihuni beberapa mahasiswa non muslim dan tumbuh suburnya kamar kost yang disediakan di rumah-rumah sekitar mushola dan komunitas Rumah KerLiP membuka peluang untuk membangun persaudaraan dengan pendidikan kebinekaan berbasis keluarga dan komunitas.

Persiapan dan pelaksanaan peluncuran Pesantren KerLiP yang melibatkan anak-anak, DKM, ibu-ibu dan anak kost non muslim menunjukkan bahwa komunitas ini siap menghormati kebinekaan. Michael yang senang memasak dan bermain bersama anak-anak membantu adinda dan ananda Zakky ke pasar untuk belanja kebutuhan konsumsi acara. Tanpa canggung Michael menghaluskan bahan-bahan sambal dengan blender yang tersedia sambil sesekali berdecak kagum dengan kegiatan anak-anak menghafal juz'amma untuk menyiapkan Sima'an Qur'an bersama lima ustadz hafizh Qur'an 30 juz. "Baru kali ini aku membantu memasak di tempat tetangga dan mendengar anak-anak antusias menghafal ayat-ayat Qur'an sambil mengupas dan memarut kelapa, hebat ya Bu!" seru Michael di tengah bisingnya suara blender. "Ini juga pengalaman baru buat ibu," jawabku sambil mengucap syukur mendengar decakan kagum seorang non muslim terhadap kebiasaan anak-anak yang luar biasa. Aku pun ikut melantunkan ayat-ayat Qur'an sambil bekerja membantu adinda menyiapkan pepes ayam, pepes tahu, sambal, kerupuk, dan lalap kukus untuk esok hari.

Sejak dua hari yang lalu, ibu-ibu kelompok Nasyid sudfah mulai berlatih dengan karaoke milik Pak DKM dan TV milik keluargaku. Tanpa canggung mereka berlatih di ruang TV. Sungguh luar biasa mengingat dua hari sebelumnya Pak DKM datang untuk menegurku karena anak-anak pengajian Ar-Rahim keasyikan bermain di rumah kami sampai lupa ke masjid. Ya..aku baru pindah ke Dago Elos ini memboyong adinda sekeluarga, dua orang relawan KerLiP dan kedua anakku yang memilih tetap ber-homeschooling di Bandung. Perpustakaan keluarga yang selalu kubuka untuk umum menjadi daya tarik sendiri bagi anak-anak yang sering bermain dan jajan di warung kecil yang dibuka adinda di lahan parkir rumah kami. Relawan KerLiP sudah menempati rumah ini sejak bulan Juni. Komunitas Belajar dampingan Rumah KerLiP di Sekepicung dan Ciburial pun sudah menggunakan rumah ini sebagai tempat berkomunitas.

Kedatangan Pak DKM yang ternyata teman kepanduanku di SD Darul Hikam pada tahun 1980-1982 membawa berkah tersendiri. Dalam obrolan singkat kami muncul itikad untuk menyelaraskan gagasan dan harapan membangun komunitas belajar mandiri yang dapat mencerdaskan kehidupan keluarga dan masyarakat Dago Elos sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan mereka melalui kemandirian dalam berkarya dan berusaha.
Ini sejalan dengan Rumah KerLiP yang mengembangkan program adopsi wilayah untuk membangun kemandirian dalam belajar dan berusaha berbasis keluarga dan komunitas.
Komitmen ini pun kami wujudkan dalam bentuk Pesantren KerLiP.

Tidak ada komentar: