Minggu, 19 Juli 2009

Pendidikan Kebinekaan di Pesantren KerLiP (1)




Taman Budaya dan Dago Tea House sudah kukenal sejak kecil sebagai tempat bermain yang menyenangkan. Namun aku baru masuk ke dalam gedung pertemuan di taman budaya ini pada saat pembagian rapor putri sulung kami di kelas 1 SD Darul Hikam. Sejak pindah ke Dago Elos, taman budaya ini menjadi lokasi favorit tempat warga belajar Rumah KerLiP berdiskusi, senam jantung sehat, bersepeda dan bermain setiap pagi. Kegiatan jalan sambil mengobrol di pagi hari menjadi kesepakatan seluruh warga belajar Rumah KerLiP sejak tanggal 10 Juli lalu. Aku dan Zamzam menjadi anggota warga belajar bersama Iyen, Zakky, Abi, Kiki, Icha, Ami dan Sarah. Beberapa anak yang bersekolah di siang hari kadang-kadang mengikuti kegiatan yang dilaksanakan pada pukul 6-8 pagi ini. Hari pertama diisi dengan mencermati pohon berkayu putih yang tegak menjulang di kanan jalan seberang UNPAD. Kiki memintaku memotret pohon tersebut dengan handphone. Iyen asyik mencium bau kayu putih dari daun yang berguguran, menunjukkannya pada Tias, Wita, dan aku. "Bu, ini pasti pohon kayu putih yang minyaknya suka digunakan untuk mengobati perut kembung!" seru Iyen sambil menunjukkan daun-daun yang diremasnya sambil sesekali mencium bau daun tersebut dan menyodorkannya kepadaku. "iya bu!" seru Tias berkali-kali. "Baunya persis bau minyak kayu putih!" seru Kiki memastikan. "Ibu juga mencium bau minyak kayu putih", sahutku. "Apa itu minyak kayu putih ?" Tanyaku. Tak ada yang menjawab. Rupanya anak-anak lebih tertarik dengan beberapa kertas yang menempel pada pohon dan beberapa paku yang digunakan untuk memasang plang pengumuman. "Siapa yang pernah tertusuk peniti?" tanya Zamzam. "Aku, aku, aku!" anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan Zamzam. "Sakit lho!" kata Icha. "Wah, kalau tertusuk paku lebih sakit ngga ya?" tanyaku. "Pasti dong Bu!" sahut Kiki. "Apakah pohon merasa sakit seperti kita jika tertusuk paku seperti ini?" Zamzam bertanya lagi. "Sakit, Kak!' Seru Kiki. "Buktinya kulit pohon mengelupas sampai batang putihnya terlihat meluas di sekitar paku ini", jelas Kiki lagi. "Benarkah yang dikatakan Kiki?" Tanyaku lagi. Anak-anak terus melangkah sambil sesekali minta difoto dengan latar belakang pohon yang mereka yakini pohon kayu putih. Sampai di depan gerbang Taman Budaya, anak-anak tertarik membaca agenda pagelaran seni budaya. Anak-anak yang lebih kecil berlari mengejar kucing. Kemudian kami pun duduk di beranda Taman Budaya.
"Ibu masih penasaran dengan pohon kayu putih tadi, Bagaimana cara memastikan pohon tersebut benar-benar pohon kayu putih. Siapa yang mau membantu ibu dengan melakukan CACT pohon Kayu Putih?" tanyaku. "Apa CACT itu?" tanya Tias. "Cara Asyik Cari Tahu!" seru Zakky dari ujung beranda. Tias baru naik ke kelas 5 SD di Babus Salam, sedangkan Zakky akan mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan Paket B pada bulan November 2009. Pesantren kehidupan yang digagas KerLiP bersama mitra ini melepaskan sekat usia, ruang dan waktu dalam belajar. Lembar Inspirasi bagi Ragam Anak (LIBRA) pun disusun Litbang KerLiP bersama pendamping dari kegiatan keseharian anak. Pendamping yang juga warga belajar dalam komunitas belajar mandiri ini dituntut untuk selalu tanggap terhadap perubahan kebutuhan peserta didik dalam setiap proses pembelajaran sambil tanpa meniadakan peran keluarga sebagai pendidik utama. Bagi anak usia 13 tahun atau lebih peran keluarga terutama orangtua sangat penting dalan menjaga pola komunikasi dengan balutan cinta kasih berdasarkan prinsip demi kepentingan terbaik anak.

Kegiatan berkomunitas yang terdiri dari berbagai usia ini diharapkan berdampak pada kemandirian peserta didik untuk bersosialisasi dalam masyarakat berbangsa dan bernegara yang menghormati dan memahami kebinekaan sebagai sesuatu yang niscaya dalam kehidupan.

1 komentar:

tyas dago mengatakan...

asyikkkkk.....
nama ku tercantum di cerita Kerlip tapi nama nya salah harus nya TYAS bukan tias ya tapi tyas juga seneng kok dgn cerita nya loh
hehehehehehhhh..................