Senin, 20 Juli 2009

Tata Tertib






Sebenarnya cerita tentang permainan kertas kemarin masih panjang..selengkapnya bisa dibaca dalam narasi Fitry di http://fitrykerlip.blogspot.com ya.
Pagi ini Zakky tidak ke masjid. Sebenarnya aku sudah membangunkannya sejak pukul 4, tapi terpaksa dibiarkan sampai benar-benar bangun sendiri. "Icha, Aa nya sudah ke masjid?" tanyaku dari dalam kamar mandi. Icha dan Ami terdengar asyik membicarakan game mereka. "Icha! Icha!" teriakku berkali-kali. "Ya Ibu", sahut Icha dari balik kamar mandi. "Bisa tolong bantu membangunkan Aa?" pintaku. "Aa nya sudah bangun koq!" teriak Icha menjauh dari kamar mandi. Kulihat Kiki sedang shalat subuh dan Zakky masih terbarin di tempat tidurnya. "Aa ngga ke masjid?" tanyaku agak kesal. "Masjidnya terkunci tak ada orang"sahut Zakky. Kulihat jam di dinding kamar Zakky menunjukkan angka 5.30. "Ayo mandi!" seruku sambil menahan kesal.
Terdengar suara Abby memanggil nama Zakky. Rupanya mereka bertiga berencana pergi jalan-jalan menuju Taman Budaya lebih pagi. Aku, Icha, Ami, Sarah menyusul kemudian setelah Iyen dan Siti datang. "Bude, apa itu?" tanya Sarah sambil menunjuk kearah onggokan sampah di depan penjual sayuran di gerbang menuju Bukit Dago Utara. Pagi ini pedagang singkong menyediakan ubi jalar dan sayuran segar dalam plastik-plastik container. "Itu sampah!"kata Ami. Rupanya Sarah menunjuk tumpukan sampah di depan pedagang sayuran dan Ami menjawabnya dengan sigap. "Gonceng dong!" teriak Icha saat melihat Kiki menghampiri dengan sepeda milik Zakky. "Ami mau ikut juga?" tanya Kiki. "Ngga ah!" sergah Ami. Kuambil sepeda yang disimpan Kiki di samping anak-anak lelaki yang sudah berkumpul di depan Taman Budaya. Perlahan kunaiki sepeda Zakky dan berkeliling komplek sambil menunggu Senam Jantung Sehat dimulai. Iyen, Siti, Icha, Ami dan Sarah bergerak mengikuti irama senam saat aku kembali bersama mereka. Seperti biasanya para lelaki sibuk berbagi cerita. Anak-anak bersuka ria mengikuti irama Senam Jantung Sehat bersama ibu-ibu yang biasa bersenam pagi di depan Taman Budaya. "Lumayan berkeringat juga ya," seruku pada Iyen. "Asyik ya Bu,!"seru Iyen. "Kita senam pagi setiap selasa dan minggu nih!"serunya lagi. "Bu, saya masuk sekolah jam 9,"Siti berbisik di belakang telingaku. Jam 7.25 kami kembali berjalan menyusuri rumah-rumah di Bukit Dago Utara. Senam Jantung Sehat masih tahap pemanasan.

Di rumah, Zakky dan Kiki sudah menyiapkan kertas plano, spidol dan lakban untuk refleksi pagi. Siti langsung naik ke alat aerobik di depan paviliun rumah. Abby duduk menunggu. "Siapa yang ikut menyusun tata tertib kemarin?" tanyaku. "Aku! Aku! Aku!" seru Siti dan Iyen berkali-kali. "Apa itu tata tertib?" tanyaku. "Sesuatu yang disusun untuk menertibkan kita Bu,"sahut Zakky sambil menyalakan laptop hitamnya. "Ayo kita review kegiatan rutin yang sudah biasa dilakukan bersama!"seruku pada anak-anak. Jalan-jalan, senam, mengaji magrib, bangun pagi untuk tahajjud bersama beserta waktu pelaksanaan masing-masing kegiatan mulai menghiasi kertas plano yang ditempel Kiki. "Benar nih, semuanya sudah biasa dilakukan,"kataku lagi. "Iya Bu, meski kadang-kadang suka kesiangan atau tidak jadi dilaksanakan. "Bagaimana jika kegiatan yang belum terbiasa dilakukan kita tambahkan kata belajar, dan kegiatan rutin ini menjadi tata tertib kita dalam mengatur jadwal harian," kataku. "Oh ya, kebiasaan apa yang muncul di sekitar pohon yang kalian sebut pohon kayu putih setelah melihat tanda yang dipaku di pohon tersebut?"tanyaku. "Tulisannya kan dilarang membuang sampah disini. Kayaknya penduduknya masih terbiasa buang sampah sembarangan ya Bu,"kata Abby. "Menurut kalian, mengapa ada larangan yang dipaku di pohon itu?" tanyaku lagi. "Agar penduduk jadi terbiasa membuang sampah pada tempatnya. "Jika mereka sudah terbiasa, masih diperlukankah larangan tersebut?" tanyaku lagi. "Ngga dong!" seru Icha.

"Bagaimana dengan kegiatan rutin kita, perlukah diingatkan lagi dengan kata-kata jangan sampai lupa melakukannya?" tanyaku lagi. "Ayo cari tahu larangan-larangan apa saja yang sering ditempel di pohon-pohon di pinggir jalan dan jelaskan kebiasaan yang diperkirakan ada di sekeliling pohon tersebut,"lanjutku lagi.

"Bu, kita perlu memilih ketua murid nih untuk memastikan semua jadwal yang sudah disepakati dilaksanakan!" seru Kiki. "Kita pilih dengan gambreng aja ya Bu," seru Abby. Kami pun gambreng dan memilih ketua murid mingguan."Ibu juga ikutan dong!"kata Kiki. Dan ternyata hasil gambrengnya menempatkanku jadi ketua murid minggu pertama. Anak-anak bersepakat untuk main, naik sepeda, mandi, bersiap-siap, membaca buku, dan sarapan dan berkumpul lagi pukul 9.30.
Sampai saat ini mereka terdengar masih asyik bercengkerama, belum ada satu pun yang meminta untuk berkumpul.

Tidak ada komentar: