Kamis, 16 Juli 2009

MENGHADIRKAN KELUARGA KE RUANG PUBLIK

Studi Awal tentang Sekolah Rumah KerLiP
oleh Irsyad Ridho

1. PENDAHULUAN

Mantan Menteri Pendidikan semasa Orde Baru, Daoed Joesoef, pernah menulis di harian Kompas tentang sekolah rumah. Artikelnya itu kemudian mendapat reaksi cukup keras dan ramai di salah satu blog pelaku sekolah rumah (Sufehmi 2008). Dalam tulisannya, Joesoef (2007) mengkritik sekolah rumah dengan menyatakan bahwa sekolah rumah “bisa merusak pertumbuhan anak [untuk] menjadi manusia yang bermasyarakat” dan dia menganggap bahwa pengembangan sosialisasi dan kewarganegaraan (citizenship) hanya dapat dilakukan dengan baik melalui sekolah formal. Meskipun di sisi lain dia mengakui pula bahwa sekolah rumah muncul sebagai reaksi terhadap kemerosotan mutu sekolah formal, anehnya dia tidak menujukan kritik yang sama terhadap kemungkinan dampak buruk sekolah formal dari segi sosialisasi dan kewarganegaraan itu. Posisinya yang berat sebelah itulah—di samping lemahnya argumen sosialisasi dan kewarganegaraan yang dia tuduhkan pada sekolah rumah—yang kemudian menjadi salah satu pemicu reaksi yang cukup ramai berupa kritik balik terhadapnya.
Apa yang dikemukakan oleh Joesoef itu memang merupakan stigma yang sering diberikan orang kepada sekolah rumah meskipun beberapa penelitian telah memperlihatkan hal yang sebaliknya. Arai (1999), misalnya, memperlihatkan bahwa sekolah rumah juga berperan penting dalam pengembangan sikap kewarganegaraan yang multidimensional yang didasarkan pada prinsip-prinsip toleransi terhadap dan kerjasama dengan orang lain, resolusi konflik dengan cara yang non-kekerasan, argumen dan perdebatan yang rasional, environmentalisme, penghargaan atas hak asasi manusia, dan partisipasi dalam kehidupan kewargaan (civic life). Meskipun demikian, seperti yang bisa terjadi dengan sekolah formal, sekolah rumah pun tidak lepas dari kemungkinan untuk menjadi eksklusif dan mendorong sikap elitisme yang justru melemahkan pengembangan kewarganegaraan yang bisa berujung pada kemunduran upaya demokratisasi melalui pendidikan. Apple (2001), misalnya, ketika mengamati perkembangan sekolah rumah di Amerika, dia mendapati kenyataan tentang menguatnya kecenderungan eksklusivisme keagamaan melalui sekolah rumah. Menurutnya, hal itu dapat memperlemah sendi-sendi demokrasi di Amerika itu sendiri. Namun, karena dia juga mengakui bahwa sekolah rumah merupakan fenomena yang kompleks yang muncul sebagai reaksi terhadap berbagai persoalan buruk di sekolah publik di sana, Apple menyarankan bahwa sekolah rumah perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam upaya pengembangan demokrasi. Dalam hal ini dia mengemukakan,
…there are clear elements of good sense in the home schooling movement’s criticism of the bureauctic nature of all too many of our institutions, in its worries about the managerial state, and its devotion to being active in the education of its children.… Of course, sometimes this criticism are unjustified or are politically motivated by undemocratic agendas. However, this must not serve as an excuse for a failure to open the doors of our schools to the intens public debate that makes public education a living and vital part of our democracy. (Apple 2001, 189-190)

Meskipun penelitian Apple (2001) dan Arai (1999) itu secara khusus berkenaan dengan sekolah rumah di Amerika Serikat, saya pikir keduanya tetap dapat memberikan orientasi yang cukup penting dan memadai untuk memulai penelitian tentang sekolah rumah di Indonesia yang perkembangannya masih relatif baru. Karena itu, mengikuti saran Apple di atas, dalam makalah ini saya berupaya untuk memahami fenomena sekolah rumah dalam kaitannya dengan aspek penting dalam demokrasi, yaitu pembentukan ruang publik, khususnya ruang publik dalam arena pendidikan. Untuk keperluan itu, saya akan menjelaskannya berdasarkan pengamatan dan keterlibatan saya terhadap/bersama sekolah rumah yang diselenggarakan oleh Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP). Saya memaksudkan makalah ini baru sebagai studi awal karena analisis saya masih terbatas pada data-data yang sempat saya peroleh dalam waktu yang relatif singkat. Saya berharap dapat memperdalamnya pada kesempatan selanjutnya. Dari data yang ada, saya melihat kemungkinan untuk memfokuskan analisis pada persoalan strategi wacana yang dilakukan oleh sekolah rumah KerLiP dalam upaya pembentukan ruang publik di arena pendidikan.

Tidak ada komentar: