Kamis, 16 Juli 2009

4. MENGHADIRKAN KELUARGA DI RUANG PUBLIK:

STRATEGI WACANA SEKOLAH RUMAH KERLIP
Pada bagian ini saya berusaha untuk menempatkan aktivitas sekolah rumah dalam hubungannya dengan pembentukan ruang publik. Untuk itu, saya hanya mengambil fokus analisis tentang strategi wacana yang digunakan dan ditawarkan oleh sekolah rumah yang dijalankan oleh Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) dalam upaya pembentukan ruang publik itu, yaitu wacana “anak merdeka” dan “keluarga peduli”. Karena berbagai keterbatasan, saya hanya mendasarkan analisis saya pada data yang saya peroleh dari pengamatan dan wawancara dengan salah satu pelaku sekolah rumah KerLip, yaitu yang dijalankan oleh keluarga Yanti Sriyulianti yang juga menjabat sebagai Ketua KerLip.


4.1 Masa Awal KerLip dan Sekolah Rumahnya
“Budaya penyeragaman pakaian, buku pelajaran, cara duduk, dan praktek pembelajaran yang sangat bergantung pada juklak dan juknis adalah hal-hal yang lazim terlihat di sekolah yang kami kunjungi,” ujar Yanti mengenang kegiatannya pada masa-masa awal perintisan KerLiP yang kemudian didirikan secara resmi pada tanggal 25 Desember 1999.
Selama masa itu, dia kerap merasa kecewa dengan perlakuan pihak sekolah terhadap orang tua murid. Dia sendiri pernah ditolak untuk mengetahui proses belajar anaknya di sekolah. Sebagai orang tua murid, dia juga berharap agar sekolah anaknya lebih transparan dalam pengelolaan keuangan. Apalagi dia sudah membayar lebih mahal karena sekolah tersebut menjanjikan program-program yang khas dan unggulan. Karena kerap dikecewakan, Yanti sampai sembilan kali memindahkan anak sulungnya, Nurul Fitry Azizah, dari satu sekolah ke sekolah lain.
Dari kekecewaan itu, Yanti kemudian berinisiatif membentuk sebuah organisasi (perkumpulan) bersama beberapa orang tua murid yang lain untuk memperkuat peran keluarga dalam pendidikan, yang mereka beri nama Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP). Dalam anggaran dasarnya disebutkan bahwa perkumpulan ini berupaya “mendorong dan mensosialisasikan peran penting efektivitas partisipasi keluarga dalam pendidikan”. Di samping itu, KerLiP juga berupaya “menjalankan kampanye dan advokasi untuk mendorong pemenuhan dan perlindungan hak atas pendidikan dan hak-hak anak”. Dengan upaya seperti ini, KerLiP tidak hanya membawa keluarga untuk mengurusi persoalan mikro pendidikan, tetapi juga mengantarkan keluarga pada kesadaran tentang persoalan makro atau struktural dalam pendidikan. Gerak bolak-balik dari mikro ke makro dan makro ke mikro itu memaksa Yanti untuk memikirkan, menggunakan, dan memaknai kembali konsep-konsep penting dalam KerLiP, yaitu “anak merdeka” dan “keluarga peduli”, untuk diterapkan pada konteks sekolah rumah.
Menurut Yanti, dia memulai sekolah rumah setelah munculnya respon banyak orang terhadap seri tulisan dari seorang wartawan Kompas, Bambang Wisudo, di harian tersebut pada tanggal 11-13 dan 17 Oktober 2005 tentang pembaruan pendidikan di SD Hikmah Teladan yang dimotori oleh KerLiP. Setelah seri tulisan itu diturunkan di Kompas, ternyata banyak tanggapan positif dari masyarakat, terutama para orang tua dari kalangan kelas menengah kota yang ingin memindahkan anaknya ke sekolah tersebut. Yanti kemudian mengatur pertemuan dengan beberapa orang tua yang tertarik dengan konsep pendidikan yang ditawarkan oleh sekolah alternatif itu. Sebagian dari mereka rupanya berniat untuk menjalankan sekolah rumah dan mendorong Yanti untuk menerapkan konsep pendidikan di sekolah alternatif itu ke dalam sekolah rumah.
Di pihak lain, seri tulisan itu sendiri mendorong Yanti meneguhkan tekadnya untuk memberhentikan anaknya, M. Zakky Anwar yang saat itu berusia 11 tahun, dari sekolah dan kemudian memulai bersama anaknya melaksanakan sekolah rumah. Sebelumnya tekad tersebut terus-menerus dia tangguhkan karena dia sendiri ragu apakah nanti mampu dan sempat menemani anaknya belajar. Tetapi, desakan anak sulungnya, Nurul Fitry Azizah, yang saat itu sudah duduk di kelas X SMAN 38 untuk pindah ke sekolah rumah karena dia merasa makin tidak nyaman lagi belajar di sekolah dan kekhawatiran melihat kebiasaan Zakky belajar mandiri makin menurun dan jadi sangat tergantung kepada tugas dari guru setelah enam bulan sekolah di Citra Alam Ciganjur, mendorong Yanti untuk meminta Zakky mencoba model sekolah rumah selama satu semester.
Karena itu, meskipun pada akhirnya sekelompok orang tua yang tertarik membuat sekolah rumah itu ternyata tidak jadi menyekolah-rumahkan anak-anaknya karena berbagai alasan, Yanti tetap meneruskan langkahnya untuk menjalankan sekolah rumah bersama anaknya. Maka, sejak itu dimulailah perjalanan awal sekolah rumah mereka yang kemudian dijadikan salah satu model sekolah rumah KerLiP. Sejak itu dimulailah pula upaya keras mendorong keluarga-keluarga sekolah rumah untuk memasuki ruang publik dan menuntut hak pelayanan pendidikan yang bermutu bagi anak-anak mereka. Adalah hal yang menarik dan paradoks ketika Yanti menarik anak-anaknya dari sekolah untuk homeschooling, dia sekaligus pula membawa sekolah rumah ke dalam ruang publik dan kesadaran yang lebih luas tentang hak warga negara atas pendidikan.

Tidak ada komentar: