Minggu, 03 Mei 2009

Sekepicung, 22 April 2009

Agak kurang nyaman saya pergi untuk melakukan pendampingan pada hari ini. Tadi sore, Adik saya sms menyatakan, bahwa sudah dua hari ini, ia dan Bapak saya di rumah sakit, dan ia meminta saya pulang ke rumah. Namun, perasaan itu saya kesampingkan sebentar, setidaknya sampai pendampingan hari ini selesai.
Alhamdulillah, kegundahan saya karena Bapak dan Adik saya sakit pada waktu yang hamper bersamaan, sesaat mereda ketika saya dan Ova mulai menyapa warga belajar di Sekepicung, di sisi utara Bandung. Dan hari ini agak berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, kami berencana untuk mengunjungi rumah-rumah warga belajar satu-persatu. Karena rencana kunjungan itu kami sampaikan secara mendadak, para warga belajar sempat kaget dan ragu untuk menerima kunjungan kami. Akhirnya, dengan sedikit penjelasan mereka pun bersedia dikunjungi. Sayang, hari ini hanya hadir tiga orang warga belajar. Tapi hal ini tidak menghalangi untuk berkegiatan. Mulailah kami melakukan kunjungan.
Pertama-tama kami mengunjungi rumah Samsam. Agak lama ia tidak hadir dalam kegiatan kami. Ternyata, saat kami mengunjungi rumahnya, Samsam sedang mengecat rumahnya ditemani Dedi, salah seorang warga belajar juga. Karena Samsam sedang sibuk mengecat dan tidak memungkinkan kami memasuki rumahnya, kami pun beranjak ke rumah yang lain.
Dalam perjalanan, kami bertemu dengan Kang Ujang, salah seorang warga belajar yang sudah berumah tangga. Ia mempersilahkan kami mengunjungi rumahnya. Kami pun mendatangi rumahnya. Sebenarnya, rumah itu adalah milik mertua Kang Ujang. Karena istrinya sedang sakit, sehingga untuk sementara mereka tinggal bersama mertuanya. Rumahnya sendiri terletak agak jauh dari sini. Kang Ujang mengakui ia sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya, terutama pembuatan topi tali rapia. Topi ini ia buat dari anyaman tali rapia dengan dilapisi alah kain atau karton. Selain membuat topi, Kang Ujang pun cukup terampil membuat gitar dan kecapi. Bersama saudara-saudaranya, Kang Ujang mendirikan sebuah grup musik. Suatu kenyataan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sungguh brilian…
Selanjutnya, kami mengunjungi rumah Tresna di daerah Cirapuhan. Daerah ini agak jauh dari Sekepicung. Setelah menyeberangi jalan Dago Pakar, kami harus menuruni dan melewati tangga dan gang-gang kecil. Agak melelahkan, tapi daerah ini tampak sangat indah. Sampailah kami di rumah Tresna. Rumah ini mungkin sangat sederhana, tapi tidak sesederhana semangat dan cerita pengisinya. Hal inilah yang diceritakan oleh Ibu Tresna, seorang ibu yang setiap hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian dari orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Bersama suaminya yang belum lama ini menjadi tukang ojek, beliau membesarkan empat orang anaknya. Meski kehidupannya kurang berkecukupan, beliau bertekad untuk menyekolahkan semua anaknya setidaknya sampai tingkat SLTA. Kecuali anak pertama yang mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTP dan terus menikah, dua orang kakak Tresna sudah dan sedang mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dengan taraf ekonomi dan pendidikan rendah, ternyata Ibu Tresna masih mempunyai jiwa dan semangat yang besar.
Hari ini, kami mengakhiri kegiatan di rumah Tresna. Mungkin tidak banyak yang kami lakukan selain jalan-jalan dan berkunjung ke rumah warga belajar, tapi sangat banyak pelajaran yang dapat kami ambil. Di samping itu, kami pun mempunyai gambaran yang lebih luas dalam proses pendampingan ini selanjutnya. Wallahu a’lam…

Tidak ada komentar: