Kamis, 08 Januari 2009

KETIKA SEGALANYA TERJADI DI LUAR PERKIRAAN (2)

Izoel Bercerita

(Catatan Pendampingan Anak Rutan Kebonwaru, 11 Desember 2008)

Meski menyisakan banyak keganjilan dalam pendampingan seminggu yang
lalu, ditambah ketiadaan rapat rutin yang biasa kami lakukan setiap hari
Selasa, aku tetap melakukan pendampingan bersama teman-teman lain. Ku
pikir, ada banyak hal yang bisa aku pelajari dalam pendampingan walaupun
prosesnya terjadi sangat tidak sistematis. Aku dipusingkan dengan
diskusi SAP, indikator, pelaporan dan segala hal yang sebenarnya hanya
pelengkap dalam sebuah pendampingan atau fasilitasi. Aku memang orang
yang emoh dengan segala formalitas dan prosedur, tapi bukan berarti aku
tidak bisa memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

Dengan mata yang ku rasa sangat pedih sejak beberapa hari yang lalu, aku
menyapa Ira, Wilda, Rerra, Anita, Yulia dan Ilah yang lebih dulu sampai
di halaman Rutan Kebonwaru. Tadinya, aku berencana untuk tidak datang
karena mataku sakit. Tapi ketika Tya mengabarkan bahwa ia dan Tasya
tidak bisa datang ke Rutan, maka aku tergerak untuk pergi. Hari ini,
Mayene pun tidak bisa datang karena sakit dan Zamzam yang mengikuti
praktikum.

Sebenarnya, aku merasa agak kurang siap mendampingi, bukan hanya karena
sakit mata tapi karena SAP yang biasa aku siapkan belum ku susun. Namun,
sapaan, canda dan senyum teman-teman dapat meredakan sakit dan ketidak
siapanku. Makasih ya...

Dheka, Oka dan Togar melengkapi tim kami. Kami mulai berkerumun di depan
gerbang Rutan dan mulai melewati prosedur pemeriksaan satu-persatu.
Sayang, kamera Wilda yang biasa kami gunakan untuk dokumentasi kegiatan
tidak boleh dibawa ke dalam.

Wilda mulai membuka acara. Yulia dan Rerra memberi game `Topi Saya
Bundar`. Dan seluruh kegiatan pendampingan hari ini dimulai.... Aku dan
Ira menemani anak-anak Kriya mewarnai patung-patung tanah liat hasil
karya mereka seminggu yang lalu. Yulia dan Oka bereksperimen memainkan
musik dengan peralatan seperti botol, kaleng, galon, sendok dan pensil
bersama anak-anak Musik. Dheka dan Wilda merangkai sebuah cerita bersama
anak-anak Sastra. Ilah dan Rerra masih tetap menjadi sweeper. Anita
masih tetap sendirian di minilab dengan 2 orang anak baru.

Anak-anak Kriya cukup antusias mewarnai hasil karya tanah liat mereka,
sampai-sampai bercak-bercak cat tercecer di mana-mana. Huh katempuhan
euy, aku mesti sedikit bersih-bersih. Anak-anak Musik berisik dengan
eksperimen musik mereka. Anak-anak Sastra lebih hangat dengan rangkaian
cerita yang mereka susun bersama. Indah ya, meski ku sadar ada banyak
hal yang di luar perkiraan dan sulit dilaporkan secara sistematis.

Ilah menyampaikan keresahannya tentang nasib seorang anak bernama Topan
(bukan nama sebenarnya). Topan telah beberapa minggu mengeluh karena
mesti berada satu sel bersama tahanan-tahanan dewasa. Sebenarnya,
beberapa waktu yang lalu Topan pernah bercerita hal yang sama kepadaku.
Sayang, aku mesti berbagi konsentrasi dengan kegiatan dan anak-anak
lain. Maaf Pan....

Hari ini pun kami kebanjiran titipan pesan dari anak-anak kepada orang
tua dan saudara mereka. Untung, Anita pegang seluler dengan provider
yang harga smsnya dihitung perkarakter. Makasih Ta....

Masih banyak PR pendampingan yang harus segera dibenahi. Tapi, jangan
pernah mengalah. Anak-anak itu masih sangat butuh kita dampingi. Wallahu
a`lam.....

Tidak ada komentar: