Kamis, 08 Januari 2009

KETIKA SEGALANYA TERJADI DI LUAR PERKIRAAN (1)

Izoel Bercerita

(Catatan Pendampingan Anak Rutan Kebonwaru, 4 Desember 2008)

Pagi itu, aku bangun dengan cukup lega, karena segala hal yang
dibutuhkan untuk pendampingan hari itu kupikir telah telah disiapkan.
Aku pun lebih bersemangat untuk mandi pagi. Tapi aku tak cepat-cepat
berangkat, menunggu Oka bangun dan yulia datang menumpang mengeprint di
basecamp Kalyanamandira.

Jam 8, Yulia tiba dan mengeprint lembar presensi dan SAP. Oka baru saja
masuk kamar mandi dan mempersilahkan aku dan yulia berangkat lebih dulu.
Aku dan yulia berangkat dan mampir sebentar di rumah Ben untuk mengambil
uang transport bagi para pendamping.

Sesampainya di halaman Rutan Kebonwaru, kami bertemu Mayene, Rerra dan
Wilda. Aku permisi sebentar untuk mengambil tanah liat yang telah aku
beli sehari sebelumnya di Balai Keramik yang berada di belakang Rutan
Kebonwaru. Dibonceng Ilah yang berpapasan di jalan, aku mengambil tanah
liat untuk kegiatan anak di kelompok Kriya sebanyak 20 kg. Lega rasanya,
kala segala persiapan dirasa telah terlaksana. Aku semakin lega, ketika
Anita, Ira, Tya, Tasya, Firman, Oka dan Togar telah berkumpul bersama
kami. Sayang, hari itu Dheka tidak bisa datang karena sakit, dan Zamzam
yang mengikuti praktikum di kampusnya. Hampir jam 10, kami mulai
memasuki gerbang Rutan Kebonwaru dengan segala prosedur pengamanan dan
pemeriksaan.

Aku mulai menangkap gelagat kurang mengenakkan. Ternyata, kelegaanku
hanyalah sementara. Dalam pendampingan banyak hal terjadi di luar
perkiraan. Meski `rundown` kegiatan pendampingan telah kami susun, tetap
saja banyak hal yang harus kami benahi. Terlebih SAP yang selalu saja
menyisakan PR besar bagi kami. Ketidak jelasan indikator seringkali
menjadi sebab sulitnya kami mengukur hasil kerja pendampingan. Tata
administrasi dan inventarisir data anak selalu terseret-seret di antara
hiruk-pikuk pendampingan dan aktivitas kami yang lain. Selepas pelatihan
Appreciative Inquiry yang ku pikir masih agak prematur, belum banyak
mengubah tata kerja aku dan teman-teman pendamping yang lain.

Setelah Yulia, Anita dan Wilda membuka acara dengan sebuah game,
anak-anak mulai memasuki kelompoknya masing-masing. Aku, Ira, Tya dan
Tasya mendampingi kelompok Kriya yang hari itu berencana membuat patung
tanah liat. Oka dan Yulia mendampingi kelompok Musik. Wilda ditemani
Mayene di kelompok Sastra. Anita dan Rerra di minilab. Ilah, hari itu,
masih tetap menjadi sweeper.

Meski keriuhan terjadi di sepanjang kegiatan pendampingan hari itu, aku
merasakan banyak keganjilan di mana-mana. Mulai dari alur yang agak
amburadul sampai perilaku beberapa pendamping yang kurang menjalankan
perannya sebagai pendamping. Kata-kata tadi mungkin lebih halus daripada
aku berkata `konyol`. Aku sadar, aku pun belum bisa secara penuh
menjalankan peran fasilitator atau pendamping anak, tapi aku selalu
sadar aku sedang berada di mana.

Aku tak bisa bercerita banyak sekarang, di samping sepulang dari
pendampingan anak hari itu tidak ada evaluasi, aku merasa tak banyak
cerita yang bisa aku banggakan.

Tidak ada komentar: