Kamis, 08 Januari 2009

DI ANTARA TEKANAN DAN KEPENATAN

(Catatan pendampingan anak Rutan Kebon Waru, 18 Desember 2008)
Izoel bercerita...
Sebelum aku menuangkan banyak cerita dalam catatan ini, aku ingin meminta maaf kepada teman-teman pendamping yang merasa kurang nyaman dengan dua tulisanku sebelumnya. Aku tidak bermaksud memojokkan siapapun, tulisan itu hanya ingin menggambarkan pandangan dan perasaanku saja yang sangat subjektif. Boleh jadi hal itu muncul karena dalam beberapa minggu terakhir ini aku merasa suntuk dan lelah.
Perasaan-perasaan itulah yang menginspirasi aku untuk membuat catatan sekarang ini. Sebenarnya dalam catatanku sekarang, aku tidak sepenuhnya menceritakan perasaanku. Aku mencoba menceritakan beberapa hal yang aku temui dan aku rasakan dalam pendampingan anak pada 18 Desember 2008.
Pagi itu agak malas-malas untuk menyiapkan diri untuk berangkat ke Kebon Waru. Sekira jam setengah delapan aku masih nongkrong di depan televisi menonton film-film yang dibawa Ilah. Ilah pun masih asyik ’ngegame’ komputer, sementara Oka masih tidur dan sepertinya ia kurang sehat. Jam delapan aku baru beranjak ke kamar mandi.
Seusai mandi dan berpakaian, aku berangkat. Ilah masih ’ngegame’ dan Oka masih tidur.
Hari itu, aku merasa berat untuk melakukan pendampingan. Di samping agak kurang enak badan, aku belum menyiapkan beberapa hal, salah satunya adalah Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Aku belum membeli benang wol yang dipesan Ira untuk membuat Wayang Ranting. Sedangkan sekarung ranting yang telah kami siapkan, akan dibawa Ilah. Aku tidak sempat membeli benang wol, aku hanya membeli benang kasur. Inipun dikomplain Ira, karena ia butuh benang wol yang warna-warni. Sehingga Ira sendiri yang mesti membeli benang wol warna-warni.
Jarum jam menunjuk angka 9.30, baru aku, Ilah, Yulia dan Rerra yang sudah kumpul di halaman Rutan. Ira belum kembali dari membeli benang wol. Anita, Wilda, Mayene dan Dewi yang berencana datang, masih harus mengurusi sesuatu di kampusnya. Hampir jam sepuluh, Ira tiba dan yang lainnya belum datang. Kami pun memasuki gerbang Rutan.
Ira membuka acara. Dilanjutkan oleh Yulia dan Rerra yang memberi anak-anak sebuah simulasi. Barulah anak-anak berkumpul menurut kelompok minat masing-masing.
Aku dan Ira mendampingi kelompok Kriya yang berencana membuat Wayang Ranting. Ira menjelaskan bagaimana membuat Wayang Ranting. Kemudian anak-anak mulai membuat wayang ranting dalam beberapa kelompok kecil. Anak-anak cukup antusias dan mulailah mereka membuat Wayang dari ranting-ranting kering. Setelah itu mereka diminta untuk memberi nama dan karakter kepada wayang-wayang itu.
Anak-anak Musik seperti biasanya meramaikan dengan eksperimen dan eksperesi mereka. Selain ada yang menggunakan gitar dan tamtam, di antara mereka pun ada yang menggunakan botol dan kaleng. Dengan peralatan seadanya mereka menyanyikan beberapa lagu.
Adapun anak sastra yang ditinggalkan oleh pendamping utamanya, Dheka, yang mulai bekerja sebagai guru salah satu sekolah unggulan di Bogor, mulai menulis beberapa karangan dan puisi. Awalnya mereka tidak didampingi pendamping biasanya, Wilda, yang datang agak telat bersama Anita, Mayene dan Dewi. Mereka pun ditemani Ilah.
Di tengah kegiatan Tya, Tasya dan Nadia, adiknya Tasya, datang bergabung. Ternyata, Tya dan Tasya selalu saja membawa kejutan. Hari itu, keduanya membawa hadiah bagi anak-anak Kriya. Akhirnya, tiga orang yang dinilai paling bagus karyanya mendapat hadiah.
Selalu saja ada keriuhan dan kegaduhan dalam pendampingan. Tetapi, aku selalu menangkap ada banyak masalah yang tergambar dari raut-raut lesu dan tertekan anak-anak itu. Inilah yang Ilah ceritakan kepadaku. Ada anak-anak yang dipaksa terpisah dari teman-teman sebayanya dan harus sekamar dengan tahanan-tahanan dewasa yang acapkali membawa pengaruh buruk bagi anak. Ada anak yang tertekan karena dipisahkan dari teman-teman sebayanya atau karena mereka tidak bisa ’nurut’ kepada tahanan dewasa. Ada anak lain yang malah menambah pelajaran kriminalitasnya dari tahanan dewasa. Anak-anak dimasukkan ke sel dewasa, sebenarnya boleh jadi karena minimnya sel, terlebih sekarang Rutan Kebon Waru sedang direnovasi. Tapi, kalau aku perhatikan dari jumlah tahanan anak yang dalam beberapa waktu terakhir semakin sedikit, alasan ini agak kurang masuk akal. Anak-anak berada di sel dewasa sebagian karena mereka bermasalah dengan teman-temannya, bisa karena perkelahian ataupun pencurian barang-barang temannya. Ada juga anak yang meminta pindah ke sel dewasa karena alasan-alasan tertentu.
Ilah menceritakan beberapa anak yang telah lama tinggal di sel dewasa. Dan ia menangkap pengaruh-pengaruh buruk yang dikhawatirkan menular ke anak-anak lain. Sayang, dengan segala keterbatasan, kami sulit mengantisipasi secara jauh pengaruh-pengaruh ini. Selain itu, fenomena inipun sangat sulit diidentifikasi, karena sangat sedikit anak yang mau bercerita kenyataan tersebut.
Banyak hal yang belum bisa kami tangani dalam pendampingan ini, tetapi tidak menyurutkan usaha kami. Keberadaan kelompok-kelompok minat diharapkan bisa mengarahkan anak pada keterampilan-keterampilan sesuai minat dan bakat mereka. Setidaknya kegiatan-kegiatan ini sedikit bisa mengalihkan dari tekanan dan kepenatan yang anak-anak rasakan selama berada dalam tahanan. Kelompok-kelompok ini didukung oleh teman-teman Minilab yang terus berusaha mengikuti perkembangan anak meskipun baru pada tataran yang sangat global.
Aku sering tergoda untuk menikmati keceriaan anak-anak terlepas apakah keceriaan itu muncul secara spontan atau terpaksa. Namun, aku akan sangat tersentuh ketika anak-anak mengajakku untuk bercerita. Sayang, sangat sedikit anak yang mau bercerita. Barangkali sebagaian anak merasa kehidupan mereka tak layak untuk diceritakan. Wallahu a’lam..

Tidak ada komentar: