Senin, 22 Desember 2008

Ponorogo, Lurus Aja Mas!



Mulanya kami merencanakan Sabtu, 12 Desember 2008 untuk mengunjungi Ponorogo. Tapi, setelah mengetahui bahwa jadwal pembelajarannya bukan hari Sabtu tapi hari Selasa, kami mengubah jadwal kunjungan menjadi Selasa, 16 Desember 2008. Kami berangkat Selasa pagi Pk. 06.00 dari Surabaya naik bis. Paling tidak ada dua tujuan ke Pusar-Ponorogo yang ingin kami pastikan, pertama, adanya kesamaan paradigma (dan persepsi) mengenai program rintisan yang akan dilaksanakan. Antara lain visi KOBAMA, penyelenggaraan sistem pembelajaran, serta dampak yang ingin ditimbulkan. Kedua, adanya warga belajar yang mengikuti program rintisan tersebut.
Akhirnya kami tiba di terminal Ponorogo sekira Pk. 12.00. Tidak lama kemudian rekan dari Pusar datang menjemput. Mas Irfan dan satu temannya lagi yang menyetir. Kami langsung menuju hotel La Tiban, lalu sebelum ke kantor Pusar, kami makan sate ayam. Sate ayamnya khas sekali, belum pernah saya temui di tempat lain (Depok, Jakarta, Bandung, Pacitan, Jogja, Salatiga, Surabaya). Bumbunya ngejreng, coklat kekuning-kuningan (biasanya kan coklat kehitam-hitaman). Satenya juga bentuknya agak langsing, dan empuk digigitnya. Waduh, jadi ngomongin makanan nihh.
Setelah itu kami menuju kantor Pusar. Sesampainya disana kami mendiskusikan arahan program rintisan yang akan dilaksanakan. Tidak jauh berbeda dengan yang telah didiskusikan dengan komunitas Pacitan bahwa program yang akan dilaksanakan merupakan program pertanian berkelanjutan dengan pembelajaran kontekstual. Mba Lovely menyatakan (lagi) agar tidak tergelincir untuk terlalu memperhatikan penyelesaian Paket Kesetaraan karena keunikan pembelajaran yang kita usulkan adalah kontekstual, di mana anak petani berusaha diajak untuk mau menjadikan dirinya petani yang baik dan bermartabat lewat pembelajaran pertanian berkelanjutan. Sangat disayangkan apabila kita tergoda untuk beralih ke sana. Kalau itu masalahnya, maka tugas berat kita yang di Jakarta adalah secepatnya mendorong rekan-rekan di PNFI untuk memberikan legalitas dan kekuatan bagi sertifikat kecakapan hidup. Apabila sertifikat ini bisa diakui dan diterima oleh dunia kerja maka keinginan warga belajar untuk ikut Paket B akan bisa dikurangi. Sebenarnya ini sudah sejalan dengan pesan Direktur PNFI yang baru, beliau menekankan agar tidak mendorong warga belajar lulus Paket tapi mendorong mereka untuk mendalami kecakapan hidup.
Rekan-rekan Pusar menyampaikan bahwa dulu sebenarnya arahan program Pusar memang pertanian berkelanjutan, tapi karena masyarakat meminta ujian kesetaraan Pusar berusaha memenuhinya. Menurut Mas Zainul tadinya untuk program rintisan ini tutor diminta untuk mempersiapkan warga belajar mengikuti ujian paket kesetaraan.
Mbak Lovely menanggapi agak sulit untuk mempersiapkan warga belajar mengikuti ujian paket, karena programnya hanya 6 bulan. Tapi bagi warga belajar yang ingin mengikuti ujian paket dapat kita berikan kumpulan soal ujian paket.
Kesepakatan telah dicapai, kami menuju tempat warga belajar. Lokasinya cukup jauh dijangkau. Kami menggunakan motor karena jalannya sedang diaspal mobil tidak dapat melaluinya.
Pembelajaran dilakukan di samping masjid di ruangan yang keliatannya baru dibangun. Temboknya masih belum dicat. Ada sekitar 40 warga belajar beragam usia anak dan dewasa. Bahkan ada yang usianya mencapai tigapuluh. Setelah kami berkenalan, pembelajaran dimulai difasilitasi oleh Mas Irfan. Pembelajaran di Dusun tersebut telah tiga kali dilakukan dan agenda hari ini adalah motivasi belajar dan pembagian jadwal piket. Dari tiga kali aktivitas pembelajaran, warga belajar belum dibagi-bagi menjadi kelompok usia.
Setelah puas melihat-lihat, mengobrol, dsb kami memutuskan untuk balik ke kantor Pusar, lagipula aktivitas pembelajaran juga telah berakhir.
Walaupun hotel sudah dipesan, bahkan barang-barang pun sudah dititipkan di kamar hotel, kami (Mbak Lovely dan sy) sepakat pulang ke Surabaya malam itu juga Pk. 19.00. Kami pikir tujuan kami kesana sudah tercapai kami telah melihat aktivitas warga belajar dan pembelajarannya kami pun telah mencapai kesepakatan dengan Pusar. Alhamdulillah
OvaKerLiP

Tidak ada komentar: