Senin, 22 Desember 2008

Diskusi Education Forum 22, Desember 2008

Diskusi 22 Desember 2008
Tempat : Wisma Kodel lt. 11 Jl. HR. Rasuna Said Kav B4 Jakarta Selatan
Waktu : Pukul 13.30 – 17.30
Moderator : Yanti Sriyulianti
Notulen : Zaitun
Hadir : 82 orang dari FGII, BEM UI, BEM UNJ, KerLiP, LBH Pendidikan, Education Forum, Orang Tua Siswa, alumni PB PII, IPM, IER Universitas Paramadina, SGJ, DPD FGII Jabar, CSE UIN, KPAI, Depdiknas, Poros Pendidikan, Kompas, kompas.com, Media Indonesia, SINDO, Tempo, Jurnal Nasional, Antara,Suara Pembaruan, Jawa Pos, Warta Kota, Global, Opini, dst.
Narasumber : Utomo Dananjaya, Prof.Dr. H. Soedijarto, Prof. Dr. HAR. Tilaar, Elin Driana, Ph.D, Sulaeman BEM UI, Tyan BEM UI, Suparman (Ketua Umum DPP FGII), Timboel OPSI.

Sesi 1 : Kajian Hasil Penelitian Buku teks SD

Utomo Dananjaya
Penelitian ini berawal saat pengalaman pribadi saya yang merasa khawatir dengan isi materi buku dari cucu saya.

Slide :
Anak-anak tidak paham dengan apa yang dijadikan contoh uji coba dalam penelitian.

Dalam buku kelas V, (slide 1) ada istilah-istilah yang tidak tepat digunakan untuk anak kelas V sepeti ereksi, putting menonjol, hati-hati bergaul agar tidak hamil.

Hal lainnya adalah di kelas 1, semua ukuran huruf 15 point, tanpa tanda baca. Anak kelas satu disuguhi tulisan sampai dengan 2 ½ halaman. Dan ini terlalu tinggi/terlalu luas. Buku kelas 1 ditulis dengan pemotongan kalimat yang tidak benar. Seperti contoh pada slide ke 5, kesulitannya kemudian adalah bahwa tidak mendapat arti yang seutuhnya dari teks yang dibaca.

Dalam buku IPS kelas satu ada istilah ‘keluarga berantakan’, kemudian terdapat kata kasih saying yang diilustrasikan ‘mendahulukan orang yang lebih tua” dengan gambar memberi minum kepada orang yang lebih tua, dsb.

Jika demikian, apakah buku-buku ini punya andil dalam mencerdaskan pendidikan. Kutipan-kutipan tadi adalah kekeliruan-kekeliruan. Seperti halnya istilah ‘sex’ yang dimaksud dengan jenis kelamin atau hubungan kelamin. Dari sini jelas diketahui bahwa pasti pengarang tidak menggunakan buku rujukan, misalnya saja kamus besar.

Selain itu di Indonesia juga tidak ada buku tentang perkembangan anak, sehingga buku yang ada tidak sesuai dengan perkembangan anak Indonesia. Buku akhlak mulia, dibuat oleh seorang professor, dan menurut saya ini sederajat dengan buku PMP pada masa dulu. Faktanya buku PMP lenyap sejak soeharto turun. Tetapi buku akhlak mulia ini diterbitkan tahun …,

Penelitian in dilakukan berdasarkan teori Green and Patty, DJ Drost. Yang dirangkum ke dalam 3 pokok utama, yaitu analisa isi, bahasa, dan metode.

Sejak tahun 1984 buku disusun dengan GBPP 1984, namun saat ini hal tersebut tidak lagi dicantumkan, namun ditulis berdasarkan standar isi dan standar kopentensi. Biasanya dalam awal buku hal tersebut ditulis dan disalin, sehingga kesimulannya adalah semua buku ini didasarkan pada keputusan pemerintah. Sehingga buku ini didasarkan berdasarkan kemampuan intelektulitasnya Penulis, pun juga pada bahasa sesuai dengan kemampuan berbahasa si Penulis.

Buku teks itu akhirnya mendorong guru untuk menerangkan materi, contohnya untuk kelas satu buku agama islam, terdapat surat Al-fatiha tulisan arab, latin dan tranliterasi. Saat di tes pada anak, anak tidak mampu membaca dan akhirnya ditinggalkan.

Untuk kelas V hasil penelitian bisa diliat dalam bagan yang sudah dibuat. (slide)

Dalam penjaskes tedapat ilustrasi gambar yang seharusnya dipraktekskan. Saat ditanya apakah buku tersebut digunakan atau tidak, ternyata tidak pernah digunakan. Sementara pengalaman pribadi saya, pada cucu saya buku tersebut harus dibeli.

Kesimpulan : semua usaha gagal untuk mencerdaskan anak didik.

Analisis Isi (slide)

Tentang anak rekaan orang tua, misalnya ada iliustarsi tenang anak yang menemukan dompet, jika menurut si pengarang anak akan mengembalaikan, tapi jika melihat fakatanya akankah anak bersikap demikian. Yang paling mungkin adalah anak muncul rasa kasiannya, sehingga prediksi sag pengarang merupakan rekaan dirinya untuk anak-anak.

Buku-buku ini juga tidak berkeadilan gender, prinsip penyelenggaraan pendidikan pasal 4 ayat 1 dikatakan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, nilai cultural, …

Potongan kalimat juga meupakan persoalan dalam penelitian ini, terutama pada buku-buku kelas 1. Karena pada kelas 1 tidak dipergunakan tanda baca.

Hla lain adalah metode, bahan yang banyak dan dengan persoalan anak yang tidak mampu membaca, pasti guru akan menerangkan akhirnya, inilah yang disebut dengan ceramah. Sehingga anak menjadi pasif dan hanya dengar, duduk, hapal.

Kaitan dengan Permendiknas no.22& 23 (standar isi standar kompetisi)

Standarisasi telah membuktikan subversifnya.

Jika in dikembangkan, kami ingin mengembangkan penelitian ini lebih luas. Saya pernah bertanya kepada Pak Gino Vanolie, guru di Way Kanan Lampung, buku-buku yang digunakan adalah terbitan Jakarta. Saya khawatir bahwa penyelenggaraan belajar tidak sesuai dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan. Ini salah satu bentuk kepedulian, informasi-informasi seperti ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap pendidikan.

Tamatan SMA di Papua tidak bisa baca pernah saya dengar dari seorang Ibu peneliti dari Unicef.

Harapan saya adalah :
1. Adanya penelitian lanjutan yang lebih mendalam
2. Masukan pada pembuat kebijakan
Prof. Dr. Soedijarto
Pertama saya menyampaikan kekaguman saya pada IER yang sudah menyoroti maslaah ini. Saya ingin berangkat mutu pendidikan tergantung pada proses-dalam artian pembelajaran yang di para peserta didik. UU no 20 filosofinya sangat maju, pendidikan usaha sadar …., yang memungkinkan peserta menjadi aktiv mengembangkan potensi dirinya. Dari situ saja dilihat dari penelitian ini, itu tidak mungkin dilakukan.

Semua buku yang disorot oleh tim ini jelas sekali seperti untuk hapalanhapalan. Nampaknya kit atidak mengerti mencerdasakan kehiupan bangsa. Transform Indonesian society, dari tradisional ke modern, … sekolah kita pusat pembudayaan. Semua universitas…

Dimensi yang disorot dalam peneltian ini, tujuan pendd. ‘At the end of’, yaitu untuk apa? 'can survive’…dan hal in iharus dijadikan acuan untuk setiap jenjang pendidikan.

Apa hubungannya materi kelas sekian untuk jenjang pendidikan yang selanjutnya. Misalnya lagi,
Tetang agama, kenapa anak kelas 1 disuguhkan surat al-fatihah, untuk apa?

Pendidikan agama integrasi, experience, penghayatan pribadai, sedangkan yang didasarkan buku yang diteliti seperti mengajar pada buku bahasa Indonesia. Berbagai hal perlu disoroti, dan usul saya yang dinilai adalah semua buku yang katanya sudah disahkan oleh mentri. Kesukarannya, …. Menurut whitehead…

Dalam pendidikan ada istilah learning two, bahasa , bilangan.
Di jerman sampai kelas 4 baru ada 6 pelajaran. Dan untuk pelajaran agaman, bagi orang tua yang tidak setuju tidak apa-apa tidak diberikan.

Bagaimana megeluarkan angka tanpa anak merasa kesulitan, bisa dilihat dari play house. Walaupun dalam sttistik penelitian ini ada anak yang bisa mengerti 20%. Tapi anak-anak seperti itu bukanlah ukuran. Pasal 12 ayat 21B ‘..setiap anak berhak memilih apa yang disukainya. Kalau di California guru hanya mengurus kebutuhan, anak2 yang punya IQ tinggi hanya difasilitatori.

Mengenai pembudayaan, yang penitng kan hidden curriculum. Anak SMA belajar cahaya selama 1 semester di SMA. Memahami 1 konsep…, logic belajarnya sama. Jadi tidak usah semua diajarkan.
BUku yang dikaji ini tidak ada satupun yag demikian, saya sangat appreciate, mengenai materi, bahasa. Dan mestinya mentri tertarik, dan semua Penulis buku harusnya membaca penelitian ini.

Intinya, saya sangat menghargai, saat ini saya belum bisa mnulis (makalah). UNJ dan sebagainya patut malu, karena mengapa hal-hal yang esensial ini, yang penting … perubahan dalam class room…

Moderator :

Prof .Tilaar
Penelitian ini sangat luar biasa, karena ini pertama di Indonesia, saya kira penelitian ini mempunyai nilai yang sangat besar. Dan perlu dilanjutkan untuk masukan kepada mentri yang akan datang. Kalau melihat hasil penelitian, maka buku ini akan sangat laku, karena buku ini memenuhi standar yang ditentukan.

Dengan jelas dikatakan, Sekolah bertaraf internasional dengan bangga dijelskan oleh mentri di Indonesia menggunakan standar luar …
‘whole class university’ dan ini lah buku-buku yang demikian. Ini bukan mencerdaskan tapi memperbodoh.

Kesimpulan saya supaya penelitian in idilanjutkan, dan ini harus dipeublikasinkan kepada masyarakat kita bahwa anak2 kita telah belajar pembodohan.

KTSP adalah standar untuk buku, dan buku-buku ini memang cocok untuk hal itu. Memang banyak sekali hal-hal yang timpang dalam pendidikan, dan contoh kasus lulusan SMA di papua adalah contoh skandal dalam ujian nasional.

Neoliberalisme di pendidikan inidoneisia…

Pengamat, Ellin Driana, Ph.D:

Saya punya anak yang masih sekolah dan saya banyak membantu anak-anak saya. Dari penelitin ini kesan saya memang seperti apa yang saya rasakan saat membaca buku-buku anak-anak. Seharusnya jelas apa yang diharapkan dari seorang lulusan SD, SMP dan SMA sehingga menjadi acuan untuk materinya.

Pengalaman saya pada anak saya, saat ia mendapat PR sosiologi, ada istilah-istilah teori-teori penyimpangan social yang harus dijawab dan saya puntidak dapat menjawabnya. Mungkin terlalau ambisius kurikulumnya, dan memang apa sudah saatnya materi itu diberikan. Bahkan sampai pada pengenalan tokoh-tokoh. SMP kelas VII mengapa tidak berangkat dari fenomena-fenomena social yang lebih dekat denagan kehidupan.

Untuk materi untuk kelas 1 SD. Memang anak2 sekarang cepat sekali untuk mampu membaca, akhirnya aka nada tes untuk masuk SD yaitu tes membaca, dan sehingga mereka dipacu untuk membaca pada usia dini. Tapi pada buku IPS dan buku-buku bahasa, itu berbeda pemenggalannya. Padahal kemampuan yang diminta dengan materi yang disuguhkan tidak sinkron. Bahkan ada peta konsep pada buku kelas I.

Ada lagi buku yang saya amati, sudah ada pembelajaran tentang kategorisasi vocal dan konsonan, yang jadi pertanyan adalah apakah benar anak usia kelas 1 sudah harus belajar hal itu.

Tentang tanda baca, pada kelas 1 apakah benar pada kelas 1 memang tidak boleh ada tanda baca. Ini menyebabkan anak tidak tahu kapan kalimat akan berakhir. Anak dituntut untuk memahami bagian mana yang.

Misalnya memang ada tanda baca, mungkin ini justru akan terbiasa berlatih berintonasi. Dlam buku mizan ‘saya suka buku’ dibuku ini ada tanda baca dan itu menyatakan bagaimana harus membacanya. Yang berbeda dengan buku teks, ada satu kalimat yang dipenggal dalam 6 baris dan tidak menggunakan tanda baca.

Contoh lain adalah buku IPS 1 halaman, dan hal lain misalnya dibuku ini juga tentang nama Cristiana yang harusnya di baca ‘Kristiana’ apakah anak-anak mampu untuk membaca hal itu.

Bpk. Basri - Poros:
Kata kuncinya, terjadinya penyimpangan kurikulum pendidikan. Forest Pendidikan, saya berpikir makronya saja. Sehingga saya sangat berterima kasih terhadap peelitian ini. Proses pendidikan ini kan memang untuk wacana 15 tahun mendatang.
Yang jadi pranyaan, pemerintah itu kerjaannya apa, karena hal ini merupakan hal essensi dalam pendidikan itu sendiri.
Diskusi hari ini menyadarkan kita bahwa soal pendidikan sepertinya kita hebat padahal hal-hal ini penitng.
Dalam proses Negara yang sudah terbelakang ini, dan pendidikan yang mahal, saya tidak bisa membayangkan bagaimana Indonesia kedepan.

Ibu.Shinta. Bandung Guru swasta Kelas 1
Pengalaman saya dalam menggunakan buku-buku yang. Mulai tahun 1996 kami sudah mulai membuat program pengajaran dengan menggunakan silabus yang dibuat sendiri.Kami akhirnya juga membuat Lks mandiri disesuaikan dengan bahan-bahan, dan lks ini pun beragam, tetapi ada hambatan juga. Orang tua selalu menginginkan adanya buku. Kami mencoba adanya LKS tematik ,dimana pelajaran yang tumpang tindih, dan itu dijadikan satu. Dalam satu buku itu ada berbagai ilmu, tetapi orang tua tetap saja meminda diadkannya buku teks.
Itulah pengalaman kami.
5 tahun terakhir ini saya memegang sekolah, dan baru tahun ini kami mendapat BOS buku, namun kami tidak memiliki kebebasan untuk memilih buku. Kami tidak diberikan otonomi untuk menentukan buku apa yang akan digunakan. Dan maslah buku juga terkait dengan Ulangan, tapi yang menjadi masalah ulanan yang diberikan tidak sesuai dengan materi yang dberikan, karena materi yang ada merupakan materi mandiri.

Dengan mengacu pada KTSP saya memperjuangkan untuk tetap membuat materi sendiri, kami bisa menyelenggarakan ulangan satu kali saja tapi tetap membayar ulangan dari pemerintah meskipun tidak lagi dilakukan.

Ibu Paijah. (Guru SD Negeri di Jakarta Barat)
Kami guru sd 18 tahun, disini dalam penggunaan buku, kami harus dituntut harus mampu memotivasi dan aktiv bagaimana seoarang anak menguasai pelajaran. Misalnya pada kelas 1, anak dituntut untuk bisa baca, padahal anak kelas 1 tidak ‘wajib’ untuk bisa baca, kemampuan itu diukur melalui usia. Guru, kami, dituntut untuk mampu menghadapi anak didik yang sudah bisa baca ataupun belum bisa.
Tentang dana BOS, dengan adanya dana ini justru memotivasi orang tua menjadi sangat sulit karena adanya istilah gratis.

Unknown:
Dengan penerbitan buku seperti tadi, anak dituntut untuk dewasa, bagaimana menanggapi hal ini KPAI?

Ibu Susi, KPAI
Mau dibawa kemana anak/pendidikan Indonesia. UUD 45 pasal 27 b bahwa setiap anak berhak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan minatnya… . Untuk kelas 1, kesulitan yang sama terjadi apada anak saya yang saat ini

Contohnya, ada pertanyaan ‘guru berdiri di depan …’ anak saya menjawab ‘murid’ dan itu disalahkan, karena kunci jawabannya ‘kelas’ dan anak saya menangis karena disalahkan. Jadi jika kita Tanya ke sekolah, guru akan mengembalikan ke kunci jawaban. Logika anak akhirnya disamakan dengan logika orang dewasa. Lalu soal munculnya persoaln ini, tentang hak anak untuk perkembangannya optimal pasti tidak mungkin di dapat. Tentang kemampuan membaca, anak TK belajar membaca bukan dengan kesenangan tapi dengan keadaan tidak nyaman dan tidak bahagia, kalaupun guru TK berhasil hasilnya anak yang bisa baca dan tulis adalah paksaan dan akhirnya tidak menyukai baca dan tulis. Mengapa tidak dengan pembiasaan, anak 2 tahun bisa membaca ATM, mc Donald, bukan karena bisa membaca tapi karena pembiasaan.

Lain lagi dengan persoalan anak yang mencuri membaca, anak .. kesalahan lain adalah orang tua mewajibkan anak untuk membaca buku teks, jadi jika dia mau membaca bacaan bukan buku teks maka yang dilakukan adalah akal-akalan.

Artinya keberagaman bacaan, bukann hanya dari buku teks, tetapi anak juga bisa memilih buku apa yang diinginkannya.

Anak sekarang justru menjauh dari buku, dengan apa yang disampaikan oleh ibu elin justru dengan diberikan tanda baca, anak justru ingin tahu. Teknik penggunaan tanda baca ini justru mampu membuat anak mengeksplore apa yang ada di buku tersebut.

Ibu Rahma (orang tua)
Saya hanya punya 1 anak kelas 2 sd, karena persoalan waktu, saya tidak mamapu mengurus semua keperluan anak saya. Selama ia TK ia happy sekali menjalaninya, tapi ketika dia masuk SD, saya hunting SD 2 minggu untuk menemukan sekolah yang bagus, murah, terbak dll. Akhirnya saya memasukkan di ake SDiT, dengan pola belajar samapi jam 2. Pikir saya sederhana saja, bagus juga ada sekolah yang sampai siang, sehingga saya bisa tetap kerja. Tapi yang saya temukan adalah, anak saya unhappy, beberapa kali anak saya tidak sekolah dan saya dipanggil sekolah, anak saya akhirnya ranking 15 dari 25 siswa.

Ada hal yang menarik yang pernah saya temukan, saat dia pernah menangis karena merasa disalahkan, tentang gambar anak perempuan yang duduk di peron KRL dan dia memberi keternagan ‘saya mau ke bandung bersama ayah’. Dan ketika saya

Pertanyaan Alat/Sarana Untuk mandi, anak saya menjawab 1. haduk 2. Gayung 3 sabun dan ini disalahkan, menurut gurunya jawaban yang benar adalah ‘air’. Dan karena hal in isaya akhirnya menemui gurunya dan membahas tentang hal ini, setelah itu nilai bhs.indonesia anak saya diraport 6.

Saya menemukan buku bahasa inggris yang halamannya copot semua, karena lemnya tidak baik. Saat ditanya, saya disuruh pergi ke tempat f.copy untuk membenarkan sendiri. Saya diminta untuk melaporkan langsung ke kepala sekolah.

Yang ajaib dari sekolah anak saya adalah, setiap hari kamis siswa harus membawa iuran untuk mengisi air mineral yang ada di kelas. Selama kelas dua ini anak saya tidak pernah mendapat dana bos, dan saya mendapat bocoran untuk tidak bayaran selama 3 bulan.

Bapak Munasik, SGJ
Kurikulum Tk sebenarnya tidak ada kewajiban untuk anak bisa membaca, yang ada hanyalah pengenalan huruf. Namun karena pengalaman, adanya tes membaca hal ini justru diwajibkan untuk itu. Dan orang tua justru biasanya menuntut anaknya mampu membaca ketika lulus TK.

Metode SAS, hamper semua buku yang baru metode ini tidak ada. Pada tim kenapa buku yang diteliti hanya buku kelas I dan V. Mengapa tidak juga pada buku kelas VI, banyak materi yang justru membuat saya (guru) kewalahan. Saya, dari tahun 1994 sudah beberapa kali mengusulakan materi kelas VI ips dipersingkat. Dan itu yang saya usulkan untuk kelas-kelas lain diteliti pula.


Elin Driana, Ph.D-Education Forum
Ada miskomunikasi yang saya lihat, misalnya tadi di SD ada kewajiban untuk membaca karena tuntutan dr TK, sedangkan TK sendiri dikatakan tidak ada kewajiban untu mampu membaca.

Prof Dr. Soedijarto
Jerman : Anak kelas 6 diminta menanam dua biji dan diamati, dan misalnya contoh pada penugasan anak diminta menulis karangan siapa yang harus menentukan pergi piknik.

Teks itu memang harus berakhir dengan pertanyaan, sehingga menjadikan anak mencari tahu lebih dalam tentang materi.

Masalah contoh anak yang tidak mau sekolah, dan dibiarkan itu kesalahan. Di jerman masalah on time sangat dipentingkan, tidak boleh telat dalam masuk sekolah.
Ini lah pembudayaan yang seharusnya dilakukan.


Prof. Tilaar
Penulis tidak mempunyai modal untuk menulis buku yang baik, untuk itu 1. perlu ada penelitian tentang anak Indonesia yang memang belum pernah ada. 2. Lebih baik buat program bagaimana membuat Penulis untuk mampu menulis buku yang baik.
3. Tk harusnya bukan sekolah tapi taman bermain, tapi skarang justru taman kanak-kanak malah ada wisuda. Dan ini fatal. Masuk SD dengan tes itu hanya ada di kita dan tidak ada di tempat lain.


Utomo Dananjaya :
Pendidikan formal yang masuk ke Indonesia tahun 1848, dan sudah hamper 200 tahun. Di belanda sudah banyak sekali perubahan. Dan kita masih saja berkutit pada system yang sudah lama. Saya berpikir, dari pada repot-repot membelikan buku teks buruk, lebih baik dilarangbuku ini diterbitkan, dan lebih baik buku yang digunakan adalah buku yang beada di perpustakaan umum.

Ada seorang Doktor yang saat Ini belajar untuk me
Buatlah sekolah yang membebaskan, dan pikirann saya yang paling ekstrem adalah tidak ada buku pelajaran yang ada buku bacaan.

Masalah pemilihan kelas I dan V, awalnya yang dipilih kelas V karena saya rasa pertengahan dan dari situ ada rasa keingintahuan bagaimana dengan buku kelas 1 nya yang merupakan kelas/tinggkatan pertama dalam sekolah dasar . Ini bukan persoalan guru yang bodoh, tapi system pendidikan yang bodoh.

1 komentar:

agoest mengatakan...

emang sistem pendidikan kita yg ga beres..tp harus ada yg merobahnya donk..kl kita cmn org kecil paling cuman bisa menggerutu doank..trus paling banter ngsih comment2 aja..ayo deh saya dukung kearah pendidikan yg lebih maju untk kita..masak kita selama ini dibodohin terus tuh ama negara....ga perlu disebutin ya..buanyak soalnya yg membodohin kita..malu ga sih..........