Rabu, 17 Desember 2008

Pacitan O Pacitan



Kami tiba dalam kondisi mabuk di Pacitan. Mabuk karena jalan yang berkelok-kelok meski berusaha kuat melihat dan menikmati keindahan pemandangan. Walhasil saat di sana harus beradaptasi dulu dengan kondisi di luaran... hehehehe.
Sampai di Pacitan kami langsung diarahkan ke penginapan dan disambut anak-anak tampan Pacitan, Indar dan Mas Hardi juga Nugraha yang siap mengantar kami untuk makan siang... Nasi Tiwul!!! Sedap!! Dimakan di tepi pantai ditemani semilir angin. Mantap!

Hari pertama kami habiskan untuk mendiskusikan langkah dan kesepakatan kerja sama. Mas Hardi agak bingun dengan pemilihan lokasi. KerLiP menyarankan untuk melanjutkan program yang sudah pernah dilakukan di Kalikuning dan Sidomulyo karena kedua desa itu sudah pernah dilakukan sosialisasi dan sudah lama menantikan realisasi dari janji kita. Mas Hardy dan Indar setuju dan juga ditanyakan tentang perlu tidaknya menggabungkan diri dengan PKBM untuk kepentingan ujian Paket.
Aneh juga mengingat mereka sudah mendapatkan rekomendasi sebagai pelaksana KOBAMA. Rupanya Diknas di Pacitan sendiri tidak terlalu paham dengan posisi Kobama. Setelah saya terangkan sebentar tentang aturab tersebut, mereka akhirnya paham. Tapi tentu saya menyatakan agar KOPA tidak tergelincir untuk terlalu memperhatikan penyelesaian Paket B karena keunikan pembelajaran yang kita usulkan adalah kontekstual, di mana anak petani berusaha diajak untuk mau menjadikan dirinya petani yang baik dan bermartabat lewat pembelajaran pertanian berkelanjutan. Sangat disayangkan apabila kita tergoda untuk beralih ke sana. Teman-teman di KOPA menyepakati tersebut meski memang masyarakat setempat masih sangat mendewakan ijazah. Kalau itu masalahnya, maka tugas berat kita yang di Jakarta adalah secepatnya mendorong rekan-rekan di PNFI untuk memberikan legalitas dan kekuatan bagi sertifikat kecakapan hidup. Apabila sertifikat ini bisa diakui dan diterima oleh dunia kerja maka keinginan warga belajar untuk ikut Paket B akan bisa dikurangi. Sebenarnya ini sudah sejalan dengan pesan Direktur PNFI yang baru, beliau menekankan agar tidak mendorong warga belajar lulus Paket tapi mendorong mereka untuk mendalami kecakapan hidup.

Hari kedua.
Kami berangkat pagi-pagi ke Kali kuning dan Sidomulyo. Perhentian pertama di Kali Kuning. Di sana kami disambut hangat olah M. Wiji, penggerak kegiatan di desa tersebut. Kesan yang timbul, luar biasa. M Wiji mengabdikan hidupnya demi kemajuan desa tersebut. Perlahan beliau menarik kepercayaan masyarakat dan anak-anak. Kini kelompok beliau bahkan sudah menjadi perhatian Dinas Sosial Jakarta dan menunggu kepastian untuk berangkat ke Jakarta guna mendapatkan predikat pekerja sosial terbaik. Semoga bisa tembus ya Mbak...

Di sana kami bertemu dengan anak-anak tampan Kali Kuning. Melihat mereka terasa senyum sendiri. Modernisasi sangat terasa di kalangan mereka. Baik dari dandanan maupun usaha mereka untuk memakai kata Guwe dan Lue setelah tahu kami datang dari Jakarta. HP juga tidak ketinggalan. Agung bahkan sibuk terus ber-sms ria, entah dengan siapa dan membicarakan apa (aduh...suasana Pacitan dengan latar belakang lagu ST12-nya sudah mulai merasuk, bahasa jadi terbawa juga..). Perbincangan dimulai dengan cita-cita, hampir semua anak menjawab ingin jadi orang sukses dan ingin membanggakan orangtua. Cita-cita yang luar biasa. Waktu ditanya kegiatan harian, mereka hanya bisa menjabarkan dua kegiatan, membantu orangtua di sawah dan main dengan teman.
Kembali mengingatkan diskusi kita tentang betapa anak-anak ini tidak menyadari arti pentingnya berada di dunia luar biasa ini.
Perbincangan dilanjutkan MAs Hardy yang secara singkat memaparkan rencana pertemuan mereka. Disepakati anak-anak akan bertemu sekali seminggu (sabtu) dan akan memakai sawah Agus untuk laboratoriumnya. Luar biasa, dari awal masyarakat sudah ikut ambil bagian dalam usaha mendidik diri sendiri ini. Jadi sangat amat yakin...

Setelah makan siang lezat dan pedas kami berangkat ke Sidomulyo..
Ceritanya dilanjutkan besok ya...
Lovely KerLiP

Tidak ada komentar: