Kamis, 18 Desember 2008

Belok kiri, Pacitan! Lanjut Ke Sidomulyo


Perjalanan ke Kalikuning dan Sidomulyo dilakukan hari Jum'at, 12 Desember 2008. Sedang dibuat jalur baru, Jalur Lingkar Selatan, jadi jalannya ancur banget. Licin. Pemandangan selama perjalanan ke sidomulyo indah sekali disebelah utara kami itu pesisir pantai, tapi disebelah selatan ada pesawahan dan dikelilingi bukit. Bisa diliat kok di foto.
Memang pas dateng ke Pacitan Saya terkesan dengan suasananya, tenang aktivitasnya. Nggak seperti di Depok, Bandung, apalagi Jakarta. Ga tau kenapa saya merasa nyaman (Mba Api, Jgn diartikan lain ya…)
Akhirnya setelah melalui jalan terjal berliku kami sampai di Sidomulyo (liat deh fotonya) disambut Mas Moko dan Mba Nunik juga anak-anak yang sedang mengaji. Nyaman banget suasananya ngeliat anak-anak naek sepeda, trus melihat kedekatan masyarakat di Desa tersebut.
Masuk dalem rumah Mas Moko, diskusi serius nih...
Mas Indar mulai dengan permohonan maaf karena jeda antara perencanaan dan pelaksanaan terlalu lama. “Maaf jika mengecewakan Mas Moko dan temen2 di desa Sidomulyo”, Katanya.
Mas Moko menanggapi “Iya teman-teman disini (Sidomulyo) menanyakan kelanjutan perencanaan kemarin. Teman disini juga ada yang membutuhkan paket C, lalu rencana kita sekarang apa nih?”
Mas Hardi menanggapi, katanya, paket C bu Lovely yang jawab, beliau menjelaskan tentang pertanian berkelanjutan mulai dari assesment dan pelaksanaan programnya.
Mba Lovely menjelaskan dari pendidikan dibagi 3 formal, nonformal, informal. nonformal, kesetaraan, keaksaraan. kami mendorong agar PNFI mengakui sertifikat keahlian melalui KOBAMA, tapi daerah juga minta, agar depdiknas mengakui dan memasukkan dalam peraturan perundang-undangan.
Mba Lovely menyatakan (lagi) agar tidak tergelincir untuk terlalu memperhatikan penyelesaian Paket Kesetaraan karena keunikan pembelajaran yang kita usulkan adalah kontekstual, di mana anak petani berusaha diajak untuk mau menjadikan dirinya petani yang baik dan bermartabat lewat pembelajaran pertanian berkelanjutan. Sangat disayangkan apabila kita tergoda untuk beralih ke sana. Kalau itu masalahnya, maka tugas berat kita yang di Jakarta adalah secepatnya mendorong rekan-rekan di PNFI untuk memberikan legalitas dan kekuatan bagi sertifikat kecakapan hidup. Apabila sertifikat ini bisa diakui dan diterima oleh dunia kerja maka keinginan warga belajar untuk ikut Paket B akan bisa dikurangi. Sebenarnya ini sudah sejalan dengan pesan Direktur PNFI yang baru, beliau menekankan agar tidak mendorong warga belajar lulus Paket tapi mendorong mereka untuk mendalami kecakapan hidup.
Mas Andang mengungkapkan bahwa beliau merasa pesimis masyarakat Sidomulyo dapat mengerjakan program tersebut.
Bu Lovely mengatakan agar Mas Andang berbesar hati. Menurutnya anak-anak Sidomulyo amat percaya diri. Kemampuan kepemimpinannya menonjol.
Kami (juga) tidak menganjurkan paket kesetaraan karena biasanya akan digunakan untuk kerja, berarti keluar dari Sidomulyo mereka akan jadi buruh/pekerja. Sementara mereka di Sidomulyo punya banyak potensi yang dapat dikembangkan.
Mengenai lifeskill, Bu Lovely mengatakan bahwa memang ada program lifeskill dari Pemerintah. Tapi bentuknya apa? bhs inggris? komputer?
Life skill yang ada belum menyentuh kebutuhan khas masyarakat masing-masing daerah. Misalkan dalam bentuk pembelajaran dan penyediaan komputer, buat apa? Apakah terkait dengan kebutuhan daerah?
Setelah dapat meyakinkan dan memotivasi Mas Andang kami pulang tidak melalui jalur sebelumnya. Tapi masih dalam Lingkar Selatan. Jalan masih dalam perbaikan. di dekat pantai kami berhenti sejenak untuk berfoto ria (ada kan fotonya).
Sebelum itu mas nug yang jadi supir berusaha menaikkan mobil melalui jalan tanjakan yang sedang diperbaiki. Masih bisa nyampe atas.
Kami lanjutkan perjalanan dan menemui tanjakan yang lebih parah lagi, jalannya licin karena masih belom beres pengerjaannya, banyak lumpur. Mobil selip ga bisa naek.

Ngeri melihatnya karena terlihat hampir terguling. Mas Hardi dan Mas Nug berusaha keras, saya bersama Mas Indar, dan Mas yang satu lagi (lupa saya namanya) juga berusaha mendorong mobil, tapi ga bisa. Akhirnya kami putuskan balik arah menggunakan rute sebelumnya.
Perjalanan kami ke Kalikuning mengantarkan Mba Puji dan adiknya. Amat menakutkan karena di samping kanan dan kiri jurang. Hebat ya supirnya. Lapaar, kami makan dulu, ada yang pesan kare, ayam kampung goreng, soto ayam, wuuihh.
Alhamdulillah kami selamat mengantarkan Mba Puji ke Kalikuning.
Melelahkan sekali kami harus menempuh lagi perjalanan Kalikuning-Pacitan, kurang lebih dua jam. Cuuaappe deh...tapi asik.
Nyampe hotel dalam keadaan lusuh, cape, celana kotor kena lumpur. Masih ada tugas dari Bu Direktur KerLiP bikin modul 7 habit dan membaurkan topik. Wadduhh…

Ova KerLiP

1 komentar:

kerlip mengatakan...

upload foto-fotonya dong! Ada berapa keluarga yang siap untuk memulai KOBAMA disana?