Senin, 17 November 2008

Refleksi Pendidikan

keluarga Indonesia,

Dalam sebuah tayangan TV, seorang ekonom menyatakan, kita sedang kontraksi dengan adanya krisis ekonomi global. Duh! Seingat saya, kontraksi saat mau melahirkan rasanya sakit sekali. Kata orang seperti meregang nyawa. Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia yang begitu tinggi menjadi indikator rendahnya harapan hidup kita. Sudah banyak negara yang membuktikan dengan kebijakan yang jelas, angka kematian ibu melahirkan bisa diturunkan secara drastis. Tentunya bukan sekedar SIAGA (siap antar jaga) lalu harus sedia uang banyak agar dapatkan pelayanan yang berkualitas.
Bagaimana dengan hak atas pendidikan?
Hari ini, sekelompok masyarakat kembali akan mendatangi Mahkamah Agung untuk mendesak percepatan uji materi permendiknas buku yang melegalkan privatisasi. Sejak Mei 2006, sekelompok masyarakat lainnya tak berhenti berjuang untuk menghapus Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan agar hak anak untuk mengembangkin diri dilindungi. Lusa, sekelompok masyarakat lainnya menyiapkan uji materi untuk menjaga konsistensi pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi untuk memenuhi hak warga negara atas pendidikan dasar berkualitas tanpa pungutan biaya. Sekelompok masyarakat lagi tanpa lelah menyuarakan bahwa homeschooling adalah salah satu model pemenuhan hak anak atas pendidikan dan negara melindungi keluarga yang memilih model ini. Solidaritas guru dan rakyat pekerja pun terus diperkuat untuk memperbaiki pendidikan.

Sudah saatnya pemerintah berhenti mencari pembenaran untuk melanggar amanat konstitusi. Mari dengarkan suara nurani rakyat.

Tidak ada komentar: