Senin, 09 April 2012

Dini hari menuju Jakarta

Mobil melaju kencang diiringi classic rock yang sudah akrab di telinga. Fitry ikut bernyanyi riang menemani ayahnya memacu kendaraan. Kami berangkat dari rumah pukul 3 dini hari. Persis di km 68, mobil nyaris berada di titik nol. Rupanya ada penyempitan akibat perbaikan jalan ditambah jumlah kendaraan yang balik ke Jakarta setelah long weekend biasanya lebih banyak.

Aku sempat mempertegas rencana-rencana detil GERA SHIAgA yang sedang disiapkan Fitry. Alhamdulillah, dengan kemampuan bahasa inggris yang dimiliki ananda dan kesediaannya untuk mengelola program Gerakan Aman, Sehat, Hijau, Inklusi dan Ramah Anak dengan dukungan keluarga membuat impian tumbuh bersama KerLiP mulai makin jelas bentuknya.

Kami merencanakan untuk mendesain 60 jam BBM (Belajar Bersama Masyarakat) bersama Gerakan Siswa Bersatu di SMA/SMK/MA/SMP/MTs untuk membantu memperluas GERA SHIAGA di sekolah/madrasah. Berita tentang kegiatan KkN oleh anak-anak SMAN 3 Bandung di Kertasari, antusiasme anak-anak SMK/MA/SMA mitra FKPA, rencana di SMAN 1 Banjaran dan roadshow GERA SHIAGA yg dipersiapkan GSB SMPN 11 menginspirasiku dan ananda Fitry dlm obrolan akhir pekan di rumah.

Alhamdulillah, mulai minggu ini, Fitry dan Icha menikmati Dago Car Freeday sambil melihat lokasi strategis untuk membuka stand GERA SHIAGA. Pembukaan rekening di Bank Muamalat membuka kesempatan emas bagi kami untuk lapak permanen untuk sosialisasi program GERA SHIAGA.

Rencana peliputan oleh KerLiP production juga mendapat sambutan baik dari GFDRR. Insya Allah hari Rabu kami akan kembali ke Arjasari.

Oh ya kembali ke Jakarta. Pukul 5.30 saya dan Zamzam berhasil lepas dari kemacetan Ragunan menuju kuningan dengan naik busway. Fitry sudah duluan turun di depan tanjung barat dan naik angkot ke Depok. Bus Trans Jakarta membawa kami ke Ratu Plaza. Kursi-kursi merah KFc masih terpasang diatas meja saat kami memesan sarapan pagi disana.

Alhamdulillah, persediaan batere laptopku masih cukup untuk mengedit bahan presentasi GERA SHIAGA yang kemarin didesain oleh Ketua Pengawas KerLiP. Nampak lebih sistematis dan profesional. BBM tahan 60 jam untuk perluasan GERA SHIAGA, MBS Peduli Anak, Rencana Kontinjensi, Simulasi, dan pengintegrasian GERA SHIAGA kedalam 8 SNP disepakati menjadi kegiatan pemodelan GERA SHIAGA di SMA. Sosialisasi dan advokasi GERA SHIAGA diarahkan untuk mendorong GSB berpartisipasi dalam mengintegrasikan GERASHIAGA di musrenbang, kebijakan, dan Forum Kordinasi Nasional Sekolah Aman. Semuanya ditopang dengan PIN GERA ShIAGA yang disiapkan oleh Tim IT dari TMI lengkap dengan upaya peningkatan partisipasi publik melalui roadshow, gladi, lomba, dan gerakan pengumpulan foto.

Aku ditemani Pak Leon dalam raker Pendidikan Layanan Khusus di Cipete. Zamzam memimpin rakor persiapan peluncuran Pedoman di kantor Wamendik. Data-data anak yang terhambat ke sekolah secara ekonomis, geografis dan sosial budaya dipaparkan oleh Kasubdit Kelembagaan. Hari ini kami diminta memberi masukan mengenai model-model pendidikan layanan khusus untuk daerah 3T : terpencil, terluar, tertinggal. Banyak sekali kabupaten yang merupakan daerah tertinggal. Alasan geografis menjadi alasan utama anak-anak tidak dapat melanjutkan ke SMA. Pengalaman KerLiP belajar bersama masyarakat selama 12 tahun membuatku antusias menyampaikan banyak hal. Cukup mengobati kenyataan pahit jika rencana presentasi GERA SHIAGA nampaknya tidak jadi dilaksanakan. Yang menggembirakan rupanya Pak Martin yang menjadi kasubdit sarpras PK/LK dan terlibat banyak dalam penyusunan bangunan tahan gempa bersama Pak Tedy Boen. Pembahasan tentang homeschooling, sekolah terbuka, sekolah alam juga turut menyemangatiku. Berkali-kali Pak Suci menahanku untuk klarifikasi. Alhamdulillah tercapai juga sosialisasi mengenai proses penyusunan Panduan Umum Pendidikan Ramah Anak. Sayangnya Pak Suci mengira sekolah ramah anak hanya untuk dikdas. Masih perlu penjangkauan lebih intens. Alhamdulillah, beliau setuju untuk mengundang asdep Pemenuhan Hak Pendidikan Anak dalam pertemuan yad. Mudah-mudahan rancangan permen PK/LK belum disahkan sampai pertemuan kordinasi berikutnya. Kabarnya sih tinggal selangkah lagi dari staf ahli menteri, permen tersebut akan segera disahkan dan menjadi acuan bagi PLK di jalur formal, nonformal dan informal.

Pendidikan layanan khusus dirancang untuk menjangkau lebih dari 4 juta anak usia 16-18 tahun yang belum menikmati pendidikan setingkat SMA di daerah terpencil, terluar dan tertinggal. Aku mengusulkan beberapa model pendidikan alternatif yang sudah berkembang di Indonesia termasuk homeschooling dan kelas jarak jauh. Tentunya dengan dukungan pelayanan prima pendidikan ramah anak.

Pada akhir raker, aku sempat membahas GERA SHIAGA bersama Bu Rieka dan ppk untuk pendidikan layanan khusus di daerah bencana. Disepakati untuk mengembangkan GERA SHIAGA di daerah bencana. Insya Allah tanggal 23 April akan dibahas lebih rinci. Kabar menggembirakan ini segera kusampaikan melalui telpon ke Dede dan Zamzam.

Oh ya, persiapan peluncuran pedoman penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana terintegrasi dengan Hardiknas, kesediaan staf ahli wamendik untuk alokasikan perbanyakan GERA SHIAGA kit, dan aktivasi sekretariat di kantor Wamendik turut menambah kabar gembira hari ini.

Zamzam menyampaikan rincian kegiatan rakor pertama Seknas dengan kemdikbud dan kemdagri di kantor wamendik melalui telpon. Direncanakan untuk membuat gebyar Hardiknas dengan simulasi dan pameran perkembangan GERA SHIAGA. Mudah-mudahan berjalan sesuai rencana ya.

Meskipun pembahasan indikator dlm Juknis Sekolah Ramah Anak batal dilaksanakan, aku cukup senang menerima masukan dari Yunie CBE yang kini sedang study di Australia dalam posisinya sebagai konsultan Kemdikbud di PAUD. Komunikasi via chat room facebook dilanjutkan pengiriman draft Juknis dan hasil reviewnya. Bahan ini akan menjadi acuan dalam pemodelan GERA SHIAGA di SMAN 1 Banjaran dan SMPN 11 Bandung. Seperti biasa, juknis terbaru pasti lebih lengkap dari Pedoman hasil sinkronisasi kebijakan. Model-model pendidikan ramah anak termasuk sekolah aman dijadikan bahan untuk penyusunan indikator Sekolah Ramah Anak. Mudah-mudahan dapat diterapkan termasuk di daerah 3T.

Hujan deras mengguyur Jakarta saat aku melintas jembar depan kantor perwakilan KerLiP di Jakarta. Kami memutuskan untuk pulang secepatnya agar segera menuliskan semua rencana tersebut. Ada telpon dari Humas SDN Banjarsari. Rupanya Riri yang menjaid relawan roadshow GERA SHIAGA sudah menyampaikan surat kesana. Kabar gembira lagi sebenarnya. Hanya saja, agak risih belajar bersama masyarakat di sekolah yang termasuk favorit urang Bandung. Disepakati melalui telpon dengan Fitry untuk menata ulang rencana roadshow GERA SHIAGA agar menjangkau lebih banyak anak di sekolah-sekolah yang lebih memerlukan dan mendampingi GSB SMPN 11 Bandung untuk merencanakan, mendesain, mengkaji,melaksanakan, memantau, mengevaluasi dan melaporkan kegiatan Roadshow tersebut.

Pukul 15.15 kami berangkat drai pasfes naik cititrans menuju Bandung ditemani hujan yang tak kunjung usai. Mbak Erita daei Edwb menyampaikan masukan mengenai Forkornas Sekolah Aman. Cukup lama menunggu taxi di Cipaganti. Kami putuskan untuk nenerobos hujan naik angkot Ciroyom. Aku meminta Zamzam menunggu sebentar setibanya di McD simpang untuk menuntaskan jawaban pertanyaan Mbak Erita di email. Dan angkot Dago pun membawa kami kembali ke Kanayakan. Dede masih asyik utak-atik laptopnya. Kebetulan. Sebelum Dede pulang, aku tunjukkan bahan presentasi GERA SHIAGA untuk penyusunan program yang diminta oleh PK/LK Dikmen.

Alhamdulillah.

Sabtu, 07 April 2012

perkembangan penerapan sekolah aman

Sebagai catatan, kemarin saya diantar Dede ke Kecamatan Pacet, sengaja sambil lihat SD-SD sepanjang perjalanan dan sampailah di Arjasari Kabupaten Bandung.

Alhamdulillah menemukan praktek baik yg sedang dikerjakan dan hampir tuntas oleh mandor yg sudah tua dengan 13 tukang di SDN Pinggir Sari penerima dana rehabilitasi ruang kelas rusak berat sebesar Rp 226 juta.

Kabarnya selain mereka, SDN Otista, SDN Ciburuy, SDN Arjasari III juga menerima dana rehabilitasi dari APBN.

Saya sedang menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk membantu pembuatan film dokumenter mengenai penerapan sekolah aman dari gempa disana oleh relawan movie maker yang bergabung di KerLiP Production.

Rencananya film penerapan sekolah aman dari gempa tersebut akan ditayangkan perdana dalam peluncuran perka BNPB mengenai pedoman penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana di gedung Kemdikbud.

Kami juga dibantu tim IT dari PT TMI sedang menggalang dukungan untuk develop PIN GERA SHIAGA (Pusat informasi nasional gerakan sekolah/madrasah aman terintegrasi dg sekolah sehat, hijau, inklusi dan ramah anak dg dukungan keluarga) dalam upaya PRB terintegrasi dg model-model pendidikan ramah anak yang sudah berkembang di Indonesia.

Pusat Data statistik Pendidikan kemdikbud yg menyiapkan data sekolah/madrasah berbasis GIS melalui education WB menyatakan siap bergabung. Menurut Ibu Ida kasuibdit sarpras madrasah, dalam rapat di kantor wapres terkait e-mon yg disiapkan Telkom juga akan disinergikan dg pedoman penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana.

Alhamdulillah perkembangan kampanye dan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana menggembirakan. Bahkan dalam juknis rehab dan rkb madrasah yg kami siapkan bersama relawan Doktor Sipil dari Universitas Bakrie dinyatakan langsung merujuk pada Pedoman tersebut.

Kantor khusus utk forum kordinasi nasional sekolah aman disiapkan bersama wamendik di Gedung C lantai 19.

GFDRR juga sedang menyiapkan dukungan bagi Seknas Sekolah Aman untuk melakukan pemodelan penerapan sekolah aman di pedesaan dan perkotaan dengan melibatkan Sekolah Penyangga dr 17 SMK yg menerima bansos setditjendikmen 2011.
Setditjendikdas pun sudah melakukan bimtek bagi pengawas rehab SD dari 176 SMK dari 28 provinsi tanggal 19-26 Maret 2012. Sahabat KerLiP yang menyebut diri gerakan mahasiswa bersatu sosialisasikan GERA SHIAGA dalam event tersebut.

Pemutakhiran dalam bentuk narasi kami simpan di www.rumahkerlip.blogspot.com.

Senin pagi saya sendiri sebagai ketua seknas sekolah aman diminta fasilitasi penerapan sekolah aman dalam pendidikan khusus dan layanan khusus di daerah terpencil, perbatasan, tertinggal oleh kasie program dan evaluasi Dit PK/LK dikmen, yang akan diikuti oleh BNPP, kemnakertrans, TNI, kemsos, dst.
Zamzam yg mewakili kerlip di kantor wamendik.


GERA SHIAGA YUK!

Sosialisasi GERA SHIAGA di kabupaten Bandung

Ternyata untuk sampai di Kantor Desa Cipeujeuh Kecamatan Pacet perlu 1,5 jam perjalanan dengan motor-nya Dede. Sampai disana, anak-anak dari berbagai SMA/MA sudah menunggu bersama petugas dari Kecamatan, Erick dan beberapa relawan FKPA Kabupaten Bandung. Dede langsung membantu menyiapkan LCD sementara bahan presentasi GERA SHIAGA diringkas agar langsung pada sasaran.

Setelah pembukaan oleh petugas Kecamatan, aku memulai presentasi dengan mengangkat konteks Ujian Nasional dan advokasi yang dilakukan KerLiP bersama para orangtua korban Ujian Nasional 2006 dan mitra lainnya. Kondisi kerja guru menjadi wacana yang menarik. Dalam sudut pandang anak, guru harus bertanggung jawab penuh kepada seluruh siswanya tanpa melihat berpa imbalan yang diperoleh. Salah satu narasumber yang calon guru dan anak seorang guru agama menceritakan bagaimana kehidupan keseharian keluarga guru. Aku berusaha mengkonstruksikan pengalaman belajarku dengan pengalaman belajar anak-anak.

Menarik ketika, Neti, salah seorang peserta menyampaikan pertanyaan mengenai guru yang terlambat mengajar karena menguru keluarga dulu. Dua dari 3 orang yang menjawab sepakat bahwa guru tersebut bertanggung jawab karena mendahulukan kebutuhan keluarganya, sedangkan seorang lagi bersikeras bahwa guru seharusnya mendahulukan kepentingan anak.

Pintu masuk untuk belajar bersama prinsip-prinsip hak anak. Hak hidup dan bebas menyatakan pendapat paling mengemuka disampaikan oleh peserta. Nampaknya latar belakang organisasi yang mereka ikuti di sekolah seperti OSIS, Pramuka, PMR menarik untuk dipelajari. Jawaban guru haru mendahulukan kepentingan terbaik anak dikaji lebih mendalam untuk melihat alasan perlunya memperjuangkan nasib guru dan keluarganya. Apalagi semua peserta berasal dari SMA/MA yang diselenggarakan masyarakat.

Kemudian persyaratan sarana dan prasarana yang sudah diatur dalam permendiknas 24/2007 menjadi bahan yang menarik dibahas ketika aku menunjukkan foto berita di Kompas mengenai sekolah aman yang dikirim oleh Mas Wijaya dari IAG ITB.
Anak-anak kemudian diajak untuk menyanyikan lagu terkait simulasi gempa. kemudian aku ajak mereka untuk menggunakan tanda-tanda yang dikenal oleh masyarakat umum untuk menandai zona hati-hati dan aman di sekolah. Anak-anak sepakat untuk menggunakan stiker warna lampu lalu lintas. Pembahasan pun sampai ke upaya-upaya penyelamatan mata air sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana di pendidikan. Anak-anak cukup terhibur dengan istilah sehari-hari yang mereka kenal terkait pembuangan limbah rumah tangga, kotoran manusia dan sapi untuk menjaga kualitas air Citarum. bayangkan betapa anehnya saat aku sadar bahwa selama 4 tahun di jakarta menikmati air dari Citarum 'bekas' anak-anak buang kotoran. Hiiy...

Dari sanalah GERA SHIAGA mulai diperkenalkan. bagaimana prinsip-prinsip hak anak menjadi dasar dalam upaya menjadikan anak dan kawula muda mitra dalam penerapan sekolah aman. Anak-anak mendefinisikan ulang mengenai kemitraan. Sempat menyerempet isu aktual tentang rencana kenaikan BBM dan partisipasi anak untuk menyuarakan hajat hidup rakyat Indonesia. Menarik ya.

Abdul manan menjadi peserta favorit apalagi dia bersedia maju kedepan untuk menyanyikan lagu simulasi gempa. Sebagai hadiahnya, kuberikan buku kimia karya dosenku di TPB ITB dulu. Anak-anak pun senang.

Persyaratan ketiga yang diminta dalam advokasi UN 2006 adalah akses informasi menjadi penutup sesi belajar bersama GERA SHIAGA. Surat dari tahun 2070 mengenai kelangkaan ketersediaan air disimak dengan khidmat.

Aku dan Dede pun segera pamit setelah menikmati umbi-umbian yang disediakan Forum Komunikasi pecinta Alam kabupaten bandung.

Dalam perjalanan menuju SMAN 1 Banjaran, kami memutuskan mampir di SDN Pinggir Sari yang sedang direhabilitasi. Menarik menyimak pernyataanmandornya mengenai ukuran besi dan kait yang diperpanjang sebagai bagian dari komitmen mereka untuk membangun ruang tahan gempa. Juga penambahan tinggi ruangan agar sirkulasi udara didalam kelas lebih baik lagi.

Terlihat jelas kalau dari aspek besi yang digunakan sih sudah benar ukuran 12 inchi dan dikaitkan diujung terutama untuk penghubung antar sudut ruang. Mandornya juga fasih jelaskan tentang standar bangunan tahan gempa.Pak Sukanda namanya, sudah sepuh. Dia juga menunjukkan gambar-gambar desasi bangunan untuk rehabilitasi 3 ruang di SDN Pinggir Sari.

Menurut Pak Sukanda gambar tersebut dari Dinas PU/Cipta Karya.
Pak Wawan temannya menyampaikan bahwa selain SDN Pinggir sari yang menerima bantuan rehabilitasi di Kecamatan Arjasari antara lain : SDN otista, Ciburuy dan Arjasari III. Kabarnya SDN Sirnajaya II tidak memperoleh bantuan. Aku khawatir terkait pembuatan film sekolah aman yang melibatkan KerLip disana bekrjasama dengan LKBN ANtara dan movie maker yang kemudian menjadi relawan KerLiP production.

Tadi sempet juga aku menanyakan kelengkapan WC perempuan dan laki-laki. katanya meskipun tidak ada gambarnya, mereka akan membuat di sudut bangunan. diingatkan juga untuk membuat fasilitas cuci tangan 1 untuk setiap 2 ruang kelas dan perbaikan drainase didepan kelas. Pak Wawan sempat menunjukkan ada salurannya hanya bagian depan kelas masih tertutup bongkaran dinding yang sedang direhab.

Oh ya, selain SDN Pinggir Sari, ada SDN Otista, Ciburuy dan Arjasari III yang juga memperoleh bantuan rehabilitasi. Kabarnya SDN Siranajaya batal menerima. Aku khawatir terkait pernyataan kritis kepala sekolahnya di film sekolah aman yang dibuat LKBN Antara. Akupun meminta kesediaan Pak Sukanda dan tim untuk menerima kunjungan kami berikutnya. Insya Allah langsung disiapkan tim investigasi dari movie maker yang sekarang bergabung di KerLiP production.

Di SMAN 1 Banjaran, kami bertemu dengan Pak Rudi, wakasek sekaligus guru biologi, pembina PMR dna pramuka. Beberapa rencana yang sudah dibicarakan dengan Pak Yance, ayahanda Ria Putri Ramadhani, pemimpin komunitas Jamban BSJ di Kick Andy beberapa hari yang lalu menjadi bahan pembicaraan kami. Disepakati untuk menyiapkan ketua-ketua komunitas anak di SMAN 1 Banjaran untuk turut belajar bersama saat kami melaksanakan kunjungan berikutnya ke SDN Pinggir Sari dan 4 sekolah lainnya di Kecamatan Arjasari. Kami juga akan menyiapkan assesment khusus untuk bahan diskusi terfokus penyusunan rencana Aksi GERA SHIAGA di SMAN 1 Banjaran.

Insya Alllah
Page Rank Check,
HTML Web Counter