Rabu, 05 Oktober 2011

Sinergi di Jabar_BPBD Jabar

lanjutan-2

Bu Tita, Kasi Pencegahan BPBD Jabar masih menerima tamu, saat kami tiba di kantornya pukul 10.05 WIB. Hari ini kami janji menemui Bu Erna, Karoren BPBD Jabar dan Bu Tita. Menurut satpam, Bu Erna masih terbaring sakit. Pak Iskandar dan Pak Budi sedang rapat dengan BTN. kami putuskan untuk menemui Pak dadang, Kabid Pencegahan dan kesiapsiagaan di ruangannya.
Beliau langsung menyambut kami dengan menunjukkan 2 edisi majalah siaga yang sudah terbit. Kami diminta untuk mengelola halaman khusus mengenai aktivitas anak dan perempuan dalam PRB.

Zamzam membantu menyimpan file-file terkait sekolah aman dalam komputer Pak Dadang. Saking asyiknya sinergi informal yang kami lakukan, sampai akhirnyakami tak dapat menemui Bu Tita sudah pergi ke Cisarua untuk upaya PRB di RSJ bersama IOM.
Alhamdulillah Pak Budi keluar dari ruang meeting. Kami pun menemui beliau di ruangannya.
Ada beberapa masukan untuk perbaikan pola advokasi di pemprov Jabar dari pembicaraan informal dengan pak Budi hari ini. Pembelajaran yang luar biasa.
Pak Budi menghubungkan kami dengan Pak Nugraha, Kabid rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD Jabar terkait upaya advokasi kami untuk mendorong penuntasan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah pasca gempa Tasik di Jabar berdasarkan saran Bapak Wamendinas dalam pertemuan audiensi Seknas Sekolah Aman pada tanggal 15 September 2011 yang dilanjutkan dengan pertemuan dengan ibu Hetifah di Komisi 10 DPR RI dan Pak Sugeng, Deputi Pencegahan dan kesiapsiagaan BNPB.

Kami bersepakat dengan pak Nugraha untuk melanjutkan pertemuan singkat siang hari ini pada pukul 16.00 WIB sepulangnya Pak Nugraha dari Faperta UNPAD.

lanjutan - 4

Akhirnya kami bertemu Pak Dedi, drafter di Biro Arsitek yang dirujuk Anni, arsitek profesional lulusan ITB 88.
Pak Dedi siap untuk membantu kami menuntaskan gambar teknik dari lansekap sekolah aman yang sudah dibuat Oya, Direktur teknis SMile Indonesia yang sibuk dengan proyek resident eight nya.
Besar harapan gambar tersebut siap menghiasi Festival bangun Budaya Aman dari bencana di Sekolah pada tanggal 12 Oktober 2011 di Jakarta.

Kami bergegas kembali ke BPBD Jabar untuk membahas mekanisme monitoring dan evaluasi penerapan sekolah aman dalam rehabilitasi sekolah melalui DAK Pendidikan 2011-2012.
Berita di Pikiran Rakyat mengenai sekolah rubuh di karawang dan BBM dari Ibu hetifah tentang robohnya madrasah diniyyah yang menelan korban usia anak di banten membuat kami makin bergegas untuk mendorong pemerintah dan pemerintah daerah dalam mewujudkan jaminan hak anak atas rasa aman, selamat dan sehat di sekolah/madrasah.
Gaya khas Pak Nugraha saat membuka obrol menjelang magrib di BPBD Jabar, menggugah kesadaran baru bagiku. Menurut Zamzam sudah lazim dalam sebuah pekerjaan swakelola, pihak diluar pejabat pelaksana kegiatan mendapatkan SK khusus sebagai konsultan resmi seperti yang dijelaskan Pak Nugraha.
Banyak informasi berharga mengenai mekanisme DAK Pendidikan dan bantuan Sosial Berpola Hibah yang disampaikan pak Budi, kasie Reknstruksi dipertegas oleh Pak Nugraha. Aku masih berupaya meyakinkan Pak Iwan GFDRR untuk menmyediakan waktu bertemu khusus dengan BPBD Jabar terkait usulan pendampingan teknis yang kami tawarkan kepada Pak Nugraha dan tim.
Usulan menarik dari pak Nugraha mengenai pengadaan jangka sorong plastik dalam kampanye dan advokasi sekolah aman perlu ditindaklanjuti.

Kami bersepakat untuk mengatur pertemuan kecil antara GFDRR, BPBD Jabar, dan KerLiP pada hari Sabtu pukul 9-11 di kantor Pak Nugraha.

Tidak ada komentar: