Minggu, 13 Maret 2011

Pelajaran 3_gempa Tsunami Sendai _dari milis bencana

Hari Kamis, 10 Maret 2011. Sebanyak 20 peneliti gempa dan kelautan
berkumpul di Kashiwa, Chiba , Jepang. Peneliti Indonesia antara lain 7
datang dari Bandung dan Jakarta, 1 dari Hokaido dan 2 dari Nagoya dan
1 dari Paris. Peneliti lainnya datang dari USA, Perancis dan Jerman
dan sisanya tentu saja dari Jepang. Seminar fokus membicarakan sumber
utama gempa dan tsunami Aceh dan kemungkinan terjadinya gempa besar
lainnya di kawasan barat Sumatra. Hari pertama seminar lancar, debat
dan diskusi sampai sore hari. Hari kedua, 11 Maret seminar
dilanjutkan. Pembicara pertama pada sesi setelah makan siang berakhir,
pembicara kedua pada 14.45 sedang menyiapkan proyektor dijital. Tiba-
tiba, gedung digoyang lemah, semua tersenyum, saling berpandangan,
semakin kuat pada setengah menit kedua. Mulai bimbang, dilanjutkan
atau lari. Akhirnya, setelah menit kedua, goyangan gempa semakin kuat,
semua lari dari lantai dua, meninggalkan semua peralatan kerja,
menuruni gedung melalui tangga menju halaman kantor. Lift otomatis
tidak difungsikan. Beberapa menit kemudian, semuanya telah berkumpul
di lapangan parkir. Tiang-tiang lampu penerangan atau tanaman bergetar
keras dan bergoyang sampai sekitar 10-20Cm. Sebagian dari kami duduk
di lapangan karena getarannya kuat sekali. Telepon tidak berfungsi
pada saat tersebut.

Pelajaran 3:
#Sekalipun tahu pemahaman dasar penyelamatan diri dilakukan setelah
gempa reda, untuk ukuran gempa kuat berlangsung lebih dari satu menit
dan sedang berada di gedung tinggi, secara psikologi massa semua tidak
berlaku. Tersisa dalam benak adalah: lari
#seperempatjam berikutnya, baru muncul penghuni gedung lainnya yang
mungkin menerapkan pemahaman berevakuasi setelah getaran gempa
berakhir.
#Jepang memiliki jaringan komunikasi telepon modern, akan tetapi tetap
saja terjadi gangguan jaringan, bisa karena kerusakan infrastruktur
atau terjadi panggilan telepon luar biasa. Artinya, jaringan HP
sebagai alat warning justru tidak berfungsi pada 10-20 menit pertama.
#tidak terlihat kepanikan, histeri atau tangisan dari warga Jepang.
Semua tenang dan tidak banyak bicara. Pertanyaan: apakah ini karena
latihan rutin atau memang sikap dasar? Suasana ini tentu saja membawa
penagaruh positif.

1 komentar:

Rumah Belajar " Bumi Cendekia" mengatakan...

Berarti mereka telah terlatih bagaimana caa menghadapi muibah, mekipun mungkin tidak seluruhnya terlaih.. Yang paling penting bisa meminimalkan resiko..