Rabu, 26 Agustus 2009

Rasa Ingin Tahu

Memelihara kemerdekaan anak dalam berpengetahuan makin mengasyikkan. Setiap kali bertemu dengan Ova dan Zamzam diskusi tentang konsep dan implementasi Cara Asyik Cari Tahu selalu muncul dari berbagai perspektif. Informasi tentang menjaga bandul selalu bergerak yang pernah kubaca dari pemikiran John Dewey dari berbagai sumber menjadi pisau analisa kegiatan-kegiatan Rumah KerLiP kali ini. "Luar biasa anak-anak kita ya!" seruku membuka obrolan menjelang buka puasa. "Hari ini Iyen menunjukkan mindmappingnya yang sangat detil tentang beberapa kompetensi lulusan SMA yang mulai dibuatnya. Uraian tentang ajaran agama menunjukkan pengetahuan Iyen tentang Rukun Iman, Rukun Islam dan Akhlak. Meskipun sudah terinci tanpa melihat buku, Iyen masih merasa ada sesuatu yang perlu dipelajari kembali agar kompeten dalam hal menjalankan ajaran agamanya. Nanti kita lihat betapa menariknya Iyen menguraikan tentang perkembangan usia remaja. Dia menguraikan dengan detil perubahan fisik perempuan dan laki-laki di usia remaja dan tentang perasaan saat jatuh cinta. Ada beberapa hal lainnya yang menjadi percabangan topik ini. Sungguh menakjubkan melihat perkembangan cara berpikir Iyen sekarang!" jelasku pada Ova. "Alhamdulillah. Menarik jika melihat bagaimana perkembangan yang ditunjukkan anak-anak dari Sekepicung sekarang. Mereka mulai membuat mindmapp dari SKL masing-masing setelah Zakky presentasi dua minggu yang lalu. Ada beberapa anak yang kreatif mengembangkan kompetensi yang perlu digali dari mimpi yang ingin mereka wujudkan. Ada yang ingin memiliki galeri komik sendiri. Dia menguraikannya sampai ke tahapan rencana yang sedang dan akan dilakukakannya. Yang lainnya karena ingin menulis buku, secara rutin sudah mulai mengasah kemampuan menulis dan sastra. Anak yang senang menggambar sangat tertarik dengan kemampuan Fitry untuk membuat manga. Dia juga mulai mencari informasi tentang pelatihan-pelatihan terkait. Menurut ibu seberapa penting kita menjaga rutinitas untuk membangun kebiasaan efektif masing-masing anak?" Ova mengakhiri penjelasannya dengan bertanya. "Efektivitas itu diukur dari tujuan yang ingin dicapai untuk masing-masing anak. Jika anak sudah berani untuk menyatakan mimpinya apalagi sampai merancang tahapan untuk mewujudkan mimpinya, bagi saya sih itu sudah menunjukkan kompetensi yang luar biasa. Pada umumnya anak-anak kita masih sulit melepaskan diri dari keinginan untuk berijazah. Tarik menarik kepentingan ini juga ibu alami. Kompromi yang ibu lakukan misalnya dengan menyediakan waktu khusus setiap hari untuk mewujudkan mimpi tanpa harus meninggalkan kesempatan untuk menemani anak-anak belajar sesuai dengan keinginannya. Hari ini Icha dan Ami lebih senang menyebut dirinya belajar dengan mengerjakan LKS yang dibeli beberapa hari yang lalu. Sebenarnya keduanya sangat antusias dengan kegiatan bermain sambil menempel karya-karya mereka di karton hitam. Sayangnya diperlukan waktu yang cukup banyak untuk menemani mereka bermain. Rizky sudah mulai bolak-balik meminta ibu memulai menemani dia belajar. Seperti Zakky dan Iyen. pembuatan mindmap SKL SD menjadi titik awal Rizky yang bermimpi untuk bisa mendapatkan ijazah SD paling lambat tahun depan. Beberapa kali Iyen bolak-balik memastikan kegiatan rutin di komunitas belajar mandiri ini dilaksanakan. Ibu sengaja menundanya dengan harapan kegiatan ini bermakna sampai ke tujuan hidup Iyen dan yang lainnya,"jelasku lagi.
"Wah, bagaimana jika dihubungkan dengan kematangan dalam berkomunitas? Bukankah kita sudah menetapkan tujuan dan tahapan untuk mencapai tujuan tersebut?" tanya Ova lagi. "Tujuan siapa? Hampir seluruhnya kita tetapkan sebelum komunitas ini dibuka. Coba kita lihat perkembangan anak-anak sampai saat ini. Kita perlu memastikan bahwa mereka benar-benar merasa memiliki tujuan bersama tersebut. Jika mereka merasa tidak terlibat, itu artinya kita gagal mendorong partisipasi anak dalam merintis komunitas ini,"jelasku lagi kepada Ova.
"Bu, ini hari apa ya?" Icha menyela dengan pertanyaannya. "Hari apa ya? Biasanya aa les di EEP hari apa Nak?" tanyaku lagi. "Kalau tidak Senin ya Rabu dong!" jawab Icha sambil tetap menulis beberapa soal matematika dan menjawabnya sendiri. "Ini hari Senin!" seru Icha tiba-tiba. "Benarkah? Sehari sebelum hari Senin hari apa ya Mi?" Ami yang sedang asyik menggambar mendongakkan kepalanya. "Ngga tahu!" seru Ami sambil terus menggambar. "Minggu!" seru Icha menjawab pertanyaanku. "Biasanya kalau hari Minggu Icha main dengan siapa ya?" tanyaku lagi. "Bapak. Tapi kemarin ngga ada Bapak kan?" Icha balik bertanya. "Wah, kalau gitu ini hari apa ya?" tanyaku lagi. "Hari Rabu, Bude!" seru Wita sambil berjalan menuju ke dapur. "Menurut Icha bagaimana?" tanyaku lagi kepada Icha. "Senin atau Rabu ya?" jawab Icha bimbang. "Ini hari keberapa Icha puasa?" tanya Zamzam kepada Icha. "Hari kelima," jawab Icha. "Kita mulai berpuasa hari apa ya?" tanyaku lagi. "Ngga tahu ah!" Icha menjawab dengan tak acuh. "Gimana ya mendorong rasa ingin tahu anak-anak tentang hari?" tanyaku sambil memandang Ova."Wah, harus tahu kebiasaan Icha Bu!" jawab Ova.
Pembicaraan pun kembali beralih ke CACT yang sedang diteliti Ova dan Zamzam untuk skripsi mereka. Aku masih penasaran dengan hal ini, tapi belum menemukan cara yang tepat untuk memastikan pentingnya mengetahui hari-hari kepada anak-anak. Gimana ya?

Tidak ada komentar: