Minggu, 06 April 2008

Catatan Forum OK! EEP-Bandung, 15 Maret 2008

Seharusnya Forum OK! EEP diadakan pekan pertama, tapi karena satu dan lain hal dipindah menjadi pekan kedua. Dihadiri 14 orang, Forum OK! kali ini menjadi yang paling banyak dihadiri jika dibandingkan Forum OK! EEP sebelumnya.

Mohon maaf sebelumnya, karena lupa, saya baru mencatat pada pertengahan dikusi jadi tidak secara detail mencatat pernyataan yang sempat diungkapkan.

Forum dibuka dengan menjelaskan Forum OK!, kenapa diadakan, siapa yang mengadakan. Sempat juga mengungkapkan Perkumpulan KerLiP sebagai penyelenggara. Kiprah KerLiP selama ini dsb.

Setelah itu, Bu Yanti memulai pemaparan “Pendidikan Anak Merdeka” dengan menjelaskan bahwa kemerdekaan diperoleh setiap manusia ketika lahir ke dunia. Dikaitkan juga dengan Tauhid (Sistem ketuhanan dalam Islam-red) bahwa setiap maniusia harus memerdekakan diri dari sesembahan apapun kecuali kepada Allah SWT.

Diungkapkan bahwa pendidikan anak merdeka adalah sebuah model pendidikan yang diusung KerLiP dalam upaya Pengarusutamaan Hak Anak dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Ketika kita mengupayakan pengarusutamaan hak anak, maka yang diutamakan adalah kepentingan terbaik bagi anak.

Memelihara kemerdekaan anak dapat dupayakan lewat jalur manapun. Pengalaman Perkumpulan KerLiP hingga saat ini untuk mengupayakan kemerdekaan anak adalah dengan memelihara rasa ingin tahu yang dimiliki anak. Dalam memelihara rasa ingin tahu yang dimiliki anak maka tugas pendidik (orang tua dan guru) adalah mendorong agar anak membangun sistem berpikir yang dinamis.

Teh Nurjanni mengungkapkan untuk dapat memerdekakan anak semestinya para pendidik terlebih dahulu yang harus dimerdekakan. Pendidik harus merdeka dari pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh sebelumnya, harus merdeka dari system berpikir yang dibangunnya. Lalu bu yanti menanggapi untuk membantu para pendidik memerdekakan diri salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyusun narasi diri. Narasi diri adalah penuturan dan penulisan tentang diri, tentang pengalaman, dan perubahan dalam diri.

Kang Dede berpendapat sulit bagi kita untuk memerdekakan diri karena kita dibelenggu oleh, misalnya, tayangan televise, arus pertentangan antar-budaya, dll. Maka, perlu dibangun gerakan kritis berbasis keluarga dalam upaya untuk memerdekakan diri dan masyarakat.

Tidak ada komentar: