Senin, 04 Agustus 2008

Penghapusan....

Entah harus sedih atau lega. perasaanku saat ini lebih mengarah ke sedih. Selama minggu lalu, aku berusaha keras menerjemahkan sebuah buku, dari Alfie Kohn, yang berjudul The Case Against Standardized Test. Kemudian websitenya kutemukan dan mereka bilang bukunya akan diterbitkan di Indonesia secara legal oleh Lentera Hati.

Dan, dan, rasanya sangat sedih. Aduh, ditolak. Tapi bukan masalah. Semoga hal itu akan bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi. (Padahl akhirnya aku bersemangat untuk menerjemahkan sesuatu. Ah...

~ Fitry

Jurnal Minggu 2 Agt 2008

Pk. 05.30 aku, Zakky, Icha berjalan menuju gerbang. Seperti biasa, mobil-mobil tetangga bergantian lewat di samping kanan trotoar yang kami lewati. Masih dingin. Masih sepi.
Kami naik GAMYA ke halte pertanian. Antrian sudah dipenuhi anak-anak sekolah dan para pekerja. Trans Jakarta pertama penuh. Agak lama kami menunggu bis berikutnya setelah beberapa bis kosong lewat di halte. Masuk ke dalam bis, kursi sudah dipenuhi para pekerja. Aku dan Zakky menjaga Icha agar dapat berdiri stabil. Di depan kami, duduk 4 orang pekerja laki-laki Satu diantaranya menawarkan diri untuk menggendong Icha. Icha menolak, bahkan setelah pekerja tersebut memberi sedikit ruang di kursi yang didudukinya untuk Icha.
"Utamakan wanita hami, penyandang cacat dan lansia. Anak kecil kok ngga diutamakan?" Tanya Icha melihat sticker yang menempel di jendela bis. "Ibu kan sering ke KPAI, bilang dong biar stickernya ditambah anak kecil juga, ya Bu," katanya Icha lagi. Aku balik bertanya, "Menurut Icha, apa alasannya bahwa anak kecil harus diutamakan juga?'. "Kan tangan anak kecil belum bisa memegang gantungan kuning itu," Icha menjawab sambil menunjukkan pegangan tangan yang menggantung di tasa kepalanya. "Bagaimana kalau Icha sendiri yang menulis surat untuk Ibu Masnah atau Ibu Susi dari KPAI?" tanyaku lagi. Icha tidak menjawab. Bunyi rem terdengar keras, Icha segera memeluk erat tubuhku. "Silakan duduk disini Bu," seorang pekerja perempuan berdiri dari kursinya. Ah, baik sekali gadis itu. Kuucapkan terima kasih lalu duduk sambil memangku Icha. Zakky menolak untuk duduk. Katanya dia terbiasa berdiri setiap kali pergi menuju Kodel.

"Bu, kita turun dimana?" pertanyaan Zakky membangunkanku. Rupanya aku tertidur. Bis berhenti di halte Kuningan Madya. "Sebentar lagi, Nak" jawabku. Tak lama kemudian kami sampai di halte Halimun. Calon penumpang Bis ke Pulo Gadung sudah menyesaki halte yang tidak begitu luas. Kami naik bis yang kedua. Kali ini Zakky tidak menolak untuk duduk sampai turun di halte Pasar Genjing. Bergandengan tangan kami berjalan menuju tempat pemberhentian angkutan 04. Pk. 06.49 kami tiba di gerbang rumah Ibu Kepala Sekolah. Setelah mampir sejenak, kami pun menuju SMP Bhakti Nusantara.

"Wah, Pak Ali memang teladan anak-anak! Pagi-pagi sudah menyapu halaman sekolah,"Sapaku pada Pak Ali, wakil Kepala SMP Bhakti Nusantara. Zakky menawarkan diri untuk menggantikan Pak Ali menyapu, tapi Pak Ali menolak. Zakky memang anak yang baik hati ya. Kukenalkan Zakky dan Icha kepada guru-guru yang ada di ruang guru. Tak lama kemudian, Ibu Aida, Kepala sekolah kami pun datang. "Mbak, hari ini giliran Pak Ali yang menjadi pembina upacara," kat Bu Aida kepadaku. Kulihat di ruang guru, jam mengajarku di jam terakhir. Segera kuminta Pak Ali untuk bertukar tempat. Aku akhirnya diperkenankan mengajar pada jam pertama dan kedua.
Icha mulai terlihat tak nyaman. Dia menarik bajuku. Zakky kuminta bergabung bersama teman-temannya yang sedang bersiap-siap untuk upacara bendera. Anak-anak berbaris teratur ketika kepala sekolah kami memeriksa atribut yang digunakan. Anak-anak yang menggunakan sabuk dan dasi yang tidak sesuai masuk dalam barisan tersendiri. Zakky kuminta masuk dalam barisan tersebut karena tidak menggunakan seragam. Tugas berat nih! Nampaknya disiplin di SMP Bhakti Nusantara mengikuti pola pendisiplinan di SMP negeri.

Beberapa nama siswa terdengar disebut-sebut untuk menjadi petugas upacara. Mereka punya andalan siswa untuk petugas tertentu. Tak lama kemudian, siswa pembawa acara mempersilakan pemimpin upacara memimpin barisan. Aku mengajak Icha untuk berbaris di belakang barisan anak-anak kelas VII. Pak Ali sebagai pembina upacara meminta para petugas upacara dipinjamkan atribut yang sesuai oleh teman-temannya. Ah, lagi-lagi penyeragaman.
Kulihat selain Pak Ali, Ibu Rini dan seorang guru laki-laki yang belum kukenal tak ada guru yang mengikuti upasara. Ibu Aida mondar-mandir di depan, guru-guru yang terlambat datang pun hanya menonton. Padahal anak-anak yang terlambat segera masuk barisan setelah menemui kepala sekolah. Ah, tugasku bertambah lagi nih.

Selesai upacara, aku menuju kelas IX ditemani Icha dan Zakky. Setelah menyapa anak-anak, aku meminta mereka untuk mengatur tempat duduk masing-masing secara melingkar. Sambil menunggu mereka, laptop kupasang, kertas bekas yang dibawa Zakyy dari rumah kukeluarkan. Anak-anak heboh sekali. "Apakah kalian sudah saling mengenal? Bagaimana kalau setiap anak memperkenalkan teman di sebelah kanan masing-masing dengan menyebutkan ciri-ciri khas yang kalian kenali?" Seruku pada anak-anak setelah meminta mereka untuk tepuk pramuka bersama-sama. "Sebutkan namanya saja, Bu!" jawab murid di sebelahku. "Atau perkenalkan diri sendiri aja!" Kata teman di sebelah kanannya. Akhirnya kami sepakat untuk memperkenalkan nama teman di sebelah kanan masing-masing.
.....bagian kesatu dulu ya....

Sabtu, 02 Agustus 2008

Salam hangat

Keluarga Indonesia,

Lama tak berkirim kabar. Ada banyak blog yang sengaja dibuka berdasarkan keperluan masing-masing. Silakan lihat daftar blognya ya.
Oh ya, untuk membantu kawan-kawan, kami sedang men-download buku sekolah elektronik- dari blog atau bse depdiknas. Perlu kesabaran untuk download semuanya. Rencananya akan diburn ke CD sesuai dengan tingkatan pendidikan. BSE untuk SMP jadi prioritas karena 155 dari 223 homeschooler KerLiP berada pada tingkatan tersebut. Kemudian SD lalu SMA> Harapan kami, CD ini kelak membantu anak-anak memilih sumber belajar bagi yang menentukan cara pilihan dari buku pelajaran. Sumber belajar yang tersedia di lingkungan dan alam sekitar jauh lebih beragam. Jangan sampai terjebak mengikuti langkah-langkah dari buku pelajaran tersebut. Diharapkan keluarga tetap membantu anak tumbuh kembang mandiri sesuai minat, bakat dan kemampuan, bukan berdasarkan banyaknya halaman yang belum dipelajari dari buku. Seperti sumber belajar tertulis lainnya, diharapkan anak-anak dapat memilah sesuai dengan topik dan judul CACT (Cara Asyik Cari Tahu) yang diminati minggu ini.

Khusus untuk Rumah KerLiP, masih dicarikan sumber perakitan komputer yang dapat dirakit, dipelihara, diisi dengan berbagai sumber belajar yang diperlukan. Kami akan terus membantu agar anak-anak kembali menikmati indahnya dunia belajar dalam balutan cinta, kasih sayang dan kehangatan keluarga.

Semoga!
Page Rank Check,
HTML Web Counter