Senin, 30 April 2012

Menyiasati Keterbatasan

Untuk yang kesekian kalinya, kami harus menjangkau banyak pihak agar tersedia ongkos secukupnya bagi upaya advokasi yang hampir tuntas untuk tahap pertama. Bukan tak ada yang menawarkan bantuan. Hanya saja pointers tertulis dalam persyaratan yang diajukan tidak selaras dengan prinsip tumbuh bersama yang menjadi landasan pengelolaan perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan. Hari ini, Zamzam terpaksa pergi menjelang sore hari, setelah beberapa hari mencari sumber dana yang cukup untuk ongkos dan biaya makan sampai saat peluncuran Pedoman penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana dilaksanakan. Dede menjadi perantara yang baik untuk menghantarkan Zamzam pergi ke Jakarta. Aku sendiri terpaku di depan laptop menghitung ulang biaya yang diperlukan untuk kerjasama dengan salah satu lembaga internasional karena harus disesuaikan dengan standar mereka yang berbeda dengan standar resmi yang berlaku di negeri ini. Sejujurnya hal-hal seperti ini membuatku tak nyaman. Terpaksa menahan diri untuk tidak mengabaikan tawaran kerjasama yang nilainya sebenarnya tidak seberapa dibanding dampak yang sudah kami jangkau sejauh ini. Tapi aku harus realistis dengan kebutuhan harian yang makin membengkak seiring dengan menguatnya upaya kampanye dan advokasi sekolah/madrasah aman dari bencana tahun 2012. Tagihan dari berbagai kartu kredit dan asuransi sudah dua bulan terabaikan. Uang pengganti transport dari hasil "ngamen" empat hari di Yogya hanya cukup untuk membayar biaya pembelian tiket yang dipinjam dari pihak lain. Beberapa peluang untuk akhir tahun sampai tahun depan sudah mulai berdatangan, mulai dengan kerjasama roadshow di 1.000 sekolah dalam zonasi sesar lembang dari Qitep, penguatan GSB di sekolah-sekolah mitra FKPA, roadshow di 30 sekolah dari pemprov Jabar, pemodelan di 120 sekolah di jabar dan Sumbar dengan mekanisme GFDRR BNPB, loma foto essay dan artikel dari Plan Indonesia, roadshow di hulu DAS Citarum dari BBWS juga kerjasama workshop film dengan IKJ. Semua peluang ini harus dimaintain dengan baik ditengah keterbatasan biaya operasional KerLiP di semester pertama 2012. Dana talangan dari closing program dengan Bappenas masih terhambat dengan berubahnya kerangka pelaporan. Seharusnya ini bisa diurus bulan lalu. Namun keterbatasan sumber daya manusia yang siap bekerja fulltime sebagai relawan KerLiP ditengah kecepatan advokasi sekolah aman menjadi tantangan tersendiri. Sudah saatnya untuk fokus pada upaya meningkatkan produktivitas agar tidak bergantung pada sumber daya diluar pengaruh kita. Aktivasi Koperasi Syariah Sahabat KerLiP diharapkan akan sangat membantu upaya kampanye dan advokasi yang kami jalankan tanpa pamrih. Semuanya demi kepentingan terbaik anak bangsa. Insya Allah

Tidak ada komentar: