Senin, 01 Desember 2008

Laporan perjalanan ke Bandung tanggal 1 Desember 2008 pas Hari AIDS Sedunia.

Saya berangkat pukul 09:00 dan tiba di Bandung tepat pukul 11:00 WIB. Setibanya di Cihampelas saya langsung naik angkot menuju MCD Dago tempat kami bertiga, Ova, Mbak Eva dan saya berjanji bertemu untuk kemudian menuju Komunitas Mentari dan rumah cemara. Rupanya orang pertama yang tiba di lokasi adalah Mbak Eva lengkap dengan sang suami Mas Indra yang namanya sepanjang hari itu berkali-kali saya lupakan (hehehehe… ingatnya mas Eva terus!!).
Ini kali pertama pasangan serasi dan selalu mesra ini berkenalan dengan KerLiP. Keduanya memiliki tiga orang anak yang sudah melaksanakan HS di sebuah komunitas tapi akunya masih ada yang tidak pas karena mereka sebagai orangtua merasa tidak diberi pendidikan dan panduan cara menangani anak khususnya yang melakukan HS. Menarik ini, ada orangtua yang secara sadar minta diajari!! Hebat!! Akhirnya saya menceritakan secara singkat seluruh kegiatan KerLiP dan menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan yang kita rencanakan hari itu adalah bagian dari program utama KerLiP yaitu perluasan akses pendidikan.
Akhirnya Kang Ova dating, dia baru saja kembali dari konsultasi Skripsi dengan dosen dan memilih meneliti CACT. Asyik…. Kita jadi punya sudut pandang ilmiah nich… Tapi jangan lupa, Kang, untuk terus menghargai Hak Intelektual kita sendiri…
Kami berempat pun berangkat dengan mobil pasangan Indra dan Eva ke Dago atas menuju komunitas Mentari. Ternyata lokasi komunitas itu terletak di belakang padang golf Dago. Jadi kami harus menitipkan mobil (berhubung gratis jadi tidak bisa disebut parkir kali…) di lapangan golf tersebut. Dari sana kami memasuki pintu kecil menuju perkampungan. Jalannya terus turun curam dan masih jalan tanah, kebayang bagaimana sulitnya akses apabila hujan. Licin! Tapi kata Bu Dewi, pengelola komunitas itu, ini jalanalternatif karena kami membawa mobil. Hmmm agak lega juga. Jalanan curam ini membuat saya ciut. Kebayang nanti pulangnya, pasti ngos-ngosan karena harus naik!!
MASALAH DI KOMUNITAS MENTARI
Setiba di rumah Bu Dewi yang dijadikan lokasi belajar, yang timbul adalah kekaguman. Rumah yang cukup luas itu sudah dibentuk sebagai ruang belajar yang asyik. Ada ruang luas di tengah yang membuat anak bisa bebas berlarian lalu di sisi kiri ada rak buku yang penuh terisi. Dua ruang lagi yang lebih kecil digunakan untuk ruang buku dan komputer serta satu ruang yang tampaknya dimanfaatkan untuk ruang konsultasi. Buku yang disimpan di ruang komputer katanya sengaja disendirikan karena buku-buku ini cukup mahal dan sumbangan dari Bandung International School. Jadi demi keamanannya diletakkan di ruang terpisah.
Saat ini komunitas Mentari bekerja sama dengan sekelompok anak-anak sebuah Institut ternama yang mengumpulkan dana bea siswa dari alumninya yang bekerja di Singapura. Tapi dengan adanya resesi global ini, para pemberi dana di Singapura merasa kesulitan dan menyerahkan kembali tanggung jawab warga belajar Non Formal ke tangan Bu Dewi. Hal ini membuat Bu Dewi kelabakan. Masalah berikutnya adalah mahalya biaya ujian paket di Bandung dan Kabupaten Bandung. Bahkan Kecamatan tempat beliau berada meminta dana sampai 1.250 ribu rupiah. Sebuah angka yang absurd mengingat demografis warga di sana yang rata-rata pekerja serabutan.
Ibu luar biasa ini pernah mencoba menggalang dana dari masyarakat tapi mengalami kebuntuan karena ekonomi mereka yang sangat lemah. Ini ironis mengingat lokasi tempat tinggal mereka yang dekat dengan Kafe-kafe dan Lapangan Golf. Dua industri yang sebenarnya bisa menyedot banyak tenaga kerja. Sayangnya para pemilik kafe lebih memilih untuk mempekerjakan warga Bandung dibanding Kabupaten karena rendahnya tingkat pendidikan mereka. Warga sekitar hanya kebagian pekerjaan kasar sampingan seperti Tukang Parkir yang menurut bu Dewi rawan kekerasan.
Masalah ketiga adalah relawan yang saat ini membantu rata-rata mahasiswa dan sudah mulai masuk masa skripsi atau menikah. Kedua faktor ini membuat mereka tidak bisa lagi aktif bekerja bersama anak-anak. Selain itu, anak-anak lulusan yang kini disekolahkan ke SMK-SMK tidak memiliki kesadaran untuk berkontribusi mengajari teman-teman mereka yang kurang beruntung.
USULAN PROGRAM
Setelah berbincang dengan Ibu Dewi, saya mulai terpikir bahwa mencoba menyelesaikan masalah pendidikan di suatu wilayah tidak bisa berhenti hanya pada pendidikan itu sendiri. Perlu pemberdayaan masyarakat dan komunitas sehingga tidak selamanya bergantung pada pendanaan di luar. Untuk itu perlu dibuatkan program-program pemberdayaan. Saat itu saya usulkan pada Ibu Dewi untuk mendata ketrampilan yang dimiliki ibu-ibu di sekitar lokasi atau juga orangtua warga belajar termasuk warga belajar itu sendiri. Mereka bisa diberdayakan menjadi tutor untuk rekan-rekannya dan komunitas (dalam hal ini KerLiP) bisa mencoba mengeluarkan sertifikasi untuk ketrampilan itu. Selanjutnya kami menyarankan untuk bekerja sama dengan aparat desa guna mencoba menyalurkan hasil kerja anak-anak ini yang nantinya sebagian digunakan untuk operasional komunitas.
Kami juga menawarkan untuk menjalankan rumahkerlip di sana dengan dukungan penuh (minus dana) dari KerLiP. Bu Dewi setuju untuk bekerja sama dan tindak lanjut disepakati segera setelah saya kembali dari Pacitan dan Ponorogo.
RUMAH CEMARA
Setelah itu kami makan lebih dulu… Malunya saya tidak tahu kalau tempat makan yang saya pilih ternyata memesan langsung bayar. Walhasil Mas Indra deh yang membayar semua makanan pesanan kami… Maaf ya Mas… Sungguh niatnya tadinya mau mentraktir makan heheheh…
Sembari menikmati hidangan lezat (maklum gratis) saya menghubungi rekan Erwin yang aktif di rumah cemara, LSM yang bergerak di Penanggulangan HIV/AIDS. Kami pun berjanji bertemu di Diponegoro di Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi.
Hujan mengguyur deras Bandung tapi keinginan kami untuk berbincang dan menggali pengalaman Mas Erwin membuat semua jadi tidak terasa, belum lagi diskusi asyik yang terjadi di dalam mobil tentang pendidikan anak merdeka (atau ocehan asyik saya ya????). Setibanya di KPA, kami sudah dinanti Mas Erwin yang baru selesai mengurus peringatan Hari AIDS sedunia di beberapa tempat.
Kami pun memilih sebuah ruang kecil pinjaman (maklum bukan kantor sendiri) dan memulai diskusi tentang masalah hak anak atas pendidikan di kalangan anak ODHA dan ODHA anak. Menurut Mas Erwin, awalnya para penggerak di AIDS ini tidak memikirkan adanya masalah di pendidikan, baru setelah mereka menonton film tentang perjuangan kakak beradik (kakaknya sehat dan adiknya menderita AIDS) di Thailand dan bagaimana negara itu telah memiliki sekolah ramah anak HIV/AIDS, mereka baru tersadar bahwa anak-anak di komunitas mereka ini suatu saat akan sekolah. Pertanyaannya adalah apakah mereka akan menemui masalah di sekolah mengingat stigma negative masyarakat yang begitu kuat tentang AIDS.
Sebenarnya beberapa anak binaan mereka sudah masuk ke persekolahan dan bahkan katanya ada kasus di Sukabumi, saat orangtua murid lain tahu status kesehatan si anak, mereka menuntut agar anak tersebut dikeluarkan. Sungguh pelanggaran hak luar biasa. Saya agak tidak bisa paham, bagaimana mungkin stigma itu diberikan pada anak sedangkan dia tidak meminta dilahirkan dengan kondisi kesehatan tersebut. Tapi ide tentang membentuk komunitas sendiri dalam hal pendidikan agak kurang bisa diterima karena tujuan utama mereka adalah suatu saat nanti masyarakat bisa menerima penyakit ini sebagai penyakit biasa dengan perlakuan yang sudah diketahui (kira-kira sejajar dengan jantung bawaan atau TBC gitu). Tapi setelah kasus Sukabumi dan kasus-kasus kecil lainnya membuat mereka berpikir, apakah kita harus menunggu kesadaran msayarakat sementara kebutuhan akan pendidikan itu sudah dirasakan saat ini?
Menariknya, di kalangan mereka sendiri juga berlaku kebijakan tutup kasus, dalam arti, saat ada acara komunitas, para ibu sudah tahu status kesehatan anaknya tapi mereka tidak tahu anak siapa yang positif dan mana yang negatif. Anak-anak ini juga bermain dengan gembira tanpa tahu status kesehatan masing-masing. Ini menarik menurut saya karena ditengah keinginan kuat mereka untuk bisa diterima di masyarakat tapi sebenarnya di kalangan yang mereka tahu senasib juga tidak ada rasa percaya diri atau kepercayaan bahwa kondisi ini bisa diterima dan adalah sebuah sakit biasa.
Untuk itu KerLiP mengusulkan membentuk komunitas pendidikan non Formal khusus anak ODHA dan ODHA anak dan di dalamnya dibangun benar kepercayaan diri akan kondisi mereka. Setelah itu diadakan pertemuan rutin dengan komunitas pendidikan non formal lainnya. Di mana kedua komunitas sudah dipersiapkan dengan informasi yang memadai sehingga diharapkan anak-anak ini bisa bergaul dengan nyaman. Dengan begitu kita bisa menyebarkan sikap multikultur. Mas Erwin melihat ini usul yang menarik dan meminta untuk dilakukan pertemuan lanjutan bersama Direkturnya guna membahas lebih detail. Tentu saja kami terima dengan senang hati…
Saat berbincang, timbul keinginan saya untuk menanyakan kenapa beliau mencoba memakai narkoba (rupanya beliau juga mantan pemakai yang kini terlepas dan membaktikan diri membantu teman-teman yang lain… Subhanallah!!!). Kata beliau ada beberapa hal yang dirasakan menjadi pemicu:
1. Tidak adanya informasi yang akurat tentang Narkoba, Miras dan Rokok.
2. Tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah.
3. Ingin diterima dalam kelompok.
Wah… ternyata memberikan dasar berpikir guna membantu mereka membuat keputusan sangat penting. Juga penumbuhan rasa percaya diri agar bisa berkata tidak dan nyaman dengan kondisi dirinya sendiri. Luar biasa.
Di perjalanan pulang pasangan serasi kita menyatakan kesiapannya untuk mendirikan SAnDi KerLiP di rumah mereka. Kami langsung menerima hal itu dengan bahagia. DItambah kesediaan mereka untuk berusaha membantu komunitas Mentari dan terlibat aktif dalam Forum OK! KerLiP di Bandung… Asyik… Tambah lagi mitra KerLiP…
Anda mau gabung juga????? Mari bertindak demi kepentingan anak Indonesia!
Lovely KerLiP dan Ova KerLiP

Tidak ada komentar: