Gerakan Sosial Kritis Berbasis Keluarga yang berupaya mendorong pemenuhan hak hidup bermartabat terutama hak atas pendidikan dan perlindungan anak
Jumat, 29 Juli 2011
Kerangka Acuan Advokasi DAK Pendidikan untuk Sekolah Aman
Keterlibatan Perkumpulan KerLiP dalam pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana dalam pembangunan berkelanjutan khususnya di sektor pendidikan sudah dimulai sejak aktif menjadi anggota Konsorsium Pendidikan Bencana. Kekhasan KerLiP dalam mendorong pemenuhan hak atas pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia memberikan makna tersendiri dalam Upaya PRB di Pendidikan. KerLiP tercatat sebagai salah satu anggota aktif yang menyusun review atas naskah akademik Strategi Nasional Pengarusutamaan PRB dalam Sistem Pendidikan yang diterbitkan SC DRR BAPPENAS, UNDP, Kemendiknas, KPB dan DFID. Terbitnya SE Kemendiknas mengenai Pengarusutamaan PRB di Sekolah yang diluncurkan pada tanggal 29 Juli 2010 bersamaan dengan peluncuran Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman oleh PLANAS PRB, BNPB dan mitra dimana KerLiP menjadi salah satu penggiat utama turut mendorong upaya KerLiP untuk menuntaskan penyusunan Konsep Sekolah Siaga Bencana sebagai Rintisan Sekolah Aman dalam pokja SSB Konsorsium Pendidikan Bencana pada tanggal 13 Oktober 2010. KerLiP juga aktif berjejaring dengan pelaku PB di Indonesia khususnya Jawa Barat dan DKI Jakarta untuk menjalankan kampanye dan advokasi budaya aman di sector pendidikan. Dikmendisdikprov Jabar sepakat untuk memastikan 1.317 SMK di Jawa Barat untuk terlibat dalam Festival Kreasi Budaya Aman di Sekolah dan Komunitas. Dalam workshop Tim Siaga Bencana mitra dampingan World Vision International tanggal 28-29 September 2010 di Sumatera Barat disepakati untuk menyosialisasikan SE Kemendiknas tersebut sekaligus mendorong para pelajar, guru, dan komunitas sekolah untuk berikrar aman. Kami juga membuka display materi pendidikan kebencanaan dari KPB, PMB ITB, Plan International, PLANAS PRB dalam setiap event yang terkait dengan kebencanaan seperti peresmian sekolah dan kunjungan Presiden RI ke Gambung 7 Agustus 2010, Konferensi Internasional CSR untuk PRB yang diselenggarakan IBL pada tanggal 29-30 September 2010, bulan PRB di Garut tanggal 13 Oktober 2010, Pasar Seni dan Reuni IA ITB tanggal 9-10 Oktober 2010, juga roadshow ke sekolah-sekolah di Jawa Barat.
Pada hari Rabu, 27 juli 2011, Perkumpulan Keluaraga Peduli Pendidikan bersama dengan BNPB, Kemdiknas, Platform Nasional PRB, dan LKBN Antara menyelenggarakan peringatan setahun kampanye sehuta sekolah dan rumah sakit aman sekaligus memperingati hari anak nasional dengan tema “Sekolah Aman untuk Anak Bangsa”. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Bapak Syamsul Maarif.
Kegiatan diskusi dengan moderator Pak Rully Charis dari LKBN Antara diisi dengan pemutaran video dokumenter sekolah aman. Acara dilanjutkan dengan diskusi panel, Pak Prof. Soedijarto (Guru Besar UNJ), Pak Fasli Jalal (Wakil Mentri Pendidikan Nasional), Pak Sugeng (direktur Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BNPB) dan Yanti Sriyulianti (Perkumpulan KerLiP)
Beberapa catatan penting dari diskusi tersebut :
• Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, anak-anak di sekolah merupakan komunitas yang sangat rentan terhadap bencana. Hal itu mengingat dari 1,2 miliar jumlah anak usia sekolah di seluruh dunia, sebanyak 875 juta siswa, termasuk di Indonesia, tinggal di daerah rawan gempa bumi. Ia menyayangkan banyaknya bangunan sekolah berkualitas di bawah standar, padahal sebagian besar kehidupan anak berlangsung di sekolah.
• Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan berdasarkan data Bank Dunia tahun 2010, jumlah sekolah Indonesia termasuk empat yang terbanyak di dunia. Dari 144.507 Sekolah Dasar, terdapat 76% atau 109.401 sekolah berada di provinsi dengan risiko gempa tinggi.
• Dari 144.507 SD, sebanyak 109.401 SD berada di provinsi dengan risiko gempa tinggi. Untuk SLB, sebanyak 1.147 sekolah dari total 1.455 sekolahnya berisiko terkena gempa. Begitu pula dengan SMP yang berjumlah 18.855 sekolah dari total 26.277 juga berada dalam risiko gempa tinggi. Semantara dari total 10.239 SMA di Indonesia, sebanyak 7.237 sekolahnya berada di kawasan dengan risiko gempa yang cukup tinggi.
• Menurut Kepala BNPB, yang terpenting adalah membangun kesadaran di semua elemen akan sekolah yang aman dari ancaman gempa. Selain itu, tugas pemerintah bukan hanya berkewajiban merehabilitasi sekolah yang rusak, tetapi juga harus memerhatikan sekolah yang belum tertimpa bencana.
• Dalam menindaklanjuti program sekolah dan rumah sakit aman, BNPB telah berkordinasi dengan kementrian pendidikan nasional, kementrian kesehatan, kementrian PU, Bappenas, AIFDR, Planas, ITB dan sebagainya.
• Wakil Mentri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal telah menyampaikan permintaan kepala kepala BNPB untuk melakukan pemilijan 60 kab./kota yang memiliki risiko tinggi terhadap Bencana dan menyusun Panduan Sekolah Aman.
• Pemilihan 60 kabupaten/kota yang akan dijadikan sebagai pilot project sekolah aman telah dilakukan BNPB bersama kementrian/lembaga dan NGO. Begitu pula dengan Panduan Sekolah aman telah disusun.
• Disamping perkuatan struktur dan factor keselamatan bangunan lingkungan sekolah. Semua itu tlah disampaikan kepada wakil menteri pendidikan nasional. Diharapkan, komponen sekolah aman tersebut memanfaatkan dana alokasi. Khusus pendidikan tahun 2011, yang nilainya Rp 11 trilyun.
• Sementara itu, Prof. Soedijarto menuturkan jika melihat anggaran DAK, untuk membangun pendidikan anak bangsa Bappenas harus melihat secara nasional. Hitungan Bappenas untuk SD dan SMP yang ada hanya 52 trilyun dari 500 trilyun
• Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) meminta pemerintah untuk mengucurkan dana alokasi khusus pendidikan sekitar Rp 10 triliun untuk pembangunan dan perbaikan sekolah yang aman dan sehat. Ketua LSM Pendidikan KerLip Yanti Sriyulianti mengatakan saat ini ada lebih 120 ribu kelas di seluruh Indonesia yang masih rusak akibat bencana alam gempa dan tsunami. Sebagai contoh, SD Sirnajaya II di Arjasari Kabupaten Bandung masih rusak akibat gempa Tasikmalaya yang terjadi 2009 lalu. Siswa masih belajar di emperan kelas yang masih roboh.
• Ketua Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) Yanti Sriyulianti menambahkan sekolah aman adalah sekolah yang menerapkan standar sarana dan prasarana yang mampu melindungi warga sekolah dan lingkungan disekitarnya dari bahaya bencana. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data sekolah yang belum direhabilitasi pasca bencana. Di Sumatera Barat terdapat 8372 sekolah, Jawa Barat 4197 sekolah, Jawa Tengah 135 sekolah.
Testimoni Anak tentang Sekolah Aman:
1. “Harapannya mah pengen ditambah tinggi lagi kelasnya biar tidak terendam ke kelas Punya perahu sendiri biar gak nyewa ke masyarakat”.
2. “Inginnya ditingkat lebih bagus dan lebih baik jadi semuanya itu bisa sekolah jadi gak di rumah guru walaupun banjir”.
3. “Sekolah ditingkatkan bangku dibagusin sekolah bersih dicet ulang dindingnya.”
4. “Sekolahnya mau ditingkatkan agar tidak terendam lagi, punya perahu sendiri sendiri atau lampung.”
5. “Saya mau Sekolah ini ditinggiin dan punya pelampung sendiri.”
6. “Semoga nanti bisa ada kurikulumnya, ada semacam pelajarannya, ada prakteknya di lapangan setiap bencana itu sudah biasa.”
7. “Dalam segi pelatihan, kontruksi dapat lebih baik lagi.”
8. “Harus ada latihan karena kalau tiba-tiba bangunan ini roboh semua murid akan tertimpa.”
9. “Harapan ke depan agar perorangan memiliki budaya untuk aman baru dapat mengitukan ke suatu kelompok.”
10. “Ingin segera diperbaiki sekolahnya agar segera bagus nanti jadi gak gini lagi gak belajar di luar lagi.”
11. “Harapannya semoga sekolah aman dapat menyebar ke sekolah sekolah untuk sosialisasi ke siswa agar siswa mengerti apa sekolah aman bagi siswa.”
Kegiatan tersebut diadakan sebagai upaya memperkuat komitmen pemerintah dan wakil rakyat menjamin hak anak atas budaya aman, selamat dan sehat di sekolah secara fisik dan non fisik.
Perkumpulan KerLiP melanjutkan upaya dalam memperkuat pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di sektor pendidikan terutama kampanye dan advokasi budaya aman di sekolah yang telah dilakukan sejak tahun 2010 hingga Oktober 2011 akan melakukan upaya Advokasi DAK Pendidikan untuk Sekolah Aman.
B. Tujuan
Pencairan pengalokasian DAK Pendidikan 2011 untuk menunjang Sekolah Aman
C. Hasil Yang diharapkan
1. DPR mengesahkan Juknis DAK Pendidikan Sekolah Aman.
2. DAK Pendidikan cair dengan komposisi % untuk pembangunan sekolah aman terutama di daerah yang beresiko tinggi terhadap bencana.
3. DAK Pendidikan cair sekitar Rp 10 triliun untuk pembangunan dan perbaikan sekolah yang aman dan sehat.
D. Sasaran
Sekolah-sekolah yang berada di provinsi dengan risiko gempa tinggi
1. 76 % SD atau sebanyak 109.401 SD
2. Sebanyak 1.147 Sekolah Luar Biasa (SLB)
3. 18.855 SMP
4. 7.237 SMA
E. Rencana Kegiatan
1. Konfrensi Pers dengan tema “Sekarang saatnya Pemerintah dan DPR merealisasikan DAK Pendidikan 2011 agar tidak ada lagi bangunan sekolah yang tiba-tiba roboh anak belajar di sekolah dengan rasa aman, selamat dan sehat. Jangan ditunda lagi!”
Hari, tanggal : 1 Agustus 2011
Waktu : Pk. 09.00
Tempat : Wisma Kodel, Jakarta
Agenda : Memperdengarkan Suara Anak
2. Forum Obrolan Keluarga Peduli Pendidikan
3. Kajian bersama Pakar Anggaran dan Pakar Hak Anak
4. Penyusunan position paper DAK pendidikan untuk sekolah aman
5. Hearing dengan komisi X DPR RI tanggal 16 Agustus 2011
Selasa, 07 Juni 2011
CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-2)
Dalam pendampingan posisi kita sebagai fasilitator tidak berarti menjadi guru bagi para warga dampingan, justru para fasilitator semestinya mendorong para warga dampingan menjadi subjek utama dalam melakukan perubahan-perubahan di komunitasnya sendiri. Itulah yang saya coba lakukan saat mendampingi ibu-ibu di BojongAsih.
Saya tidak sekedar mengeksplorasi masalah-masalah yang sering dihadapi oleh ibu-ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya, saya pun mencoba menggali prak
tek atau pengalaman baik yang pernah mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap pengalaman-pengalaman baik ibu-ibu di BojongAsih ini dapat menginspirasi ibu-ibu di tempat lain.
Beberapa pengalaman baik itu saya coba rangkumkan dalam tulisan ini.
Bu Yani (25 tahun), tertarik untuk mencoba mengikuti saran saya tentang membiasakan diri untuk bercerita atau mendongeng selama 20 menit saja kepada anak. Menurutnya ketika ia telah membiasakan diri untuk mendongeng terhadap Evan, anaknya yang berusia 2 tahun, Evan mulai banyak bercerita bahkan mendongengi ibunya sendiri serta mengalami penambahan perbendaharaan kata yang sangat significan.
Selain pengalaman di atas Bu Yani pun bercerita tentang pengalamannya menjalankan toilet training kepada anaknya, yaitu dengan membiasakan diri mengajak anaknya buang air kecil di kamar mandi dan member I kenyamanan kepada anak saat buang air.
Bu Hani (27 tahun) yang sering direpotkan dengan perselisihan dengan 2 orang anaknya ternyata sangat terbuka atau selalu memberikan waktu mendengarkan cerita-cerita dari kedua anaknya tersebut. Reina 7 tahun, anak pertama dari Ibu Hani, senantiasa merasa nyaman bercerita segala hal yang ia temui kepada ibunya baik di rumah maupun di sekolah. Adel (3 tahun) yang agak cerewet dan mempunyai daya imaginasi yang cukup kuat menemukan kenyamanan untuk mengungkapkan banyak hal kepada ibunya. Sikap ibu Hani seperti ini tentu saja akan sangat membantu proses tumbuh kembang anaknya di kemudian hari. Sebagai Ibu baru Ibu Pupung 25 tahun belum mempunyai banyak pengalaman terkait pengasuhan Rousan, anaknya yang baru berusia 7 minggu. Namun diantara kesibukkannya mengajar dan kuliah ia berusaha selalu memberikan ASI serta tetap memberikan kedekatan dan kenyamanan kepada anaknya.
Masih banyak pengalaman-pengalaman baik dari ibu-ibu di sekitar kita, sayang kita seringkali luput dari hal-hal tersebut. Padahal pengalaman-pengalaman itu akan memperkaya khazanah pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan anak.
izoel.080611
CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-1)
Sudah sebulan saya mendampingi ibu-ibu yang ada di kawasan Bojong Asih, Kelurahan Babakan Tarogong, Kecamatan BojongLoa Kaler, Kota Bandung. Awalnya hanya obrolan santai, maklum yang saya dampingi adalah adik dan keponakan saya sendiri. Ternyata dengan keinginan dan kebutuhan dari ibu-ibu muda ini kegiatan pendampingan ini pun berubah agak serius.
Pada minggu pertama belum banyak yang kami bicarakan. Saya masih merasa perlu meyakinkan para ibu-ibu ini dan tentu saja diri saya sendiri tentang manfaat dari acara bincang-bincang ini. Akhirnya pada pertemuan pertama ini hanya menyepakati beberapa hal, berupa hari, dan waktu kami bisa berkumpul.
Pendampingan minggu kedua, belum secara khusus membicarakan tentang pengasuhan, kesehatan, dan lain-lain yang terkait tentang anak dan keluarga. Pada pertemuan ini saya mengeksplorasi motivasi, harapan dan tujuan ibu-ibu dalam mengikuti kegiatan pendampingan ini. Akhirnya dari beberapa motivasi, harapan dan tujuan semuanya bermuara pada tujuan bersama yaitu ingin menjadi ibu-ibu yang pintar, yang paham tentang segala hal yang dibutuhkan oleh anak baik dari aspek pendidikan, kesehatan dan pengasuhan sehingga dapat membimbing anak-anak menjadi anak yang shaleh dan berkualitas. Ibu-ibu pun menyepakati beberapa aturan main sebagai berikut:
- Waktu pelaksanaan diskusi sangat fleksibel.
- Semua anggota kegiatan diskusi disarankan untuk membayar uang kas sesuai kemampuan.
- Setiap anggota wajib membuat cerita pengalaman menarik selama seminggu.
Baru pada pertemuan minggu ketiga, kegiatan obrolan bareng ibu-ibu di bojong asih ini baru mengerucut kepada beberapa hal terkait anak, terutama anak balita. Pada pertemuan ini pulalah ibu-ibu mulai berbagi cerita pegalaman menarik mereka selama seminggu.
Ibu Yani (25 tahun) yang ditunjuk oleh ibu-ibu lain sebagai koordinator kegiatan, bercerita tentang kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di dekat rumah mertuanya di daerah Cibangkong. Ia menilai perlu untuk perlu melaporkan kasus kekerasan terhadap anak ini. Sayang ia belum mengetahui mekanisme pelaporan saat terjadi kasus kekerasan seperti ini. Sebenarnya ia menceritakan hal ini terkait dengan kekhawatirannya pengaruh buruk kasus kekerasan ini terhadap kondisi mental psikologis anaknya.
Ibu Hani (27 tahun) yang memiliki 3 orang anak perempuan berusia 7 tahun, 3 tahun, dan 3 bulan, menuturkan tentang persaingan antara anak pertama dan anak keduanya. Acapkali persaingan ini berujung pada perkelahian diantara kedua anak tadi.
Ibu Pupung (25 tahun), ibu muda yang baru saja mempunyai seorang bayi berusia 1 bulan, bercerita tentang kesulitannya saat memberikan ASI kepada bayinya. Ia mengaku bahwa produksi ASI nya sangat sedikit.
Ketiga cerita diatas selanjutnya kami bahas bersama-sama dengan mengungkapkan beberapa referensi dari internet. Untuk kasus kekerasan terhadap anak memang belum ada mekanisme pelaporan yang sistematis dari masyarakat. Ditambah lagi belum ada instansi pemerintah yang memang mengkhususkan diri untuk menangani masalah kekerasan terhadap anak.
- Menyoal perselisihan diantara anak khususnya kakak dan adik, ada beberapa usaha yang bisa ditempuh konflik perselisihan ini.
- Menegaskan untuk menjelaskan kepemilikan barang-barang yang ada di rumah, ini punya adik, ini punya kakak.
- Membiasakan anak-anak untuk mengucapkan kata “pinjam” bila akan mempergunakan barang milik orang lain di rumahnya, dan membiasakan anak untuk mengembalikan barang yang telah dipinjam tersebut.
- Setiap anak diberi peran masing-masing, sehingga sejak kecil mereka diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap peran-perannya tersebut.
Tentang minimnya produksi ASI ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :
- Ibu-ibu yang menyusui harus banyak mengonsumsi sayuran-sayuran yang bisa memperbanyak produksi ASI, seperti: daun katuk, daun pepaya, pepaya muda,dan bayam.
- Ibu-ibu yang menyusui diusahakan untuk menghindari masalah-masalah yang berat yang dapat mengakibatkan dsepresi atau stress, karena kondisi depresi atau stress ini dapat menghambat produktivitas ASI.
- Ibu-ibu yang menyusui harus mananamkan dalam-dalam di hatinya keyakinan bahwa ia dapat menyusui anaknya. Keyakinan seperti ini secara psikologis diyakini dapat mendorong produktivitas ASI.
Disamping masalah-masalah diatas ternyata ibu-ibu ini mempunyai pengalaman-pengalaman baik terkait pengasuhan terhadap anak-anak mereka. Catatan tentang hal ini dapat dilihat pada catatan saya selanjutnya.
Izoel.080611