Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

narasi Devita@KerLiP - menggali di SMP11

Kembali menggali :D

Eh apa yang digali?

Inspirasi dari anak-anak terbaik di negeri ini(ini hanyalah potret kecil dari ribuan putra-putri bangsa). Kali ini aku berkesempatan dengan lima orang kawan dari kelas perkuliahan untuk bergabung dengan ka Dede Suryana melakukan pendampingan di SMPN 11 Bandung. Hal apa kiranya yang menarik minat ku untuk mau bela-belaan pergi ke sana? Jawabannya adalah jamban BSJ, awalnya cukup lama untuk bernegosiasi dengan kelima kawanku ini, tapi dengan bujuk rayu mautku akhirnya mereka mau menemaniku untuk keliling SMP. Ya diluar yang saya duga Ibu dosen tercinta kami meminta ku untuk mencopy tugas , dan kamipun pulang lebih cepat. Pukul 09.00 tepatnya hingga pukul 10.00 kami tiba di SMP. Mereka sempat meragukanku untuk pergi ke SMP in, karena memang pada dasarnya kami belum tahu dimana posisi letak SMP nya. Namun dengan kemantapan bismillah kami pun melesat, sepanjang jalan aku sempat menanyakan kepada orang , sebanyak 4 kali untuk menemukan keberadaan SMP tersebut, Dua orang kawanku nyasar. Haha sota sih mereka, tapi alhamdulillah kami sampai dengan sambutan senyum khasnya ka dede. Yea akhirnya kami di giring menuju lab mipa, kami bertemu dengan pak Agus yang memang ramah. Dari sedikit perbincangan kami dengan pak Agus, terceletuk keinginan kami untuk menilik jamban BSJ , namun menurut Pak Agus jamban BSJ ini mekanismenya sekarang melalui via sms, soalnya jamban sekarang ada petugas dari kelas tujuh secara bergilir. Kebetulan hari ini kunci jamban berada di tangan anak kelas tujuh yang masuk siang, Jadi kami pun lantas berpandangan, hehe wujud sebuah insiden yang di sayangkan(alias waktunya tidak tepat kedatangan kami ini).

Rasa kekecewaan kami terobati dengan munculnya sosok-sosok wajah yang tidak asing buat aku, mereka adalah anak-anak GSB, ya meskipun tidak semua tapi Diandra, Devita, (yang dua lupa namanya XD ). Dengan antusias, kamipun mengikuti mereka untuk berkeliling sekolah, dan laiknya turis kamipun bertanya ini itu. Kami di perlihatkan letak perpustakaan, hingga sampailah pada Jamban BSJ. Eh eh sebenarnya tidak ada yang istimewa dari jamban ini hanya saja bedanya itu jamban ini di lengkapi dengan fasilitas kewanitaan untuk mereka yang sedang mengalami menstruasi. Setelah cukup melihat jamban dari luar, aku pun lekas menanyakan dimana gerangan hasil kreativitas kalian? Lantas kamipun bergerak maju dan menuruni tangga, hingga sampailah pada ruang penyimpanan hasil kreativitas anak-anak emas ini. Ih wow , banyak nian . Hehehe Kamipun bertanya ini itu tentang darimana, bagaimana, apa dan untuk apa barang-barang yang ada di ruang ini. Wah puas. He banyak yang masih belum gali lagi tentang anak-anak ini, karena waktu juga mengharuskan kami berpisah. Mereka kembali melanjutkan belajar, kamipun harus bergegas pulang soalnya ada kuliah lagi siang ini. Sembari jalan menuju kantin (urusan makan, maklum pada belum sarapan) bersama ka dede kami bertemu anak-anak perkumpulan wirausaha, Wuduh? Rasa ingin tahuku mengembang lagi dan kami pun mewawancarai 3 anak dari kelas 7 yang kebetulan sedang berjaga di tempatnya. Mereka menjajakan beberapa hasil dari olahan mereka sendiri. Kecil-kecil ada saja akal pintarnya? (gumamku) Menurut mereka, mereka membuat hasil olahan yang mereka jajakan dari tangan ke tangan. Loh apa maksudnya? Maksudnya, Seorang guru pembimbing yang mendampingi mereka mengajarkan bagaimana cara membuatnya. Tapi sayang aku tidak bisa mencobanya, karena terbatasi dengan shaum. Tapi tak apa, karena dalam hatiku jika ada kesempatan untuk bertandang lagi kemari maka aku akan mengatakan YA dengan pasti untuk kembali lagi ke sini. Semoga Bermanfaat J

Devita Murni

Selasa, 07 Juni 2011

CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-1)

Sudah sebulan saya mendampingi ibu-ibu yang ada di kawasan Bojong Asih, Kelurahan Babakan Tarogong, Kecamatan BojongLoa Kaler, Kota Bandung. Awalnya hanya obrolan santai, maklum yang saya dampingi adalah adik dan keponakan saya sendiri. Ternyata dengan keinginan dan kebutuhan dari ibu-ibu muda ini kegiatan pendampingan ini pun berubah agak serius.

Pada minggu pertama belum banyak yang kami bicarakan. Saya masih merasa perlu meyakinkan para ibu-ibu ini dan tentu saja diri saya sendiri tentang manfaat dari acara bincang-bincang ini. Akhirnya pada pertemuan pertama ini hanya menyepakati beberapa hal, berupa hari, dan waktu kami bisa berkumpul.

Pendampingan minggu kedua, belum secara khusus membicarakan tentang pengasuhan, kesehatan, dan lain-lain yang terkait tentang anak dan keluarga. Pada pertemuan ini saya mengeksplorasi motivasi, harapan dan tujuan ibu-ibu dalam mengikuti kegiatan pendampingan ini. Akhirnya dari beberapa motivasi, harapan dan tujuan semuanya bermuara pada tujuan bersama yaitu ingin menjadi ibu-ibu yang pintar, yang paham tentang segala hal yang dibutuhkan oleh anak baik dari aspek pendidikan, kesehatan dan pengasuhan sehingga dapat membimbing anak-anak menjadi anak yang shaleh dan berkualitas. Ibu-ibu pun menyepakati beberapa aturan main sebagai berikut:

  1. Waktu pelaksanaan diskusi sangat fleksibel.
  2. Semua anggota kegiatan diskusi disarankan untuk membayar uang kas sesuai kemampuan.
  3. Setiap anggota wajib membuat cerita pengalaman menarik selama seminggu.

Baru pada pertemuan minggu ketiga, kegiatan obrolan bareng ibu-ibu di bojong asih ini baru mengerucut kepada beberapa hal terkait anak, terutama anak balita. Pada pertemuan ini pulalah ibu-ibu mulai berbagi cerita pegalaman menarik mereka selama seminggu.

Ibu Yani (25 tahun) yang ditunjuk oleh ibu-ibu lain sebagai koordinator kegiatan, bercerita tentang kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di dekat rumah mertuanya di daerah Cibangkong. Ia menilai perlu untuk perlu melaporkan kasus kekerasan terhadap anak ini. Sayang ia belum mengetahui mekanisme pelaporan saat terjadi kasus kekerasan seperti ini. Sebenarnya ia menceritakan hal ini terkait dengan kekhawatirannya pengaruh buruk kasus kekerasan ini terhadap kondisi mental psikologis anaknya.

Ibu Hani (27 tahun) yang memiliki 3 orang anak perempuan berusia 7 tahun, 3 tahun, dan 3 bulan, menuturkan tentang persaingan antara anak pertama dan anak keduanya. Acapkali persaingan ini berujung pada perkelahian diantara kedua anak tadi.

Ibu Pupung (25 tahun), ibu muda yang baru saja mempunyai seorang bayi berusia 1 bulan, bercerita tentang kesulitannya saat memberikan ASI kepada bayinya. Ia mengaku bahwa produksi ASI nya sangat sedikit.

Ketiga cerita diatas selanjutnya kami bahas bersama-sama dengan mengungkapkan beberapa referensi dari internet. Untuk kasus kekerasan terhadap anak memang belum ada mekanisme pelaporan yang sistematis dari masyarakat. Ditambah lagi belum ada instansi pemerintah yang memang mengkhususkan diri untuk menangani masalah kekerasan terhadap anak.

  • Menyoal perselisihan diantara anak khususnya kakak dan adik, ada beberapa usaha yang bisa ditempuh konflik perselisihan ini.
  • Menegaskan untuk menjelaskan kepemilikan barang-barang yang ada di rumah, ini punya adik, ini punya kakak.
  • Membiasakan anak-anak untuk mengucapkan kata “pinjam” bila akan mempergunakan barang milik orang lain di rumahnya, dan membiasakan anak untuk mengembalikan barang yang telah dipinjam tersebut.
  • Setiap anak diberi peran masing-masing, sehingga sejak kecil mereka diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap peran-perannya tersebut.

Tentang minimnya produksi ASI ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :

  1. Ibu-ibu yang menyusui harus banyak mengonsumsi sayuran-sayuran yang bisa memperbanyak produksi ASI, seperti: daun katuk, daun pepaya, pepaya muda,dan bayam.
  2. Ibu-ibu yang menyusui diusahakan untuk menghindari masalah-masalah yang berat yang dapat mengakibatkan dsepresi atau stress, karena kondisi depresi atau stress ini dapat menghambat produktivitas ASI.
  3. Ibu-ibu yang menyusui harus mananamkan dalam-dalam di hatinya keyakinan bahwa ia dapat menyusui anaknya. Keyakinan seperti ini secara psikologis diyakini dapat mendorong produktivitas ASI.

Disamping masalah-masalah diatas ternyata ibu-ibu ini mempunyai pengalaman-pengalaman baik terkait pengasuhan terhadap anak-anak mereka. Catatan tentang hal ini dapat dilihat pada catatan saya selanjutnya.

Izoel.080611

Page Rank Check,
HTML Web Counter