Tampilkan postingan dengan label pendampingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendampingan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-2)

Dalam pendampingan posisi kita sebagai fasilitator tidak berarti menjadi guru bagi para warga dampingan, justru para fasilitator semestinya mendorong para warga dampingan menjadi subjek utama dalam melakukan perubahan-perubahan di komunitasnya sendiri. Itulah yang saya coba lakukan saat mendampingi ibu-ibu di BojongAsih.

Saya tidak sekedar mengeksplorasi masalah-masalah yang sering dihadapi oleh ibu-ibu dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya, saya pun mencoba menggali prak

tek atau pengalaman baik yang pernah mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap pengalaman-pengalaman baik ibu-ibu di BojongAsih ini dapat menginspirasi ibu-ibu di tempat lain.

Beberapa pengalaman baik itu saya coba rangkumkan dalam tulisan ini.

Bu Yani (25 tahun), tertarik untuk mencoba mengikuti saran saya tentang membiasakan diri untuk bercerita atau mendongeng selama 20 menit saja kepada anak. Menurutnya ketika ia telah membiasakan diri untuk mendongeng terhadap Evan, anaknya yang berusia 2 tahun, Evan mulai banyak bercerita bahkan mendongengi ibunya sendiri serta mengalami penambahan perbendaharaan kata yang sangat significan.

Selain pengalaman di atas Bu Yani pun bercerita tentang pengalamannya menjalankan toilet training kepada anaknya, yaitu dengan membiasakan diri mengajak anaknya buang air kecil di kamar mandi dan member I kenyamanan kepada anak saat buang air.

Bu Hani (27 tahun) yang sering direpotkan dengan perselisihan dengan 2 orang anaknya ternyata sangat terbuka atau selalu memberikan waktu mendengarkan cerita-cerita dari kedua anaknya tersebut. Reina 7 tahun, anak pertama dari Ibu Hani, senantiasa merasa nyaman bercerita segala hal yang ia temui kepada ibunya baik di rumah maupun di sekolah. Adel (3 tahun) yang agak cerewet dan mempunyai daya imaginasi yang cukup kuat menemukan kenyamanan untuk mengungkapkan banyak hal kepada ibunya. Sikap ibu Hani seperti ini tentu saja akan sangat membantu proses tumbuh kembang anaknya di kemudian hari. Sebagai Ibu baru Ibu Pupung 25 tahun belum mempunyai banyak pengalaman terkait pengasuhan Rousan, anaknya yang baru berusia 7 minggu. Namun diantara kesibukkannya mengajar dan kuliah ia berusaha selalu memberikan ASI serta tetap memberikan kedekatan dan kenyamanan kepada anaknya.

Masih banyak pengalaman-pengalaman baik dari ibu-ibu di sekitar kita, sayang kita seringkali luput dari hal-hal tersebut. Padahal pengalaman-pengalaman itu akan memperkaya khazanah pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

izoel.080611

CERITA DARI IBU-IBU DI BOJONG ASIH (Bagian ke-1)

Sudah sebulan saya mendampingi ibu-ibu yang ada di kawasan Bojong Asih, Kelurahan Babakan Tarogong, Kecamatan BojongLoa Kaler, Kota Bandung. Awalnya hanya obrolan santai, maklum yang saya dampingi adalah adik dan keponakan saya sendiri. Ternyata dengan keinginan dan kebutuhan dari ibu-ibu muda ini kegiatan pendampingan ini pun berubah agak serius.

Pada minggu pertama belum banyak yang kami bicarakan. Saya masih merasa perlu meyakinkan para ibu-ibu ini dan tentu saja diri saya sendiri tentang manfaat dari acara bincang-bincang ini. Akhirnya pada pertemuan pertama ini hanya menyepakati beberapa hal, berupa hari, dan waktu kami bisa berkumpul.

Pendampingan minggu kedua, belum secara khusus membicarakan tentang pengasuhan, kesehatan, dan lain-lain yang terkait tentang anak dan keluarga. Pada pertemuan ini saya mengeksplorasi motivasi, harapan dan tujuan ibu-ibu dalam mengikuti kegiatan pendampingan ini. Akhirnya dari beberapa motivasi, harapan dan tujuan semuanya bermuara pada tujuan bersama yaitu ingin menjadi ibu-ibu yang pintar, yang paham tentang segala hal yang dibutuhkan oleh anak baik dari aspek pendidikan, kesehatan dan pengasuhan sehingga dapat membimbing anak-anak menjadi anak yang shaleh dan berkualitas. Ibu-ibu pun menyepakati beberapa aturan main sebagai berikut:

  1. Waktu pelaksanaan diskusi sangat fleksibel.
  2. Semua anggota kegiatan diskusi disarankan untuk membayar uang kas sesuai kemampuan.
  3. Setiap anggota wajib membuat cerita pengalaman menarik selama seminggu.

Baru pada pertemuan minggu ketiga, kegiatan obrolan bareng ibu-ibu di bojong asih ini baru mengerucut kepada beberapa hal terkait anak, terutama anak balita. Pada pertemuan ini pulalah ibu-ibu mulai berbagi cerita pegalaman menarik mereka selama seminggu.

Ibu Yani (25 tahun) yang ditunjuk oleh ibu-ibu lain sebagai koordinator kegiatan, bercerita tentang kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di dekat rumah mertuanya di daerah Cibangkong. Ia menilai perlu untuk perlu melaporkan kasus kekerasan terhadap anak ini. Sayang ia belum mengetahui mekanisme pelaporan saat terjadi kasus kekerasan seperti ini. Sebenarnya ia menceritakan hal ini terkait dengan kekhawatirannya pengaruh buruk kasus kekerasan ini terhadap kondisi mental psikologis anaknya.

Ibu Hani (27 tahun) yang memiliki 3 orang anak perempuan berusia 7 tahun, 3 tahun, dan 3 bulan, menuturkan tentang persaingan antara anak pertama dan anak keduanya. Acapkali persaingan ini berujung pada perkelahian diantara kedua anak tadi.

Ibu Pupung (25 tahun), ibu muda yang baru saja mempunyai seorang bayi berusia 1 bulan, bercerita tentang kesulitannya saat memberikan ASI kepada bayinya. Ia mengaku bahwa produksi ASI nya sangat sedikit.

Ketiga cerita diatas selanjutnya kami bahas bersama-sama dengan mengungkapkan beberapa referensi dari internet. Untuk kasus kekerasan terhadap anak memang belum ada mekanisme pelaporan yang sistematis dari masyarakat. Ditambah lagi belum ada instansi pemerintah yang memang mengkhususkan diri untuk menangani masalah kekerasan terhadap anak.

  • Menyoal perselisihan diantara anak khususnya kakak dan adik, ada beberapa usaha yang bisa ditempuh konflik perselisihan ini.
  • Menegaskan untuk menjelaskan kepemilikan barang-barang yang ada di rumah, ini punya adik, ini punya kakak.
  • Membiasakan anak-anak untuk mengucapkan kata “pinjam” bila akan mempergunakan barang milik orang lain di rumahnya, dan membiasakan anak untuk mengembalikan barang yang telah dipinjam tersebut.
  • Setiap anak diberi peran masing-masing, sehingga sejak kecil mereka diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap peran-perannya tersebut.

Tentang minimnya produksi ASI ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti :

  1. Ibu-ibu yang menyusui harus banyak mengonsumsi sayuran-sayuran yang bisa memperbanyak produksi ASI, seperti: daun katuk, daun pepaya, pepaya muda,dan bayam.
  2. Ibu-ibu yang menyusui diusahakan untuk menghindari masalah-masalah yang berat yang dapat mengakibatkan dsepresi atau stress, karena kondisi depresi atau stress ini dapat menghambat produktivitas ASI.
  3. Ibu-ibu yang menyusui harus mananamkan dalam-dalam di hatinya keyakinan bahwa ia dapat menyusui anaknya. Keyakinan seperti ini secara psikologis diyakini dapat mendorong produktivitas ASI.

Disamping masalah-masalah diatas ternyata ibu-ibu ini mempunyai pengalaman-pengalaman baik terkait pengasuhan terhadap anak-anak mereka. Catatan tentang hal ini dapat dilihat pada catatan saya selanjutnya.

Izoel.080611

Selasa, 19 Mei 2009

Sekepicung, 15 Mei 2009

Oleh Izoel KerLiP

Bangga dan terharu adalah perasaan yang saya rasakan dalam pendampingan di daerah Cibacang, Sekepicung, Kabupaten Bandung kali ini. Setidaknya dua perasaan itulah yang muncul ketika saya mendengarkan Ema, Agus, Sam, Aisyah, Elis, Nurjanah, Nurhayati, Ulfa menyampaikan cita-cita mereka setahun ke depan. Cita-cita ini mereka rumuskan dalam target setahun ke depan disertai langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk mencapai target tersebut.

Memang dalam beberapa pertemuan pendampingan terakhir ini, secara bergantian saya, Ova dan Zamzam memandu warga belajar kearah proses pembelajaran mandiri. Warga belajar dibimbing untuk menentukan target setahun ke depan, merumuskan kebutuhan belajar dan langkah-langkah yang akan mereka ambil secara mandiri. Proses ini sebenarnya sempat membuat kaget para warga belajar, tetapi lambat-laun sebagian di antara mereka mulai mengambil inisiatif untuk menata proses belajar mereka masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan beberapa orang warga belajar yang mulai belajar berdasar minat atau bakat mereka dan ditunjukkan dengan beberapa hasil karya mereka seperti, kaligrafi, lukisan, komik dan puisi.

Hari ini, menyambung beberapa pertemuan sebelumnya terkait dengan target satu tahun ke depan, Zamzam memandu warga belajar untuk menuliskan pengalaman-pengalaman terbaik mereka. Dalam pengalaman terbaik itu, warga belajar diminta untuk mengungkapkan perasaan dan hal-hal apa saja yang muncul saat menjalani pengalaman tersebut.

Ternyata, di antara warga belajar ada yang pernah menorehkan prestasi menjadi juara ke-2 kejuaran Golf tingkat junior se-Jawa Barat. Ema (20 tahun) yang kini bekerja sebagai caddy golf ini pernah meraih prsetasi ini ketika ia berumur sekira 15 tahun. Ema banyak belajar olah raga golf dari kakaknya yang sekarang menjadi pelatih golf. Ema yang hanya tamatan SLTP ini berkeinginan untuk menorehkan kembali prestasi di masa-masa yang akan datang.

Mungkin beberapa warga lain belum mempunyai prestasi setingkat Ema, tetapi menarik untuk kita acungi jempol cita-cita dan keinginan mereka untuk menjadi orang-orang yang berhasil. Elis yang mempunyai minat dalam penulisan puisi dan cerpen, senantiasa menunjukkan antusiasmenya dalam penulisan karya sastra. Hal ini ia tunjukkan dengan beberapa karya puisi dan cerpen yang telah ia tulis. Namun karena belum ada kesempatan, hasil-hasil karyanya ini belum bisa dipublikasikan. Sehingga, ia bertekad untuk terus menulis dan mencoba mengirimkannya ke media dan penerbitan.

Sementara warga belajar yang lain menunjukkan minat di bidang-bidang yang lain. Misalnya Aisyah yang mempunyai ketertarikan dalam seni lukis. Sejauh ini, Aisyah menyalurkan bakat melukisnya ini dengan mengajarkannya kepada murid-muridnya di sebuah TPA di daerah Ciburial.

Selanjutnya, secara bergantian masing-masing warga belajar menyampaikan pengalaman-pengalaman terbaik mereka dipandu saya dan Zamzam. Di akhir kegiatan, Zamzam memberikan refleksi dari kegiatan pendampingan hari ini. Menurutnya, perasaan-perasaan positif yang muncul ketika kita merasakan suatu pengalaman terbaik harus selalu dihidupkan pada saat kita menjalani proses pencapaian cita-cita. Dan kegiatan pun saya tutup dengan doa dan salam penutup.

Page Rank Check,
HTML Web Counter